NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Gilang melangkah pelan memasuki area kampus. Tas ranselnya terasa berat, bukan karena buku, tapi karena pikirannya sendiri.

Ia berhenti di dekat tangga kelasnya, memandangi sekeliling yang ramai oleh mahasiswa lain yang bercanda, tertawa, dan sibuk dengan dunianya masing-masing.

Di layar ponselnya, notifikasi tagihan dari rentenir kembali masuk — angka yang sama, ditambah bunga yang kian mencekik.

Sial… belum lunas juga.

Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menahan rasa sesak di dada.

“Dooor!!”

Seseorang menepuk bahunya dari belakang. Gilang tersentak, hampir menjatuhkan ponsel.

“Viona…” ia terkekeh kecil, mencoba menutupi keterkejutannya.

“Ngapain sih melamun di sini? Ngelamunin apasih?”

Viona tersenyum jail, matanya berbinar. “Ngelamunin aku ya?”

Gilang ikut tersenyum, meski jauh di dalam hatinya senyum itu terasa pahit.

“Bisa aja kamu…” jawabnya pelan.

Viona duduk di anak tangga, menatap Gilang. “Kak, nanti tugas kelompok kita bikin jam berapa? Jangan mepet-mepet deadline dong.”

“Iya… nanti aku kabarin,” kata Gilang singkat, lalu buru-buru menyimpan ponselnya agar Viona tidak melihat layar dengan pesan tagihan yang baru saja ia baca.

Ia menarik napas panjang. Wajah Viona yang ceria seperti jadi kontras dengan hidupnya yang penuh tekanan. Andai saja ia bisa seleluasa itu tertawa tanpa beban.

Tapi untuk saat ini, ia hanya bisa pura-pura.

Setelah beberapa menit mereka ngobrol santai, Gilang dan Viona akhirnya melangkah masuk ke kelas. Suasana riuh rendah mahasiswa yang bercanda langsung mereda ketika dosen datang.

“Baik, hari ini kita akan mendengar presentasi dari kelompoknya Gilang,” ucap dosen sambil menatap daftar hadir.

Gilang sedikit terperanjat—ia lupa hari ini jadwal presentasi. Tapi ia segera berdiri, meraih laptop dari tasnya.

“Siap, Pak,” katanya singkat.

Di depan kelas, Gilang membuka slide presentasi dengan tenang. Meski dadanya masih sesak oleh pikiran lain, entah bagaimana ia bisa fokus penuh saat berbicara.

“Selamat pagi, teman-teman,” suaranya mantap. “Hari ini saya akan menjelaskan tentang strategi pemasaran digital untuk UMKM…”

Semakin lama ia bicara, semakin lancar kata-kata keluar dari mulutnya. Ia menjelaskan data, strategi, bahkan memberikan contoh nyata dari usaha kecil di sekitar tempat tinggalnya.

Semua mata tertuju padanya, termasuk Viona yang duduk di barisan tengah. Gadis itu sampai mencondongkan tubuh, matanya berbinar penuh kagum.

Ketika Gilang menutup presentasinya dengan kesimpulan yang tajam dan solusi kreatif, seluruh kelas bertepuk tangan. Bahkan dosen ikut tersenyum puas.

“Bagus sekali, Gilang. Kamu berhasil mengaitkan teori dengan kasus nyata. Ini contoh presentasi yang ideal,” puji dosen.

Gilang hanya tersenyum kecil, mengangguk sopan. Tapi di sudut matanya, ia sempat melihat ekspresi Viona teesenyum lebar, sorot mata yang jelas-jelas terpesona.

Untuk sesaat, beban di dada Gilang terasa sedikit berkurang.

Setelah kelas usai dan mahasiswa mulai berhamburan keluar, Gilang duduk sebentar di bangkunya, merapikan laptop ke dalam tas.

Ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat napasnya tercekat. Tante Jesica.

Ia menelan ludah, lalu menjawab pelan.

“Halo, Tante…”

Suara wanita itu terdengar ceria tapi tegas dari seberang.

“Romeo kamu dimana? Bisa datang ke rumah gak sekarang?”

Gilang refleks melirik jam di pergelangan tangannya. Masih siang.

“Sekarang, Tante? Saya baru selesai kelas.”

“Kebetulan ada tamu VIP, Rom. Tante gak mau kamu kehilangan kesempatan ini. Kamu kan mau cepat lunasin hutang-hutangmu? Ini bisa jadi jalan.”

Gilang terdiam sejenak, matanya kosong menatap lantai. Hatinya rasanya ditarik dua arah antara menolak atau menerima.

“Cepat, ya,” lanjut Tante Jesica. “Tamu VIP ini gak selalu datang. Jangan sampai kamu nyesel.”

Telepon terputus. Gilang menghela napas panjang, lalu berdiri dengan langkah berat.

Dari kejauhan, Viona memanggil, “Kak Gilang! Kita gak nongkrong dulu?”

Gilang tersenyum tipis, mengangkat tangan seolah memberi isyarat maaf.

“Nanti ya, Vio. Aku ada urusan penting.”

Ia berjalan keluar kelas, dadanya kembali terasa sesak. Seolah presentasi tadi hanyalah jeda singkat dari kenyataan yang tak pernah memberinya waktu bernapas.

Gilang berdiri kaku di ambang pintu, suasana rumah itu selalu membuat dadanya terasa berat. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi rokok dan alkohol.

Di ruang tamu, Tante Jesica duduk santai di sofa, rambut blondie-nya digelung rapi, lehernya dihiasi tato berbentuk ular yang melingkar sampai ke bahu. Senyumnya lebar begitu melihat Gilang datang.

“Ah, akhirnya datang juga,” katanya, suaranya ramah tapi terdengar seperti perintah.

Di seberangnya duduk seorang wanita dengan rambut hitam panjang tergerai, mengenakan dress semi formal berwarna merah marun. Wajahnya cantik, tapi sorot matanya tajam, penuh penilaian saat melihat Gilang dari ujung kepala sampai kaki.

Tante Jesica langsung berdiri, menepuk bahu Gilang.

“Ini dia, Romeo. Salah satu anak saya yang paling potensial. Paling laris di sini. Lihat wajahnya, gak kalah sama artis Korea, kan?”

Wanita itu mengangguk, sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Dia terlalu muda,” komentarnya datar.

Tante Jesica terkekeh. “Justru itu kelebihannya.”

Wanita itu berdiri, mendekat perlahan ke Gilang. Aroma parfumnya menyergap hidung Gilang, membuat napasnya sedikit tercekat.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Saya tidak masalah.”

Ia berhenti tepat di hadapan Gilang, menatap matanya dalam-dalam. “Yang penting dia bisa menyelesaikan tugasnya maksimal tiga bulan.”

“Tugas?” Gilang mengerutkan kening, bigung.

Wanita itu menyilangkan tangan di depan dada, lalu menjelaskan dengan tenang seolah sedang membicarakan hal biasa.

"Saya ingin punya keturunan. Suami saya… yah, sebut saja tidak berguna. Jadi saya sengaja menyewa kamu sampai saya hamil. Maksimal tiga bulan.”

Kata-kata itu membuat Gilang terdiam. Perutnya terasa mual, kepalanya mendadak berat.

“Apa… maksud Ibu, saya—”

“Ya,” potong wanita itu tegas. “Saya bayar berapa pun kamu mau. Tugas kamu cuma satu: buat saya hamil.”

Tante Jesica tersenyum lebar, seolah semua ini adalah kabar baik. “Gimana, Romeo? Kesempatan langka, lho. Bayarannya bisa bikin kamu lunas dari hutang!”

Gilang hanya bisa berdiri membeku, pikirannya campur aduk. Bayangan wajah ibunya, adik-adiknya, dan tumpukan tagihan berkelebat di kepala.

Dengan penuh pertimbangan akhirnya Gilang menanggung, dia menelan ludah sebelum mengatakannya. "Baiklah, saya akan coba."

Tante Jesica yang sedang mengisap rokoknya langsung menghembuskan asapnya, dia tertawa senang. "Keputusan yang bagus, Romeo. Kamu memang selalu membanggakan," pujinya sembari memutar-mutar puntung rokok disela jari.

Wanita itupun akhirnya mengangguk "baik, sebelumnya perkenalkan saya Valeria, saya pelanggan barumu hari ini, Romeo. Dan langsung saja, berapa banyak uang yang harus saya bayarkan untuk tugasmu itu?"

Gilang menarik napas dalam-dalam, menatap meja beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri bicara.

“Saya… saya minta dua ratus juta sebagai uang muka.”

Ruangan mendadak hening. Tante Jesica berhenti memutar rokoknya, alisnya terangkat.

“Dua ratus?” ulangnya, setengah tak percaya.

Gilang mengangguk, walau suaranya terdengar goyah. “Saya akan lakukan seperti yang diminta. Tapi saya harus pastikan keluarga saya aman dulu. Saya butuh jaminan.”

Valeria justru tersenyum tipis, seperti tertarik dengan keberanian Gilang. Ia mencondongkan tubuh, menatap pemuda itu dari ujung kaki sampai kepala.

" Hanya itu? Dua ratus juta sebagai uang muka? Wajah setampan kamu hanya minta dua ratus juta untuk jaminan? Sayang sekali Romeo, kamu akan mendapatkan lebih dari itu."

Gilang bingung, kenapa wanita itu malah menantangnya dan bilang nominal tersebut terlalu kecil?

Gilang menghembuskan nafas "Berapa banyak yang akan kamu berikan kalau saya bisa selesaikan tugas sebelum tiga bulan?"

Wanita itu megambil secarik kertas dari tasnya. " Saya sudah membuat surat perjanjian tertulis disini, dan saya akan kasih kamu lima ratus juta kalau kamu berhasil buat saya hamil sebelum tiga bulan."

Gilang membaca surat itu dengan seksama, surat itu tampilannya sangat simpel, berbanding terbalik dengan keputusan yang akan dia ambil.

Dengan tangan gemetar akhirnya Gilang menandatangani surat itu.

“Kamu luar biasa, Romeo. Kamu memang selalu membanggakan… hahaha!” Tawa Tante Jesica meledak, keras dan nyaring, memekakkan telinga Gilang.

Gilang menunduk, tangan di pangkuannya terkepal. Tawa itu membuat dadanya sesak, seperti ada beban yang menekan.

Valeria hanya tersenyum miring, mengambil segelas wine dan memutarnya perlahan. “saya suka keberanianmu,” ucapnya santai. “Tapi jangan bikin saya kecewa.”

Gilang mengangguk pelan, menahan napas panjang.

“Tidak akan,” suaranya hampir tak terdengar.

Tante Jesica akhirnya berhenti tertawa, menepuk meja dengan puas. “Baiklah, aku siapkan transfer malam ini. Kamu bisa pulang, Romeo. Tapi ingat, besok malam kamu harus datang.”

Gilang berdiri, menundukkan kepala sebelum pamit. Begitu keluar dari rumah megah itu, ia baru berani menghela napas panjang. Udara malam terasa dingin, menusuk kulit.

Di perjalanan pulang, pikirannya penuh. Dua ratus juta… angka itu berputar-putar di kepalanya, menutupi suara mesin motor bututnya. Ia ingin lega, tapi justru ada rasa takut yang menggerogoti.

Sesampainya di rumah, ia duduk di teras gelap. Ponselnya berbunyi, notifikasi transfer masuk. Angka itu membuatnya terdiam lama.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.

Gilang menghembuskan nafas kasar, bagaimana bisa dia begitu mudah menyetujui perjanjian ini? ini bukan sekedar melayani pelanggan, tapi akan ada bayi yang akan dilahirkan oleh wanita itu, dan bayi itu adalah anak kandungnya. Gilang mengacak rambutnya frustasi "Aku akan menjadi ayah biologis dari bayi itu? Bayi yang mungkin tidak akan pernah melihatku nanti?" gumam Gilang pelan.

Gilang menatap langit malam yang gelap. Bintang-bintang di atasnya seperti mengejek, bersinar terang seolah hidup mereka baik-baik saja.

“Kenapa harus aku?” suaranya bergetar.

Ia menunduk, meremas rambutnya lagi. Ada rasa bersalah, marah, tapi juga pasrah yang bercampur jadi satu.

Dengan tubuh lunglai, akhirnya Gilang masuk ke rumah kecil itu, dia menengok ke kamar adik-adiknya yang sudah tertidur lelap, ibunya juga sudah tertidur dengan tasbih yang masih digenggamnya, melihat itu membuat hati Gilang teriris, bagaimana bisa seorang ibu sebaik itu bisa punya anak sebajingan ini?

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!