Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12. tidur di kosan cowok
"Anjing! Itu kan ada alkoholnya! Bangsat! Kenapa lo kasih minuman itu ke Maya?!"
"Y- ya mana gue tau—" Alif melongo karena umpatan Chris yang ditujukan padanya.
Dengan wajah masih diliputi amarah dan cemas, Chris merogoh saku celananya, berniat menghubungi Maya tapi buru-buru ia mengingat, nomor ponselnya sudah diblokir Maya sejak pertengkaran terakhir mereka. Jadi harapan satu-satunya adalah menggunakan nomor Alif untuk menghubungi Maya. Matanya langsung melirik ke arah Alif yang duduk di sofa, masih tampak kikuk setelah konfrontasi barusan.
"Pinjem hp lo?!" paksa Chris cepat.
"Buat apa? Lo kan punya—" Alif bertanya bingung.
"Udah, cepet siniin ponselnya!"
Alif sempat tertegun, tapi kemudian meraih ponselnya dan menyerahkannya tanpa banyak tanya. Chris segera membuka layar dan mengetik nomor Maya yang ia hapal di luar kepala, lalu menekan tombol panggil dengan gugup. Nada sambung terdengar, membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Namun beberapa detik kemudian, terdengar suara mesin penjawab. Chris dengan gelisah memutuskan panggilan dan mencoba lagi. Tapi hasilnya tetap sama. Tak ada jawaban.
Tiba-tiba ia membeku. Matanya membesar saat menyadari sesuatu yang penting.
“Anjing!” gumamnya, memukul dahinya sendiri dengan telapak tangan. “HP-nya ada di tas, dan tasnya gue tinggal di mobil.”
Untuk beberapa detik, Chris hanya bisa berdiri di tempat, merasa bodoh. Kekhawatirannya meningkat, bukan hanya karena Maya tak bisa dihubungi, tapi karena ia tahu Maya pasti merasa tak nyaman, cemas, dan sekarang benar-benar sendirian tanpa cara untuk menghubungi siapa pun. Sementara dirinya malah membuat kesalahan yang seharusnya tak terjadi.
"Mungkin dia ada di kamar lo kali. Periksa sana!" celetuk Alif. Bisa-bisanya otak Chris tidak berfungsi, dan melupakan keadaan kamarnya sendiri.
Chris meletakkan ponsel Alif di atas meja lalu berjalan cepat menuju kamar tidurnya.
Langkah kaki Chris terhenti begitu ia membuka pintu kamarnya. Chris tercengang. Pandangannya langsung tertumbuk pada sosok Maya yang tergeletak di atas kasurnya, tertidur pulas dengan posisi miring menghadap ke arah jendela, rambut berantakan menutupi sebagian wajah, dan napasnya terdengar pelan tapi tidak teratur. Wajahnya terlihat merah, matanya sedikit bengkak, dan tubuhnya tampak lemas seperti kehilangan tenaga. Bahkan saat Chris duduk di sampingnya, Maya masih setia menutup mata.
"Maya?" Chris mengambil helaian rambut panjang Maya dan membawanya ke belakang telinga gadis itu. Maya hanya mengerutkan keningnya dengan lenguhan kecil.
"Kok kamu bisa tidur di sini, May?"
Chris masih berusaha membangunkan Maya. Buku jarinya mengusap pipi gadis cantik itu. Ia menelan ludah, bingung harus mulai dari mana. Wajah Maya tampak tenang, tapi kulitnya sedikit pucat.
“Maya… hey, bangun,” bisiknya sambil menyentuh bahu Maya perlahan.
Begitu jari-jarinya menyentuh kulit Maya yang terbuka, Chris refleks menahan napas. Kulitnya lembut dan hangat. Sekilas, tubuhnya merespons, gelombang panas menjalar cepat, seolah tubuhnya bereaksi tanpa perintah. Ia segera menarik tangannya, menunduk, mencoba meredam gejolak yang muncul.
“Gila…” gumamnya, mengusap wajahnya sendiri, frustasi.
"Ck. Bakalan ada yang nemenin tidur, nih!" Ucapan Alif membuat Chris sadar bahwa temannya itu masih berdiri di depan pintu kamar.
"Ngapain lo masih di sini? Pergi, sana!" usir Chris.
"Ya elah, gue di usir nih?! Btw, mau lo apain tuh cewek? Jangan-jangan, lo mau grepe-grepe dia ya?" goda Alif dengan senyum yang menurut Chris sangat menyebalkan.
"Bacot Lo anjing!"
"Ck. Gitu aja marah. Oke oke.. gue pergi." Alif mengangkat kedua tangannya menyerah, lalu kembali berkata sebelum akhirnya pergi. "Kalau lo butuh bantuan, gue dengan senang hati akan bantuin elo, Broh."
Alif mengedipkan sebelah matanya seraya menatap Maya, dan akhirnya menghilang setelah mendapat tatapan tajam dari Chris.
"May, kamu mabuk?" Chris mendekatkan hidungnya ke leher Maya, dan ia mencium aroma tipis beer yang selama ini diminumnya.
Ia tahu betul, Maya sedang tidak sadar sepenuhnya. Dan ia juga tahu, rasa yang mengendap dalam tubuhnya saat ini bukan hal yang boleh ia turuti. Tapi kedekatan mereka, aroma tubuh Maya, serta posisinya yang terlalu rentan, perlahan menumpuk dorongan liar yang berusaha ditahan keras-keras.
"Ahh.. berisik.." Maya bergelung dan mendorong wajah Chris agar menjauh, mengubah posisi tidurnya yang kini menjadi membelakangi Chris.
"Kamu tidur di ranjangku, Honey."
Maya masih mendesah pelan. Kedua pipinya memerah. Leher dan bahunya yang terbuka, benar-benar membuat Chris terganggu. Chris sangat menginginkannya. Namun ia tahu Maya sangat membenci kontak fisik seksual dengannya.
Chris mengalihkan pandangan, berdiri sejenak dan mengambil napas dalam-dalam, ia berusaha menetralisir pikirannya. Ini bukan waktunya untuk ego dan nafsu. Maya adalah seseorang yang ingin ia jaga, bukan memanfaatkanya. Ia menatapnya lagi, kali ini dengan sorot lebih lembut, tapi penuh rasa bersalah.
“Maya... lo nggak tahu, lo bikin gue susah berpikir jernih dalam keadaan kayak gini,” gumamnya lirih. Tapi meski begitu, ia tetap duduk di sisi ranjang, memantau, dan berjaga.
"Sialan! Kok gue jadi gerah gini, sih!" Chris membuang wajahnya dari Maya. Dia menyisirkan rambutnya ke belakang nyaris menjambak nya frustasi.
...****************...
Maya melenguh dan menggeliat dengan mata yang masih terpejam erat. Lalu tak lama kelopak mata Maya perlahan terbuka, berat dan masih terasa berputar. Kepalanya nyut-nyutan, seperti baru bangun dari tidur yang sangat dalam. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya temaram kamar. Maya merasakan sesuatu yang lembut di tangannya. Aroma selimut dan sprei, yang entah kenapa mengingatkannya dengan Chris. Aroma Woody.
Christian?!
Kesadarannya hampir terkumpul secara penuh. Maya mengusap kedua matanya, mencoba mengembalikan fokus pandangannya.
Ia duduk setengah sadar dan langsung menyadari sesuatu yang membuat jantungnya nyaris berhenti, ini bukan kamarnya. Ini... kamar laki-laki.
Maya buru-buru menoleh ke sekeliling. Ia melihat sebuah ruangan yang cukup luas. Dua lemari berpintu ganda berada di samping tempat tidur sebelah kanannya. Lalu sebuah ring basket berukuran mini berada di sebelah kirinya. Sprei gelap, poster segala macam gambar bertuliskan 'Rancangan Desain Fasade' ada di dindingnya, tumpukan buku dan barang-barang yang asing, semuanya bukan miliknya.
Maya masih mencoba menyeimbangkan kembali kemampuan berpikirnya. Kepalanya masih terasa pusing. Ia hanya ingat bahwa Chris membawanya paksa ke dalam kos pemuda itu. Lalu begitu fokusnya mulai kembali, tubuhnya menegang seketika.
Tangannya otomatis meraba tubuhnya sendiri, memastikan pakaiannya masih utuh. Dan Maya bisa bernafas lega karena semuanya masih terpasang sempurna di tubuhnya.
Namun, kelegaan yang dirasakan oleh Maya berubah menjadi kecemasan. Dan saat matanya tertuju ke jendela, ia mendapati langit sudah menghitam. Malam. Sudah malam!
"AAAAA!! CHRIIIS!!!"