Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Inara sudah menjadi ibu susu bagi Zidan selama empat tahun, waktu yang tidak sebentar untuk sekadar dianggap sebagai pengasuh. Ia yang terjaga setiap kali anak itu demam, ia yang paling hafal kebiasaan kecilnya, bahkan sering kali lebih dulu menyadari ketika Zidan akan sakit sebelum anak itu sendiri mengeluh. Kedekatan itu pula yang perlahan membuat Reno, ayah Zidan, menaruh hati padanya.
Bukan hanya rasa terima kasih, melainkan perasaan yang tumbuh diam-diam hingga akhirnya ia berani merencanakan pernikahan dengan Inara. Namun semua itu berubah sejak Zoya kembali. Mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan itu datang dan tanpa sadar merenggut kebahagiaan yang selama ini Inara jaga.
Hubungannya dengan Reno tak lagi hangat seperti dulu. Perdebatan demi perdebatan terus terjadi, tidak pernah benar-benar selesai, dan anehnya, Inara selalu berada di posisi yang disalahkan.
"Inara, kamu ini kenapa seperti anak kecil saja?" ucap Reno dengan nada yang terdengar biasa, tetapi cukup untuk membuat dada Inara terasa sesak. "Zoya itu ibunya Zidan, tidak perlu diperdebatkan kalau dia ingin mengajak anaknya pergi."
Ucapan itu membuat Inara terdiam sejenak, menahan banyak hal yang berdesakan di kepalanya. Ia tidak merasa sedang berdebat. Ia hanya khawatir. Sejak semalam Zidan demam dan panasnya baru saja turun, tetapi Zoya sudah ingin mengajaknya berenang. Bagi Inara, itu bukan keputusan yang bijak.
"Mas, Zidan itu baru turun panasnya," ucap Inara pelan, berusaha tetap tenang meski perasaannya mulai goyah. "Aku cuma takut nanti kondisinya—"
"Inara, kamu ini selalu cari alasan," potong Zoya dengan cepat, tidak memberi ruang bagi Inara untuk menyelesaikan kalimatnya. Nada suaranya lembut, tetapi menyimpan ketegasan yang terasa menyudutkan. "Seolah-olah aku ini ibu yang tidak tahu kondisi anak sendiri."
Kalimat itu membuat suasana seketika berubah. Inara menatap Zoya, lalu beralih pada Reno, berharap ada pembelaan sekecil apa pun. Namun yang ia dapatkan hanya ekspresi datar dan sikap yang seolah membenarkan ucapan Zoya.
"Aku sudah tanya langsung sama Zidan," lanjut Zoya, kini berbicara sambil menatap Reno. "Dia mau berenang dan bilang dia baik-baik saja."
Reno mengangguk singkat, seakan itu sudah cukup untuk mengakhiri perdebatan.
Di momen itu, Inara akhirnya mengerti satu hal yang selama ini coba ia abaikan. Selama empat tahun ia mungkin memang ada di sisi Zidan, merawat dan menjaganya tanpa henti, tetapi tetap saja, posisinya tidak pernah benar-benar dianggap setara. Ia hanya dibutuhkan saat diperlukan, bukan seseorang yang suaranya layak didengar.
Namun kasih sayangnya pada Zidan terlalu dalam untuk membuatnya diam. Ia menarik napas pelan, mencoba sekali lagi.
"Zoya," panggilnya, kali ini lebih hati-hati. "Anak yang baru turun panas memang butuh udara segar, tapi bukan berarti langsung diajak berenang. Kamu pasti tahu itu berisiko, jadi tolong ja—"
"Kamu ini kenapa sih, Inara?" potong Zoya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tajam. "Zidan itu baik-baik saja. Lihat saja dia, sudah rapi, tidak pucat seperti orang sakit. Atau jangan-jangan…" Zoya menyipitkan mata, bibirnya melengkung tipis. "Kamu justru berharap anakku sakit?"
Dunia Inara seperti berhenti sesaat. Ia tidak pernah membayangkan niat baiknya bisa diputar sekejam itu. Tubuhnya terasa kaku, sementara dadanya perlahan dipenuhi sesuatu yang sulit dijelaskan, antara sakit dan tidak percaya. Dengan sisa harapan, ia kembali menatap Reno. Namun harapan itu kembali runtuh ketika Reno membuka suaranya.
"Ara," ucap Reno pelan, tetapi justru terasa lebih menyakitkan. "Aku tahu kamu sayang sama Zidan. Tapi sayang pun ada batasnya. Jangan terlalu protektif seperti itu."
"Tapi, Mas aku—" suara Inara kembali terhenti, bukan karena ia kehabisan kata, tetapi karena sekali lagi ia tidak diberi ruang.
"Inara," sela Zoya, kini dengan nada yang jauh lebih lembut, seolah berbanding terbalik dengan sikapnya tadi. "Sebentar lagi keluarga ini akan jadi milikmu, dan aku benar-benar ikhlas menerimanya."
Ia berhenti sejenak, menatap Reno sekilas sebelum kembali melanjutkan.
"Hanya saja, sebelum itu terjadi aku ingin menghabiskan waktuku dengan Zidan. Aku ingin menebus semua kesalahanku karena pernah meninggalkannya."
Kalimat itu terdengar begitu tulus dan begitu menyentuh tapi justru itu yang membuat Inara semakin tidak punya tempat untuk membantah. Karena di hadapan seorang ibu yang ingin menebus kesalahan, segala alasan akan terdengar seperti ego semata.
Reno yang melihat Inara sepertinya belum menyerah ia pun bergegas untuk memberikan pukulan terakhir, "Sudahlah, biar kamu gak khawatir aku akan menemani mereka. Dan kamu di rumah saja itung-itung istirahat buat persiapan pernikahan kita nanti."
Mendengar kalimat itu Zoya merasa mendapatkan kemengannya. Sementara Inara merasa hatinya hancur berkeping-keping apalagi saat ini Reno membawa Zoya dan Zidan tanpa menoleh ke arahnya lagi.
Beberapa hari terakhir, sejak sikap Reno berubah, Inara mulai menyesali keputusan yang dulu ia ambil tanpa banyak berpikir.
Langkah Reno yang menjauh seakan menarik Inara kembali ke masa empat tahun lalu, ia masih muda, belum pernah hamil apalagi menikah. Hidupnya sederhana, sampai sebuah kesalahan medis mengubah segalanya.
Ia hanya datang ke rumah sakit untuk keluhan ringan, lalu menerima pengobatan tanpa penjelasan jelas. Beberapa minggu kemudian, tubuhnya berubah. Dadanya nyeri, hingga suatu pagi, ASI itu keluar.
Inara panik. Ia belum pernah hamil. Saat kembali ke rumah sakit, ia hanya mendapat jawaban samar, ketidakseimbangan hormon akibat pengobatan. Belakangan ia tahu, tubuhnya mengalami kondisi seperti Hiperprolaktinemia.
Sejak saat itu, hidupnya benar-benar berubah. Di tengah kebingungan yang belum sempat ia pahami, ia bertemu Reno—pria yang saat itu terlihat begitu putus asa karena bayinya kekurangan ASI. Tanpa banyak berpikir, Inara menawarkan diri untuk membantu. Ia pikir hanya sementara.
Namun tanpa ia sadari, keputusan itu justru menyeretnya terlalu jauh, hingga ia terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya.
Angin sore membuat Inara menyudahi ingatannya empat tahun lalu. Ia kini duduk sendiri di balkon menatap matahari yang hampir tenggelam.
"Kalau memang kamu sudah tidak memilihku… kenapa tidak bilang saja dari awal, Mas?" gumamnya lirih. "Aku pasti bisa pergi. Aku pasti bisa melepaskan semuanya… tanpa harus merasa seperti ini."
Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam erat, seolah menahan sesuatu yang hampir runtuh.
"Kalau kamu ingin kembali jadi keluarga utuh dengan dia… seharusnya kamu tidak menggantung perasaanku seperti ini."
Suara itu semakin pelan, nyaris seperti bisikan yang hanya ingin ia dengar sendiri.
"Apa aku yang terlalu bodoh, ya? Terlalu percaya sama janji-janji kamu…" bibirnya bergetar tipis. "Atau… aku yang terlalu mencintai?"
Nama itu akhirnya lolos juga, bersama perasaan yang tak lagi bisa ia tahan.
"Reno… Zidan…"
Mata Inara mulai memanas. "Kalian itu… keluarga pertama yang benar-benar aku miliki. Sesuatu yang sejak kecil bahkan tidak pernah aku punya."
Ia tersenyum tipis, tetapi benar-benar rapuh. "Tapi kenapa cuma sebentar?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban.
"Kalau dari awal aku tahu ini cuma harapan kosong…" suaranya nyaris hilang, "aku tidak akan pernah membiarkan perasaan ini tumbuh sejauh ini."
Saat Inara masih tenggelam dalam pikirannya, sesuatu tiba-tiba melayang dan menghantam kepalanya cukup keras. Bukan sakitnya yang membuatnya terkejut, tapi kenyataan bahwa ia bahkan tidak sempat bersiap.
Inara refleks menoleh. Dan saat matanya menangkap sosok di hadapannya, napasnya seketika tercekat.
"Ka… kamu?!"