NovelToon NovelToon
Mereka Adalah Suamiku

Mereka Adalah Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Wisa

⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga

Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.

Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...

Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.

Dua pria, satu wanita.

Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbutan Sebuah Cincin

Di dalam toko yang mewah dan beraroma wangi itu, matanya mulai menelusuri satu per satu etalase yang berisi berbagai macam perhiasan berkilau. Saat ia sedang asyik memilih, tak jauh dari tempatnya berdiri ada dua orang wanita yang juga sedang melihat-lihat barang. Kedua wanita itu berpenampilan sangat menarik, glamor, mengenakan pakaian bermerek dan perhiasan yang tak kalah mewahnya. Mereka adalah Clara dan Sania, kakak beradik yang dikenal berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang.

"Kak, lihat deh... ada pria yang sangat tampan dan keren di sana," bisik Sania sambil menyenggol lengan kakaknya pelan, matanya tak lepas menatap sosok Zyro yang terlihat gagah dan berwibawa.

Clara menoleh mengikuti arah pandang adiknya, lalu menatap lekat-lekat wajah Zyro.

"Ehh... wajahnya sepertinya tidak asing bagiku, San. Di mana ya aku pernah melihatnya? Rasanya aku pernah bertemu atau melihat wajah itu di suatu tempat," jawab Clara dengan nada berpikir keras.

"Kau benar, Kak. Aku juga merasakan hal yang sama. Wajahnya terasa sangat akrab," sambung Sania ikut memikirkan.

Setelah terdiam sejenak dan berusaha mengingat-ingat, tiba-tiba mata Clara terbelalak seolah baru saja mendapatkan jawabannya.

"Aku ingat! Dia kan pembalap terkenal yang sedang sangat naik daun belakangan ini, Zyro kan namanya? Pantas saja wajahnya begitu dikenal," seru Clara pelan namun antusias.

Tanpa ragu lagi, kedua kakak beradik itu pun segera melangkah mendekati tempat Zyro berdiri. Dengan senyum manis dan gaya yang memikat, mereka menyapa pria itu.

"Haii...," sapa mereka bersamaan dengan nada ramah namun menggoda.

"Bolehkah kami berkenalan denganmu, Tuan Tampan?" tanya Clara langsung pada intinya sambil tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang rapi.

Zyro hanya menoleh sekilas dengan tatapan datar dan dingin, lalu kembali menatap etalase perhiasan di hadapannya seolah tidak ada hal penting yang terjadi. Ia tidak menjawab sapaan itu sama sekali.

"Mungkin aku bisa membantumu memilih perhiasan yang paling cocok dan bagus untukmu? Aku cukup mengerti soal barang-barang seperti ini," tawar Clara lagi, tidak patah semangat meski ditanggapi dingin.

"Tidak perlu, Nona" jawab Zyro singkat dan ketus tanpa menoleh sedikitpun. Ia terlihat sangat tidak tertarik sama sekali pada kehadiran kedua wanita itu.

"Kau tahu tidak? Kakakku ini adalah seorang model internasional lho. Namanya sudah dikenal luas di mana-mana. Apakah kau benar-benar tidak mengenalnya? Dia baru datang ke Indonesia 3 hari yang lalu." seru Sania menyela dengan nada bangga, berusaha membesarkan nama kakaknya agar Zyro terkesan.

"Mungkin," jawab Zyro sekenanya, nada suaranya terdengar acuh tak acuh seolah tidak peduli siapa pun mereka dan seberapa terkenal mereka di luar sana.

Zyro sama sekali tidak melirik mereka lagi. Ia memanggil pelayan yang sedang berdiri agak jauh dari situ.

"Permisi, Nona... Apakah ada koleksi cincin yang lebih bagus dan indah dari yang ada di etalase ini? Bisakah Anda menunjukkan koleksi terbaik dan paling istimewa yang ada di toko ini padaku?" tanya Zyro dengan nada tegas namun sopan pada pelayan itu.

Mendengar pertanyaan Zyro, Clara yang merasa tersaingi langsung angkat bicara dan memanggil pelayan yang sama dengan nada yang tak kalah tinggi dan sombong.

"Aku juga sedang mencari cincin. Tolong berikan aku koleksi cincin yang paling mahal dan paling berharga di toko ini! Aku menginginkan yang terbaik," seru Clara dengan nada menantang, seolah ingin menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan lebih dari Zyro.

Clara lalu kembali menoleh ke arah Zyro dan bertanya dengan nada penasaran.

"Kalau boleh aku tahu... Apakah kau mencari cincin ini untuk ibumu atau untuk kerabat perempuanmu, Zyro?" tanyanya sambil tersenyum menggoda.

Zyro menoleh menatap Clara dengan tatapan tajam dan dingin.

"Aku rasa, kita tidak seakrab itu sampai aku harus menceritakan urusan pribadiku dan menjelaskan semuanya padamu, Nona," jawab Zyro ketus dan tegas.

Clara hanya tersenyum tipis mendengar jawaban yang dingin itu. Jujur saja, dalam hatinya ia justru semakin tertarik dan menyukai sikap Zyro yang terlihat begitu dingin, cuek, dan keren. Selama ini hampir semua pria selalu berebut mendekatinya dan bersikap manis padanya, namun Zyro justru sebaliknya. Sikap dingin dan wajah tampannya semakin membuat hati Clara berdebar dan bertekad ingin mendapatkan pria itu.

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa nampan berisi beberapa kotak beludru kecil yang terlihat sangat mewah dan mahal.

"Inilah koleksi cincin terbaik dan paling istimewa yang kami miliki, Tuan," kata pelayan itu sopan sambil membuka kotak-kotak itu satu per satu. Ia lalu menunjuk ke arah rekannya yang sedang berdiri agak jauh di sisi lain etalase, menambahkan, "Dan yang dibawa oleh rekan saya di sana adalah koleksi yang paling mahal dan berharga di seluruh toko ini, Nona," jelasnya menunjuk ke arah Clara.

Zyro sama sekali tidak peduli dengan ucapan yang ditujukan pada Clara. Matanya seketika tertuju pada sebuah cincin di salah satu kotak itu. Cincin itu memiliki batu permata berlian putih yang tidak terlalu besar, berkilau memancarkan cahaya yang menawan, dengan lingkar cincin yang dirancang begitu indah menyerupai ranting bunga. Cincin itu terlihat begitu anggun, indah, dan memikat hati.

"Aku mau yang ini," kata Zyro tegas sambil menunjuk cincin itu dengan pasti.

"Baik, Tuan. harga cincin itu adalah 500 juta rupiah," jelas pelayan itu dengan sopan namun hati-hati.

Clara yang dari tadi mengamati gerak-gerik Zyro juga melihat cincin yang ditunjuk oleh Zyro. Matanya langsung berbinar-binar, ia pun langsung jatuh hati pada cincin itu dan sangat menginginkannya.

"Aku juga mau yang itu!!" seru Clara dengan nada memerintah.

"Maaf Nona, tapi cincin ini adalah barang edisi terbatas. Kami hanya memiliki satu buah saja di seluruh dunia," jawab pelayan itu dengan ragu dan bingung menghadapi situasi itu.

"Aku yang memilihnya terlebih dulu!" bentak Zyro dengan nada tinggi dan menatap tajam ke arah Clara. Suaranya terdengar begitu mengintimidasi dan berwibawa.

"Aku akan membayarnya dua kali lipat dari harga aslinya! Jadi berikan padaku," tantang Clara dengan sombong, merasa uang bisa menyelesaikan segalanya.

Zyro sama sekali tidak menggubris perkataan Clara. Ia kembali menatap pelayan itu dan berkata tegas,

"Tolong bungkus cincin ini dengan baik, dan carikan juga pasangannya yang serupa untuk ukuran aku."

"Hei, kau pelayan! Apakah kau tidak mendengarkan ucapanku tadi? Kenapa kau malah melayaninya dan memberikannya padanya? Padahal aku bersedia membayar dua kali lipat!" seru Clara dengan nada marah dan tidak terima, suaranya mulai meninggi dan menarik perhatian pengunjung lain di toko itu.

"Maafkan saya Nona... Tetapi sesuai prosedur kami, barang akan diserahkan kepada pelanggan yang terlebih dahulu memilih dan memutuskan untuk membelinya," jawab pelayan itu dengan gugup namun berusaha tetap sopan.

"Aku tidak peduli dengan prosedur mu! Aku membayar dua kali lipat, itu sudah lebih dari cukup. Berikan cincin itu padaku sekarang juga!" teriak Clara mulai emosi, wajahnya memerah menahan amarah.

Pelayan itu menoleh menatap Zyro, meminta bantuan atau petunjuk dengan tatapan matanya. Namun Zyro hanya menatapnya dengan tatapan yang tajam, dingin, dan penuh kewibawaan seolah memerintahkan agar pelayan itu tetap pada pendiriannya dan tidak peduli pada teriakan wanita itu.

"Maafkan aku Nona... Aku tidak bisa melakukannya," ujar pelayan itu pelan namun tegas.

"Di mana manajer mu? Aku ingin bertemu dan berbicara langsung dengannya! Panggilkan manajer mu ke sini sekarang juga!" teriak Clara histeris, suaranya terdengar sangat keras dan membuat suasana di dalam toko itu menjadi kacau dan gaduh.

Melihat situasi semakin memanas dan kacau, salah satu karyawan buru-buru berlari masuk ke ruang belakang untuk memanggil manajer toko karena terjadi keributan yang cukup besar.

Tak lama kemudian, seorang pria berpenampilan rapi dan sopan segera keluar menghampiri mereka dengan wajah yang ramah namun tetap profesional.

1
Ichka Francisca
ceritanya menarik
Pena Wisa: bantu dukungannya ya kak ini novel perdananku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!