"Aku yang menghancurkan keluargaku sendiri."
"Aku yang membuat semua orang mengetahui tentang hubungan gelap kalian."
"Aku yang membuatmu berlutut meminta ampun saat ini."
Fransisca menikahi seorang milyarder yang mengalami cacat mental hanya untuk membalaskan dendam kematian ibunya. Menganggap lebih baik hidup sebagai pengasuh pria cacat, tapi mendapatkan kekuasaan mutlak.
Karena cinta baginya hanya... Bullshit!
Tapi mungkin tanpa disadarinya mata pria yang dianggapnya mengalami cacat mental itu hanya tertuju padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Semuanya berusaha untuk benar-benar tidak dipikirkan olehnya. Hal pertama yang dilakukannya adalah menarik Arkan Zoya ke kamar mandi.
"Saatnya untuk mandi!" Yang penting cepat, itulah yang ada dalam otaknya. Semakin cepat, maka pemandangan memukau ini tidak akan mempengaruhinya. Hingga dirinya tidak bermimpi mes*um lagi. Itulah yang terpenting saat ini sebagai kiat dalam menjaga anak. Tidak boleh menjadi pedofil walaupun tubuh Arkan merupakan tubuh pria dewasa. Tapi tetap saja mentalnya setara dengan anak kecil berusia 5 tahun.
"Kak Fransisca kenapa buru-buru?" Tanya Arkan kala piyamanya dibuka kasar.
"Aku harus bekerja di kantor hari ini. Arkan jadi anak yang baik, dengarkan kata-kata kakak butler ya?" Fransisca berusaha untuk tersenyum manis, walaupun sejatinya raut wajahnya memang sedikit terlihat tidak ramah sejatinya.
"Arkan akan menjadi anak baik. Jika yang mulia istri membelikan ice cream berukuran besar." Ucap Arkan antusias.
"Aku janji! Ice cream berukuran besar. Karena itu Arkan harus menjadi anak penurut ya?" Pintanya, menelan ludah kala mengamati bentuk tubuh yang begitu sempurna. Seperti pahatan patung dewa Yunani. Otot-otot yang tidak begitu besar tapi juga tidak begitu kecil.
Satu hal yang aneh mungkin baginya. Jika hampir dua tahun ini, Arkan Zoya mengalami kecacatan mental, mengapa bentuk tubuhnya tetap terjaga?
Apa mungkin dirinya yang terlalu banyak berpikir?
"Iya! Arkan akan menurut!" Pemuda yang tiba-tiba memeluk tubuhnya erat. Membuat otot-otot itu menempel pada tubuhnya. Lebih tepatnya dua gumpalan daging di tubuhnya. Ini terlalu sensual, begitu sensual, dirinya bulan pedofil. Tidak akan melecehkan pria dengan ingatan anak berusia 5 tahun.
"Iya... Arkan harus jadi anak baik." Ucap Fransisca.
Segalanya mulai sedikit terbiasa, berbeda dengan hari pertama. Hari ini dirinya membersihkan tubuh Arkan Zoya tanpa rasa canggung seperti sebelumnya. Bahkan Arkan Zoya sempat bercanda dengan menyiramkan air padanya. Atau terkadang pemuda itu bermain dengan mainan bebek, tertawa bersama menjadi hiburan baginya.
Bahkan kala melihat sendiri bentuk alat perkembangbiakan pemuda itu, Fransisca bagaikan sedikit terbiasa. Lagipula anggap saja makhluk ini anak kecil yang harus dirawat dengan gaji tinggi, sebagai baby sitter nya.
Tapi memang tidak dipungkiri, gerakan ekspresif Arkan Zoya yang sering memeluknya tiba-tiba. Benar-benar berbahaya. Itulah bahaya dari menjadi pengasuh pria dewasa yang bahkan lebih tampan dari idol remaja.
Hingga pada akhirnya Arkan Zoya telah berhasil dibersihkan olehnya. Menggunakan celana panjang dan sweater. Hanya pakaian santai.
Sedangkan Fransisca baru mulai membersihkan diri. Wanita yang keluar dari dalam kamar mandi setelahnya, hanya menggunakan sehelai handuk yang menutupi tubuh indahnya.
Matanya sedikit melirik ke arah Arkan Zoya yang tengah menggambar dengan krayon. Benar-benar anak manis tanpa dosa. Perlahan dirinya mengganti pakaian di kamar, bukan ruang ganti. Mengingat Arkan Zoya sama sekali tidak mungkin memperhatikanmu yang tengah mengganti pakaian. Ingatlah! Arkan Zoya saat ini bagaikan anak kecil berusia 5 tahun.
Hingga kala mengenakan kancing kemeja Fransisca merasa ada seseorang yang mengawasinya. Dengan cepat menatap ke arah Arkan Zoya. Tapi pemuda itu tetap pada aktivitasnya menggambar dengan krayon tanpa ada tanda-tanda menoleh sama sekali padanya.
"Apa mungkin perasaanku saja?" Gumam Fransisca, kembali mengenakan pakaiannya. Sudah hampir waktunya sarapan, makanan delivery juga sudah dipesan. Karena itu dirinya harus berdandan secepat mungkin.
Mengenakan begitu banyak foundation, leher dan bagian di atas dadanya terlihat beberapa bekas berwarna kebiruan. Mungkin karena peredaran darah yang kurang lancar. Dirinya berusaha positif thinking.
Lagipula Fransisca merupakan tipikal orang yang mudah dibangunkan ketika tidur. Jika ini perbuatan manusia seharusnya dirinya sudah terbangun. Tapi tidak sama sekali.
Hingga tinggal beberapa riasan tipis. Jadilah wanita karier cantik jelita. Kala hendak melangkah keluar sang butler telah berdiri di belakang pintu terlihat kebingungan dan ragu. Membawa bungkusan makanan delivery.
"Zedna? Kenapa tidak mengetuk pintu?" Tanya Fransisca.
"Saya sedikit ragu." Sang butler membenahi letak kacamatanya. Kemudian memberikan makanan delivery pada Fransisca.
"Terimakasih." Fransisca meraihnya.
"Saya permisi..." Butler yang begitu aneh, melangkah mundur, kemudian berjalan pergi.
Pintu kembali ditutup oleh Fransisca. Tibalah satu lagi tugasnya sebelum berangkat bekerja, yaitu menyuapi Arkan Zoya.
"Arkan ayo makan! Ada bubur ayam." Panggil Fransisca.
"Arkan mau! Arkan mau! Tapi Arkan tidak suka seledri." Gumamnya menunduk.
"Nanti kak Fransisca pilihkan untuk Arkan." Lagi-lagi helaan napas terdengar dari mulut Fransisca. Namun melihatnya makan begitu lahap seperti anak burung, sungguh begitu manis.
"Nanti, Arkan sama sekali tidak boleh turun ke lantai satu ya?" Perintah Fransisca kala menyuapi suaminya.
"Arkan tidak akan turun ke lantai satu, hanya bersama kak butler di kamar." Jawab Arkan dengan mulut penuh.
"Bagus...anak pintar. Nanti yang mulia istri belikan lolypop raksasa." Janjinya penuh senyuman kembali menyuapi Arkan.
Pria yang setia, mudah diatur, rupawan, tidak mendominasi, dan yang terpenting kay. Apalagi yang kurang dari sosok Arkan Zoya saat ini. Dirinya cepat atau lambat akan memiliki anak mengukuhkan statusnya.
Memanfaatkan Arkan Zoya dengan timbal balik. Dirinya melindungi pemuda ini sebagai istri yang cerdas. Sedangkan Fransisca mendapatkan keuntungan berupa harta berlimpah.
***
Melangkah menuruni tangga penuh arogansi. Seperti biasanya anggota keluarga ini masih sarapan bersama. Sarapan dalam jumlah besar pastinya. Para pelayan melayani mereka, seolah-olah merekalah penguasa rumah ini.
Tapi tidak apa, dengan begini bagus juga. Kebutuhan rumah ini, termasuk para pelayan dan koki yang bekerja melayani mereka. Semuanya tidak akan lagi menjadi tanggung jawab Arkan Zoya. Dirinya dan Arkan tidak mendapatkan pelayanan, untuk apa membayar.
"Mau kemana?" Tanya Johan terdengar dingin.
"Bekerja... bukankah sudah aku katakan aku akan mulai bekerja. Ingat! 72% saham masih menjadi milik suamiku." Fransisca tersenyum hendak kembali melangkah.
"Fransisca! Seharusnya kamu seperti Mira. Sebagai wanita berpendidikan, diam di rumah atau mencari relasi untuk suami, dengan mengikuti pertemuan dan arisan sosialita. Seperti Mira..." Naya kembali membandingkan.
"Bukankah karena kalian pemalas?" Fransisca tersenyum mengejek melangkah pergi melalui pintu depan.
"A...aku tidak pemalas. A...aku ingin bekerja, jika saja bukan karena penyakitku." Mira menunduk, benar-benar sayu dan layu keadaan wanita cantik paripurna bagaikan bunga mawar yang terjatuh ke got.
"Sayang...kamu tenang ya? Fransisca memang keterlaluan." Doni merangkul bahu Mira menenangkannya.
"Kalau begitu mulailah berkerja. Ayah akan siapkan jabatan untukmu. Lagipula kamu memiliki pengalaman kuliah di luar negeri. Akan mudah mencari kursi kosong untukmu." Kalimat Johan meminum susu di hadapannya. Namun matanya sedikit melirik ke arah Mira. Apa benar yang diucapkan Sela?
"Jika begitu, A...aku akan mulai..." Lagi-lagi Mira tidak sadarkan diri.
Ini terjadi lagi. Johan mulai tidak puas dengan menantunya saat ini.
"Mira...jika ingin menjadi istri yang tidak akan diceraikan, bantu Doni di perusahaan." Tegasnya