NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Di Bawah Gulungan Mandat

Salah satu cabang Paviliun Tianlu berdiri di ujung jalan utama Hongluo, menjulang seperti pasak raksasa yang ditancapkan ke tanah. Sementara di puncak atapnya, sebuah pilar kristal biru berdenyut pelan, memancarkan dengungan rendah yang membuat telinga orang biasa berdenging, itulah pusat ‘Mata’ yang mengawasi seluruh distrik Hongluo. Bendera biru dengan lambang awan berlapis tergantung di tiap sudut, berkibar pelan tertiup angin pagi.

Li Shen melangkah masuk ke halaman depan. Beberapa murid Paviliun Tianlu yang sedang berlatih langsung berhenti. Tatapan mereka tertuju padanya yang mengenakan pakaian sederhana, langkahnya tenang, pedang di punggung.

Bisikan demi bisikan pun muncul.

“Dia yang katanya tadi di Selendang Merah?”

“Katanya tangan kosong tapi bisa menjatuhkan dua orang.”

“Omong kosong. Tanpa qi itu mustahil.”

Li Shen berhenti tepat di tengah halaman. Ia berbicara lantang. “Aku Li Shen. Aku datang untuk bertanggung jawab.”

Semua orang terdiam di waktu yang sama sebelum kekehan serak terdengar dari arah tangga utama.

“Bertanggung jawab?”

Seorang pria paruh baya turun perlahan dengan memegang sebuah gulungan kertas kekuningan yang disebut sebagai Gulungan Mandat. Tubuhnya tegap, wajahnya tenang, tapi matanya dingin seperti baja, tatapan seorang akuntan yang sedang menghitung kerugian, bukan seorang pejuang.

Dia adalah Han Qingshan. Pengawas Senior Paviliun Tianlu distrik Hongluo, seorang kultivator menengah-atas yang berada di tingkat 7 tahap awal Penguasa Domain.

Li Shen merasakan perubahan itu seketika. Udara di sekitar mengental, tanah di bawah kakinya terasa berat. Bukan tekanan kasar, melainkan wilayah yang tak terlihat namun jelas dimiliki seseorang.

Qi tunduk pada niatnya. Bukan sekadar tekanan kekuatan, rasanya seperti birokrasi yang menindih bahu rakyat jelata. Rasa takut akan hukum, rasa takut akan aturan yang tidak adil, itulah esensi Domain ‘Ketertiban Mandat’ milik Han Qingshan.

Dua murid yang tadi dipukul Li Shen muncul dari belakangnya, wajah masih pucat, lutut salah satunya diperban tebal.

“Senior Han!” mereka menunjuk Li Shen. “Inilah orangnya! Dia yang menyerang kami tanpa qi!”

Han Qingshan menatap Li Shen dari kepala sampai kaki. Tatapannya berhenti sesaat di pedang di punggungnya. “Cacat kultivasi,” ujarnya begitu datar. “Tapi berani.”

Li Shen membalas tatapan itu tanpa gentar. “Muridmu memeras pedagang. Aku menghentikannya.”

“Pedagang itu berada di bawah perlindungan Paviliun Tianlu,” jawab Han Qingshan. “Apa pun yang kami lakukan, bukan urusan orang luar.”

“Kalau begitu,” ucap Li Shen, “aku orang luar yang ikut campur.”

Beberapa murid mencibir.

“Kurang ajar sekali.”

“Dia cari mati, ya?”

Han Qingshan mengangkat tangan, menghentikan mereka. Senyuman tipis muncul di sudut bibirnya. “Nak, kau tahu aturan di sini?”

Li Shen mengangguk. “Yang kuat… yang benar.”

“Bagus,” puji Han Qingshan. “Kalau begitu, buktikan.”

Tanpa aba-aba, tekanan qi menyebar dari tubuh Han Qingshan. Beberapa murid mundur satu langkah tanpa sadar. Udara di halaman terasa berat.

Li Shen tetap berdiri di tempat. Bukan karena ia tahan tekanan itu, melainkan karena ia tidak menolaknya. Ia melangkah maju. Satu langkah.

Tekanan qi menghantam tubuhnya seperti dinding tak terlihat. Napasnya tertahan, tulang-tulangnya berderit. Tapi ia tidak berhenti.

Han Qingshan menyipitkan mata. “Menarik.”

Li Shen meraih Pedang Langit. Tidak ada cahaya qi. Tidak ada aura. Hanya baja yang dingin. Namun Li Shen tidak menyerang. Ia menancapkan pedang itu ke tanah. “Ini bukan sebuah tantangan,” ujar Li Shen. “Ini pernyataan.”

Han Qingshan tertawa. “Pernyataan apa?”

“Bahwa orang lemah bukan mainan,” jawab Li Shen. “Dan Paviliun Tianlu tidak berhak untuk memeras kota ini.”

Sudah pasti keberanian Li Shen kembali membisukan Paviliun Tianlu. Beberapa murid menelan ludah.

Han Qingshan menatap pedang yang tertancap di tanah. Untuk pertama kalinya, ekspresinya tertarik. “Kalau aku menghukummu sekarang,” katanya, “apa yang bisa kau lakukan?”

Li Shen mengangkat kepala. “Aku akan kalah.”

Jawaban itu membuat banyak murid makin terkejut.

“Tapi,” lanjut Li Shen, “Hongluo akan ingat siapa yang memulai.”

Angin berembus lebih kencang. Han Qingshan terdiam cukup lama sebelum akhirnya tersenyum lebar, sambil mengusap-usap dagunya. “Kau bukan orang bodoh,” ucapnya. “Kau masalah baru. Tapi masalah bisa jadi peluang.” Ia mengibaskan lengan. Tekanan qi menghilang. “Pergilah hari ini.”

Murid-murid terkejut. “Senior Han?!”

“Tapi ingat,” lanjut Han Qingshan sambil menatap Li Shen tajam, “Paviliun Tianlu tidak pernah melupakan masalah.”

Li Shen mencabut pedangnya dari tanah. Ia membungkuk singkat. “Aku menunggunya.”

Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan halaman Paviliun Tianlu yang sunyi, penuh tatapan campur aduk takut, marah, dan penasaran.

Dari kejauhan, Han Qingshan bergumam. “Pemuda itu cacat kultivasi… tapi hatinya sekeras itu. Seharusnya bukan masalah besar.”

1
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!