NovelToon NovelToon
Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Kukuh Basunanda

Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wisuda Nayla

Hari yang di nanti akhirnya tiba. Nayla tampil anggun dengan balutan kebaya pilihannya. Ia begitu bahagia mengikuti prosesi wisuda di auditorium kampus. Saat namanya di sebut oleh MC, ia berjalan pelan menuju podium sembari memancarkan aura senyuman.

"Wisudawati selanjutnya, Nayla Fitria Junaedi, S.Pd, silakan menuju ke podium untuk pengukuhan gelar sarjana" suara master of ceremony.

Rektor memindahkan tali toga dari kiri ke sebelah kanan yang menandakan status Nayla sebagai mahasiswi telah berganti menjadi seorang sarjana. Raut wajah Nayla berada di awan kesembilan usai pelepasan acara sakral tersebut.

Keluar dari auditorium, Nayla di sambut hangat oleh pak Jun dan Bu Jun.

"Selamat yah Ney Ney sayang" ucap Bu Jun kepada putrinya.

"Selamat yah Nayla sayang" ujar pak Jun.

"Makasih yah ayah bunda" sahut Nayla.

Dari arah yang lain, Dimas menghampiri Nayla dengan membawa buket bunga plus boneka wisuda. Nayla melangkah dan merenggangkan kedua tanganya ke arah Dimas. Mereka berpelukan di iringi tangis haru dan tawa.

"Selamat ya beb, akhirnya kamu wisuda juga" ucap Dimas kepada sang kekasih.

"Iya yank, makasih yah untuk segala perhatian mu selama ini sampai akhirnya aku bisa wisuda" Nayla berujar.

Bu Junaedi yang menyaksikan keakraban mereka berdua turut tersenyum bahagia namun tidak dengan pak Junaedi. Ia segera melangkah menghampiri mereka.

"Ehem .. ehem .." suara dehem pak Jun.

"Eh ayah, aku jadi malu" ucap Nayla.

"Udah belum nih mesra-mesraan nya, kapan kita poto-potonya ?" kata pak Jun memandang wajah putrinya.

"Oh iya ayah, aku sampai lupa, ayok kita foto bareng, Nayla udah siapin loh fotografer handal" kata Nayla.

Sang fotografer mendatangi mereka.

"Apa sudah siap buat foto kak ?" tanya fotografer ke Nayla.

"Udah dong mas" jawab Nayla.

"Pertama kakak foto sama ortunya dulu yah dan nanti berikutnya sama pacar kakak" kata fotografer.

"Oke siap mas"

Setelah beberapa kali jepretan, Nayla meminta fotografernya mengabadikan sesi foto bersama antara Nayla, orang tuanya dan juga Dimas, namun pak Jun menolak.

"Kenapa harus ada Dimas ? dia kan bukan siapa-siapa kita" ucap pak Jun yang kini mulai menentang keras hubungan mereka berdua.

"Jangan gitu dong yah, biar bagaimana pun juga kan kak Dimas calon suami Nayla" sahut Nayla.

"Hah .. calon suami dari Hongkong" jawab ketus pak Jun.

"Sudah lah pah, gak usah merusak suasana bahagia, biarkan saja nak Dimas ikut foto bareng kita" ujar Bu Jun ke suaminya.

Pak Junaedi akhirnya mengalah demi kebahagiaan putrinya tersebut.

"Siap yah, satu .. dua ..tiga ...eksyen" suara fotografer saat memfoto mereka.

"Satu lagi yah, gaya bebas, bapak dan ibu agak mendekat, iya betul begitu, satu ..dua..tiga..eksyen" suara fotografer lebih lanjut.

Sinar matahari di jiwa, sepanjang perjalanan pulang, hati Nayla masih di selimuti rasa bahagia namun di satu sisi ia mulai ragu tentang hubungannya dengan Dimas setelah melihat keangkuhan ayahnya kepada Dimas akhir-akhir ini.

Sampai di kediaman mereka, pak Jun langsung meminta Nayla duduk di sofa ruang tamu.

"Nay, sebentar, ayah mau ngobrol sama kamu" ucap pak Junaedi. Mendengar permintaan itu, bu Junaedi menatap wajah suaminya sejenak lalu duduk di samping Nayla.

"Apa yang bakal kamu rencanakan mas Jun ?" tanya Bu Jun di dalam hatinya seakan penuh cemas.

"Kamu kan sudah wisuda, ini sudah saatnya bagi kamu buat mikirin masa depan", kata pak Jun menatap wajah putri semata wayangnya.

"Apa maksud ayah ?" tanya Nayla.

"Yah ayah kepengin kamu cepat menikah"

"Pasti dong yah, sama kak Dimas kan ?" sahut Nayla sambil tersenyum.

Pak Jun menggelengkan kepala. Ia menatap wajah Nayla dengan penuh serius.

"Bukan nay, ayah pengin menjodohkan kamu dengan Anton"

"Hah mas Anton, cowok yang dulu pernah ayah kenalin ke Nayla disini ?" tanya Nayla terkaget.

"Iya" jawab ayahnya.

"Gak yah, Nayla gak mau di jodohin, Nayla cuma cinta sama kak Dimas" Nayla menolak dengan nada tegas.

"Kamu pikir hidup ini cuma modal cinta, hidup itu butuh makan Nay, butuh duit banyak, ayah yakin, Anton lah pria yang bisa mencukupi kebutuhan mu dan bersamanya kamu bakal bahagia" sanggah pak Jun.

Kebahagian Nayla seketika berubah menjadi kesedihan. Nayla melangkah cepat menuju kamarnya. Nayla menangis tersedu-sedu, tubuhnya menelengkup di kasur, dagunya menyandar di bantal gulingnya.

"Kenapa ayah egois banget, ayah gak ngerti perasaan aku" gerutu Nayla dalam hatinya sambil menangis.

"Aku benci ayah, ayah egois" lanjut suara hatinya. 

Bu Jun datang mengetuk pintu kamar Nayla.

"Tok ..tok ..tok ..Ney, ini bunda Ney, bunda boleh masuk sayang ?" suara bu Jun sembari mengetuk pintu kamar Nayla.

Nayla berdiri, menyeka air matanya lalu membukakan pintu kamarnya untuk bundanya. Bu Jun segera memeluk tubuh Nayla.

"Anak bunda jangan sedih, jangan nangis yah, bunda ikutan sedih kalau kamu sedih ney" ujar bu Jun, memeluk erat tubuh Nayla.

"Ini yang selama ini bunda khawatirkan sayang, keegoisan ayah mu telah merusak kebahagiaanmu"

"Terus Nayla mesti gimana bun ?" tanya Nayla masih dengan isak tangisnya yang mengiringi.

"Nayla gak cinta sama mas Anton, Nayla gak mau di jodohin, yang Nayla mau cuma kak Dimas"

"Bunda ngerti banget  sayang tapi kita juga gak bisa melawan kehendak ayah mu, kamu tau sendiri kan bagaimana karakter ayahmu, bunda takut kalau kamu melawan keinginan ayahmu, dia gak akan segan mengusirmu dari rumah" suara lirih bu Jun, matanya mulai meneteskan air mata.

"Jadi baiknya kamu ikutin saja dulu permintaan ayahmu"

"Gak bisa bun, gak mau bunda, aku gak bisa ninggalin kak Dimas, hatiku sudah terlanjur sayang dengan kak Dimas" ujar Nayla yang tetap bersihkukuh menolak perjodohan itu.

"Kalau memang itu yg ayah mau, baik, Nayla yang bakal pergi dari rumah ini" lanjut kata dia kembali.

"Kamu jangan nekat Ney, terus kamu mau tinggal dimana ?" tanya bundanya dengan penuh kecemasan.

"Bun, Nayla udah gede, Nayla bisa kok kerja cari uang sendiri dan Nayla nanti mau ngekost, Nayla punya hak buat nentuin pilihan hidup Nayla sendiri" sahut Nayla.

***

Suara nada dering handphone Dimas berbunyi bertanda ada panggilan masuk. Dalam layar handphone nya tertulis nama om Jun sedang memanggilnya. Tanpa membuang waktu, Dimas langsung mengangkatnya.

"Assalamualaikum, nak Dimas" suara pak Jun lewat telpon.

"Walaikum sallam om" respon Dimas.

"Nak Dimas, om pengin ngobrol penting sama kamu, nanti sore temuin om yah di cafe teras sawah jam 5" kata pak Jun.

"Tapi maaf om Jun, nanti sore saya ada jadwal ngajar les privat, bagaimna kalau besok malam minggu aja om ?" tawar Dimas ke pak Jun.

"Kamu ijin dulu aja lah, apa susahnya sih ? ini penting banget menyangkut hubungan kamu dan Nayla" ucap pak Jun.

"Baik om, kalau begitu nanti sore saya sempatkan datang kesana om" cakap Dimas.

"Oke, om tunggu yah nak Dimas, kamu jangan sampai gak datang pokoknya"  suara pak Jun dan langsung memutus telponnya.

"Tumben banget yah, om Jun ngajakin ketemuan, kok aku ngrasa gak enak yah ?" gumam Dimas dalam hati.

Tepat pukul 17.00 WIB, Dimas memenuhi janjinya datang menemui pak Junaedi di cafe teras sawah.

"Assalamualaikum om" sapa Dimas.

"Eh walaikum sallam, nak Dimas, silakan duduk dulu, mau pesan apa ?" tanya pak Junaedi.

"Gak usah repot-repot om, terimakasih" respon Dimas.

"Maaf, ada apa ya om Jun undang saya kesini ?" tanya Dimas begitu penasaran.

"Jadi begini nak Dimas, sebelumnya om minta maaf, om cuma mau minta satu hal ke kamu" ucap pak Jun.

"Minta apa om ?"

"Om minta mulai sekarang kamu jauhi Nayla" ucap pak Jun.

"Loh emang kenapa om ?" Kembali Dimas bertanya.

"Nayla akan om jodohkan dengan pria mapan yang om pikir bisa bahagiakan Nayla"

Dimas terperanjat setengah mati mendengar ucapan ayah dari pujaan hatinya tersebut.

"Tapi aku sayang Nayla, gak semudah itu kalau om minta aku jauhi Nayla" sanggah Dimas.

"Aku bakal buktikan ke om kalau aku juga bisa bahagiakan Nayla" ucap Dimas lebih lanjut.

"Mau kamu bahagiakan Nayla pake apa ? cinta ? Itu gak cukup Dimas"

"Calonnya Nayla punya jabatan yang mentereng di perusahaannya, sedangkan kamu apa ? kerjaan aja gak jelas" ujar pak Jun dengan ekspresi wajah mendidih ke arah Dimas.

"Satu lagi Dimas, saya ini seorang anggota dewan, apa kata orang nanti, kalau saya punya menantu dari keluarga miskin seperti kamu" pak Jun kembali menyerang Dimas dengan kata-katanya.

Hati Dimas bagai tertusuk pisau tajam. Ia tak ingin mendebat pak Junaedi lebih lanjut. Ia memilih pasrah dengan apa yang sedang terjadi.

"Baik lah kalau memang itu keputusan yang telah om buat, saya hormati itu, detik ini juga saya akan jauhi Nayla om" ujar Dimas.

"Satu hal yang harus om  Jun tau, saya memang miskin om tapi saya juga punya harga diri, om gak boleh seenaknya menghina keluarga saya"

"Bagus kalau kamu menyadari itu, om pegang janjimu buat jauhi Nayla" ucap pak Jun.

"Baik, terimakasih untuk waktunya om, maaf, saya harus pergi, permisi" ujar Dimas dengan hati yang tertusuk.

Berhenti di sebuah pohon besar, Dimas duduk menunduk meratapi nasibnya. Kisah cintanya dengan Nayla yang telah di pupuk bertahun-tahun lamanya kini harus kandas di tengah jalan karna egoisme orangtua. Matanya menatap layar handphone nya. Jarinya menekan aplikasi whatsApp kemudian mengirim chat kepada Nayla. Sebuah ucapan perpisahan di ketik Dimas untuk Nayla.

"Adakalanya kita harus membiarkan kaca itu terpecah daripada kita harus menyakiti diri sendiri demi menyusunnya kembali. Terimakasih Nayla sayang untuk semua perhatian telah kau berikan kepada ku selama ini. Mungkin kita begitu yakin kisah ini akan tumbuh di pelaminan namun ternyata takdir berkata lain yang mengharuskan kita berpisah. Aku akan selalu mendoakan mu, semoga engkau bahagia dengan lelaki pilihan ayahmu. Percayalah beb, nama mu akan selalu ada di hati aku sampai kapan pun. Aku sayang banget sama kamu, Nayla"

Handphone Nayla berdering, chat whatsApp dari Dimas telah masuk. Nayla membacanya sembari mengucurkan air mata. Ia mencoba membalas chat Dimas namun di layar chat whatsApp nya hanya terlihat tanda centang satu.

"Apakah ayah sudah bilang kak Dimas tentang semua ini ? oh Tuhan kenapa harus aku yang menanggung ini semua ? Di saat aku mencintai seseorang, di saat akar cinta telah tumbuh di hatiku, tapi ayah justru menariknya hingga terputus" suara jerit tangis Nayla di dalam hatinya.

"Kak Dimas, kenapa Kamu gak balas chat aku, apa mungkin nomor whatsApp ku telah di blokir kak Dimas ?" suara Nayla lirih berbicara dengan dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!