Nara, seorang gadis cantik yang tinggal bersama keluarga angkatnya sejak usia lima tahun karena semua keluarganya meninggal dalam sebuah bencana yang terjadi kampungnya lima belas tahun lalu.
Saat ini Nara sedang berkuliah di salah satu kampus swasta di kota tempat ia tinggal saat ini. Orang tua angkatnya bukan lah orang sembarangan mereka termasuk orang yang sangat berpengaruh di kota itu. Mereka tidak memiliki anak karena anak satu-satunya dinyatakan hilang di saat bencana yang terjadi di kampung halaman Nara.
Nara anak yang sangat patuh namun suatu hari dia jatuh cinta pada pria yang merupakan pengawal pribadi sahabatnya Airin yang bernama Iam.
Namun Iam pria yang dingin dan cuek sangat sulit untuk di dekati. Namun Nara memiliki banyak cara agar bisa dekat Iam. Namun di saat Iam mulai luluh dan sebuah kebenaran terbongkar membuat Nara harus patah hati karena Iam merupakan anak dari keluarga angkatnya yang hilang.
Bagaimana kelanjutan cerita mereka? simak yu ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya bertenu sang Bunda.
Nara dan sang bunda sudah tiba di rumah peninggalan sang nenek. Rumah yang dulu hancur karena bencana kini sudah bagus setelah Yuda membangunnya kembali atas permintaan Kalila.
"Bunda aku bersihkan dulu kamarnya, " ucap Nara lalu masuk ke kamar yang akan di tempati sang bunda.
Sebenarnya sebelum mereka datang rumah ini sudah di bersihkan hanya saja Nara selalu membersihkannya kembali.
"Kak, " panggil sang bunda pada Nara.
"Iya bunda, " jawab Nara sambil melirik sang bunda.
"Kamu coba ke rumah pak RT suruh kesini bunda ingin bicara sama dia, " titah sang bunda.
"Bunda istirahat saja, nanti sore baru kita bicarakan, " ujar Nara karena mereka baru saja tiba.
"Sekarang saja, biar besok setelah dari kuburan kita bisa langsung pulang, " balas sang bunda dan akhirnya Nara pun langsung pergi ke rumah pak RT.
Nara pun tiba di rumah Pak RT dan dia langsung mengetuk pintu.
"Cari siapa ya? " tanya seorang ibu-ibu saat membuka pintu.
"Pak RT nya ada bu? " tanya Nara balik.
"Ada, ini sama siapa ya? " jawab ibu-ibu yang buka pintu.
"Saya anak nya, bu Kalila yang rumahnya di sana. Kami sudah ngabarin kok pak RT, " balas Nara menjelaskan.
"Oh, bentar saya panggil kan, silahkan duduk dulu, " ucap si ibu itu dan langsung masuk.
Tak butuh waktu lama Pak RT keluar dan mereka langsung pergi menuju rumah sang nenek. Tibanya di rumah Kalila langsung bicara dan Nara dia memilih ke dapur untuk membuat minum. Pak RT setelah selesai bicara dia pun pulang dan Kalila dia langsung masuk kamar dengan di ikuti Nara.
"Kenapa sih bunda tiap taun selalu ngasih uang pada pak RT, itu uang apa bun? " tanya Nara yang penasaran.
"Untuk mengurus kuburan kakek, nenek dan om kamu, " jawab sang bunda lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Em, oya bun untuk makan bunda mau makan apa? " tanya Nara karena hari sudah mulai sore.
"Terserah kamu bunda ikut saja, " jawab sang bunda.
"Ya udah kalau gitu aku coba cari keluar, bunda di tinggal gak apa-apa kan? " tanya Nara dan Kalila mengangguk.
Nara pun melangkah ke luar dia berjalan kaki sambil menikmati pemandangan di kampung itu yang masih di penuhi pesawahan. Namun tiba-tiba sebuah motor berhenti dan saat di lihat ternyata orang kepercayaan sang bunda.
"Mang Iman, " ucap Nara kaget.
"Iya neng, neng mau kemana? " tanya mang Iman.
"Ke depan mang cari makan, " jawab Nara dengan ramah.
"Hayu mang antar, " ucap mang Iman menawarkan diri.
"Gak usah mang, jalan saja nanti bikin repot mang lagi, " tolak Nara gak enak.
"Udah gak apa-apa neng, hayu, " balas mang Iman.
Nara pun akhirnya naik dan mereka berbincang selama di jalan.
"Oya neng, mang ada yang mau di bicarakan sama ibu neng, " ucap mang Iman.
"Apa mang? " tanya Nara penasaran.
"Tahun lalu setelah neng sama ibu pulang, tiba-tiba ada yang datang ke kuburan seorang pemuda sama anak remaja, " beritahu mang Iman.
"Mang tanya mereka siapa? " tanya Nara.
"Enggak neng, karena saat mang akan mendekat mereka sudah pergi, " jawab mang Iman.
"Ciri-ciri nya bagaimana mang? " tanya Nara.
"Gak jelas sih neng, cuman tinggi saja, " balas nya.
"Ya sudah mang, gak usah bicara sama bunda takutnya bunda berharap itu anak nya yang hilang dan malah membuat bunda berharap lebih" ucap Nara gak mau melihat sang bunda sedih.
"Iya neng, makanya mang juga bingung. Tapi mang juga penasaran makanya mang bicara sam neng, " balas mang Iman.
Nara pun tersenyum dan mereka melanjutkan perjalanan. Setelah tiba Nara langsung memesan makanan dan tidak lupa dia pesan kan untuk mang Iman dan keluarganya. Setelah selesai mereka pulang dan sebelum mang Iman pergi Nara langsung memberikan makanan ya g dia pesan buat mang Iman dan keluarganya.
"Aduh neng gak usah, " tolak mang Iman.
"Udah gak apa-apa mang bawa saja rejeki, " ucap Nara sambil tersenyum lalu masuk ke dalam.
Di dalam dia langsung menyiapkan makanan dan setelah siap dia langsung memanggil sang bunda dan mereka makan berdua. Setelah makan Nara masuk kamar begitu pun sang bunda. Nara bermain ponsel dan karena tidak ada kerjaan dia mengirim pesan pada Iam namun tidak di balas sama sekali membuat Nara kesal dan dia memutuskan untuk tidur.
Iam dia bangun pagi sekali karena dia akan berangkat ke kampung halaman sang ibu. Iam tidak membangunkan Haikal karena hari masih lumayan malam. Iam langsung pergi meninggalkan rumah milik Haidar dengan sepeda motornya. Iam tiba pukul tujuh pagi di kampung sang ibu dan tujuannya langsung ke makan sang kakek. Iam tidak lupa membeli air dan bunga lalu dia masuk ke area makam. Iam jongkok di depan makan sang kekek dan tidak lupa membacakan doa.
Di tempat lain Nara dan sang bunda sedang berjalan menuju makan dengan membawa bunga dan air. Mereka pun tiba di are pemakaman, namun tiba-tiba ponselnya berdering dan dia meminta izin kepada sang bunda untuk mengangkatnya dan sang bunda memilih masuk lebih dulu. Kalila dia terus berjalan ke arah makam sang bapak namun jalannya tiba-tiba berhenti saat melihat sosok laki-laki yang sedang berjongkok di samping makan sang bapak. Kalila yang penasaran akhirnya dia mendekat laki-laki itu dan menepuk pundaknya membuat laki-laki itu melirik ke arah Kalila dan reaksinya kaget.
"Ilham, " panggil Kalila.
Anak laki-laki itu meneteskan air mata karena wanita di depannya ini sang bunda. Orang yang selama ingin dia temui.
"Bunda, " ucap Iam lalu memeluk sang bunda begitu pun Kalila dia langsung memeluk Ilham dan menangis.
"Akhirnya bunda bisa bertemu sama kamu,bunda yakin kalau kamu masih hidup" ucap Kalila.
"Ilham juga sama bunda, " balas Iam.
Nara dia selesai mengangkat telepon dia langsung menyusul sang bunda namun dia kaget saat melihat sang bunda sedang berpelukan dengan seseorang.
"Bunda, " panggil Nara.
Kalila pun melepaskan pelukannya dengan Ilham dan menghapus air matanya.
"Ra, ini Ilham, " ucap Kalila sama Nara.
Ilham pun berbalik dan Nara dia kaget saat melihat sosok di depannya ini.
"Bang Iam, " gumam nya.
Ilham pun kaget saat Nara memanggil bundanya dengan sebutan bunda.
"Dia Nara adik kamu, " ucap Kalila mengenalkan Nara.
Nara dia berusaha nahan air matanya karena dia gak percaya jika Iam merupakan anak dari sang bunda.
"Bang, " panggil Nara sambil tersenyum.
"Sini sayang, kita berdoa di depan makan kakek, nenek dan om Fajar, " panggil Kalila pada Nara dan Nara pun mendekat dan dia berdiri di samping sang bunda.
Pikiran Nara tidak fokus karena dia masih kaget dengan kejadian barusan.