NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Kabut tipis sisa semalam masih menggantung rendah di atas aspal ketika bus sekolah kuning berukuran besar itu berhenti dengan sentakan pelan di depan gerbang Oakridge High School.

Pintu bus terbuka dengan bunyi desis hidrolik yang khas.

Dari manifes penumpang yang turun di urutan paling belakang, tampak dua sosok yang berjalan beriringan: Claire Wadde’ dan Issabelle Reichenbach.

Aroma pagi di Los Angeles yang bersih bercampur dengan bau bahan bakar dari knalpot bus.

Claire berjalan dengan langkah kecil, kedua tangannya memeluk erat tali ranselnya di dada.

Gadis ramah itu sesekali melirik ke arah Issabelle yang berjalan di sampingnya dengan ketenangan yang mutlak, seolah-olah kebisingan ratusan murid yang mulai memadati halaman sekolah tidak memengaruhi fokusnya sedikit pun.

"Kelas sejarahmu ada di gedung barat, Issa," ucap Claire pelan, memecah keheningan di antara mereka saat langkah mereka mencapai area persimpangan koridor utama loker.

"Aku harus segera ke laboratorium biologi di lantai dua sebelum bel berbunyi. Kau... kau tahu jalan ke kelasmu, kan?"

Issabelle mengangguk pendek. Mata abu-abunya memindai denah koridor yang sudah dihafalnya sejak kemarin.

"Ya. Aku tahu."

"Baiklah. Sampai jumpa di jam makan siang nanti," kata Claire dengan senyuman kecil yang tulus, lalu berbalik dan melebur ke dalam kerumunan murid yang berjalan ke arah tangga.

Sepeninggal Claire, Issabelle melanjutkan langkahnya menyusuri koridor utama gedung barat.

Langkah sepatunya yang teratur tiba-tiba harus melambat ketika sebuah siluet tubuh menghadang jalannya tepat di belokan dekat ruang loker nomor 114.

Issabelle menghentikan langkahnya, mempertahankan jarak taktis satu meter dari sosok di depannya.

Mata abu-abunya yang tajam melakukan pemindaian visual dalam waktu kurang dari satu detik.

Gadis yang menghadangnya ini mengenakan seragam sekolah Oakridge High School yang sudah dimodifikasi secara ekstrem—atau lebih tepatnya, sangat jauh dari kata rapi.

Kemeja putihnya sengaja tidak dikancingkan tiga baris dari atas, memperlihatkan kaus dalam berwarna hitam dengan logo band rock metal.

Rok seragamnya digulung di bagian pinggang hingga menggantung beberapa sentimeter di atas lutut, dan sepasang sepatu bot kulit tebal berwarna hitam legam yang penuh coretan spidol menggantikan sepatu sekolah standar.

Rambutnya yang berwarna cokelat gelap dipotong dengan gaya wolf-cut yang berantakan, melengkapi kesan pemberontak yang sangat kental.

Issabelle mengenali wajah ini. Melalui memorinya dari hari pertama kemarin, gadis urakan ini duduk di baris paling belakang di kelas sastra dan sejarah yang sama dengannya.

Namun, Issabelle sama sekali tidak memiliki niat untuk berkenalan, mengajak berbicara, ataupun mengetahui namanya.

Baginya, menjalin interaksi sosial yang tidak memiliki nilai strategis atau keuntungan di sekolah ini hanyalah sebuah pemborosan energi.

"Ellodia," ucap gadis urakan itu seketika, memecah keheningan sebelum Issabelle sempat melangkah memutarinya.

Suaranya terdengar serak, khas seseorang yang sering berteriak di konser musik bawah tanah.

Ia menyandarkan punggungnya pada pintu loker besi, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Issabelle dengan binar mata yang penuh rasa ingin tahu.

Issabelle mengernyitkan alisnya yang rapi, ekspresi wajahnya tetap sedatar es. Ia tidak merespons jabat tangan atau sapaan verbal yang umum.

Ellodia tidak merasa terganggu dengan sambutan dingin itu.

Sudut bibirnya terangkat membentuk cengiran lebar yang menampakkan tindikan kecil di lidah bagian dalamnya.

"Aku memperhatikanmu sejak kemarin di kelas sejarah, Anak Baru. Cara kau menatap guru yang sedang menjelaskan materi, dan terutama bagaimana kau mengabaikan tatapan dari kelompok anak-anak elit itu... Sepertinya kau orang yang cukup asik."

Issabelle menatap Ellodia dengan pandangan yang kosong dan mematikan.

"Aku tidak butuh teman," jawab Issabelle murni tanpa basa-basi, suaranya terdengar mutlak dan sedingin musim dingin di Frankfurt. Ia bersiap untuk melangkah pergi.

Namun, di luar dugaan Issabelle, Ellodia justru mengeluarkan suara dengusan geli yang keras.

Gadis itu menegakkan tubuhnya, melangkah satu tapak ke samping untuk tetap sejajar dengan arah pandang Issabelle.

"Sama," sahut Ellodia dengan cepat, cengirannya semakin lebar.

"Aku juga tidak butuh teman. Menurutku teman itu merepotkan, suka bergosip, dan kebanyakan palsu. Tapi, kalau sahabat... aku perlu. Dan kurasa kau orangnya."

Pernyataan yang begitu lugas, aneh, dan penuh rasa percaya diri yang tidak masuk akal itu menggantung di udara koridor sekolah yang bising.

Issabelle Reichenbach, seorang senjata hidup yang dilatih untuk menganalisis pengkhianatan politik dan strategi militer, seketika membeku.

Logikanya yang biasanya berjalan dengan kalkulasi matematis mendadak mengalami eror ringan menghadapi tipe manusia seperti Ellodia.

Pernyataan "aku tidak butuh teman tapi butuh sahabat" adalah kalimat paling konyol yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya.

Melihat ekspresi wajah Issabelle yang sempat melongo samar sebelum kembali datar, Ellodia tidak bisa menahan dirinya lagi.

Gadis urakan itu tertawa lepas, sebuah tawa yang keras dan blak-blakan tanpa memedulikan pandangan aneh dari murid-murid lain yang lewat di koridor.

Rasa geli yang murni, yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dirasakan oleh Issabelle di tengah tekanan klan mafianya di Jerman, mendadak merayap naik dari dadanya.

Kontradiksi sikap Ellodia yang sangat kontras dengan aturan protokoler yang kaku di dunianya terasa begitu menyegarkan.

Bibir tipis Issabelle yang biasanya terkunci rapat dalam garis dingin perlahan-lahan berkedut, dan sedetik kemudian, sebuah tawa pendek yang jernih lolos dari tenggorokannya.

Tawa itu dengan cepat bersahut-sahutan dengan tawa keras Ellodia, meledak bersama untuk pertama kalinya di koridor Oakridge High School yang ramai.

Bagi murid-murid lain yang menyaksikan dari kejauhan, pemandangan itu tampak sangat ganjil: si murid baru misterius yang dingin dan si siswi sekolah yang urakan, berdiri di depan loker sambil tertawa lepas seolah-olah dunia di sekitar mereka tidak lagi memiliki arti.

Di tengah kepungan bahaya dari klan-riccardo yang mengintai, Issabelle justru menemukan satu titik anomali yang membawa warna baru dalam penyamarannya di Los Angeles.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Tawa yang sempat pecah di koridor loker beberapa jam lalu kini telah menguap, digantikan oleh dengung bising bel yang menandakan jam istirahat pertama telah tiba.

Ratusan murid berhamburan keluar kelas, memenuhi lorong-lorong dengan obrolan ringan dan tawa yang menggema.

Namun, di bagian tertinggi Oakridge High School, atmosfernya benar-benar berbeda.

Pintu besi tebal yang membatasi akses menuju rooftop gedung barat terbuka dengan bunyi klik halus.

Angin siang yang berembus kencang seketika menerpa wajah seorang siswi yang baru saja melangkah keluar.

Roknya yang digulung tinggi dan potongan rambut wolf-cut-nya bergoyang acak dihantam angin. Ellodia.

Gadis yang baru beberapa jam lalu tertawa lepas bersama Issabelle itu kini tidak menampakkan cengiran konyolnya sama sekali.

Tatapan matanya berubah, menjadi lebih tajam, waspada, dan penuh rahasia.

Ia berjalan mendekati pembatas dak beton.

Di sana, memunggungi pintu, berdiri seorang pria jangkung yang seragam sekolahnya tampak sangat rapi dan kontras dengan penampilan urakan Ellodia.

Pria itu menatap lurus ke arah halaman sekolah di bawah, tempat para murid berkumpul seperti semut.

"Aku sudah melakukan bagianku," ucap Ellodia, suaranya kini terdengar rendah dan serius, terbawa angin siang yang kering.

Pria itu tidak berbalik, namun pundaknya tampak sedikit bergerak, menandakan ia mendengarkan dengan saksama.

"Aku akan berteman baik dengannya," lanjut Ellodia, menatap punggung pria di depannya.

"Jangan khawatir, aku akan membantumu untuk dekat dengannya. Dia tipe orang yang sangat menutup diri, tapi aku berhasil memecahkan es pertamanya tadi pagi."

Mendengar laporan itu, sang pria perlahan memutar tubuhnya.

Sinar matahari siang menyinari garis wajahnya yang tegas dan dingin.

Sepasang matanya menatap Ellodia dengan binar yang sulit diartikan—campuran antara rasa lega dan kalkulasi yang dalam.

"Terima kasih," jawab pria itu, suaranya berat dan nyaris berbisik namun terdengar begitu mutlak.

"Tolong jaga dia dengan baik. Jangan sampai ada orang lain yang menyentuhnya."

Ellodia mengangguk pendek, ekspresinya tetap serius tanpa ada niat untuk bercanda.

Ia melirik jam tangan digital hitam di pergelangan tangannya, lalu menatap kembali pria di depannya dengan tatapan memperingatkan.

"Baiklah, aku akan pergi sekarang," kata Ellodia sambil berbalik, bersiap menuju pintu besi.

Namun, sebelum melangkah, ia menghentikan kakinya sejenak dan menoleh melalui bahunya.

"Dan satu hal lagi... Jangan sering menemuiku di tempat terbuka seperti ini. Aku tidak mau orang-orang di sekolah tahu, kalau pria sok dingin seperti mu adalah sepupuku."

Sebuah senyuman misterius dan tipis terukir di wajah pria itu, namun ia tidak membalas ucapan Ellodia.

Ia hanya membiarkan sepupunya itu melangkah pergi, membiarkan pintu besi rooftop tertutup kembali dengan bunyi dentuman pelan.

Di atas atap yang sepi itu, rahasia tentang siapa sebenarnya yang sedang mengincar dan mengawasi setiap gerak-gerik Issabelle Reichenbach terkunci rapat bersama embusan angin siang.

...* * * *...

Sementara itu, kontras dengan ketenangan yang mencekam di atas atap, area kantin utama Oakridge High School justru berada di puncak kebisingannya.

Aroma kentang goreng, pizza, dan soda menguar di udara, bercampur dengan suara tawa dan denting nampan makanan.

Di sudut paling elite kantin—meja melingkar yang letaknya paling strategis dan ditakuti oleh murid lain—tampak beberapa anggota inti kelompok penguasa sekolah sudah berkumpul.

George duduk dengan posisi bersandar yang sangat santai, satu tangannya memutar-mutar kunci mobil sportnya di atas meja.

Di sebelahnya, Skylar, Grey sedang menikmati minuman kalengnya sambil memperhatikan sekitar.

Grey melirik ke arah George, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan meja.

"Kudengar kau tidur dengan kakak kelas semalam, George," tanya Grey dengan nada menyelidik yang sarat akan provokasi khas remaja.

George tidak membantah.

Sebaliknya, pria itu justru menepuk dadanya sendiri, menampilkan seringai bangga yang sangat kentara di wajahnya yang tampan namun angkuh.

"Aku tidak akan menolaknya, Bro. Kalau ada umpan manis yang datang sendiri ke apartemen ku, bodoh namanya kalau tidak kusikat habis."

Grey mendengus keras, melempar sebuah gumpalan tisu bekas ke arah wajah George sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jangan lupa pakai pengaman, Brengsek. Kau benar-benar pria gila yang tidak punya otak kalau menyangkut urusan wanita."

George hanya tertawa terbahak-bahak, mengabaikan umpatan sahabatnya seolah itu adalah pujian tertinggi bagi ego lelakinya.

Di tengah tawa George, dari arah koridor toilet yang terletak tidak jauh dari kantin, sesosok tubuh tegap berjalan mendekat.

Navarro Von-riccardo melangkah dengan ritme yang lambat namun penuh tekanan, membuat beberapa murid kelas satu yang kebetulan berdiri di jalurnya langsung mundur teratur demi memberikan jalan.

Navarro menarik kursi di samping Grey dan langsung mendudukkan dirinya.

Wajahnya tampak datar, sepasang mata gelapnya memancarkan aura dingin yang membuat tawa George perlahan mereda.

Grey menoleh ke arah Navarro, menatap sahabatnya itu dengan dahi yang berkerut heran.

"Kau ke toilet ngapain? Kok lama sekali?" tanya Grey, murni karena penasaran karena Navarro biasanya tidak pernah menghabiskan waktu lama hanya untuk urusan kamar mandi.

Navarro melirik Grey melalui sudut matanya yang tajam.

Ekspresi wajahnya berkedut samar, menampilkan rasa tidak nyaman yang kentara.

"Jangan tanya hal menjijikkan seperti itu, Grey," ucap Navarro, suaranya rendah dan terdengar bergidik ngeri saat ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Kau terlihat seperti seorang gadis cerewet yang sedang bertanya pada kekasihmu sendiri. Menjijikkan."

George yang mendengar jawaban ketus Navarro seketika kembali meledakkan tawanya, memukul meja makan dengan keras.

"Hahaha! Dengar itu, Grey! Kau sudah seperti ibu-ibu protektif sekarang!"

Grey hanya mendengus, memutar bola matanya malas sambil meneguk kembali sodanya.

Di meja itu, pembicaraan kembali berputar pada urusan pesta akhir pekan, namun pikiran Navarro sama sekali tidak berada di sana.

Matanya sesekali bergerak dinamis, memindai area pintu masuk kantin, seolah-olah ia sedang menanti seberkas wangi mawar es yang hingga detik ini belum juga memicu sensor insting-nya.

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Ros 🌷🦋: author suka yang happy ending kak🤭😅
total 1 replies
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Ros 🌷🦋: author buat ending nya happy 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Ros 🌷🦋: masih lanjut ya kak reader🥰😅
total 3 replies
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!