Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Langkah Besar
Sejak pembicaraan di ruang kerja beberapa hari lalu, pikiran Rahman tidak pernah benar-benar tenang.
Map investasi itu masih tergeletak di atas mejanya. Ia membukanya beberapa kali, lalu kembali menutupnya. Terus seperti itu, sampai-sampai ia mengabaikan pekerjaannya.
Angka-angka keuntungan di dalamnya terlalu menarik untuk diabaikan. Namun, pengalaman bisnis mengajarinya satu hal, sesuatu yang menjanjikan keuntungan tinggi biasanya datang bersama bahaya yang sama besar.
Rahman menarik napas panjang, lalu bangkit, meraih jas nya dan memilih untuk pulang.
Tidak berapa lama, ia sampai di rumah. Ia melempar kunci mobil ke atas meja kecil di ruang tamu, lalu melonggarkan dasinya dengan wajah lelah.
Dyah yang sedang duduk menonton televisi langsung menoleh. "Kamu sudah pulang, Man?"
"Iya, ma," jawab Rahman lirih.
Dyah mengerutkan keningnya. "Ada apa, Man? Kamu kelihatan banyak pikiran. Apa ada masalah di perusahaan?"
Rahman menghela napas panjang. "Tidak, ma. Tapi, ada tawaran investasi yang membuatku bingung."
Dyah langsung mematikan televisi. "Investasi?"
Rahman mengangguk.
"Bukankah itu bagus?"
"Belum tentu." Rahman duduk di sofa seberangnya. "Keuntungannya besar. Tapi risikonya juga tinggi."
Dyah berpikir sejenak. "Lalu, siapa yang mengusulkan investasi ini?"
"Camila," jawab Rahman singkat.
Mendengar nama itu, ekspresi Dyah justru berubah lebih cerah. " Kalau Camila yang mengusulkan, berarti semua sudah dipikirkan baik-baik."
Rahman menatap ibunya. "Mama terlalu percaya padanya."
"Kenapa tidak?" sahut Dyah cepat. "Sebelum, sampai sesudah menikah dan masuk ke keluarga ini, dia sangat baik. Dia merawat Mama, perhatian sama Lina, membantu kamu di kantor. Sekarang dia memberimu jalan supaya keluarga kita naik lebih tinggi."
Rahman diam.
"Orang sukses itu harus berani ambil risiko, Man," ucap Dyah dengan nada meyakinkan. Ia lalu mencondongkan badan. "Kamu mau jalan di tempat terus?"
"Bukan begitu, Ma. Aku—"
"Kalau kamu ikut, kamu bisa lebih besar dari sekarang," potong Dyah cepat.
Kalimat itu sama persis seperti yang Camila ucapkan beberapa hari lalu. Dan, semua itu terasa semakin masuk akal.
"Man," ujar Dyah lebih lembut. "Kita sudah susah payah membangun nama keluarga ini. Kalau ada peluang besar, kenapa takut?"
Rahman menyandarkan punggung ke sofa. Matanya menatap kosong ke depan.
Ia tahu keputusan ini berbahaya. Namun, ia juga tahu, ambisi selalu terdengar lebih keras daripada mencegah kerugian.
"Baiklah, akan aku pikirkan." Rahman berdiri, berjalan menuju tangga meninggalkan Dyah yang tersenyum puas, penuh keyakinan.
Rahman masuk ke kamar utama. Langkah terhenti sejenak, saat melihat Camila yang sedang duduk di depan meja rias, memakai skincare malam sambil melihat bayangannya di cermin.
"Kamu sudah pulang, mas?" Ia menoleh sambil tersenyum manis.
Rahman menutup pintu, lalu berjalan mendekat. "Iya." Rahman memeluk Camila dari belakang, menghirup aroma wangi tubuhnya.
"Mas, mandi dulu sana!"
"Nanti saja setelah kita... " Rahman mencium tengkuk leher Camila, tangannya meraba bagian favorit nya.
"Mas..." Camila menggigit bibir bawahnya. Namun, ia menghindar dengan lembut. "Kita lanjutkan nanti setelah kamu mandi."
Rahman menghela napas, lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Jangan marah," ucap Camila.
"Aku tidak marah. Hanya saja... Aku setuju."
Camila menatap Rahman dari pantulan cermin dengan mata berbinar. "Setuju?"
Rahman mengangguk. "Iya, aku setuju untuk investasi itu."
Dalam sekejap, Camila berdiri..Wajahnya penuh rasa gembira yang tidak bisa ia sembunyikan. Lalu, Ia memeluk leher Rahman erat.
"Aku tahu, kamu akan mengambil keputusan tepat."
Rahman tersenyum tipis. Untuk sesaat, ia ikut terbawa antusiasme wanita itu.
"Aku akan mengurus semuanya," ujar Camila cepat. "Kita harus bergerak sebelum kesempatan ini diambil orang lain."
" Kau atur saja," ucap Rahman.
Camila mencium pipi Rahman, lalu berdiri dengan sudut bibir yang terangkat tipis, nyaris tidak terlihat.
Keesokan harinya, kantor pusat Wijaya Group lebih sibuk dari biasanya.
Rahman duduk di ruang rapat pribadi bersama dua pria berjas mahal dan seorang konsultan keuangan.
Di depan mereka, tumpukan dokumen tersusun rapi di meja.
"Jika dana masuk minggu ini, posisi Anda akan sangat kuat," ujar salah satu pria itu.
Rahman membaca setiap halaman. Namun, kali ini tidak selama biasanya. Keyakinannya sudah dibangun semalaman, sehingga ia tidak ragu saat mengambil pena dan menandatangani berkas-berkas tersebut. Karena, nilai investasi itu, lebih besar daripada keputusan bisnis mana pun yang pernah ia ambil sebelumnya.
Setelah selesai, semua orang berdiri dan berjabat tangan.
Ucapan selamat pun memenuhi ruangan.
"Selamat atas langkah besar anda, Pak Rahman."
Rahman tersenyum. Dadanya dipenuhi sensasi kemenangan, seolah ia baru saja membuka pintu menuju masa depan yang lebih tinggi.
"Terima kasih," ucapnya.
Sementara itu, jauh di tempat lain, tepatnya di lantai paling atas gedung Atma Group, seorang pria berdiri membelakangi pintu.
Tangannya berada di saku celana. Tatapannya mengarah ke jendela besar yang memperlihatkan kota.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk!"
Arga, asistennya, melangkah masuk sambil membawa tablet.
"Tuan, Tuan Rahman Wijaya baru saja menandatangani investasi besar," lapornya.
Pria itu tidak langsung menoleh. "Semua?" tanyanya singkat.
"Hampir seluruh aset likuid dan beberapa jaminan tambahan."
Sunyi sejenak. Lalu, pria itu tersenyum miring. "Sangat berambisi."
Arga menatapnya hati-hati. "Apakah ini sesuai perkiraan Anda?"
Pria itu akhirnya menoleh sedikit. Sorot matanya terlihat dingin.
"Pengusaha yang terlalu berambisi, sering kali tidak sadar jika sedang berjalan ke arah jurang." Pria itu kembali menatap jendela. "Dan, bisa saja itu menjadi awal yang menyakitkan."
si pengusaha yg no Wahid ngalahi Rahman...
ada yg mau kasih bicoran
berprilaku baik mengerjakan ini itu ternyata ada maunya....🤣🤣🤣