NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEHARI SEBELUM

Aroma nasi goreng menyusup ke kamar sebelum Arka sempat turun dari tempat tidur—bau bawang putih yang digoreng sampai keemasan, bercampur kecap yang gosong sedikit di pinggir wajan, persis seperti yang selalu dibuat ibunya. Persis seperti yang Arka tidak pernah sadar dia rindukan, sampai aroma itu menarik tubuhnya keluar dari kamar seperti tali tak kasat mata.

Dia duduk di meja makan, menatap punggung ibunya yang bergerak pelan di depan kompor, bersenandung lagu yang Arka tidak ingat judulnya—tapi melodinya tersimpan di tempat yang lebih dalam dari memori, di tempat di mana suara-suara pertama kehidupan disimpan sebelum seseorang bisa mengingat apa pun.

"Kamu kok diem aja, sayang? Masih kepikiran mimpi semalem?" Ibunya meletakkan piring di depan Arka—telur ceplok dengan pinggir gosong, kuning telur yang masih cair di tengah.

Arka mengangguk pelan. Sendok di tangannya tidak bergerak.

"Mimpinya tentang apa?"

Tentang Mama. Tentang kehilangan Mama. Tentang enam belas tahun tanpa Mama, dan tentang berapa kali aku berharap bisa duduk di meja ini lagi, persis seperti sekarang.

"Nggak tau," jawab Arka. "Cuma... serem aja."

Ibunya duduk di seberangnya, menyentuh tangan Arka—telapak tangannya hangat, sedikit lengket karena minyak goreng. "Hei. Kalau ada yang bikin kamu takut, kamu bisa cerita ke Mama, ya."

Arka menatap tangan itu. Tangan yang, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, akan menjadi sesuatu yang Arka hanya bisa ingat—tidak pernah lagi disentuh, tidak pernah lagi hangat.

"Mama," katanya, suaranya lebih pelan dari yang dia maksudkan, "besok... Mama ada acara apa?"

Ibunya tampak sedikit terkejut, tapi menjawab santai sambil menyendok nasi ke piringnya sendiri. "Besok? Mama mau jemput Tante Rina di terminal, terus rencananya kita ke rumah Bayu—kamu udah lama pengen main ke sana, kan?"

Arka mengangguk. Kali ini lebih lambat, seperti mengangguk dalam air.

"Kenapa? Udah nggak sabar, ya?" Ibunya tertawa kecil, suara tawanya pendek dan ringan—suara yang Arka tidak sadar bisa dia hapal sampai sekarang, sampai dia mendengarnya lagi setelah enam belas tahun, dan menyadari betapa dia hampir melupakannya.

"Nggak," kata Arka. "Aku cuma... aku cuma mau Mama hati-hati di jalan."

Ibunya tersenyum, mengusap kepala Arka dengan tangan yang masih sedikit berminyak. "Mama selalu hati-hati, sayang. Tenang aja."

Tidak, pikir Arka. Besok Mama nggak akan hati-hati cukup. Atau mungkin Mama akan sangat hati-hati, dan itu tetap nggak akan cukup. Aku nggak tau lagi mana yang benar.

Sepanjang hari itu, Arka menempel pada ibunya seperti bayangan—sesuatu yang aneh untuk anak berusia delapan tahun yang biasanya lebih suka berlari ke rumah Damar begitu sarapan selesai, memanjat pagar, bermain di got kecil di belakang komplek sampai magrib.

Tapi hari ini, dia ikut ke pasar, berjalan setengah langkah di belakang ibunya sambil memperhatikan cara ibunya menawar harga cabai dengan nada bercanda yang selalu berhasil membuat pedagangnya tertawa dan memberi tambahan gratis. Dia ikut menjemur cucian, memegang ujung sprei sementara ibunya menjepitkannya ke tali jemuran, angin sore membuat kain itu mengembang seperti layar.

"Kamu nggak main ke rumah Damar?" tanya ibunya saat sore mulai turun, cahaya jingga menyusup lewat sela-sela genteng.

"Nggak," jawab Arka. "Aku mau di sini aja sama Mama."

Ibunya tersenyum—tapi ada sesuatu di matanya, sesuatu yang Arka tidak bisa namai saat itu, dan baru dia pahami sekarang: kelegaan kecil. Seolah ibunya, tanpa sadar, juga merasakan ada yang berbeda hari ini. Seolah dua orang yang sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi besok, sama-sama memilih untuk saling mendekat, didorong oleh insting yang tidak punya nama.

Mereka duduk berdua di teras saat matahari mulai turun, ibunya mengupas mangga dengan pisau kecil, kulitnya jatuh dalam satu pita panjang tanpa putus—keahlian yang Arka, di usia dewasanya, tidak pernah berhasil tiru.

Ibunya bercerita tentang masa kecilnya. Tentang ayah Arka yang dulu sering mengirim surat cinta dengan kata-kata yang—menurut ibunya, sambil menahan tawa—"terlalu berlebihan sampai bikin malu kalau dibaca ulang sekarang." Tentang bagaimana mereka pertama kali bertemu di sebuah toko buku, dan ayahnya pura-pura tidak tahu jalan keluar hanya untuk punya alasan bicara lebih lama.

Arka mendengarkan setiap kata seperti orang yang kelaparan. Dia menyimpan suara tawa ibunya. Cara ibunya memegang gelas teh dengan dua tangan, seolah gelas itu bisa menghangatkan jari-jarinya yang dingin meski cuaca tidak dingin. Bau parfum ringan—sesuatu seperti melati—yang menempel di baju ibunya, baju yang besok akan—

Arka menghentikan pikirannya sendiri.

"Ma," katanya, "kalau... kalau besok Mama nggak usah jemput Tante Rina, gimana?"

Ibunya menoleh, mengangkat alis, pisau kecil masih di tangannya. "Lho, kenapa? Tante Rina udah nunggu, sayang. Kalau Mama nggak jemput, dia nggak bisa pulang."

"Tapi... tapi kalau ada orang lain yang jemput? Atau Tante Rina naik taksi aja?"

Ibunya tertawa, mengusap rambut Arka—gestur itu lagi, gestur yang sudah menjadi semacam jangkar bagi Arka sepanjang hari ini. "Kamu ini kenapa sih, dari pagi aneh banget. Mama jemput Tante Rina, terus kita ke rumah Bayu sama-sama. Nanti kamu seneng, kok."

Arka menelan ludah—dan rasanya seperti menelan batu.

Dia ingin berteriak. Ingin berkata, Mama, besok mobil Mama akan tergelincir di Jalan Raya Cipayung, dekat jembatan, sekitar jam tiga sore. Mama akan—

Tapi siapa yang akan percaya pada anak berusia delapan tahun yang berkata seperti itu? Bahkan jika dia berhasil membuat ibunya percaya—lalu apa? Mengubah jadwal hari ini berarti mengubah apa yang akan terjadi besok. Tapi mengubah ke arah mana? Dia tidak tahu apakah dia sedang memperbaiki sesuatu, atau justru menciptakan jalan baru menuju hal yang sama, dari arah yang berbeda.

Malam itu, sebelum tidur, Arka duduk di lantai kamarnya—lantai kayu yang dingin menembus celana tidurnya—memikirkan rencana sambil menatap langit-langit yang dipenuhi bintik-bintik fosfor yang menyala redup, sisa dari mainan yang dia tempel sendiri bertahun-tahun lalu, dan yang akan terus menyala di kamar kosong ini bahkan setelah rumah ini dijual, sampai akhirnya dicat ulang oleh pemilik baru.

Dia memikirkan beberapa opsi.

Membuat mobil mogok. Tapi dia tidak tahu apa pun soal mesin, dan seorang anak delapan tahun yang merusak mobil pasti akan langsung dicurigai.

Berpura-pura sakit. Jika sakitnya cukup parah, mungkin ibunya akan membatalkan rencana dan tinggal di rumah.

Mengubah waktu keberangkatan. Jika dia bisa membuat ibunya berangkat lebih awal—atau lebih lambat—bahkan hanya beberapa menit, mungkin itu cukup. Kecelakaan, dia ingat pernah membaca, sering soal hitungan detik. Satu lampu merah yang terlewat sedikit lebih cepat atau lambat, dan dua benda yang seharusnya bertemu di titik yang sama tidak akan pernah bertemu.

Opsi terakhir terasa paling masuk akal—dan paling memungkinkan untuk dilakukan oleh anak kecil tanpa terlihat aneh.

Arka berbaring di kasurnya, menatap bintik-bintik fosfor itu memudar perlahan, menatap langit-langit yang sama yang akan dia tatap setiap malam selama enam belas tahun ke depan—di kamar yang akan kosong, yang akan jadi gudang, yang akan jadi bagian dari rumah yang dijual ayahnya karena tidak tahan tinggal di tempat yang penuh dengan ingatan tentang istrinya.

"Besok," gumamnya pada dirinya sendiri, suaranya hampir tertelan oleh suara hujan yang mulai turun lagi di luar—pelan, hampir tidak terdengar, seperti sesuatu yang sedang menahan diri. "Besok aku akan ubah semuanya."

Dia tidak tahu—tidak bisa tahu—bahwa kalimat itu, yang diucapkan dengan begitu sederhana oleh seorang anak yang hanya ingin ibunya tetap hidup, akan menjadi titik di mana semuanya mulai bercabang. Bahwa "mengubah semuanya" bukanlah satu pintu, melainkan ribuan pintu—dan di balik setiap pintu yang terbuka, ada satu pintu lain yang akan tertutup selamanya, membawa serta seseorang yang dicintainya.

Hujan semakin keras. Di kejauhan, entah di mana, sesuatu mulai bergerak—sesuatu yang belum punya nama, belum punya wajah, tapi sudah menunggu.

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!