NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Menempa Bilah Tajam

(ini adalah gambaran ilustrasi detail 'setelah melengkapi perlengkapannya' dari karakter utama Yudha)

Fanart By : Xian Nying

Pagi. Kota Aethelgard kelihatan bersih, rapi, bangunan tinggi-tinggi bagus. Tapi di sini cuma kumpulan bedebah yang pura-pura suci. Anjing-anjing sampah yang nyamar jadi manusia. Babi rakus yang cuma mau harta sendiri. Semua bagus di luar, tapi di dalem busuk banget. Dunia emang tempat sampah, diisi kroco rendahan gak ada harganya.

Di dalam rumah besar itu udara dingin, baunya campur tanah, debu dan sisa darah. Ada gw, ada Lyra, ada Carmelia. Gw muka dingin, mata tajam bikin siapa aja takut. Lyra tenang meski badan penuh luka. Carmelia gak pernah berhenti ngawas segala arah.

Gw berdiri di depan ember air, lihat bayangan gw sendiri.

Sialan, tampang gw kayak orang baru habis berantem sama anjing liar

Di sebelah kiri ada Lyra. Bajunya juga rusak, lengan dan kaki penuh sobekan, kulit bengkak, ada luka bernanah. Tapi dia gak pernah ngeluh, gak pernah minta diobati, gak pernah cengeng kayak cewek lemah. Biola yang dia beli semalam juga rusak parah, kayu retak, senar putus, gak guna lagi. Tapi dia beda sama bedebah di luar sana. Dia tahu tempatnya. Dia milik gw, alat gw.Cuma milik gw.

Di sebelah kanan ada Carmelia. Anak kecil berambut biru itu pegang dua pisau tua yang udah tumpul parah. Matanya gak pernah lepas ngeliat sekeliling, gak pernah tidur nyenyak, gak pernah manja nangis minta ini itu. Bagus banget. Naluri dia udah jadi naluri bunuh. Dia paham hukum dunia: siapa lemah, dia mati dimakan anjing jalanan. Siapa gak siap, dia dibunuh bedebah lain. Semua sama aja... kecuali gw.

Gw mendengus keras sampai udara ruangan terasa bergetar.

"Huffft...Klean liat tampang tampang klean ini?Cukup kita di tempat sampah tapi setidaknya kita ga boleh jadi sampah...abis ini kita buang sampah sampah ga berguna(perlengkapan)itu... ."

Lyra langsung berdiri tegak, tunduk dalam-dalam. Suaranya lembut, tenang, sopan — cuma dia yang gw izinin ngomong gitu, karena dia yang jadi muka gw di depan semua bangsat di luar sana.

"Baiklah Tuannn...Saya Mengerti"

ujarnya sambil senyum

Sontak

Gw lirik dia tajam, tatapan gw masuk langsung ke dalem kepala dia.

"Gausah kegeeran lu ...lu tuh alat gw...pantas gw perlakuin lu kek gini... Carmelia juga..dan yahh,Gw gamau ngomong Sopan ama Bedebah bedebah sokrab di luar sana?lu tau kan apa yang harus lu lakuin?"

"Paham Tuaann...Saya Mengerti..Saya Akan Mewakili tuan."

Gw lirik Carmelia. Anak itu langsung berdiri tegak.

"Aku siap kak!Aku juga mau Beli perlengkapan!!! Biar bisa lindungin kak Lyraa!!!"

Gw senyum dikit — bukan senyum ramah, bukan senyum senang. Cuma senyum puas karena alat gw bagus, karena dia tahu tempatnya.

"Bagus. Tapi ingat baik-baik, tulis di kepala lu jangan lupa klean alat gw — sama kayak pedang gw, sepatu gw, baju gw. Yang bagus, kuat, guna — gw pake terus, gw jaga, gw lindungi. Yang lemah, rusak, gak guna lagi — gw buang, gw hancurin, gw ganti baru. Persetan Lu mau teriak sekuat apa. Gak ada rasa sayang, gak ada belas kasihan, gak ada perasaan aneh yang bikin gw lemah kayak kroco kroco di luar sana. Ngerti?!"

"SIAP, TUAN!" jawab mereka berdua keras banget, lantang, gak ragu sedikit pun.

 

Mereka keluar rumah. Kota ini pagi-pagi udah rame, berisik, banyak orang teriak jualan, suara kereta berjalan, orang ngobrol santai sambil pura-pura baik. Semua jalan gaya sombong, baju bagus, senyum sana sini — padahal semua palsu. Di dalem hati mereka cuma mau untung sendiri, takut mati, mau menang terus, sama persis kayak babi berebut makanan di kandang. Bagi gw mereka semua cuma daging empuk, sasaran, makanan yang nunggu giliran dimakan atau dibuang ke tempat sampah.

Tujuan pertama: toko pandai besi terbesar di kota. Tempatnya luas, penuh senjata dan barang besi, baunya besi panas dan minyak bikin hidung gatal. Si tua pemiliknya awalnya ngeliat kita kayak ngeliat pengemis sampah nyasar masuk tempat orang kaya — sampai Lyra maju, kasih lencana dan surat resmi kita, ngomong halus dan sopan. Seketika muka si tua bangsat itu berubah total, dari yang tadinya meremehkan jadi hormat, malah takut-takut. Lemah banget... semua bedebah sama aja, langsung tunduk begitu lihat kuasa, begitu tahu kita punya sesuatu yang mereka takuti — persis kayak anjing yang nunduk sama tuannya.

Gw langsung ngomong, nada keras, tegas, ini perintah bukan minta tolong.

"Gw mau dua pedang panjang. Besinya keras, padat, kuat banget tapi enteng. Bisa gw pukul sekuat tenaga buat hantam apa aja yang ada di depan gw — tembok, batu, atau leher si bangsat mana aja di kota ini. Tambah dua pisau pendek: paling tajam, paling ramping, gampang sembunyiin di mana aja, gampang tarik keluar sekejap buat potong leher anjing sialan yang berani cari masalah. Gak mau yang lemah, gak mau yang gampang bengkok atau patah, gak mau barang sampah gak guna. Kalau barangnya gak sesuai keinginan gw, gw ambil sendiri yang terbaik tanpa bayar, ngerti bangsat?!"

Si tua itu telan ludah, tangannya gemetar, langsung keluarin barang paling bagus yang dia punya. Gw pegang satu per satu, goyang, ayun, cek beratnya. Yang kurang tajam, kurang kuat, kurang pas — langsung gw lempar keras ke meja.

"Sialan! Ganti! Ini gak cukup kuat buat tahan pukulan biasa, apalagi buat bunuh orang! Gw gak mau bawa barang yang bikin gw mati sia-sia, Lu mau bikin gw mati konyoll apa gimana hahh!?!"

Lyra di samping langsung senyum, ngomong pelan buat tenangin si tua itu — tugas dia, nutupin sifat asli gw yang bikin semua orang gemetar sampai tulang. Gw gak peduli apa yang mereka pikirkan. Gw juga pilih satu set Zirah hitam dari bahan berkualitas kulit naga yang nyaman buat akselerasi dan ga berat, banyak kantong rahasia di baju dan celana buat nyimpen pisau, racun, atau barang kecil lain yang guna buat bunuh atau tipu siapa aja yang halangi jalan gw.

Ini baru layak dipakai, batin gw. Sekarang gw gak lagi jalan bawa beban, gw jalan bawa kekuatan. Barang-barang ini bakal jadi tangan gw, jadi tulang gw, jadi bagian dari gw sendiri. Siapa yang berani hadap gw sekarang, dia bakal tahu bedanya sama dulu — bedanya antara orang yang cuma bisa lari, sama orang yang datang buat ambil apa yang dia mau.

 

Mereka lanjut ke toko alat musik dan barang sihir. Tempatnya sepi, baunya kayu tua dan kertas, banyak barang aneh yang sebagian besar cuma trik bodoh buat nipu bedebah lemah yang gampang percaya hal gak masuk akal. Sekali lagi Lyra yang maju duluan, jelasin apa yang kita butuhin dengan nada halus dan sopan. Gw cuma berdiri di dekat pintu, tangan masuk saku, muka dingin kayak batu, ngeliat sekeliling dengan tatapan muak sama semua sampah di sini. Gw gak peduli barang apa aja yang ada di sini... cuma satu yang penting: alat buat dia.

Lyra cari-cari, akhirnya nemu salah satu biola artefak berwarna putih dengan corak pegasus hitam di bodynya...biola ini seperti memancarkan aura misterius... Dia juga ambil buku tulis, gulungan mantra, kotak pelindung, baju baru warna gelap gak mencolok, gampang gerak, gak gampang dilihat orang dari jauh dan nyaman untuk bergerak bebas

Gw maju, pegang biola itu, ketok kayunya. Kuat. Bagus.

Gw tatap mata dia tajam banget sampai dia gak berani ngalihin pandangan.

"Boleh juga selera lu...gw harap selera lu menggambarkan kemampuan lu kedepannya...gw ga terima sampah...gw cuma nerima alat yang bisa gw pake dan efisien."

Nada gw dingin, kasar, gak ada rasa kasihan sedikit pun

"Baiklah Tuann!!Saya Mengerti."

Gw mendengus — itu tanda gw puas.

"Bagus. Ingat tempat lu: lu bukan manusia biasa lagi... lu alat milik gw."

 

Terakhir mereka mampir ke toko baju dan barang petualang. Tempatnya rame, banyak bedebah sibuk milih barang — semua baju rapi, bersih, jalan gaya sombong seolah mereka makhluk paling hebat di dunia ini, padahal aslinya cuma babi yang pakai baju bagus. Gw cuma lihat sekilas, dalem hati cuma mau muntah. Semua sama aja: bangga sama hal gak ada artinya, takut sama hal gak berbahaya, lupa nyawa mereka bisa habis kapan aja di tangan orang lebih kuat — di tangan gw.

Carmelia langsung lari ke bagian baju dan senjata kecil. Dia pilih baju warna biru tua — sama warna rambut dan matanya — bahannya tipis tapi kuat, lentur, gampang gerak, gak ada yang ganggu pas dia lari, lompat, guling di tanah buat hindar serangan siapa aja. Dia juga ambil sepatu empuk biar langkahnya gak bunyi, sama dua pisau kecil ukurannya pas banget di tangan kecil dia, tajamnya bisa potong tulang manusia gampang banget, bisa belah leher anjing mana aja yang berani datang.

Gw lihat dia dari atas ke bawah, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Pinter..Inget Tugas lu...lindungin Lyra."

Mata anak itu nyala keras, tekadnya gak bakal pernah hilang.

"Aku janji, Kak! Gak ada yang bisa lewat aku selama aku masih berdiri, selama jantung aku masih berdetak! Kalau mau sentuh Kak Lyra, harus lewat mayat aku duluan!"

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!