Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
BAB 8: SATU BULAN YANG SUNYI
Satu bulan berlalu sejak kejadian itu.
Rumah besar keluarga Wijaya terasa lebih sepi dari biasanya. Bukan karena kosong, tapi karena setiap orangnya sibuk dengan urusan masing-masing, seolah sengaja menghindari pulang terlalu cepat.
Arka hampir tidak pernah terlihat. Ia lebih banyak di luar kota, mengurus cabang baru Wijaya Group di Surabaya dan Medan. Kalau pun pulang, ia hanya mampir sebentar untuk ganti baju lalu terbang lagi keesokan harinya. Pesan singkatnya ke Liana hanya sebatas urusan formal.
“Kamu tidak perlu tunggu aku makan malam.”
“Sampaikan ke Ibu kalau aku tidak bisa ikut acara akhir pekan.”
Tuan Wijaya juga pergi ke luar negeri. Ada urusan merger dengan investor dari Singapura yang harus diselesaikan langsung. Ia pamit singkat di meja makan, mencium tangan istrinya, lalu pergi tanpa menoleh ke arah Liana.
Tinggal Nyonya Darmi.
Tapi urusannya pun tidak jelas. Ia lebih sering keluar rumah bersama teman-teman arisan dan komunitas sosialitanya. Kalau ada di rumah, ia menghabiskan waktu di ruang kerja pribadi, menutup pintu rapat-rapat. Kadang terdengar suara telepon dengan nada serius. Kadang terdengar tawa pelan dengan orang di seberang telepon.
Liana tidak bertanya. Ia sudah belajar, di rumah ini diam lebih aman daripada penasaran.
Selama satu bulan itu, Liana tidak tinggal diam. Ia memanfaatkan waktu saat rumah kosong untuk mengumpulkan semua dokumen lama milik ayahnya, Pak Dimas. Surat perjanjian kerja sama yang dulu diputus sepihak oleh Wijaya Group, catatan keuangan proyek yang tiba-tiba dihentikan, bahkan beberapa rekaman percakapan telepon yang ia simpan diam-diam.
Ia tidak mencari balas dendam.
Ia hanya ingin tahu kebenaran. Mengapa ayahnya tiba-tiba dituduh lalai, mengapa proyek yang hampir selesai itu dianggap gagal, dan mengapa nama baik Pak Dimas hancur dalam satu malam.
Setiap malam, setelah semua orang tidur, Liana duduk di meja kecil di kamar tamunya. Lampu kuning temaram menemani tumpukan kertas yang ia susun rapi. Matanya lelah, tapi tangannya tidak berhenti menulis catatan, menghubungkan tanggal, nama, dan kejadian.
Ia mulai melihat pola.
Ada nama yang muncul berulang kali. Ada tanda tangan yang mirip dengan salah satu direktur Wijaya Group. Ada kejanggalan waktu yang tidak masuk akal.
Rencana itu perlahan terbentuk di kepalanya.
Ia akan membuktikan bahwa konflik ayahnya bukan murni kesalahan Pak Dimas. Ada orang di dalam Wijaya Group yang bermain di belakang layar.
Dan kalau benar begitu, maka pernikahan kontrak ini bukan hanya tentang menyatukan dua nama besar.
Mungkin, ini tentang menutup mulut seseorang yang tahu terlalu banyak.
Liana menutup buku catatannya.
Satu bulan diam sudah cukup.
Sekarang, saatnya ia bergerak.
Saat Arka pulang, rumah itu tetap sunyi.
Tidak ada sapaan “Mas, sudah pulang?”
Tidak ada pelukan ringan atau senyum yang menyambut di pintu seperti di sinetron. Yang ada hanya suara koper ditarik pelan oleh sopir, dan langkah Arka yang berat menaiki tangga marmer.
Liana mendengarnya dari kamar. Ia sempat berdiri di ambang pintu, ragu apakah harus keluar atau tetap diam. Pada akhirnya, ia memilih diam.
Toh, meski status mereka suami istri, kata itu tidak pernah benar-benar hidup di antara mereka.
Arka lewat di depan kamar Liana tanpa menoleh. Tas kerjanya masih tergantung di bahu, jasnya kusut karena perjalanan panjang. Ia hanya mengangguk singkat pada pelayan yang membungkuk, lalu masuk ke kamarnya sendiri.
Keheningan kembali menguasai rumah bak istana ini.
Tuan Wijaya pun tidak berbeda. Sejak pulang dari luar negeri dua hari lalu, ia lebih banyak mengurung diri di ruang kerja. Pertemuan dengan rekan bisnis, panggilan telepon internasional, laporan keuangan—semua itu lebih penting daripada menanyakan kabar istri dan anaknya.
Hubungannya dengan Nyonya Darmi pun tidak lebih hangat.
Mereka duduk di meja makan yang sama, tapi percakapan mereka berhenti di urusan jadwal acara dan tamu undangan. Tidak ada tanya “Kamu sudah makan?”, tidak ada cerita kecil tentang hari yang dilalui.
Mereka lebih mirip dua orang asing yang kebetulan terikat dalam satu kontrak pernikahan panjang.
Liana melihat semua itu setiap hari.
Ia melihat bagaimana sebuah keluarga besar bisa terasa lebih sepi daripada kos kecil di kampungnya dulu. Di sana, meski miskin, suara tawa dan suara berantem kecil selalu ada. Di sini, semua tertutup tembok tebal dan sopan santun palsu.
Malam itu, Liana duduk di balkon kamarnya lagi.
Dari kejauhan, ia bisa melihat lampu kamar Arka masih menyala. Mungkin ia sedang bekerja, atau mungkin ia juga tidak bisa tidur.
Ia menarik napas panjang.
Rumah ini punya segalanya—uang, nama, kekuasaan.
Tapi tidak punya satu hal yang paling sederhana: kehangatan keluarga.
Dan Liana mulai bertanya pada dirinya sendiri,
apakah ia masih ingin memperjuangkan tempat di rumah ini?
Atau lebih baik ia pergi, membawa kebenaran tentang ayahnya, sebelum ia ikut hilang ditelan dinginnya istana ini?
Bersambung...
😌Di rumah yang megah, terkadang yang paling miskin adalah hati.
Liana punya semua yang terlihat sempurna di luar, tapi di dalam… ia hanya mencari satu hal: kebenaran dan tempat untuk disebut pulang. 😇
Jangan Lupa Like dan komen
kakak kakak🤗🤩