NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Yang Tersisa dari Skenario Vyan

Ray terbaring diam di atas ranjangnya. Matanya yang biasanya berpendar ceria kini tampak kosong, menatap langit-langit kamar seolah sedang mencari jawaban di sana. Suasana kamarnya yang luas terasa sunyi, hanya ada deru napasnya yang berat dan tidak beraturan.

​Pintu kamar terbuka perlahan. Bu Desi masuk dengan langkah anggun namun terburu-buru, tangannya membawa kotak P3K. Begitu sampai di butik, ia mendapat kabar dari kepala pelayannya bahwa Ray pulang lebih awal dan langsung mengunci diri di ruang olahraga. Laporan tentang tangan Ray yang berdarah membuatnya tidak bisa tenang.

​Melihat putranya yang tampak hancur, Bu Desi mendekat lalu duduk di tepi ranjang. Ia menatap wajah Ray yang pucat dengan tatapan seorang ibu yang hatinya ikut teriris.

​"Apa yang terjadi, Ray?" suaranya lembut, penuh kehati-hatian.

​"Aku nggak bisa tidur, Ma..." bisik Ray tanpa menoleh, suaranya terdengar serak.

​"Kenapa, Sayang?"

​"Aku nggak jadi bilang tentang perasaanku pada Yasmin."

​Bu Desi mencoba memberikan senyum penenang. "Besok juga masih bisa, kan?"

​Ray menggeleng lemah. Sudut matanya kembali memanas. "Vyan bilang mereka pacaran... dan Yasmin tidak menolak."

​Bu Desi tertegun sejenak. Ia mengambil obat luka, lalu perlahan meraih tangan kanan Ray yang besar. Buku-buku jari itu tampak merah, lecet, dan bengkak akibat hantaman benda keras.

​"Kamu tetap bisa mengatakan tentang perasaanmu, Ray. Kejujuran itu tidak pernah salah," ucap Bu Desi sambil mulai membersihkan luka itu.

​"Nggak. Yasmin akan bingung kalau aku bilang sekarang," sela Ray cepat. Ia tidak ingin membebani gadis itu lebih jauh.

​Bu Desi menghela napas panjang. Wajahnya berubah muram, ada gurat kecemasan yang mendalam saat ia mengoleskan obat pada jemari putranya.

​"Sakit, Ma..." desis Ray saat cairan obat itu menyentuh lukanya.

​"Tahan sebentar, ini supaya tidak infeksi..."

"Sakitnya di sini... " Ray menyentuh jantungnya dengan tangan kirinya.

​"Sayang...," Bu Desi terenyuh.

​"Ada obatnya nggak, Ma? Buat yang di dalam sini?" tanya Ray lagi, menatap Mamanya dengan tatapan meminta tolong yang sangat rapuh.

​Pegangan Bu Desi pada cotton bud di tangannya mengerat. Ingatannya mendadak terlempar pada momen saat pertama kali Rizal memperkenalkannya pada Vyan. Saat itu, ia berharap bisa diterima sebagai bagian dari keluarga, tapi yang ia dapatkan justru tatapan penuh kebencian dari seorang remaja laki-laki. Mata Vyan saat itu sangat dingin, meremehkan kehadirannya, dan memandang dirinya serta Ray seolah-olah mereka adalah hama yang merusak impiannya tentang keluarga yang utuh.

​Jiwa keibuannya menjerit pedih. Ia tahu perceraian itu melukainya, tapi luka itu tampaknya adalah luka lama yang telah menggerogoti jiwanya. Bagaimana bisa Rizal dan Dinda membiarkan putra mereka tumbuh dengan luka yang begitu dalam? Hingga balas dendam adalah satu-satunya ekspresi cinta yang dia miliki?

​Pandangannya kembali beralih pada Ray. Ternyata, kelelahan emosional telah membawa putranya itu terlelap. Sisa air mata masih terlihat mengilap di pelipisnya. Di satu sisi, ia tidak ingin Ray menjadi korban kekacauan keluarga Hadyanata.

Namun, sekarang mereka sudah berada di posisi ini. Mau tidak mau, mereka telah masuk dalam pusaran itu—menjadi target balas dendam Vyan yang ingin menghancurkan segala hal yang berhubungan dengan kebahagiaan baru ayahnya.

Bu Desi mengamati napas teratur Ray yang sudah terlelap, namun tangannya masih gemetar saat membereskan sisa obat luka. Selama ini, dia telah mencoba segalanya untuk menjadi jembatan yang tenang. Dia tidak pernah mengadu pada Rizal tentang tatapan tajam Vyan, atau bagaimana Vyan menganggapnya tidak ada. Bahkan, berkali-kali dia menelan harga dirinya, meminta Ray untuk selalu mengalah dan memuji pencapaian Vyan di depan ayah mereka agar suasana rumah tetap hangat.

​Dia melakukan itu semua karena dia tahu betapa hancurnya hati seorang anak yang kehilangan mimpi tentang orang tua yang rujuk. Dia tidak ingin menjadi alasan hubungan Rizal dan putranya semakin retak.

​Namun malam ini, melihat sisa air mata di pelipis Ray, sesuatu di dalam diri Bu Desi patah.

​'Sampai kapan?' tanyanya dalam hati. 'Sampai kapan aku harus meminta Ray menjadi tumbal untuk kemarahan Vyan?'

​Selama ini dia berpikir bahwa dengan diam dan bersabar, Vyan akan luluh. Namun, tindakan Vyan hari ini membuktikan sebaliknya. Vyan tidak sedang mencoba berdamai; dia sedang meluncurkan perang terbuka dengan menjadikan perasaan tulus Ray sebagai senjatanya. Ray yang tulus, benar-benar menyukai Yasmin tanpa agenda apa pun, kini terseret ke dalam lubang gelap yang diciptakan oleh dendam masa lalu orang tua mereka.

​Dengan langkah lunglai, Bu Desi keluar dari kamar dan menutup pintu dengan sangat pelan. Di lorong yang sepi itu, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia harus menemukan cara untuk melindungi Ray tanpa menghancurkan apa yang sudah ia bangun dengan susah payah, meski ia tahu, Vyan tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan mudah.

...****************...

Yasmin merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar yang temaram. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Vyan yang mendekat membuatnya tersipu dan jantungnya berdegup tidak keruan. Namun, suara riuh di aula itu seolah memudar, digantikan oleh satu suara yang terus terngiang-ngiang di telinganya.

​"Yasmin! Kenapa diam saja? Bilang yang sebenarnya!"

​Suara Ray yang serak dan penuh tuntutan itu membuat Yasmin merasa sesak. Ia menyentuh dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kini bukan lagi karena malu, melainkan karena bingung.

​'Apa yang sebenarnya terjadi?' batinnya bimbang.

​Ia mencoba mengingat kembali. Vyan memang sangat baik padanya, melindunginya, dan tadi siang berbisik lembut bahwa mereka pacaran. Mia pun dengan yakin mengatakan di depan Pak Yanto bahwa kencan mereka di mal minggu lalu adalah bukti. Secara logika, semua kepingan itu menyusun satu kesimpulan: ia dan Vyan adalah sepasang kekasih. Namun, kenapa Yasmin sendiri merasa tidak memiliki kendali atas status itu? Kapan mereka mulai meresmikannya?

​Lalu, ada Ray.

​Yasmin teringat bagaimana Ray menatapnya dengan mata yang basah oleh luka saat ia sedang bingung. Dia sebenarnya mau mengatakan kebingungannya ketika Vyan memotong ucapannya.

​Yasmin merasa terjebak dalam dilema yang tidak ia pahami. Di satu sisi, Vyan memberikan kasih sayang yang tampak begitu nyata. Di sisi lain, kemarahan Ray memberikan rasa sakit yang terasa sangat jujur. Jika memang dia dan Vyan berpacaran, bukankah seharusnya itu menjadi berita bahagia? Tapi kenapa kebahagiaan ini harus dibayar dengan kehancuran seorang Ray yang selama ini selalu tulus membantunya?

​Malam itu, Yasmin tidak menemukan jawaban. Ia hanya bisa meringkuk, merasa bersalah pada Ray, sekaligus merasa waswas dengan status pacarannya dengan Vyan. Ia merasa seperti air telaga yang tenang, namun kini dasarnya sedang diaduk oleh kekuatan yang tidak bisa ia lawan.

...****************...

Pagi itu, sinar matahari menembus jendela ruang makan, menyinari sepiring nasi goreng yang masih mengepul. Vyan menatap hidangan itu sejenak sebelum beralih pada Bu Dinda yang memperhatikannya dengan tatapan cemas sekaligus penuh harap.

​Vyan tersenyum tipis. "Jadi ini buatan Bunda? Aku cobain ya!" Ia segera menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.

​"Gimana?" tanya Bu Dinda penasaran, jemarinya bertautan di atas meja.

​Vyan mengunyah perlahan, lalu tersenyum lagi. "Lumayan enak sih, tapi... ada kulit telurnya."

​Bu Dinda tersentak kaget, wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang instan. "Kalau begitu, muntahkan saja! Duh, Bunda nggak teliti..."

​Namun, Vyan sudah terlanjur menelan makanannya dengan santai. "Tidak perlu, Bunda. Cuma sedikit kok. Lain kali kalau mau memecahkan telur paling gampang pakai pisau saja, biar tidak berantakan."

Wajah Bu Dinda bersemu merah mendengar saran putranya yang terdengar begitu perhatian. 'Anak ini... kadang terlihat sangat kejam, tapi di saat lain bisa bersikap seperti malaikat. Aku harus mencoba mengatakannya sekarang,' pikir Bu Dinda, mencoba mengumpulkan keberanian di tengah debaran jantungnya yang gelisah.

​"Vyan," panggil Bu Dinda pelan. "Kamu harus pikir ulang semuanya. Jangan sampai kamu menyakiti hati perempuan..."

​Gerakan tangan Vyan terhenti sejenak. "Bun, bukan cuma cewek yang bisa sakit hati..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, hanya menatap piringnya dengan pandangan yang mendadak dalam.

​'Jangan-jangan Bunda sedang memikirkan dirinya sendiri yang sakit hati karena Ayah,' batin Vyan pahit.

​Di sisi lain, Bu Dinda justru berpikir hal yang berbeda. 'Jangan-jangan Vyan memikirkan dirinya sendiri. Sakit hati karena Zia.'

​Vyan kembali tersenyum, kali ini senyumnya terasa lebih tenang namun tegas. "Aku nggak akan seperti Ayah."

​Bu Dinda terperanjat mendengar pernyataan itu. "Vyan, bukan masalah itu. Apa kamu sama sekali tidak memikirkan perasaan Yasmin?"

​Kali ini Vyan benar-benar tertegun. Ia terdiam selama beberapa detik, mencoba mencerna pertanyaan ibunya. "Memang Yasmin kenapa? Kayaknya nggak ada masalah sama dia. Dia baik-baik saja."

​Bu Dinda terpaku. Jawaban Vyan yang begitu enteng justru membuat hatinya mencelos. Pikirannya mendadak melayang jauh ke masa dua puluh tahun yang lalu. Ia teringat sosok Rizal muda yang begitu hangat dan penuh perhatian kepadanya. Sebagai anak dari tangan kanan ayah Rizal, Dinda selalu berada di dekat pria itu. Kehangatan Rizal saat itu membuatnya merasa sangat tersentuh, hingga ia jatuh cinta setengah mati tanpa pernah menyadari bahwa perhatian yang ia dapatkan hanyalah kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.

​Kepolosannya saat itu telah menciptakan luka yang membekas lama, karena ia membangun harapan di atas kesalahpahaman. Kini, melihat cara Vyan memperlakukan Yasmin—yang begitu protektif namun sulit diartikan—Bu Dinda merasa seperti melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

​"Ayo, Bun, berangkat. Kita sudah kesiangan," ajak Vyan, membuyarkan lamunan ibunya.

​Bu Dinda tersentak, kembali dari bayang-bayang masa lalunya. Perasaannya mendadak menjadi sangat kacau dan resah saat menatap punggung Vyan yang berjalan mendahuluinya menuju mobil.

​'Aku adalah Yasmin,' batin Bu Dinda dengan rasa sesak. 'Waktu itu, aku adalah Yasmin yang lugu dan polos, yang terlalu cepat menyimpulkan kebaikan sebagai cinta. Tuhan... jangan biarkan Vyan melakukan hal yang sama seperti ayahnya.'

1
Cimol krispy
kamu mah selalu nggak tau Yas 🤭
Cimol krispy
Kesannya kayak Yasmin lagi ngejek. padahal dia beneran ngira mereka sakit🤣🤣🤣
Cimol krispy
dan kalian baru sadar dia sepolos itu
Cimol krispy
para bibir biru ikan lohan🤣
Cimol krispy
ya kalo lomba pakaian daerah mah nggak usah di sebutin lagi Reka. kan memang wajib dan diadakan penilaian langsung
Filan: basa basi aja dia 😆
total 1 replies
Cimol krispy
mereka nggak tau aja ada satu mata Dajjal yang lagi ngawasin para penguasa kelas itu🤭
Xlyzy
naik itu kuping ray karna di puji yasmin🤣
Xlyzy
si ray yang tadi nya cemberut langsung berubah
Aquarius97 🕊️
astaga vyan... lu juga benar2 dah ahh😆
Aquarius97 🕊️
hahahahaha ngakak banget ray... pas sebut setan vyan 🤣🤣🤣
Miu.Nuha
semua pada baik ke yasmin takut dimarahi pak ketos lagi 😅😅😅
Miu.Nuha
masih heran kenapa vyan yg harus bertindak... sungguh ironis ya sampe guru gk ad yg peduli...
Three Flowers
Dhini dan Tegar habis di'cuci' sama Ketos sadis🤣
-Thiea-
ya dia lah yang ngejebak kalian. siapa lagi yang punya akses lengkap di sekolah kalian..😅
-Thiea-
pak yoga sepertinya tahu banyak tentang keluarga Vyan.
-Thiea-
kerjaan si vyan ini pasti. 😆😆
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
kok bisa nyangkut😭😭😭
Filan: nyangkutlah. Pas masuk ga pegang apa-apa, pas keluarin pegang tupai
total 1 replies
PrettyDuck
terbukti ya kalo cowok gak peduli cewek bego atau enggak, yang penting cakep 🙃
Filan: bagaimana pun juga dari mata turun ke hati.
tapi Vyan itu cuma jadiin Yasmin pion sih, lalu lucu-lucuan aja kayak ke adik, lalu ga suka dg adanya pembullyan jadi belain, lalu jadiin alat lagi... lama-lama tahu sifatnya baru suka.
total 1 replies
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
hewan tuh pasti🤣
PrettyDuck
serem juga vyan ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!