🌶️ WARNING!!🌶️
Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.
Cantik. Elegan. Mematikan.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.
Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.
Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.
Satu kehilangan diri karena trauma.
Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahitnya Realitas
"Kau dengar tidak? Wanita yang datang tempo hari... yang mencari anjing pengawal itu," bisik salah satu petarung dengan tato ular di lehernya.
Di area persiapan petarung yang remang-remang, Viktor sedang melilitkan kain perban pada tangannya dengan gerakan yang sangat mekanis dan tenang. Tak jauh darinya, sekelompok petarung kelas bawah sedang berkumpul, berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk utama.
"Siapa yang tidak dengar? Seluruh distrik ini sedang membicarakannya," sahut petarung lain yang sedang memoles pelindung giginya. "Tapi aku sarankan, jangan pernah tergiur dengan tawarannya jika kau masih sayang nyawa."
Viktor tetap diam, namun indra pendengarannya yang tajam menangkap setiap kata.
"Kenapa? Bayarannya kabarnya sangat besar, bukan?" tanya seorang petarung muda yang tampak ambisius.
Pria bertato ular itu tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar hambar. "Bayarannya memang bisa membuatmu kaya tujuh turunan, tapi kau tidak akan punya waktu untuk menikmatinya. Kau tahu kenapa pengawalnya selalu berganti? Karena mereka selalu berakhir di liang lahat. Entah itu mati dibantai oleh musuh-musuh majikannya, atau yang lebih buruk... dibunuh oleh majikannya sendiri karena dianggap tidak berguna lagi."
Petarung muda itu menelan ludah, nyalinya menciut seketika.
"Aku memang butuh majikan," lanjut si pria bertato dengan nada lebih serius, "siapa yang tidak mau keluar dari lubang tikus ini? Tapi aku tidak mau majikan psikopat seperti itu. Menjadi anjingnya sama saja dengan menandatangani surat kematianmu sendiri."
Viktor menarik kencang ujung perbannya, menciptakan bunyi kretek yang cukup keras hingga membuat percakapan itu terhenti sejenak. Ia berdiri, tidak sedikit pun terlihat gentar dengan rumor mengerikan yang baru saja ia dengar.
Di saat yang bersamaan, terdengar suara gemuruh dari arah penonton. Pengumuman pertandingan berikutnya segera dimulai, dan nama Viktor disebut sebagai bintang utama malam itu.
Gemuruh di dalam gedung tua itu mencapai puncaknya saat lampu sorot kuning yang redup mulai berkedip-kedip, mengarah tepat ke lorong gelap tempat para petarung keluar. Bau adrenalin dan taruhan uang yang kental memenuhi udara yang pengap.
"Dan sekarang... sang legenda tanpa suara! Pria yang tak pernah membiarkan lawannya pulang tanpa luka!" teriak sang pembawa acara melalui pengeras suara yang pecah. "Sambutlah... 2V! Atau yang kalian kenal sebagai... GHOST!"
Begitu sosok tinggi tegap dengan hoodie gelap itu melangkah keluar dari kegelapan, arena seakan meledak. Ratusan penonton yang haus darah berdiri dari kursi mereka, menghentakkan kaki ke lantai kayu, dan memukul-mukul pagar besi pembatas.
"GHOST! GHOST! GHOST!"
Sorakan itu bergaung, memantul di dinding-dinding beton yang lembap. Nama panggilannya diteriakkan layaknya sebuah mantra kematian. Bagi mereka, Viktor bukan sekadar manusia, melainkan bayangan yang menghantui ring—cepat, tak terlihat, dan mematikan.
"Habisi dia, Ghost! Jangan beri ampun!" teriak seorang pria dari barisan depan sambil melambaikan seikat uang kertas.
Viktor terus berjalan dengan kepala tertunduk, mengabaikan segala kegilaan di sekelilingnya.
Ia melompat naik melampaui tali ring dengan satu gerakan ringan yang sangat atletis, membuat penonton semakin histeris.
Di sudut merah, lawannya—seorang pria bertubuh raksasa dengan bekas luka di sekujur dada—tampak gelisah dan mulai melakukan pemanasan dengan gerakan yang berlebihan, mencoba menutupi rasa terancamnya saat melihat ketenangan luar biasa yang dipancarkan oleh sang 'Ghost'.
Viktor hanya berdiri diam di sudutnya, menunggu bel berbunyi dengan napas yang teratur.
Begitu bel ronde pertama berdentang, lawan raksasanya langsung menerjang dengan pukulan swing yang liar dan bertenaga. Sesuai dengan julukannya, Ghost seolah-olah menghilang dari jalur serangan. Viktor hanya menggeser kakinya sedikit ke samping, membiarkan tinju lawan membelah udara kosong.
Tidak ada gerakan yang sia-sia. Dalam satu celah sempit, Viktor memutar tubuhnya dan meluncurkan serangan balik yang presisi.
Bugh!
Satu jab tajam bersarang telak di ulu hati lawan, disusul dengan tendangan rendah yang menghantam saraf di kaki raksasa itu. Pria itu terhuyung, keseimbangannya hancur seketika. Sebelum lawannya sempat pulih, Viktor sudah berada di depannya lagi, melepaskan kombinasi pukulan yang terlalu cepat untuk diikuti mata awam.
Krak!
Suara hantaman terakhir ke arah rahang membuat kepala lawan tersentak ke belakang. Tubuh besar itu jatuh berdebum ke atas matras, tidak bergerak lagi bahkan sebelum wasit mulai menghitung.
Hening sejenak menyelimuti arena saat penonton terpaku melihat betapa cepatnya pertarungan itu berakhir. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Viktor untuk menumbangkan petarung yang ukurannya dua kali lipat darinya.
Lalu, ledakan sorak-sorai kembali pecah. Nama "GHOST" diteriakkan lebih kencang dari sebelumnya. Viktor tidak merayakan kemenangannya. Ia hanya mengatur napasnya yang bahkan belum sempat memburu, melepaskan pelindung giginya, dan langsung melompat turun dari ring.
Ia berjalan melewati kerumunan yang mencoba menyentuh bahunya, menuju lorong gelap untuk mengambil bayarannya dan segera pergi dari tempat yang bising itu.
Viktor melangkah masuk ke dalam area shower umum yang luas dan lembap. Suara tetesan air dari keran yang bocor biasanya menjadi satu-satunya bunyi di sini setelah pertandingan berakhir, namun malam ini, ada irama lain yang mengisi ruangan.
Begitu ia mendorong pintu besi yang berat itu, pendengarannya yang tajam langsung menangkap suara yang sangat familiar.
"Ahhh... yes, di situ... enak, Damian... nghhh!"
Viktor berhenti di tengah ruangan. Di salah satu sudut area bilas yang agak tersembunyi, ia melihat Damian sedang menyudutkan seorang wanita berpakaian mewah—mungkin salah satu sosialita yang bosan dan mencari hiburan adrenalin di arena bawah tanah ini. Damian tidak peduli tempat; setiap jengkal gedung ini adalah taman bermainnya, asalkan bayarannya pas.
"Tahan sebentar, Sayang... jangan terburu-buru," gumam Damian dengan suara serak, napasnya memburu di ceruk leher wanita itu.
Duk! Duk! Duk!
Bunyi punggung yang menghantam dinding keramik yang dingin beradu dengan desahan napas yang semakin berat. Damian tampaknya sangat menikmati bonus malam ini, sementara sang wanita mencengkeram bahu Damian dengan kuku-kukunya yang dipoles rapi, mengeluarkan lenguhan panjang yang memenuhi ruangan.
"Oh, Tuhan... Damian... ahhh!"
Viktor hanya berdiri mematung dengan tatapan datar. Kilasan ingatan tentang percakapan mereka di gym pagi itu melintas di kepalanya—tentang Damian yang berkata bahwa semua orang punya majikan, termasuk wanita. Dan sekarang, di depan matanya, Damian sedang melayani majikan sementaranya dengan cara yang paling vulgar.
Viktor tidak berbalik pergi. Dengan ketenangan yang nyaris menghina, ia terus melangkah menuju bilik shower yang paling jauh dari posisi mereka. Ia meletakkan perlengkapannya, lalu menyalakan air.
Suara kucuran air yang menghantam lantai beton mulai bersaing dengan suara aktivitas panas di sudut ruangan. Viktor membiarkan air dingin membasuh sisa darah di buku jarinya, sama sekali tidak peduli pada Damian yang sedang bekerja keras beberapa meter darinya.
"Sial! Kau benar-benar tidak punya sopan santun, ya?" teriak Damian dari balik sekat, suaranya terputus-putus oleh napas yang terengah-engah, namun ia tetap tidak menghentikan gerakannya.
Viktor tidak menjawab. Ia tetap mandi dengan wajah datar, seolah-olah suara desahan wanita itu hanyalah gangguan nyamuk yang tidak berarti di telinganya.
Suara kucuran air shower yang deras tidak menghentikan kegaduhan di sudut ruangan. Tiba-tiba, desahan wanita itu terhenti. Wanita itu terpaku saat melihat bayang tubuh Viktor dari balik uap air dan sisa cahaya lampu yang remang.
Melihat punggung Viktor yang lebar, otot-otot yang berdefinisi tajam, serta bekas luka yang memberikan kesan maskulin yang brutal, wanita itu mendadak kehilangan selera pada Damian. Ia melepaskan pelukannya dari leher Damian dengan kasar.
"Eh? Kita belum selesai, babe... ada apa?" tanya Damian bingung, napasnya masih tersengal-sengal dan tangannya mencoba menarik wanita itu kembali.
"Diamlah," sahut wanita itu ketus. Ia merapikan gaunnya yang berantakan dengan terburu-buru, matanya tidak lepas dari sosok Viktor yang sedang membasuh kepalanya di bawah pancuran air.
Wanita itu melangkah mendekati bilik shower tempat Viktor berada. "Hei, tampan..." suaranya kini berubah menjadi godaan yang manja. "Bagaimana kalau kau bermain denganku? Aku punya lebih banyak uang daripada yang bisa kau bayangkan. Aku ingin tahu apakah kau sehebat itu di ranjang."
Mendengar gangguan itu, Viktor perlahan memutar tubuhnya. Air mengalir melewati dada bidangnya yang kokoh menuju perutnya yang six-pack. Ia menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat dingin dan kosong, seolah yang berdiri di depannya bukanlah seorang wanita cantik, melainkan hanya sebongkah kayu.
Saat Viktor berbalik sepenuhnya, mata wanita itu tanpa sengaja melirik ke bawah, ke arah bagian tubuh Viktor yang tidak tertutup apa pun. Matanya membelalak sempurna, napasnya tertahan di tenggorokan.
Sial, besar sekali... batin wanita itu, wajahnya mendadak memerah karena nafsu yang semakin memuncak.
"Aku akan membayarmu sepuluh kali lipat! Tidak, dua puluh kali lipat dari apa yang kuberikan pada Damian!" serunya dengan nada mendesak, tangannya mencoba meraih lengan Viktor yang basah. "Mainlah denganku sekarang!"
Viktor bahkan tidak berkedip. Tawaran dan tubuh wanita ini hanyalah seperti dengungan lalat yang hinggap di tempat sampah. Tanpa sepatah kata pun, ia kembali memutar tubuhnya membelakangi wanita itu dan melanjutkan mandinya seolah tidak ada orang di sana.
"Sialan kau, Viktor!" gerutu Damian dari belakang sambil mengancingkan celananya, merasa harga dirinya jatuh karena pelanggannya justru berpindah hati begitu melihat Viktor. "Kau benar-benar perusak suasana!"
Viktor tetap diam dalam dunianya sendiri, membiarkan air dingin menghanyutkan segala kebisingan di sekitarnya.