Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Pagi, anak-anak," sapanya datar.
"Pagi, Bu,"
"Hari ini kita membahas soal bagaimana dulu pejuang kita mempertahankan kemerdekaan," Bu Rina memulai.
Satu anak tiba-tiba mengangkat tangan.
"Bu, pas perang dulu mirip gak sih sama Perang Dunia II?"
Bu Rina tersenyum bijak. "Mirip, tapi skalanya lebih kecil. Dari namanya saja sudah berbeda. Kamu bagaimana sih?"
Dia menghela napas, lalu menulis di papan tulis.
Perang dunia. Kata dunia digaris bawahi.
Perang melawan penjajah. Kata penjajah digaris bawahi.
Bu Rina berbalik, menatap wajah-wajah yang sudah setengah hilang dari kenyataan.
"Ini perbedaan besar. Meski terlihat sama-sama dijajah, Perang Dunia kedua melibatkan banyak negara. Ada Blok Sekutu dan Blok Poros. Blok Poros hanya tiga, tapi Sekutu jauh lebih banyak. Namun yang paling dominan ada empat negara besar."
Nada suaranya berubah lebih hidup dan lebih cepat. Lebih bersemangat daripada yang dibutuhkan situasi.
Putri yang duduk sebangku dengan Narisa langsung mencondongkan badan.
"Kok dia seru sendiri sih?" bisiknya. "Padahal pas kejadian dia aja belum lahir."
Narisa mengangkat bahu santai. "Mungkin dia jatuh cinta sama Adolf Hitler. Cuma si kumis kotak keburu mati duluan."
Putri menahan tawa. "Dia matinya di mana sih? Masa gosipnya di Garut?"
"Ya mana gw tau, peak. Kenal juga kagak,"
Di depan, Bu Rina masih menjelaskan dengan penuh penghayatan. Tangannya bergerak ke sana kemari, seolah sedang memimpin pasukan yang tidak pernah meminta dipimpin.
Satu jam kemudian, hampir seluruh kelas ikut berperang... melawan kantuk.
"...dan inilah yang menyebabkan eskalasi konflik global," tutup Bu Rina dengan penuh kemenangan.
Hening.
Bel akhirnya berbunyi. Seisi kelas tersadar seperti baru diselamatkan dari dimensi lain.
"Bikin rangkuman dari yang ibu jelaskan. Minggu depan dikumpulkan," kata Bu Rina sambil menyusun buku.
"Lah, Bu, yang mana ya?" tanya satu murid dengan suara tulus tanpa dosa.
"Perang Dunia Kedua dong!" Bu Rina mulai sewot.
"Minimal lima lembar, bolak-balik. Tulis tangan. Jangan diketik,"
Satu kelas langsung menatap masa depan yang gelap. Setelah itu, Bu Rina keluar begitu saja.
"Eh, Nar," Putra menepuk pundaknya dari belakang. "Ntar gw nyontek ya."
Narisa menoleh malas. "Ya kali. Gw aja gak tau dia ngomong apa. Perasaan tadinya bahas pahlawan, ngapa jadi perang dunia?"
Tiga orang yang tadi menatapnya hanya mengangkat bahu. Mereka pun sama tidak tahunya.
Kelas berikutnya di IPS 3. Karena belum puas, Bu Rina pun melanjutkan pembahasannya tentang perang dunia dengan penuh semangat. Hasil akhirnya sama. Kelas sebelah pun mendapat tugas yang serupa.
~
Di tempat lain, dua pria dewasa dipanggil ke hadapan bos besar mereka. Irwan dan Taslim, Satu kantor, beda divisi. Tidak akrab, tapi saling kenal sebatas urusan kerja.
Di balik meja besar, Bramantyo menatap keduanya dengan santai. Terlalu santai untuk seseorang yang dikenal sering punya ide di luar nalar.
Dia memang begitu. Pernah menambah satu divisi hiburan hanya karena merasa kantor terlalu sepi. Katanya biar karyawan tidak stres. Hasilnya? Kadang dangdut tiba-tiba mengalun dari pengeras suara saat jam kerja. Dan hari ini... sepertinya lebih parah.
"Kalian masing-masing cuma punya satu anak kan?" Tangannya menggeser layar tablet, memperlihatkan dua foto Kara dan Narisa.
"Benar, bos," jawab Taslim.
Bramantyo mengangguk pelan. "Cocok,"
Irwan mengernyit. "Maaf, bos?"
"Kalian pernah dengar pernikahan sejenis?"
Keduanya saling pandang sebentar, lalu mengangguk ragu.
"Tapi itu tidak diakui di sini, bos," kata Irwan hati-hati.
Bramantyo tersenyum tipis. "Justru itu yang menarik,"
Hening sebentar.
"Nikahkan mereka."
Kalimat itu keluar begitu saja. Terlalu ringan, bahkan untuk orang seperti dia.
Irwan dan Taslim langsung menoleh satu sama lain.
"Maaf, bos," Irwan memastikan pelan. "Maksudnya... anak saya dan anak Pak Taslim?"
"Benar."
Taslim menarik napas. "Anak saya punya pacar,bos."
"Oh, saya tidak bilang mereka harus saling suka." Bramantyo bersandar. "Hidup mereka ya urusan mereka."
Irwan ragu sejenak. "ßos, apa ini karena penaran saja?"
"Betul." Lagi-lagi jawaban yang terlalu ringan. "Tapi tenang saja," lanjut Bramantyo. "Saya tidak pelit. Satu rumah, satu mobil, biaya pendidikan sampai setinggi yang mereka mau. Untuk kalian, bonus besar dan satu mobil juga."
Ruangan mendadak terasa lebih sempit. Irwan dan Taslim sama-sama diam. Bukan karena tergiur sepenuhnya, tapi karena angka yang disebutkan terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.
"Kalau kami tidak bersedia?" tanya Irwan akhirnya.
"Ya tidak jadi," jawab Bramantyo santai. "Fasilitasnya hilang."
Taslim menelan ludah. "Kami.. tidak akan dipecat kan, bos?"
Bramantyo mengangkat alis. "Kalian mau. dipecat?"
Keduanya refleks menggeleng cepat. Kalau pekerjaan aman, seharusnya keputusan mereka sangat sederhana: menolak. Seharusnya.
"Besok kasih jawaban," ujar Bramantyo sambil melirik jam, "Saya sibuk. Kalian bisa keluar."
Keduanya berdiri hampir bersamaan, membungkuk singkat, lalu keluar tanpa banyak bicara. Begitu pintu tertutup, Wenny yang sejak tadi berdiri di belakang akhirnya bersuara.
"Apa saya boleh bertanya, bos?"
" Soal tadi?"
"Iya. Kenapa harus anak mereka?"
Bramantyo menyandarkan punggung, menatap langit-langit sejenak.
"Anakku sepertinya punya kecenderungan ke arah Sana,"
Wenny terdiam.
"Kalau suatu hari dia bilang mau menikahi perempuan," lanjut Bramantyo santai, "Aku sudah punya bayangan."
Wenny hampir menghela napas panjang. Setelah bertahun-tahun men jadi sekretaris Bramantyo, ia sudah tidak bisa terkejut lagi dengan cara pikir bosnya itu.
"Bos, di luar negeri banyak pasangan seperti itu. Anda bisa"
"Itu di luar negeri." Potong Bramantyo ringan. "Aku kan tinggal di sini."
Kalimat itu cukup untuk menutup pembicaraan. Wenny akhirnya diam. Percuma dilanjutkan.
.