NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Simfoni Malam dan Janji di Bawah Matahari Terbenam

Kamar itu beraroma tajam antara minyak obat dan uap teh herbal yang menenangkan. Yu Fan terbaring di ranjangnya, tubuhnya dibalut perban putih bersih dari dada hingga lengan.

Di samping tempat tidur, Jin Yuexin duduk dengan wajah yang terlihat kacau, campuran antara kecemasan yang mendalam dan kekesalan yang tertahan. Tak jauh dari sana, Dekan dan Wakil Dekan berdiri dengan raut wajah yang jauh lebih santai namun penuh penghormatan.

"Kau benar-benar gila, Yu Fan," suara Yuexin memecah keheningan, nada suaranya agak tinggi. "Mengejar sekte sesat sampai ke sarangnya? Apa kau pikir kau punya sembilan nyawa seperti kucing? Lihat dirimu sekarang, terbungkus seperti pangsit rebus!"

Yu Fan mencoba tersenyum meskipun dadanya terasa nyeri saat bernapas. "Setidaknya misinya berhasil, Putri."

"Berhasil?! Kau hampir mati!" Yuexin mencubit lengan Yu Fan yang tidak diperban, membuat pemuda itu meringis. "Kalau kau mati, siapa lagi yang akan aku ejek di akademi ini? Tidak ada murid yang seaneh dan sependiam dirimu. Kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku hampir jantungan!"

Dekan berdehem kecil, mencoba meredam suasana. "Putri benar, Yu Fan. Meskipun keberanianmu luar biasa, keselamatan adalah yang utama. Namun, Akademi Langit Biru berhutang budi padamu. Berkat dokumen yang kalian bawa, kami bisa memetakan jaringan sekte sesat itu hingga ke akar-akarnya."

Dekan meletakkan sebuah kantong kain sutra yang berat di atas meja kecil. "Ini adalah hadiah dan kompensasi untukmu. Sepuluh ribu koin emas dan beberapa botol Pil Pemulihan Sumsum Naga. Gunakan untuk memulihkan tubuhmu." Dekan menatap Yu Fan dengan pandangan yang lebih serius.

"Setelah kau benar-benar pulih, temuilah aku secara pribadi di ruangan dewan. Ada banyak hal penting yang harus kita bahas berdua... tentang apa yang terjadi di dalam gua itu."

Wakil Dekan hanya mengangguk pelan, tatapannya tetap misterius saat melirik ke arah perban Yu Fan. Setelah memberikan salam, kedua petinggi itu pergi, meninggalkan Yuexin yang masih saja mengoceh tentang betapa cerobohnya Yu Fan hingga pemuda itu tertidur karena kelelahan.

...****************...

Beberapa hari kemudian, tubuh Yu Fan yang memiliki ketahanan luar biasa telah pulih total. Merasa bosan karena terus berada di dalam ruangan, ia memutuskan untuk keluar di malam hari. Kota di sekitar akademi tampak luar biasa indah dengan lampion-lampion yang bergantungan, memantulkan cahaya emas di atas jalanan batu.

Yu Fan berjalan santai, akhirnya membeli sebuah Tanghulu, manisan buah yang sangat ingin ia makan sejak malam penyerangan itu. Sambil menikmati rasa manis yang segar, ia menyusuri pasar malam yang riuh. Langkahnya terhenti saat ia melihat kerumunan besar di sebuah panggung terbuka.

"Ayo! Siapa lagi yang berani?!" teriak seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh. "Jika ada yang bisa mengalahkan putriku dalam duel pedang, kalian berhak membawanya pulang sebagai istri! Syaratnya hanya membayar 15 koin emas sebagai biaya pendaftaran!"

Yu Fan melihat ke atas panggung. Seorang wanita muda berdiri di sana, memegang dua pedang panjang. Wajahnya sangat cantik, namun matanya terlihat kuyu dan pipinya sedikit cekung, tanda bahwa ia sedang kelaparan. Auranya adalah Master Tingkat 3 Menengah.

Merasa badannya kaku dan butuh sedikit peregangan, Yu Fan berjalan maju dan melemparkan koin emasnya ke atas meja. Ia melompat ringan ke atas panggung.

"Nama saya Yu Fan," ucapnya sambil memberikan penghormatan resmi ala praktisi bela diri. "Saya tidak berniat mengganggu, namun saya hanya ingin mencari teman latih tanding untuk melemaskan otot-otot saya."

Wanita itu, yang bernama Yan Er, terpaku sesaat. Ia jarang bertemu penantang yang sesopan dan setampan Yu Fan. Biasanya, yang menaiki panggung adalah pria-pria kasar yang menatapnya dengan nafsu.

Wajahnya merona tipis. "Namaku Yan Er. Peraturannya mudah, Tuan Yu Fan. Siapa pun yang keluar arena lebih dulu, dia kalah."

Gong berbunyi. Yan Er bergerak seperti badai, kedua pedangnya menyambar dengan koordinasi yang sempurna. Yu Fan mencabut pedangnya, namun ia tetap bersikap defensif. Mereka bertarung selama dua jam penuh. Suasana pasar malam seolah menghilang, digantikan oleh simfoni denting logam yang saling beradu.

Yan Er merasa jantungnya berdebar kencang bukan karena lelah, tapi karena gairah. Selama bertahun-tahun hidup dalam kemiskinan dan dipaksa bertarung demi uang, baru kali ini ia menemukan lawan yang bertarung dengan etika dan rasa hormat yang begitu tinggi. Yu Fan seolah menuntun gerakannya, membuat duel itu terlihat seperti tarian yang indah.

Hingga akhirnya, dalam sebuah pertukaran jurus yang cepat, Yu Fan melihat celah. Ia melakukan gerakan tipuan, dan dengan satu tendangan lembut namun bertenaga di bahu, ia mendorong Yan Er keluar dari garis arena.

Penonton bersorak riuh. Yan Er terjatuh, namun ayahnya segera memapahnya. Yu Fan menghampiri dan membungkuk. "Terima kasih atas pelajaran berharganya, Nona Yan Er. Anda adalah pengguna pedang ganda yang luar biasa."

Yan Er menatap Yu Fan dengan pandangan yang bergetar. "Tuan... sesuai janji ayahku, kau telah mengalahkanku. Mulai saat ini, kau adalah suamiku. Aku bersumpah setia padamu hingga maut menjemput."

Yu Fan tertegun, lalu tertawa kecil dengan bijak. "Nona, nasibmu ada di tanganmu sendiri, bukan di tangan pemenang duel. Ambillah uang pendaftaran tadi untuk makan dan berobat. Kau bebas memilih jalan hidupmu."

"Tidak," Yan Er bersujud di depan Yu Fan sesuai tradisi kuno. "Seorang wanita praktisi hanya akan tunduk pada pria yang lebih kuat dan memiliki hati yang mulia. Kau telah mengalahkanku, maka jiwaku adalah milikmu."

Yu Fan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia memberikan sisa manisan Tanghulu yang ia beli kepada Yan Er. "Makanlah ini dulu agar tenagamu pulih. Jika takdir mengizinkan, kita akan bertemu lagi." Sebelum Yan Er bisa membalas, Yu Fan melompat ke udara dan terbang kembali menuju akademi, melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Yan Er hanya bisa terpana melihat siluet jubah hitam itu menghilang di balik rembulan.

...****************...

Tujuannya selanjutnya adalah Perpustakaan Besar Akademi. Di sana, seorang resepsionis paruh baya menyambutnya dengan senyum hangat. "Ah, murid favoritku datang lagi.

Mencari buku tentang sejarah kerajaan atau teknik pengobatan, Yu Fan?"

"Hanya ingin menambah wawasan, Paman," jawab Yu Fan sopan. Mereka mengobrol singkat layaknya sahabat lama. Yu Fan tidak menyinggung soal penglihatan merahnya, karena ia tahu sejarah tentang "Asura" sudah dihapus secara sistematis sejak ribuan tahun lalu.

Di dalam perpustakaan yang sunyi dan beraroma kertas tua, Yu Fan menyusuri rak-rak raksasa. Namun, matanya tertuju pada sebuah pintu perunggu besar di ujung ruangan yang dilindungi oleh matra energi yang sangat kuat.

"Pintu itu menuju Arsip Terlarang," sebuah suara lembut mengejutkannya. Itu adalah Lin Xueru. Gadis dari Sekte Teratai Putih itu berdiri di sana dengan buku di pelukannya.

"Hanya dekan dan tetua agung yang boleh masuk ke sana."

"Lin Xueru? Kau juga di sini malam-malam begini?"

"Mencari ketenangan," jawabnya pelan. Mereka duduk di salah satu sudut, bercerita banyak hal tentang perkembangan akademi dan misi mereka sebelumnya. "Aku merasa ada sesuatu yang besar sedang bergerak di dunia ini, Yu Fan. Dan entah kenapa, aku merasa kau adalah pusat dari badai itu."

Yu Fan hanya tersenyum samar. Mereka bercerita hingga larut malam sebelum akhirnya saling berpamitan dengan sopan.

...****************...

Seminggu kemudian, Yu Fan menerima sebuah kiriman kotak kue yang sangat cantik di kamarnya. Ada catatan kecil di sana: "Dari Yan Er, istrimu yang menunggu." Yu Fan tersenyum canggung dan membungkuk hormat ala China di depan kue itu sebagai tanda menghargai niat tulus Yan Er.

Tiba-tiba, pintu kamarnya didobrak.

"YU FAN! AYO KELUAR! MATAHARI SEDANG BAGUS!" Yuexin menerobos masuk dengan semangat.

Yu Fan dengan kecepatan cahaya memasukkan kotak kue itu ke dalam cincin dimensinya agar tidak memancing kecemburuan sang putri. "Baiklah, baiklah, Putri. Jangan berteriak begitu."

Mereka berjalan berkeliling akademi, melihat para murid baru berlatih dan pemandangan pegunungan yang hijau. Yuexin bercerita dengan sangat antusias bahwa berkat latihan kerasnya belakangan ini, ia juga telah mencapai Master Tingkat 3.

"Lihat saja, sebentar lagi aku akan menyusulmu dan mengalahkanmu!" ejek Yuexin sambil menjulurkan lidah.

Hingga sore menjelang, mereka berdua naik ke atas atap salah satu paviliun tertinggi untuk melihat matahari terbenam. Langit berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang sangat cantik.

"Yuexin," ucap Yu Fan pelan, menatap cakrawala. "Terima kasih."

Yuexin menoleh, sedikit terkejut dengan nada serius Yu Fan. "Untuk apa?"

"Untuk menyelamatkanku beberapa tahun yang lalu. Untuk membawaku ke Kerajaan Tianwu, memberiku nama, dan menemaniku di sini. Tanpamu, aku mungkin masih menjadi mayat kedinginan di hutan itu.

Yuexin terdiam sesaat, wajahnya memerah terkena pantulan cahaya matahari. Ia memalingkan wajahnya dan bergumam, "Tentu saja kau harus berterima kasih. Kau berhutang nyawa padaku, jadi kau harus terus melindungiku sampai aku bosan, mengerti?!"

Yu Fan tertawa tulus. "Tentu saja. Aku mengerti."

Di bawah langit yang mulai menggelap, Yu Fan merasa untuk pertama kalinya sejak ia terbangun, ia memiliki tempat untuk pulang.

Meskipun bayang-bayang masa lalu dan ancaman dunia fana masih menghantuinya, setidaknya untuk saat ini, ia ingin menikmati kedamaian ini bersama sang putri yang selalu membuatnya tersenyum.

1
WER
semangat author 👍👍👍👍
Fandi Syahputra: 💪 semangat 45
total 1 replies
Fandi Syahputra
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!