"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Dibuli lagi
Bab 11 —
•••
Seorang pria berpakaian serba hitam dan masker sedang berdiri disamping mobil Ford ranger. Ia melepas maskernya.
Zayn.
Yap, Zayn mengikuti Varisha diam-diam hingga ke pemakaman tersebut. Entah apa tujuannya.
Zayn ingin kembali masuk ke dalam mobilnya. Namun, matanya tertuju pada sepeda motor roda tiga milik Varisha yang berwarna pink. Ia menatap sinis motor tersebut.
"Gue bakalan beri loe pelajaran," gumamnya.
Zayn langsung keluar dari mobil. Ia menoleh ke kiri dan kanan memastikan tak ada orang lain yang melihatnya.
Dengan kejam, ia menusuk ban motor itu menggunakan gunting kecil yang ia miliki.
"Rasakan!" ucapnya puas sebelum buru-buru pergi.
Tak lama kemudian, Varisha datang.
Dan ia langsung kaget saat melihat ban motornya sudah kempes.
"Ya Allah! Siapa yang melakukan ini?" paniknya.
Varisha menatap sekeliling area parkiran. Tak ada siapa pun di sana selain motornya.
Apakah ada yang sengaja mengerjainya?
"Ya Allah, bagaimana ini?" gumamnya cemas sembari melihat jam tangan.
Sudah pukul sembilan.
Padahal tiga puluh menit lagi kelasnya akan dimulai.
"Bagaimana ini?" lirih Varisha panik. Ia takut terlambat mengajar.
Varisha langsung buru-buru keluar dari area pemakaman. Ia mulai membuka ponselnya untuk memesan taksi online.
Namun tiba-tiba—
BRUKKK!
Hujan turun deras membasahi jalanan.
Varisha buru-buru berteduh di bawah pohon besar.
'Kenapa nggak ada satu pun taksi online di sekitar sini?' batinnya resah sambil menatap layar ponselnya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
Varisha langsung mengenali mobil itu.
Mobil milik Zayn.
Senyuman penuh harap langsung muncul di wajahnya.
Jendela mobil terbuka perlahan.
Dan benar saja.
Itu Zayn.
"Mas Zayn!" seru Varisha menghampiri mobil tersebut.
"Kenapa? kehujanan ya? Kasihan banget," ejek Zayn sambil menatapnya sinis.
Varisha mencoba membuka pintu mobil. Namun pintunya terkunci.
“Mas, tolong bukain Mas!” pinta Varisha sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil.
Pakaiannya kini sudah basah kuyup. Memperlihatkan dengan jelas lekukan tubuhnya.
Ia berusaha membuka pintu itu lagi dengan susah payah.
"Enak saja. Mobilku nggak cocok ditumpangi cewek pincang dan miskin seperti kamu," ucap Zayn dingin.
Sret!
Jendela mobil kembali tertutup.
"Mas Zayn! Mas!" Varisha mengetuk kaca mobil itu berkali-kali.
Namun Zayn sama sekali tak berniat membukanya. Ia malah langsung menginjak pedal gas dan pergi meninggalkan Varisha begitu saja.
"Mas !" teriak Varisha.
Sedangkan di dalam mobil—
"Hahahaha!"
Tawa Zayn menggema memenuhi kabin mobil.
Puas rasanya melihat Varisha menderita.
Varisha hanya mampu mematung menatap mobil mewah itu menjauh. Seluruh tubuhnya basah kuyup dan dingin.
"Kenapa kamu tega sekali, mas?" lirihnya.
Varisha hanya bisa berdiri dengan memengang tongkat di samping sepeda motornya.
•••
Beberapa jam kemudian.
Matahari sudah tenggelam sejak tadi.
Zayn baru saja tiba di rumah kedua orang tuanya.
Saat masuk, ia berpapasan dengan seorang pria berkacamata yang membawa tas medis.
"Hai, Zayn," sapanya sebelum pergi.
Ia adalah Dokter Ronald, dokter pribadi keluarga mereka.
"Apa penyakit Ayah kambuh lagi?" gumam Zayn sedikit cemas.
Tak lama kemudian, nyonya Lestari menghampirinya.
"Dari mana saja kamu, Zayn? Dihubungi malah tidak aktif," omel nyonya Lestari.
"Kenapa Dokter Ronald datang, Bu?" tanya Zayn.
"Varisha sakit. Tadi saat pulang ke rumah, Ibu melihat pakaiannya basah kuyup lalu dia langsung pingsan," jelas nyonya Lestari cemas.
Wajah Zayn sedikit berubah terkejut.
"Di mana dia sekarang?"
"Di kamar kalian. Cepat temui dia, dia pasti membutuhkanmu."
Zayn langsung bergegas menaiki tangga.
Tak lama kemudian ia tiba di depan kamar mereka. Pintu langsung dibukanya.
Dan di sana—
Varisha sedang berbaring di atas ranjangnya.
Ranjang milik Zayn.
Seketika wajah pria itu berubah kesal.
"Cepat turun dari ranjangku!" bentaknya sambil menarik tangan Varisha kasar.
Wajah Varisha terlihat sangat pucat. Bibirnya bahkan membiru.
"Izinkan aku tidur di sini, mas..." lirih Varisha lemah.
"Guenggak peduli. Cepat turun! Ranjang ini cuma untuk wanita yang belum pernah tidur dengan pria mana pun!" bentak Zayn penuh amarah.
Hati Varisha kembali terasa hancur.
Apakah dirinya sehina itu hanya karena seorang janda?
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Kenapa kamu tega sekali , mas ? Salahku apa?" suaranya bergetar.
Rahang Zayn mengeras.
"Salahmu adalah menikah dengan Adam."
Varisha menunduk. Ia tak ingin membalas lagi. Semakin ia berbicara, semakin Zayn akan menghina dirinya.
Dengan kepala yang masih pusing, Varisha mencoba turun perlahan dari atas ranjang.
Namun karena tak sabar, Zayn malah mendorong tubuh mungil itu hingga jatuh ke lantai.
Bruk!
"Dasar lambat!"
Air mata Varisha kembali jatuh.
Dengan susah payah ia bangkit perlahan tanpa tongkatnya lalu membaringkan diri di atas karpet ambal.
Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sambil menahan tangis.
Hatinya terasa sangat sakit.
•••
Selimut Varisha perlahan tersingkap.
Dan muncullah sosok yang begitu ia rindukan selama ini.
Adam.
"Mas Adam..." lirih Varisha sambil menangis.
"Apa kabar, sayang?" tanya Adam dengan senyuman hangat di wajahnya.
Wajah pria itu terlihat bercahaya. Di sekeliling mereka hanya ada cahaya putih yang menenangkan.
"Aku rindu, masn," tangis Varisha sambil memeluk pria itu erat.
"Aku juga merindukanmu."
Varisha perlahan melepas pelukan itu lalu menatap sekeliling.
"Kita ada di mana?"
"Kita ada di sebuah taman."
"Taman?"
Varisha mengerutkan dahinya.
"Tapi kenapa suasananya seperti di awan-awan?"
Adam tersenyum lembut sambil merapikan rambut Varisha.
Varisha kembali memeluknya erat.
"Bawa aku pergi bersamamu, Adam," pintanya lirih.
Adam menggeleng pelan.
"Tidak bisa, Varisha. Sekarang kamu bukan milikku lagi. Tapi milik adikku, Zayn."
"Dia membenciku."
"Suatu hari nanti hatinya pasti luluh."
"Itu nggak mungkin."
"Percayalah, Varisha. Jadi bertahanlah sedikit lagi."
"Aku nggak mau. Aku ingin bersamamu saja."
Adam menangkup kedua pipi Varisha.
"Tolong cintai dia seperti dulu kamu mencintaiku."
"Tapi, Mas.."
Varisha melihat tubuh Adam perlahan menjauh.
"Adam! Adam! Mas Adam Jangan tinggalkan aku!"
"Selamat tinggal, Varisha. Hiduplah lebih bahagia lagi."
"Mas Adam!" teriak Varisha.
…
Varisha langsung terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Ia menatap sekeliling kamar yang remang-remang.
Ia masih berada di atas karpet ambal.
'Ternyata cuma mimpi...' batinnya sedih.
Varisha kembali merebahkan tubuhnya. Pakaiannya terasa basah karena keringat.
Akhirnya ia melepas pakaian itu dan hanya menyisakan pakaian dalam seperti biasanya.
Ia memang tidak bisa tidur menggunakan pakaian lengkap.
Varisha menyentuh keningnya yang kini sudah tidak panas lagi.
Namun pikirannya terus mengingat ucapan Adam tadi.
"Tolong cintai dia seperti dulu kamu mencintaiku..."
Varisha memiringkan tubuhnya menatap Zayn yang sedang tidur di atas ranjang.
Tatapannya begitu sedih.
"Apakah aku mampu?" lirih Varisha sangat pelan.
To be continue...
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya