Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandai memanaskan laki-laki
Setiap usapan kain berbusa di kulit kekar itu terasa berat bagi Azura. Ia berusaha fokus hanya pada gerakan tangannya, berusaha mengabaikan sepasang mata tajam yang tak pernah lepas darinya. Xavier bersandar santai di tepian dalam bak kayu itu, air hangat mencapai sebatas dada, namun sorot matanya yang gelap dan penuh selidik membuat suasana di dalam ruangan itu terasa jauh lebih panas. Ia seolah sedang mencari-cari celah, mencari kelemahan, atau sekadar ingin menikmati ketidakberdayaan wanita di hadapannya.
Azura menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan gejolak batinnya. Ia menggosok lengan, bahu, dan punggung pria itu dengan gerakan yang terampil namun dingin, persis seperti seorang pelayan yang sedang menjalankan perintah majikannya. Tidak ada kelembutan, tidak ada kasih sayang, hanya kewajiban seorang istri.
Namun, di mata Xavier, sikap dingin itu justru semakin memicu rasa benci sekaligus rasa penasaran yang membuatnya gila. Bagaimana mungkin wanita ini bisa begitu tenang, begitu terampil, seolah-olah ini adalah hal biasa yang sering ia lakukan? Bayangan tentang laki-laki lain yang mungkin pernah merasakan sentuhan yang sama dari tangan halus ini kembali menyerbu pikirannya, membuat darahnya mendidih karena amarah.
Saat Azura berusaha membersihkan bagian perut dan pinggang bawah Xavier, tangannya yang licin karena sabun itu meluncur ke bawah, dan secara tidak sengaja punggung tangannya tergesek tepat di batang kemaluan Xavier yang terkulai di dalam air.
"Ah..."
Azura terkejut, ia hendak menarik tangannya menjauh secepat kilat karena kaget dan ngeri. Namun, gerakannya terlambat. Dengan kecepatan dan kekuatan yang tak terduga, tangan besar Xavier menyambar pergelangan tangan wanita itu, lalu dengan satu tarikan kuat, tubuh mungil Azura tersentak dan terhempas masuk ke dalam bak mandi yang cukup besar itu.
Cipratan air membasahi lantai dan dinding kamar mandi. Azura berteriak kaget kecil, matanya membulat tak percaya. Tubuhnya yang semula berdiri di tepian, kini terbenam separuh badan di dalam air hangat itu. Gaun tidur tipis berwarna putih yang ia kenakan kini basah kuyup seketika, menempel erat di kulitnya, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang indah, bentuk payudaranya yang membulat, hingga garis pinggang dan pinggulnya yang melengkung sempurna. Kain itu menjadi transparan, tak lagi bisa menyembunyikan apa pun dari pandangan mata Xavier.
Sial!
Batin Azura mengumpat keras, wajahnya memerah padam bukan hanya karena air panas, tapi karena rasa malu yang luar biasa. Ia berusaha mundur menjauh, namun tubuhnya sudah terperangkap di antara dinding bak dan tubuh kekar Xavier yang kini ikut maju mendekat.
Xavier diam terpaku sejenak. Matanya menatap lekat sosok wanita yang basah kuyup di hadapannya itu. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang dari yang ia inginkan. Ia sangat benci mengakuinya, sangat benci menyadarinya, tapi melihat lekukan tubuh indah yang terpampang nyata di balik kain basah itu, melihat kulit putih yang berkilauan terkena percikan air, tubuhnya dengan cepat memberikan reaksi yang sangat jelas. Batang kemaluannya yang tadi terkulai, kini perlahan menegang, membesar, dan menanjak tinggi dengan cepat di dalam air, seolah memiliki nyawa.
Sialan...
umpat Xavier dalam hati, merasa marah pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia merasa perempuan itu begitu menggoda saat basah seperti itu? Bisa-bisanya dia bereaksi melihat Azura seperti itu.
Ia berusaha keras menutupi kekacauan perasaannya itu dengan wajah sedingin es dan senyum mengejek yang menyeringai di bibirnya. Tanpa melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Azura, Xavier menarik tangan wanita itu turun, memaksanya meremas dan menyentuh batang kemaluannya yang kini sudah keras dan besar sepenuhnya. Azura kaget, ia berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman Xavier terlalu kuat.
"Lepaskan aku!" desis Azura, matanya menatap tajam penuh amarah.
Namun Xavier justru semakin mendekatkan wajahnya, napas panasnya menerpa wajah wanita itu. Senyum sinisnya semakin lebar.
"Kenapa? Kau mau ke mana?" suaranya rendah, berat, dan penuh tekanan.
"Bukankah kau sudah sangat mahir dalam hal ini? Tanganmu ini sudah sering menyentuh dan melayani laki-laki lain sebelum aku kan? Mainkan ini, sekarang ..."
Ia menekan tangan wanita itu semakin kuat menempel pada belalainya yang berdenyut itu.
"Aku ingin tahu seberapa hebatnya dirimu. Aku ingin merasakan sendiri seberapa pandai kau memuaskan laki-laki. Lakukan. Putar, gesek, kocok... Lakukan semua yang biasa kau lakukan pada laki-laki-laki lain."
Azura sungguh ingin sekali mengangkat tangannya dan menampar keras wajah angkuh itu. Ia ingin memukul kepala laki-laki itu hingga sadar, ingin berteriak bahwa tidak ada laki-laki lain, bahwa semua tuduhan itu salah besar. Tapi ia sadar posisinya. Ia sadar apa yang dipertaruhkan. Harga dirinya harus ia telan bulat-bulat demi nyawa putranya.
Azura menarik napas panjang, lalu perlahan ia mengangkat wajahnya, menatap balik mata Xavier dengan senyum yang tak kalah sinis dan menantang. Ia tidak akan membiarkan Xavier melihatnya hancur atau menangis. Jika pria itu menganggapnya wanita murahan, maka ia akan bermain sesuai peran itu.
"Baiklah, aku pasti memuaskanmu, suamiku." jawabnya dengan suara lembut namun bernada sarkas, bibirnya menyunggingkan senyum manis yang palsu namun memikat.
Dengan keberanian yang ia kumpulkan sekuat tenaga, tangan halusnya mulai bergerak. Ia melingkarkan jari-jarinya di sekeliling batang kemaluan yang keras dan berdenyut itu, membalutnya dengan sempurna. Awalnya perlahan, lalu semakin lama gerakannya semakin cepat, semakin kencang, dan semakin terampil. Ia memutar, menggesekkan kulitnya ke kepala yang sensitif itu, menekan di bagian-bagian tertentu yang ia tahu akan memberikan sensasi nikmat luar biasa, persis seperti apa yang pernah ia pelajari secara otodidak dari buku-buku kedokteran dan anatomi saat mencoba mengobati rasa sakit dan kesendiriannya dulu.
Gerakannya begitu luwes, begitu mahir dan menggoda.
Di hadapannya, Xavier terpaksa mengatupkan rahangnya erat-erat. Keningnya berkerut hebat. Sialan. Kenapa rasanya begitu nikmat? Kenapa sentuhan tangan wanita ini terasa jauh lebih baik, lebih panas dan membakar daripada apa pun yang pernah ia bayangkan atau rasakan sebelumnya? Kenapa ia merasa seolah-olah seluruh darahnya berkumpul di bawah sana, memaksa dirinya menyerah pada kenikmatan sialan ini?
Pria itu mati-matian berjuang menahan erangan yang hampir lolos dari tenggorokannya. Ia membuang muka, menatap dinding kamar mandi dengan pandangan kosong namun tubuhnya menegang kaku. Setiap kali tangan Azura bergerak naik turun, rasa nikmat yang luar biasa menjalar ke seluruh urat sarafnya, membuat kepalanya terasa pening dan kabur.
Amarahnya bercampur dengan gairah yang memuncak, menciptakan perasaan rumit yang membuatnya gila. Ia ingin marah karena mengira Azura melakukan ini dengan santai karena sudah biasa melakukannya pada orang lain, namun di saat yang sama ia ingin menikmati setiap sentuhan itu.
"Kau... kau memang..." Xavier menggumam tidak jelas, napasnya memburu dan berat, dadanya naik turun hebat berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
"Kau memang pandai ... pandai sekali memanaskan laki-laki..."
Azura terus mengocok naik turun, matanya menatap lurus ke wajah pria itu dengan senyum mengembang sampai Xavier muncrat di dalam air dan tidak dapat lagi menahan erangannya.
"Ahhh ..."
hanya aku yg boleh menghina istriku,KLW orang lain yg berani,siap² kupenggal,dlm hati pangeran Xavier, hanya aq yg dengar 😂😂😂😂😂
dasar elish sok sok cantik dan caper didepan pangeran xavier, kegatelan elish pengen mendekati pangeran xavier..
yg ada pangeran xavier sangat jijik dan muak sama elish...
putri perdana menteri tutur katanya tidak bisa dijaga, berani menjelek2kan dan menghina putri azura...
putri azura tidak seburuk itu, putri azura pasti ada alasannya tiba-tiba menghilang.. lagi mencari kesempatan membebaskan putranya/melihat anaknya lagi sakit...
pangeran xavier sangat curiga gerak-gerik putri azura, dikira xavier merencanakan sesuatu mencelakainya...
kasian juga nasibnya putri azura anaknya disandera, diancam jadi mata-mata, dan pangeran xavier salahpaham pangeran memperlakukan putri sangat kasar dan kata-katanya bikin sakit hati....
ga jeules ya vier
cuman cemburu 🤣🤣🤣🫣
putri azura sangat ketakutan dan khawatir takut terjadi sesuatu sama anaknya, klo kasih tahu pangeran xavier azura serba salah... raja utara sangat jahat dan licik, bisa melakukan apa aja demi ambisinya sampai tega sandera anaknya putri azura....
tapi putri azura gak mau jujur makin salahpaham pangeran xavier, yg ada kebencian dan merasa dikhianati pangeram xavier...
pangeran xavier tidak akan membiarkan putri azura menghilang dari hidupnya, masih jadi misterius anaknya azura apakah anaknya pangeran xavier....
walau sebel sama Azura tapi depan orang lain kamu harus tetap bela istri ....👍👍👍