NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:739
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 PEMBALASAN

Setelah melontarkan ancaman yang menusuk hingga ke tulang, Gian berbalik tanpa memandang Ema lagi. Ema berdiri mematung di tempatnya, rahangnya mengeras dengan giginya. Matanya yang merah menatap punggung Gian dengan kilat kebencian yang mendalam.

Ruby yang berada di samping Reo, menatap cemas ke arah sosok yang berada di dalam pautan tangan Gian. "Gian... apa Gretta tidak apa-apa?" tanyanya dengan suara bergetar penuh kekhawatiran.

"Dia akan baik-baik saja," jawab Gian singkat dan dingin, enggan membuang waktu lebih lama.

"Reo, ayo kita pulang," pintah Gian kemudian. Ia melangkah lebar melewati Ruby dan Reo.

Di dalam gendongan kekarnya, Gretta sama sekali tidak bersuara. Gadis itu menyembunyikan wajahnya erat-erat di ceruk leher Gian, meremas jaket pria itu dengan jemarinya yang gemetar, seolah Gian adalah satu-satunya pelindung di dunia yang sedang runtuh ini.

"Oke," sahut Reo. Namun, sebelum pria itu melangkah, Ruby melemparkan isyarat mata yang penuh arti—sebuah kode agar membiarkan Gian membawa Gretta pergi berdua saja untuk menenangkannya. Reo yang peka langsung menangkap maksud itu. Ia menghentikan langkahnya.

"Gian, tunggu. Aku masih ada urusan yang belum selesai. Aku tidak ikut pulang sekarang, biar aku saja yang pergi membeli peralatan untuk kemping kita nanti," seru Reo mengalihkan alasan.

Gian hanya mengangguk pelan tanpa menghentikan langkah kakinya. Ia membawa Gretta menuruni eskalator dengan perlahan. Di sepanjang jalan menuruni lantai mall, puluhan pasang mata pengunjung tertuju pada mereka. Siluet Gian yang tinggi tegap menggendong Gretta yang tampak rapuh justru terlihat begitu puitis dan dramatis, membuat orang-orang menatap mereka seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih di dalam film romantis yang sedang melewati badai bersama.

Sementara itu, di dalam butik pakaian remaja, atmosfer yang tertinggal justru semakin memanas. Reo berbalik arah, melangkah kembali ke tempat kejadian tadi bersama Ruby dan Nana. Namun, pemandangan yang menyambutnya di dalam toko sungguh di luar dugaan.

Plak! Plak!

Suara tamparan keras bergema memecah keheningan tokoh. Ruby sedang menghajar wajah Ema tanpa ampun. Kemarahan Ruby yang sedari tadi terpendam melihat sahabatnya ditindas kini meledak total menjadi aksi yang kejam.

"Ruby, sudah Ruby! Cukup! Kamu bisa masuk penjara kalau begini!" pekik Nana panik, mencoba menarik lengan Ruby yang sudah kalap.

Melihat situasi yang semakin liar, Reo langsung melangkah maju. Ia menangkap kedua pergelangan tangan Ruby dari belakang, mencoba menahan amarah gadis itu yang menggebu-gebu.

"Jangan hentikan aku, Reo! Perempuan sialan ini sudah menyudutkan Gretta! Tidak mungkin aku diam saja melihat sahabatku dihina oleh sampah seperti dia!" teriak Ruby histeris, tangannya masih mencengkeram kuat kerah baju Ema yang kini sudut bibirnya mulai memar. Meski begitu, Ema masih saja memasang wajah sombong dan mendongak angkuh, menolak untuk terlihat kalah.

Reo menghela napas, lalu melirik Ema dengan pandangan yang luar biasa muak.

"Sudahlah, Ruby. Tangan lembutmu yang berharga itu terlalu mewah jika harus dikotori hanya demi memukuli wajah jeleknya," ujar Reo pedas, menatap Ema dengan pandangan menghina yang sangat menusuk.

Kalimat Reo bagai air dingin yang menyadarkan Ruby. "Benar juga apa yang kamu katakan," sahut Ruby dingin. Dengan satu sentakan yang sangat kasar, Ruby menghempaskan tubuh Ema hingga terdorong mundur ke belakang.

Bruk! Tubuh Ema untungnya ditangkap oleh Sasha, temannya yang sedari tadi hanya berdiri mematung bagai pajangan pakaian, terlalu kecut dan ketakutan untuk ikut campur sejak awal.

"Sudahlah Ruby, ayo kita ke kasir saja untuk membayar belanjaan kita. Tempat ini mendadak bau busuk," timpal Nana dengan nada menyindir yang tak kalah tajam.

Nana berjalan memimpin di depan, melewati Ema dan Sasha. Namun, rasa jengkel di dada Nana belum sepenuhnya padam. Saat melangkah tepat di samping Ema, Nana dengan sengaja menghentakkan kaki kanannya, menginjak kuat-kuat sepatu Ema dengan tumitnya.

"Awwhhh! Sialan! Kamu punya mata tidak, sih?!" teriak Ema histeris sambil melompat kesakitan.

Lengkingan suaranya kali ini sukses membuat seluruh pengunjung mall yang mulai memadati koridor menoleh serempak ke arahnya dengan pandangan penuh selidik. Kebetulan, saat keributan dengan Gretta tadi, suasana toko sedang sepi pengunjung. Namun sekarang, Ema mendadak menjadi pusat tontonan yang memalukan.

Nana menghentikan langkahnya, berbalik dengan wajah tanpa dosa yang dibuat-buat. "Oh? Eh, maaf, ya. Nggak sengaja. Lagipula... kupikir tadi ada kecoa yang menghalangi jalan, jadi langsung saja kakiku menginjaknya," pekik Nana dengan nada meremehkan yang kental.

"Kau... kurang ajar!" Ema menggertakkan giginya begitu keras hingga rahangnya gemetar, wajahnya merah padam menahan malu yang luar biasa di depan publik.

"Sudah, ayo kita pergi," lerai Reo, merangkul pundak Ruby dan Nana untuk meninggalkan tempat itu, membiarkan Ema menanggung kehancuran harga dirinya.

"Bajingan Alesia itu! Berani-beraninya mereka!" teriak Ema histeris begitu sosok Reo, Ruby, dan Nana menghilang dari pandangan. Matanya merah, napasnya memburu dipenuhi dendam kesumat pada Alesia.

"Sudah, Ema... jangan marah lagi. Ayo kita tenang dulu," bujuk Sasha pelan, mencoba menyentuh lengan sahabatnya itu agar tidak semakin menjadi tontonan orang-orang di mall.

"Diam kamu!" bentak Ema, menepis tangan Sasha dengan sangat kasar. "Dari tadi kamu cuma diam saja seperti orang bodoh! Sama sekali tidak membantuku! Dasar tidak berguna!"

Ema menghentakkan kakinya dengan gusar, berbalik dan berjalan cepat keluar dari tokoh, meninggalkan Sasha sendirian di tengah tatapan sinis pengunjung toko.

"Tunggu, Ema! Jangan tinggalkan aku!" pekik Sasha panik. Ia terpaksa berlari kecil mengejar Ema yang melangkah cepat menuju area parkir mobil bawah tanah.

Namun, kemarahan Ema sudah menutup seluruh akal sehatnya. Begitu sampai di depan mobilnya, Ema langsung melompat masuk, menyalakan mesin, dan menginjak gas dalam-dalam tanpa memedulikan Sasha yang melambaikan tangan di belakang. Mobil mewah itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis.

Sasha mematung di area parkir yang sunyi, napasnya terengah-engah dengan rasa kesal yang mendalam. Rasa setia kawannya menguap, digantikan oleh kekesalan yang membakar dada. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, meluapkan kemarahannya pada sosok yang ia anggap sebagai sumber petaka hari ini.

"Sialan kau, Alesia! Gara-gara kau dan drama sialanmu itu, aku yang jadi ditinggal begini!" gumam Sasha dengan penuh kejengkelan, menatap kosong ke arah jalanan aspal yang sepi.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!