Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 28
Safira menunggu di depan pintu apartemen tunangannya.
Cup.
“Tidur lah dulu, mandinya nanti bersama saya.” Daksa mengecup pelipis Ayunda yang berbaring menghadapnya, lalu pelan-pelan menarik lengan.
Ayunda tidak bereaksi apa-apa, menatap biasa saja pada pria yang masih polos tengah membuka lemari pakaian. Mengenakan kaos putih, celana training, tak ketinggalan dalaman.
Daksa keluar dari dalam kamar yang pintunya dibiarkan terbuka separuh.
Disaat merasa bosan, sementara ponsel masih belum dikembalikan, Ayunda berbalik badan, bergeser ke tepi kiri – ia tarik laci meja, berniat mengambil sebuah iPad.
Namun gerakannya tertahan, sedikit lama memandang sebuah kotak beludru. Diambilnya tempat perhiasan itu, bagian atas dibuka – sepasang cincin kawin emas putih membawa ingatan Ayunda ke masa lalu.
Setelah akad, sebagai syarat – sepasang pengantin mengenakan busana putih, melakukan pemasangan cincin pernikahan pemberian mempelai pria.
Belum juga satu jam berlalu, saat tamu dan saksi telah bubar – si gadis berstatus istri, menarik cincin nikahnya lalu dikembalikan ke sang pria.
Daksa Wangsa lewat tatapan mata, bertanya tanpa suara atas aksi Ayunda. Dia sendiri masih mengenakan cincin pernikahan mereka.
“Saya tidak mau hanya karena hal remeh ini bisa menjadi penghalang, menciptakan masalah besar, memancing rasa curiga mereka,” katanya dengan raut wajah tanpa beban.
Dalam diam, Daksa menerima cincin baru beberapa menit lalu disematkan ke jemari Ayunda.
Ayunda menghela napas, menaruh lagi kotak perhiasan ke tempatnya, dan mengambil iPad. Ternyata benda tersebut kehabisan baterai, lupa diisi daya.
“Lebih baik aku mandi.” Selimut yang membungkus tubuhnya diturunkan, tidak peduli bagaimana penampilan polosnya, Ayunda berjalan tenang masuk ke dalam kamar mandi.
Enggan mencuri dengar percakapan tengah berlangsung terdengar sayup-sayup, malas pula mengintip, dan sama sekali tidak takut ketahuan.
Dia percaya, Daksa Wangsa dapat mengatasi setiap masalah yang entah itu bersumber dari dirinya atau disebabkan oleh orang lain.
Lagipula letak kamar utama terhalang rak buku tinggi dan ruang kerja terbuka. Jika dari ruang santai, tidak terlihat. Kecuali seseorang mengecek masuk ke dalamnya.
***
Dibawah guyuran air hangat, Ayunda menyabuni tubuhnya, menghindari area dimana sang buah hati tengah tumbuh.
Sesaat calon ibu itu bergeming, menatap dinding tembok kamar mandi, lalu terlihat dadanya terangkat tanda dia menghela napas panjang.
Sepasang tangan memeluknya dari belakang, seketika tubuhnya juga basah. Kulit mereka saling menempel tanpa kain penghalang, sama-sama polos.
Daksa Wangsa mengambil kain lembut dari tangan Ayunda, membalikkan badan sang wanita, lalu menggantikan tugas menyabuni.
Kali ini semua terjamah, dan bagian perut sengaja dibuat lama. Di bawah tatapan mata sayu, Daksa memandikan istrinya dengan penuh rasa sabar.
Membilas rambut dari busa shampoo, sekali-kali mencuri sebuah ciuman pada bibir terasa hangat.
Ayunda biarkan saja sebagai bentuk rasa protes, enggan membalas, dan Daksa peka akan hal itu.
Acara mandi bersama sudahi. Tubuh Ayunda dibopong keluar dari boks bilas, lalu dipakaikan kimono lembut, kepalanya dibungkus handuk.
Gerakan Daksa begitu natural, seolah sangat terbiasa melakukan hal ini tanpa rasa risih, canggung.
Kembali Ayunda digendong keluar dari dalam kamar mandi, kali ini didudukan pada sebuah kursi meja rias. Benda yang terlihat kontras dengan interior maskulin kamar pria, ditempati seorang diri.
Sama seperti peralatan mandi di dalam tadi, sebagian tempat diisi produk kepunyaannya Ayunda. Mulai dari sikat gigi, perawatan wajah, kulit, rambut sampai shower cup.
Ayunda masih terdiam, lagi-lagi membiarkan Daksa mengurusnya layaknya anak kecil. Dia tidak berminat bertanya tentang kedatangan Syafira, sama sekali tak tertarik ingin tahu bagaimana sebenarnya hubungan sepasang tunangan itu.
Alat pengering sudah dinyalakan, tanpa menggunakan sisir, hanya mengandalkan jemari, pria yang masih mengenakan handuk pada bagian pinggang sampai lutut itu menyisir rambut istrinya.
“Mau mengenakan kemeja saya, atau baju kamu?” tanyanya sambil mematikan hairdryer.
“Terserah.” Ayunda memutar badan, duduk menatap cermin.
Kala Daksa berniat memakaikan Ayunda baju, pakaian dalam genggamannya direbut paksa.
“Aku tahu kamu tengah menghindar? Mau sampai kapan? Bukankah kita selalu menyelesaikan masalah saat itu juga? Ini apa?” terluap juga rasa mengganjal, kesal sedari semalam ditahannya.
“Perlu diingat, kita tak pernah memiliki masalah pribadi.”
“Anggap saja ini yang pertama!”
“Apa yang mau dibicarakan? Dia sudah hadir, selain menerima, kita bisa apa?” jawabnya santai, khas dirinya.
“Banyak cara,” tandas Ayunda.
“Sebutkan salah satunya!” tantang Daksa.
“Dia masih lima minggu, belum terlambat _ hmmmmm.”
Daksa mencium dalam, lama, melumat bibir yang baru saja hampir meloloskan kalimat tak disukainya.
“Jangan sekali-kali berpikiran untuk membuatnya keluar sebelum waktunya, Ayunda!” geraman itu tepat ditelinga sang wanita.
“Aku gak mau dia. Kamu ngerti gak sih?”
“Saya tidak ingin mengerti. Apa yang sudah hadir anggap saja anugerah.” Daksa melepaskan tangan memegang pinggul Ayunda, lalu dia mengambil sebuah dress sebetis teronggok di lantai.
“Kamu sengaja, kan?” tuduhnya. Netra Ayunda memerah meskipun tidak ada air mata meluncur. “Apa sebenarnya rencanamu? Kenapa aku bisa hamil padahal gak pernah telat minum pil KB? Ulah mu, kan?!”
Sambil menahan emosi yang coba ditekan sedemikian rupa, Ayunda membuang baju pemberian Daksa. Dia melangkah, menghentak kaki, membuka lemari, menarik asal sebuah kemeja kebesaran warna hitam di gantungan yang langsung tercampak.
Daksa mendekati, mencegah Ayunda memakai kemeja miliknya tanpa mengenakan dalaman.
“Bisa gak sih kamu jauh-jauh?!” suaranya parau, bergetar, enggan menatap netra memandang lembut.
“Bisa. Setelah kamu berpakaian dengan benar.” Daksa berlutut, menarik sebelah kaki Ayunda agar mau masuk ke cela celana dalam putih polos.
Ya, Daksa menepati kata-katanya, sesudah mengancingkan kemeja, dia tidak lagi berusaha dekat, mulai memakai pakaiannya sendiri.
Ayunda keluar dari dalam kamar, tapi celetukan Daksa berhasil membuatnya mengepalkan tangan.
“Mulai hari ini, Yeri akan tinggal di apartemenmu.”
“Kenapa gak sekalian Ardo juga?” tantangnya kesal.
“Nanti saya carikan pengawal wanita satu lagi,” sangat ringan dirinya menyahut.
“Jangan mengumpat, bayi kita nanti mengikuti kata-kata tak terpuji itu.” Senyum tipis itu terlihat alami, sayangnya sang istri enggan berbalik badan.
Ayunda tidak jadi memaki, berjalan cepat ke bagian dapur. Membuka kulkas, mengambil minuman soda.
“Minuman itu tak baik untuk tubuhmu dan juga perkembangan bayi kita. Ingat pesan dokter _”
“Aku tahu!” Dibantingnya pintu kulkas, lalu dengan berani dia menatap nyalang pria yang berdiri bersandar pada minibar bagian dapur.
“Aku mau pulang.”
“Saya antar_”
“Gak perlu!” Ayunda bergegas keluar dari area dapur minimalis modern.
“Ya sudah, biar Ardo yang menyetir.” Daksa menghalangi langkah Ayunda, membawa tubuh tengah menahan marah itu dalam pelukannya.
“Adanya bayi ini bukan beban, tak pula menjadikan dirimu seperti Dia. Kamu berbeda, sedari awal kalian tidak sama. Paham?”
.
.
Bersambung.
jangan sampai kepulangan orang tua daksa untuk memaksa pernikahan sapi sama daksa. awas aja kalau kontrak belum selesai dah nikah lagi aku potong itu burung mu😤