“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”
“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.
“Aku gak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan Ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.
“Baimm,” suara Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu gak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”
Anak perempuan tertua dari pemimpin Bataviarch akan dilelang malam ini. Rosella Rachmandi telah lama bersiap menghadapi hari itu. Sebenarnya, rencananya sederhana, ia ingin mendapatkan suami yang bodoh dan lemah, sehingga dapat dikendalikannya, lalu merebut seluruh kekuasaan ayahnya yang kejam demi menyelamatkan nasib ketiga adiknya.
Ia yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar, hingga Dio Walisang, pria yang tiba-tiba hadir di acara pelelangan itu, mengubah dan meruntuhkan seluruh rencananya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Farchy
“Heiiiii!” seru Hans, nada suaranya jelas keberatan.
Dio menatap noda darah pada kemeja sepupunya. Noda itu kini tertutup cairan anggur merah yang tumpah, berukuran jauh lebih besar.
“Masalah selesai,” ucap Dio singkat.
“Selesai katanya!” gerutu Hans sambil mendengus pelan.
Dio malah tertawa kecil. Ia lalu memandangi seisi ruangan, mencari sosok Rosella. Wanita itu berdiri membelakanginya, sementara Verlis masih asyik mengobrol dengan Farchy.
Saat Rosella berbalik, Dio melihat wanita itu membawa udang dalam mangkuk kecil, lalu memberikannya kepada Farchy. Pria itu tampak sangat ingin memakannya, nyaris tak sabar.
“Serius deh, apa enggak ada harga dirinya sama sekali demi makanan?” batin Dio. Namun, hal itu bukanlah yang paling menarik perhatiannya.
Yang membuatnya terpaku adalah gerakan tangan Rosella di bagian dada. Gerakan itu seolah sedang menyelipkan sesuatu ke dalam belahan gaunnya. Bisa jadi ia hanya membetulkan posisi pakaian dalam, namun Dio merasa ragu.
“Kamu juga lihat tadi, kan?” tanya Hans tiba-tiba dari sampingnya.
Dio mengangguk pelan. Ia sendiri belum yakin dengan apa yang dilihatnya, namun pasti ada sesuatu yang janggal.
Sisa pesta dilalui Dio hanya dengan menyapa orang-orang seperlunya. Ia mendengar beberapa tamu mulai mengeluh lantaran Gumm tidak mengangkat telepon.
Untungnya, semua orang sudah mengetahui bahwa Gumm sering menghilang akibat masalah penggunaan obat-obatan. Oleh karena itu, belum ada yang mencurigai terjadinya hal buruk pada dirinya.
Rosella tidak pernah berada jauh dari sisi Verlis. Sementara itu, Verlis selalu berada di dekat Farchy, seolah segala ucapan pria itu sangat menarik untuk disimak.
Wanita itu tertawa setiap kali Farchy bercanda, dan mengangguk tanda setuju saat pria itu bercerita panjang lebar. Siapa saja yang melihatnya pasti akan mengira Verlis menaruh ketertarikan padanya.
Hingga akhirnya, Farchy berhenti menyantap udang dan mulai memfokuskan perhatiannya untuk meminum anggur yang terus disodorkan oleh Rosella maupun Verlis.
“Kamu pikir mereka berdua sengaja bikin dia mabuk, terus mau nyuri barangnya gitu?” tanya Hans. Pria itu ternyata juga menyadari adanya hal ganjil dalam situasi tersebut.
“Aku rasa kita harus lebih waspada. Mereka pasti enggak bakal ngomong apa-apa kalau ditanya,” jawab Dio.
Seolah telah mencapai tujuan, Rosella dan Verlis kemudian menjauhkan diri dari Farchy. Mereka tidak lagi mendekati pria itu.
Satu jam berlalu begitu saja. Kedua wanita itu hanya mengobrol berdua, atau sesekali berbicara dengan Dio dan Hans. Dio semakin yakin bahwa ada sesuatu yang keliru. Ia wajib mengetahui barang apa yang dimiliki Farchy hingga membuat keluarga calon istrinya bertindak sejauh itu.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan keras dari ujung ruangan. Dio langsung bersiaga.
Ia segera mencabut senjatanya, lalu menarik Rosella ke belakang tubuhnya. Hans pun melakukan hal yang sama terhadap Verlis.
“Di sana!” tunjuk Hans ke arah kerumunan orang.
Dio memandang ke arah itu. Farchy tergeletak di lantai sambil mencengkeram dadanya. Sangat jelas bahwa pria itu mengalami serangan jantung.
Keributan pun langsung pecah. Semua orang berdesakan berusaha menolong pria tersebut. Seseorang membuka kancing kemeja Farchy. Seorang pelayan membawa alat kejut jantung dari dapur dan memasangnya dengan terampil di dada pria itu.
Segera setelah Farchy pingsan, pelayan itu memberikan kejutan listrik berulang kali. Ia juga berupaya melakukan pertolongan napas buatan.
Tak lama kemudian, ambulans tiba. Tiga petugas medis masuk dengan bergegas dan langsung berlutut di samping tubuh Farchy. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkan pria itu. Beberapa wanita yang hadir menangis histeris. Sementara yang lain hanya diam terpaku karena terkejut.
Dio kemudian menoleh ke samping. Rosella dan Verlis berdiri dengan gemetar sambil saling berpelukan. Air mata mengalir deras dari mata Rosella yang berwarna cokelat kekuningan.
Dan untuk pertama kalinya sepanjang malam itu, Dio benar-benar merasa bingung.
Tiga jam yang lalu, ia menembak mantan kekasih Rosella tepat di depan mata wanita itu. Saat itu, Rosella nyaris tidak menunjukkan reaksi apa pun. Namun sekarang, hanya karena pria ini, ia menangis?
Dio terus mengawasi kejadian hingga petugas medis menghentikan tindakan pertolongan. Mereka menyatakan bahwa Farchy telah meninggal dunia.
Tepat setelah pengumuman itu disampaikan, Rosella tiba-tiba memeluk tubuh Dio dengan erat. Dio merasa terkejut, namun ia memanfaatkan momen tersebut. Ia menarik tubuh wanita itu semakin dekat, lalu menempelkan wajahnya di leher Rosella seraya menghirup aroma tubuhnya.
Selama setengah jam berikutnya, suasana semakin ricuh. Orang-orang datang dan pergi sambil berbisik-bisik membicarakan peristiwa itu.
Para pria sibuk menelepon, sementara para wanita saling menghibur satu sama lain. Rosella justru bergerak menuju sudut ruangan dan mengambil sesuatu dari dalam pot tanaman hias yang ada di sana. Ia berdiri bersandar pada dinding, menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung.
Di sisi lain ruangan, Verlis sengaja menjatuhkan gelas kaca hingga pecah. Secara otomatis, semua orang menoleh ke arah suara tersebut.
“Kamu lihat tanaman itu nggak?” tanya Dio sambil menunjuk pot yang tadi ke arah Hans.
Hans mengangguk singkat.
“Aku mau tanaman itu dipindah ke kamarku di hotel. Lakukan diam-diam.”
“Hah? Kamu pikir kamu ibu-ibu yang suka bawa pulang hiasan pesta? Kamu kan orang kaya, sadar dikit dong, nanti beli aja sendiri!”
“Bukan gitu maksud aku.”
“Terus apa dong?”
Dio tersenyum tipis sambil menatap tajam ke arah tunangannya.
“Aku rasa tanaman itu ada hubungannya sama kematian Tuan Otak Udang.”
Hans mengernyitkan dahi, tampak kebingungan. “Maksud kamu apa?”
“Aku curiga kalau calon istriku sendiri yang bikin bajingan itu mati.”