NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak yang Mau Diubah

Hari ke-32 pernikahan kontrak.

Evelyn bangun jam 6 pagi, bukan karena alarm.

Tapi karena ada tangan hangat melingkari pinggangnya.

Dia buka mata.

Matthias masih tidur. Napasnya teratur, wajahnya nggak dingin seperti biasanya.

Untuk pertama kalinya, Evelyn nggak buru-buru melepaskan diri.

Dia diam aja di sana.

Nikmatin rasanya aman.

Sampai ponselnya getar.

Email dari pengacara keluarga.

Subjek:

_“Revisi Kontrak Pernikahan – Pasal 3, Pasal 7, Pasal 12.”_

Jantung Evelyn langsung nyangkut di tenggorokan.

Dia bangun pelan, biar nggak bangunin Matthias.

Buka dokumen di laptop.

Mata langsung berhenti di satu kalimat:

_“Pihak pertama dan kedua sepakat untuk memperpanjang masa kontrak menjadi 180 hari, dengan opsi perpanjangan tanpa batas, atas persetujuan bersama.”_

Evelyn ketawa pelan. Nggak lucu.

180 hari. Opsi tanpa batas.

Berarti… ini bukan pura-pura lagi, kan?

Dia keluar kamar, duduk di ruang makan. Tangan gemetar buka kopi.

Jam 7.15, Matthias turun. Jas rapi, rambut basah habis mandi.

Dia berhenti pas lihat muka Evelyn.

“Kamu nggak tidur lagi?”

“Gue baru bangun buat baca ini,” kata Evelyn sambil nunjuk laptop.

Matthias melirik. Wajahnya nggak berubah.

“Aku yang minta pengacara kirim.”

Evelyn menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena 90 hari nggak cukup.”

Jawaban itu terlalu jujur. Terlalu langsung.

Evelyn nggak tahu harus marah atau lega.

“Gue nggak tanda tangan apa-apa tanpa ngomong dulu,” katanya pelan.

“Bagus. Makanya aku tunggu kamu selesai baca.”

Mereka nggak sarapan.

Mereka duduk di ruang kerja Matthias, di lantai 40.

Kaca dari lantai ke langit-langit. Jakarta di bawah mereka kecil banget.

“Kamu mau aku paksa?” tanya Matthias tiba-tiba.

Evelyn menggeleng.

“Nggak. Gue benci dipaksa.”

“Lalu?”

“Lalu jujur aja, Matthias. Kenapa lo mau perpanjang?”

Matthias menatapnya lama.

“Karena aku capek pura-pura. Karena tiap malam aku nggak mau kamu pergi ke kamar lain. Karena waktu kamu sakit, aku nggak bisa tidur. Karena waktu Raka muncul, aku nggak bisa mikir kerja.”

Evelyn menelan ludah.

“Lo jatuh cinta, ya?”

Matthias nggak langsung jawab.

Dia jalan ke jendela. Punggungnya kaku.

“Aku nggak tahu nama perasaannya. Tapi aku tahu aku nggak mau kehilangan kamu.”

Evelyn berdiri. Jalan pelan ke arahnya.

“Matthias, gue juga takut. Gue takut kalau gue tanda tangan, lo bakal ninggalin gue pas udah bosen. Gue takut gue jadi bodoh lagi.”

Matthias menoleh.

“Kalau aku ninggalin kamu, aku lebih bodoh dari kamu.”

Evelyn ketawa kecil.

“Romantis banget. Hampir gue percaya.”

Dia ambil pena di meja.

Lihat dokumen itu lagi.

180 hari. Opsi tanpa batas.

“Gue nggak mau 180 hari,” katanya pelan.

Matthias mengernyit.

“Gue mau… nggak ada batas.”

Matthias diam.

Lalu dia ambil pena dari tangan Evelyn.

Dia coret angka 180.

Tulis: _Sampai salah satu dari kita menyerah._

Evelyn menatap tulisan itu.

Tangan gemetar.

“Lo serius?”

“Serius. Kalau kamu mau pergi, kamu bisa pergi kapan saja. Aku nggak akan nahan. Tapi aku nggak akan minta kamu pergi.”

Evelyn menatap matanya.

Jujur.

Nggak ada kalkulasi.

Nggak ada kontrak.

Dia ambil pena itu.

Tanda tangan.

Tinta hitam jatuh di atas kertas putih.

Selesai.

Matthias nggak senyum lebar.

Dia cuma tarik napas pelan, seperti beban 32 hari terakhir baru lepas.

“Terima kasih,” katanya pelan.

“Buat apa?”

“Karena kamu milih aku. Sekali lagi.”

Evelyn mengangguk.

Dia nggak jawab.

Tapi dia deketin diri, peluk Matthias dari depan.

Matthias kaku 2 detik.

Lalu dia balas pelukan itu. Erat.

Di luar, Jakarta ramai.

Di dalam, cuma ada dua orang yang akhirnya berhenti bohong pada diri sendiri.

---

Siangnya, Nyonya Alina nelpon.

“Na, Mama dengar kalian revisi kontrak?”

“Iya, Bu,” jawab Evelyn pelan.

“Jadi… gimana?”

Evelyn menoleh ke Matthias yang lagi ngobrol sama pengacara di meja sebelah.

Dia senyum kecil.

“Kami nggak butuh kontrak lagi, Bu.”

Nyonya Alina di telepon nangis.

“Alhamdulillah. Mama udah doa tiap malam.”

Evelyn matiin telepon.

Dia duduk di sofa, kepala sandar di bahu Matthias.

“Lo tahu nggak, gue takut.”

“Takut apa?”

“Takut besok lo bangun dan nyesel.”

Matthias menatapnya.

“Aku nggak akan nyesel. Aku cuma nyesel kenapa nggak dari hari pertama aku jujur.”

Evelyn ketawa pelan.

“Telat banget, Pak Suami.”

“Panggil aku Matthias aja. Aku lebih suka.”

Evelyn mengangguk.

“Matthias.”

Namanya disebut pelan.

Tapi rasanya seperti janji.

Malam itu, mereka nggak tidur di kamar terpisah.

Nggak ada kontrak yang ngatur jarak.

Cuma ada selimut, dua orang, dan satu keputusan yang nggak bisa dibatalkan.

Di meja kerja, dokumen itu tergeletak.

Coretan hitam. Tanda tangan dua orang.

Bukan kontrak pernikahan lagi.

Tapi awal dari sesuatu yang nyata.

---

Pagi datang.

Nggak ada flash kamera.

Nggak ada wartawan.

Cuma ada sarapan bubur ayam yang dibuat Nyonya Alina, dan dua orang yang duduk bersebelahan tanpa canggung.

Evelyn menatap Matthias.

“Jadi… sekarang apa?”

Matthias senyum kecil.

“Sekarang… kita mulai beneran.”

---

*[Bersambung –

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!