Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Perang Dingin di Depan Kamera
"Oke, semuanya! Kita langsung masuk ke sesi bincang santai di ruang tengah mansion!" seru sutradara melalui megafon. "Semua peserta silakan mengambil tempat di sofa besar. Kamera rolling... tiga, dua, satu, action!"
Suasana ruang tengah mansion We Got Married yang biasanya hangat kini mendadak terasa mencekam. Sofa melingkar itu kini diisi oleh empat orang. Declan dan Sienna duduk merapat di sisi kiri, sementara Edrick dan Maura mengambil tempat di sisi kanan.
Maura melipat kakinya anggun, menatap interior rumah dengan senyum tipis. "Wah, rumahnya nyaman banget ya, Ed. Nggak heran kalau pasangan senior kita ini betah banget sampai kemistrinya dapet banget di media sosial."
Edrick terkekeh halus, menyandarkan punggungnya santai sambil menatap lurus ke arah Sienna yang tampak tidak nyaman. "Benar, Sayang. Tapi denger-denger, kemistri hebat itu kan karena mereka sudah kenal lama sejak zaman sekolah. Betul begitu, Sienna? Atau... ingatan aku yang salah?"
Sienna mengepalkan tangannya di balik selimut tipis yang menutupi pahanya. Suara sengaunya karena flu masih tersisa, membuat mood-nya makin buruk. "Kenal lama atau nggak, yang penting kan sekarang kita profesional ngejalanin acara ini, Kak Edrick. Lagian, masa lalu kan nggak perlu dibawa-bawa ke panggung hiburan," jawab Sienna ketus dengan senyum yang dipaksakan.
"Oh, tentu saja. Profesionalitas itu nomor satu," timpal Maura, matanya melirik tajam ke arah Declan yang sejak tadi hanya diam membeku bagai patung es. "Tapi kadang, penonton itu lebih suka melihat hubungan yang berawal dari cinta lokasi yang nyata, bukan yang mendadak muncul karena tuntutan meredam skandal. Iya kan, Declan? Kamu pasti tahu betul rasanya membangun kemistri nyata saat kita syuting film bareng tahun lalu."
Mendengar sindiran Maura yang sengaja memancing rumor lama mereka, Declan akhirnya membuka suara. Tatapan matanya yang sedingin es menusuk langsung ke arah Maura. "Gue main film pakai skrip, Maura. Begitu sutradara bilang cut, semua kemistri itu selesai di tempat syuting. Nggak ada yang nyata di luar kerjaan, kecuali orang-orang yang emang sengaja bikin rumor demi pamor pribadi."
Skakmat.
Wajah Maura sempat menegang sesaat sebelum dia buru-buru menutupinya dengan tawa renyah yang terdengar canggung. "Aduh, Declan... kamu masih aja kaku dan bermulut tajam kayak dulu ya. Padahal kan aku cuma bercanda."
@netizen_gariskeras: ANJAYYY!!! Declan langsung nembak Maura pakai omongan pedas! Rumor cinlok tahun lalu fix cuma sepihak dari pihak Maura nih wkwk.
@dec_sie_forever: Savage banget Pak Suami! Lindungin perasaan Sienna banget ya mukanya.
Edrick yang melihat pasangannya diserang hanya tersenyum miring. Dia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan tangan sambil menatap Sienna dengan tatapan manipulatif andalannya. "Ngomong-ngomong soal masa lalu, Sienna... aku inget banget kamu dulu suka banget pakai baju warna kuning cerah kayak gaun kamu hari ini. Kamu masih suka pakai warna itu karena... merindukan momen-momen tertentu di masa sekolah kita dulu?"
Sienna menelan ludah. Pertanyaan Edrick jelas-jelas sebuah jebakan psikologis untuk memancing emosi Declan sekaligus membuat penonton berspekulasi negatif tentangnya.
Sebelum Sienna sempat menjawab dengan emosi cegilnya, tangan kekar Declan tiba-tiba bergerak maju. Declan merangkul pundak Sienna, menarik tubuh cewek itu hingga bersandar pasrah di dada bidangnya, lalu tangan kirinya dengan posesif menggenggam jemari Sienna di atas sofa—memamerkannya dengan jelas di depan kamera.
"Dia pakai baju kuning hari ini karena gue yang minta," potong Declan dengan suara baritonnya yang berat dan penuh penekanan yang mutlak. "Gue suka lihat dia kelihatan cerah. Dan soal masa sekolah... rasanya Sienna nggak punya memori berharga apa pun sama lo, Jasper. Jadi, mending lo stop nanya hal-hal nggak bermutu yang bisa bikin istri gue pusing. Dia lagi flu."
Sienna membelalak, menoleh ke atas menatap rahang tegas Declan dari jarak dekat. Jantungnya kembali berulah, berdegup kencang karena tindakan protektif Declan yang begitu tiba-tiba dan berani di depan kamera.
Edrick menyipitkan matanya, kilat amarah melintas cepat di matanya melihat bagaimana Declan mengklaim kepemilikan atas Sienna. "Wah, protektif sekali ya. Aku kan cuma bertanya sebagai teman lama, Declan. Gak usah se-tegang itu."
"Gue gak pernah ngerasa lo teman gue," balas Declan ketus tanpa beban.
Pemandu acara dari balik kamera buru-buru memotong sebelum suasana semakin memanas dan memicu baku hantam nyata. "Oke, oke! Pasangan baru kita ternyata punya banyak cerita ya! Nah, untuk mencairkan suasana pagi ini, tim produksi sudah menyiapkan tantangan pertama untuk menguji kekompakan double date kita hari ini!"
Sienna mengembuskan napas lega di dalam dekapan Declan. Dia berbisik sangat pelan di dekat leher Declan. "Dec... lepasin dulu pelukannya, tangan lo kenceng banget, gue susah napas nih."
"Diam. Jangan bergerak dari dekat gue," bisik Declan balik di sela rambut Sienna, suaranya terdengar sangat posesif dan dalam, membuat bulu kuduk Sienna meremang seketika. "Bajingan itu gak berhenti natap lo dari tadi. Gue gak suka."
Sienna menggigit bibir bawahnya, menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah di balik kerah kaos Declan. Gengsi jual mahalnya runtuh lagi pagi ini. Sikap posesif Declan yang satu ini bener-bener gak sehat buat kesehatan jantungnya.
@pakar_ekspresi_wgm: GILA!!! Declan meluk Sienna erat banget pas Edrick mulai bahas masa lalu! Ini mah kecemburuan nyata seorang cowok alfa!
@sienna_cute: Muka Sienna pas bersandar di dada Declan itu imut banget ya ampun, sengaunya karena flu malah bikin dia kelihatan manja banget.
@rating_shaker: Rating WGM detik ini pecah rekor baru lagi! Ketegangan antara Declan dan Edrick bener-bener emas buat industri televisi!
"Tantangan hari ini adalah... Cooking Challenge!" seru pemandu acara. "Setiap pasangan harus bekerja sama di dapur untuk membuat satu menu sarapan terbaik dalam waktu tiga puluh menit! Pasangan yang masakannya paling enak menurut penilaian kru akan mendapatkan hak untuk mengatur pembagian tugas rumah selama seminggu ke depan!"
Maura langsung berdiri dengan anggun, merapikan gaun putihnya. "Wah, kalau soal masak, aku sering bikin sarapan sehat di rumah. Edrick, kamu siap bantuin aku kan?"
Edrick berdiri, mengancingkan blazernya sambil melempar senyum menawan ke arah kamera. "Tentu saja, Sayang. Aku siap jadi asisten masak kamu yang paling penurut pagi ini."
Sienna yang masih duduk di sofa langsung mendengus pelan. "Cuih, pencitraan banget mukanya," gumam Sienna kesal, yang langsung disambut oleh sentilan kecil di dahinya dari Declan.
"Aduh! Sakit, Declan!" protes Sienna sambil memegangi dahinya, menatap galak pria di sebelahnya.
Declan berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Sienna untuk membantu cewek itu bangkit dari sofa. "Makanya jangan cuma bisa ngedumel. Ayo ke dapur. Lo harus buktiin kalau otak ceroboh lo itu bisa dipakai buat potong bawang dengan bener."
Sienna menerima uluran tangan hangat itu sambil mengerucutkan bibirnya sebal. "Gue bisa masak ya! Jangan meremehkan menu andalan gue!"
"Menu apa? Mi instan kuah pake cabai ulek dua puluh biji?" sindir Declan tajam saat mereka mulai berjalan beriringan menuju area dapur mansion.
"Itu namanya seni kuliner, Kanebo kaku!" balas Sienna tidak mau kalah, menabrakkan bahunya ke bahu Declan dengan gemas.
Di belakang mereka, Edrick berjalan sambil terus memperhatikan interaksi natural penuh tektokan benci-tapi-cinta antara Declan dan Sienna. Senyuman ramah di wajah Edrick perlahan memudar, digantikan oleh tatapan dingin yang penuh dengan rencana busuk untuk menghancurkan kebahagiaan palsu yang mulai terasa nyata di depan matanya itu. Permainan di dapur baru saja dimulai, dan badai yang sesungguhnya sedang mengintai di balik pisau dan nyala api kompor.