Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 11
“Apa?! Jadi lo yang bakal gantiin kakak lo buat nikah demi nyelametin bokap lo supaya nggak dipenjara?” seru kedua sahabatnya kompak dengan wajah penuh keterkejutan.
Alya mengangguk pelan. Baik Widya maupun Ayi sama-sama terdiam sesaat, masih berusaha mencerna kabar yang baru saja mereka dengar. Sebagai sahabat, ada rasa bersalah yang menggerogoti hati mereka karena tidak mampu membantu Alya keluar dari masalah itu.
Mereka sebenarnya sudah mencoba segala cara agar orang tua mereka bersedia menolong. Namun, utang yang menjerat ayah Alya ternyata terlalu besar. Bahkan keluarga mereka sendiri pun tidak sanggup menutupi jumlah tersebut.
“Lo nggak terpaksa, kan, Al?” tanya Widya hati-hati, memastikan.
Alya tersenyum getir.
“Gue nggak terpaksa sama sekali, karena ini memang keinginan gue sendiri, Wid. Meski... sebenarnya ada sedikit hal yang aneh.”
“Aneh? Maksudnya gimana?” Ayi langsung mencondongkan badan penuh rasa penasaran. “Lo nggak dijodohin sama kakek-kakek tua, kan?”
Plak!
Widya langsung menjitak pelan kening gadis itu hingga Ayi mengaduh kesakitan.
“Kenapa jadi jidat gue yang ditepuk sih?!” gerutunya kesal sambil mengusap dahinya.
“Kalau bisa, otak lo yang gue tepuk! Sayangnya kehalang sama jidat jenong lo aja!” balas Widya ketus.
Ayi langsung memanyunkan bibirnya kesal.
“Belum apa-apa juga udah mikir ke mana-mana,” sambung Widya lagi.
Lalu gadis itu kembali menatap Alya.
“Keanehan yang lo maksud itu apa?” tanyanya penasaran.
Alya menarik napas pelan sebelum menjawab.
“Setahu gue, tujuan mereka datang itu buat ngelamar kakak gue. Awalnya begitu. Tapi pas si Max itu datang... tiba-tiba semuanya malah berubah ke gue.”
Raut bingung jelas tergambar di wajahnya.
Widya dan Ayi saling berpandangan sejenak.
“Max?” ulang Ayi pelan. “Maksud lo... Max Alexander Wijaya?”
Alya mengangguk kecil.
“Eum... lo kenal?” tanyanya heran.
Ayi menggeleng cepat.
“Nggak kenal sih. Tapi nama Max itu sering banget muncul di berita sama sosmed. Masa kalian nggak tahu? Dia itu terkenal banget. Orangnya tampan, tajir, terus umurnya mungkin sekitar tiga puluhan, tapi sampai sekarang belum nikah.”
Ayi berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada penuh rahasia.
“Dari rumor yang sering gue dengar sih... katanya dia gay.”
“Gay?!” Alya dan Widya berseru bersamaan dengan wajah syok.
Ayi mengangguk mantap.
“Ya itu cuma rumor, gue juga nggak tahu benar atau nggak. Tapi katanya, si Max itu selalu bareng sekretarisnya ke mana-mana. Jadi orang-orang pada ngomong kalau mereka punya hubungan spesial.”
Ayi memang paling update soal gosip dunia maya. Sebagai model, ia dituntut aktif di media sosial dan selalu mengikuti berita terbaru. Jadi tidak heran jika ia tahu banyak hal seperti itu.
‘Apa jangan-jangan sekretarisnya yang waktu itu?’ batin Alya.
‘Ah, masa iya pria setampan dan semacho itu suka sesama pria?’
Tanpa sadar, Alya malah memuji ketampanan Max di dalam hatinya sendiri.
“Udahlah, lupakan dulu soal gay atau nggaknya,” sela Widya cepat. “Gue masih penasaran kenapa semuanya bisa berubah haluan.”
Alya kembali menarik napas panjang.
“Gue juga nggak tahu pasti. Yang jelas... sekarang gue yang bakal gantiin posisi kakak gue.”
“Tapi, Al...” Ayi mengernyit bingung. “Apa bedanya lo sama kakak lo? Bukannya sama aja? Lo nikah sama Max demi nolong bokap lo supaya nggak dipenjara, begitu juga kakak lo. Lo nggak ngerasa aneh?”
Plak!
Untuk kedua kalinya, Widya kembali menjitak kening Ayi.
“Ya itu letak anehnya, bahlul!” geram Widya. “Alya tadi juga udah bilang kalau ada yang nggak beres. Cuma dia sendiri belum tahu apa yang bikin semuanya berubah arah begini.”
Melihat ekspresi kesal Widya, Alya malah tertawa pelan. Sementara Ayi hanya cengengesan polos tanpa merasa bersalah sedikit pun.
“Ya maaf, gue laper jadi nggak fokus, hehe,” ucapnya santai.
Widya hanya bisa menghela napas panjang sambil memutar bola mata jengah.
“Terus, lo udah pikirin semua ini matang-matang? Lo tahu, kan, konsekuensi nikah muda itu nggak gampang?” tanyanya serius.
Alya terdiam sejenak. Senyum tipis terukir di bibirnya, namun matanya terlihat begitu rapuh.
“Gue tahu, Wid,” jawabnya lirih. “Nggak masalah kalau nanti cita-cita gue nggak tercapai. Yang penting bokap gue tetap ada di samping gue... itu aja udah lebih dari cukup.”
Suasana mendadak hening.
“Kalian tahu sendiri, kan...” suara Alya mulai bergetar, “yang benar-benar gue punya cuma bokap. Kalau gue nggak berkorban dan malah ngebiarin beliau dipenjara... gue nggak bakal sanggup.”
Ia menunduk dalam.
“Gue memang punya nyokap sama kakak. Tapi gue nggak pernah benar-benar ngerasain peran mereka di hidup gue. Apalagi sejak masalah ini muncul, mereka jadi makin jarang pulang ke rumah.”
Alya berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh. Namun, rasa sesak yang selama ini dipendam terlalu menyakitkan untuk terus ditahan.
Setetes air mata akhirnya meluncur di pipinya.
Melihat itu, ekspresi Ayi langsung berubah panik.
“Dah ah, jangan sedih lagi,” rengeknya sambil menggoyang-goyangkan lengan Alya. “Kantin yuk! Gue laper banget nih.”
Widya ikut tersenyum kecil, berusaha mencairkan suasana.
“Yaudah deh. Kebetulan gue juga lupa bawa bekal. Sejak kejadian sakit perut kemarin, gue dilarang jajan sembarangan. Tapi hari ini bolehlah.”
Alya mengusap cepat air matanya lalu tersenyum tipis.
“Yaudah. Gue juga kangen mie ayamnya Ceu Onah.”
Ia mencoba bangkit dari keterpurukan, meski rasa sesak itu belum benar-benar hilang.
---
“Untuk apa kau menyuruhku membuat semua ini?” tanya Jayden pada Max dengan nada heran.
Saat ini jam istirahat telah tiba, itulah sebabnya Jayden tidak lagi berbicara formal. Pagi-pagi sekali tadi, Max bahkan sudah mengganggu waktu tidurnya hanya demi meminta dibuatkan sebuah surat berisi beberapa perjanjian penting.
Awalnya Jayden benar-benar tidak mengerti. Namun setelah membaca isinya, ia mulai memahami sedikit demi sedikit maksud pria itu.
Hanya saja, tetap ada satu hal yang mengganjal pikirannya.
Jika Max memang tidak menginginkan pernikahan itu, lalu kenapa pria itu justru menerima lamaran tersebut? Bahkan sengaja mengganti calon pengantinnya.
“Tak perlu membuka mulut untuk bertanya kenapa, apa, dan bagaimana,” ucap Max dingin. “Kau cukup lakukan apa yang kuperintahkan dan jaga rahasia ini.”
Jayden langsung bungkam. Semua kalimat yang tadi ingin ia lontarkan mendadak tertahan di tenggorokannya.
“Ya, ya, ya... terserah kau saja,” jawabnya malas.
Max bersandar santai di kursinya sebelum kembali bertanya dengan nada rendah.
“Bagaimana dengan calon papa mertuaku?”
Jayden langsung mencibir tipis saat mendengar kata papa mertua.
Cih.
“Aku sudah menyuruh Ardi datang ke kediaman keluarga Gabrielsen untuk membantu calon ‘papa mertua’-mu itu. Jadi urusan utang-piutang mereka sudah selesai. Tuan Tyo juga sudah bebas dari masalah ini.”
Jayden berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Hanya saja...”
Kalimatnya menggantung.
Senyum tipis terukir di bibir Max, namun sorot matanya terasa begitu dingin.
“Untuk yang satu itu, biarkan dulu,” ujarnya tenang. “Biarkan dia berkuasa sepuasnya. Nanti, saat waktunya tiba... akan kupastikan dia hancur sampai ke akar-akarnya.”
Nada suaranya terdengar rendah, namun mengandung ancaman yang mengerikan.
“Apa kau tidak merasa kasihan pada calon mertuamu itu?” tanya Jayden.
Max tertawa pelan.
“Kasihan?” ulangnya santai. “Untuk apa? Bukankah dia sendiri yang memulainya? Aku hanya membantu sedikit saja.”
Ia tersenyum samar.
“Anggap saja... hadiah dari calon menantu.”
Jayden menghela napas panjang.
Sedikit kejam. Namun apa yang bisa ia lakukan selain mengikuti permainan Max? Lagi pula, pria itu tampaknya memang sedang menikmati semuanya.
BRAKK!!
Pintu ruangan mendadak terbuka kasar.
“Tuan! Gawat!”