NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Menangis

“Dar!”

Suara tembakan kembali terdengar dari arah lemari buku, memecah keheningan yang tersisa di ruangan penuh darah itu.

Bella Shofie, gadis kecil berusia delapan tahun, berdiri dengan pistol di tangannya. Tubuhnya kecil, pakaiannya basah oleh darah dan debu, namun sorot matanya kosong dan dingin. Peluru yang ia lepaskan tepat mengenai kepala pembunuh terakhir yang berdiri di hadapan ayahnya. Tubuh pria itu terhuyung sejenak, lalu roboh ke lantai dengan suara berat, tak bernyawa.

Tangannya tidak gemetar. Tidak ada keraguan. Tidak ada jeritan ketakutan seperti yang seharusnya muncul dari seorang anak kecil. Yang ada hanyalah kelegaan aneh yang menjalar di dadanya—perasaan kosong bercampur puas karena orang yang telah menghabisi nyawa ayahnya kini terkapar tak bernyawa.

“Ayah…” isaknya akhirnya pecah.

Pistol itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Dengan dada terasa nyeri dan napas tersendat, Bella berlari tertatih menghampiri tubuh ayahnya yang tergeletak berlumuran darah. Lututnya melemas saat ia berjongkok di samping Haikal Sopin.

Wajah ayahnya pucat. Matanya terpejam. Tubuh yang selama ini terasa begitu kuat dan hangat kini dingin dan tak bergerak. Bella mengguncang bahu Haikal perlahan, lalu semakin keras.

“Ayah… bangun, Ayah…” suaranya lirih, penuh harap yang nyaris mustahil.

Tak ada jawaban.

Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Tangannya yang kecil gemetar saat menyentuh perut ayahnya yang robek, basah oleh darah yang masih hangat. Bau besi memenuhi inderanya.

Tanpa sengaja, pandangannya beralih ke salah satu mayat pembunuh yang tergeletak tak jauh dari sana. Pada pergelangan tangan kanan pria itu, terukir sebuah tanda berbentuk huruf X. Tanda itu terlihat jelas, hitam, dan seolah disengaja untuk dikenali.

Tatapan Bella terpaku pada simbol itu.

Tangisnya perlahan mereda. Isakannya berubah menjadi napas berat yang tertahan. Ia kembali menunduk ke arah ayahnya, mengelus perut Haikal yang basah oleh darah, lalu tanpa sadar mengoleskan darah itu ke pipinya sendiri—seolah ingin mengikat rasa sakit, kehilangan, dan kebencian itu ke dalam ingatannya untuk selamanya.

Hentakan kaki terdengar dari lantai satu.

Bella tersentak.

Suara itu berat, teratur, dan tidak tergesa-gesa. Bukan suara panik, melainkan langkah seseorang yang tahu persis apa yang sedang ia hadapi.

Dengan gerakan cepat, Bella meraih box classical ballerina miliknya. Jantungnya berdetak kencang. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju jendela kamar. Tangannya mendorong kaca, lalu tubuh kecil itu memanjat naik ke ambang.

Ia menoleh sekali lagi ke arah ayahnya.

“Ayah…” bisiknya.

Lalu ia melompat.

Bella tahu ia tidak akan mati.

Rumah megah tempat ia dan ayahnya tinggal berdiri tepat di tepi laut. Malam itu ombak menggulung keras, seolah ikut menyambut kejatuhan tubuh kecilnya.

“Churrr…!”

Tubuh Bella menghantam air laut. Dingin menusuk tulang. Air asin masuk ke mulut dan hidungnya. Pandangannya menggelap, suara di sekitarnya lenyap, dan kesadarannya perlahan menghilang.

Segalanya menjadi gelap.

 

Hentakan kaki itu kembali terdengar, kini memenuhi ruangan yang sunyi dan dipenuhi bau darah.

Seorang lelaki tua berusia lima puluh delapan tahun memasuki ruangan lantai dua. Ia mengenakan topi koboi hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Di tangannya, sebuah payung hitam digenggam, meski hujan tidak turun malam itu.

Pandangan matanya tajam dan dingin saat menyapu seluruh ruangan. Mayat-mayat berserakan di lantai. Darah merah pekat menodai keramik putih yang mahal. Tak ada keterkejutan di wajahnya, seolah pemandangan seperti ini sudah terlalu biasa baginya.

Ia berhenti tepat di hadapan tubuh Haikal Sopin.

Dengan ujung sepatunya, ia menyentuh wajah Haikal perlahan, memastikan pria itu benar-benar tak bernyawa. Bibirnya tertarik sedikit, bukan senyum, melainkan ekspresi datar penuh perhitungan.

Tatapannya kemudian beralih ke lantai.

Jejak kaki kecil berlumuran darah terlihat jelas, mengarah ke jendela yang terbuka. Lelaki itu mengikutinya dengan langkah pelan.

Dari sana, ia melihat laut yang gelap. Di kejauhan, sesosok kecil dengan baju kuning tampak terombang-ambing di antara ombak, digoyang air laut yang tak kenal ampun.

Namun lelaki itu tidak bergerak. Ia hanya berdiri diam, menatap laut, lalu berbalik pergi tanpa sepatah kata.

 

Dua hari kemudian.

Pagi yang cerah menyelimuti sebuah kawasan elite di kota Houston. Seorang pengusaha berdiri di teras rumah megahnya sambil memegang secangkir kopi hitam dalam cangkir antik. Usianya lima puluh tujuh tahun. Rambutnya sebagian memutih, wajahnya keras, dan sorot matanya penuh perhitungan.

Pandangan pria itu tertuju ke laut, menikmati ketenangan pagi, hingga sesuatu di sudut matanya menarik perhatian.

Seorang anak kecil tergeletak di samping rumahnya.

Pria itu mengernyit. Ia meletakkan cangkir kopinya di meja, lalu melangkah mendekat. Anak itu mengenakan kaus putih dan rok mini berwarna kuning. Tubuhnya lemah, kulitnya pucat, namun masih bernapas.

“Panggil pengawal,” katanya singkat, tanpa emosi.

Beberapa saat kemudian, ia menambahkan, “Angkat anak itu.”

Namanya Marchel Jolio. Seorang pengusaha judi dengan kekayaan yang berasal dari pertaruhan-pertaruhan tidak lazim, kesepakatan gelap, dan dunia yang tidak tersentuh hukum.

 

Di dalam kamar, Marchel berdiri di hadapan Bella Shofie yang terbaring lemah di atas ranjang.

“Siapa namamu?” tanyanya dingin.

Dengan suara lirih, penuh ketakutan dan luka batin yang belum sembuh, gadis kecil itu menjawab, “Bella Sofia.”

Marchel mengangguk pelan. Ia lalu menyerahkan sebuah kotak berwarna cokelat dengan pita hitam. Kotak itu diletakkan perlahan di tangan Bella, lalu Marchel keluar tanpa berkata apa-apa.

Rasa penasaran mendorong Bella membuka kotak itu.

Matanya terbelalak.

Di dalamnya, box classical ballerina miliknya.

Air mata kembali mengalir. Tangannya gemetar saat memutar tuas kecil di samping kotak itu. Alunan musik lembut memenuhi ruangan, membawa kembali kenangan ayahnya—saat ia berusia enam hingga delapan tahun, saat dunia belum runtuh.

“Tok! Tok! Tok!”

Bella buru-buru mengusap air matanya.

Marchel masuk membawa segelas susu dan sepotong roti.

“Makan sedikit. Sebentar lagi saya akan membawamu ke tempat di mana kamu bisa menemukan apa yang kamu inginkan,” ucapnya dingin, seolah tahu isi hati Bella.

Bella mengangguk pelan.

 

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan tua.

Bella menatap papan nama besar di hadapannya dan terkejut.

BALLERINA MURDERER.

Tempat itu sunyi dan suram, seperti kuburan. Udara pagi terasa pengap, bercampur bau keringat para penari balet yang sedang berlatih di dalam.

“Apakah kamu menyukai tempat ini?” tanya Marchel dengan senyum bahagia—senyum yang jarang ia tunjukkan.

“Kenapa kamu mengirimku ke tempat seperti kuburan ini?” tanya Bella polos.

“Ini akan menjadi tempat pendidikanmu,” jawab Marchel singkat.

Suara hentakan sepatu bot wanita terdengar dari belakang.

“Selamat datang di Ballerina Murderer.”

Seorang wanita tua berusia enam puluh tahun berdiri di hadapan mereka. Wajahnya menua, namun riasannya mencolok. Ia mengenakan pakaian hitam mengilap dan memegang rokok di antara jemarinya.

Namanya Madam Doss.

“Panggil dia Madam,” ucap Marchel.

Mereka masuk ke dalam ruangan. Di sana, Madam Doss menatap Marchel dingin.

“Apa maksudmu membawa anak delapan tahun ke tempat ini?” tanyanya.

“Dia akan tinggal di sini. Saya ingin kamu mendidiknya,” jawab Marchel tersenyum.

Madam Doss mendorong Marchel ke sofa tua dan menggesek-gesek sepatu boots wanita yang digunakan nya ke selangkangan Marchel Jolio dan berbisik pelan dengan senyum sinis. “Seharusnya kamu tahu, aku tidak menyukai perempuan lemah. Aku hanya membentuk wanita tangguh dan berani.”

“Saya yakin pilihan saya tidak pernah salah,” balas Marchel pelan.

Madam Doss tersenyum tipis. “Aku harap begitu.”

Mereka kembali menemui Bella.

“Apakah kamu mau belajar di sini?” tanya Marchel.

Bella menatapnya lama. “Kenapa kamu mengirimku ke sini?”

“Karena kamu menyukai box ballerina,” jawab Marchel tenang. “Dan aku yakin kamu akan menjadi penari balet terbaik di kota Houston.”

Madam Doss membelakangi mereka, ragu. Bella Shofie tidak memenuhi kriteria yang ia inginkan. Terlalu kecil. Terlalu muda.

Bella tetap terdiam.

Belum satu kata pun keluar dari bibir kecilnya.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!