NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:982
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Saat Kota Membuka Mulutnya

Atap-atap Distrik Hongluo berkilau perak, licin oleh selimut embun malam. Li Shen bergerak serupa bayangan yang terlepas dari raga, cepat, senyap, dan nyaris tak berbobot saat melintasi deretan genteng. Di depannya, jejak yang ia kejar meninggalkan jejak sensorik yang kacau, aroma arak murah, keringat dingin, dan fluktuasi Qi yang mentah namun cukup untuk disadari. 

Sosok itu jelas bukanlah kultivator agung, bukan pula mata-mata terlatih dari Tianyuan. Namun, ia memiliki keberanian atau mungkin ketololan yang cukup besar untuk mengintai misi rahasia barusan. 

Bayangan di depan Li Shen bergerak zig-zag, limbung seolah gravitasi sedang mempermainkannya. Saat melompat ke atap sebelah, sosok itu tersandung, jemarinya mencengkeram cerobong bata yang reyot hingga nyaris runtuh. 

“Aduh! Jangan jatuh sekarang!” gumam sosok itu dengan suara serak yang gemetar. “Wanita secantik dewi itu… aku harus melamarnya dulu sebelum maut menjemput!”

Li Shen menunduk, menyembunyikan langkahnya, membiarkan bayang itu lengah saat dirinya mengambil jalan pintas. Ia segera lompat ke atap yang sama, berdiri tepat di belakang sosok itu sampai membuatnya tersentak. Botol arak ditangannya jatuh menggelinding di atas genteng sebelum pecah di atas tanah.

“T-t-tunggu! Bagaimana bisa kau secepat ini? Jangan bunuh aku!” Pria itu berbalik dengan panik, mengangkat kedua tangan seolah mampu menahan hantaman. “Aku hanya lewat! Sumpah! Aku cuma melihat… sedikit! Rambut hitam itu, tatapan tajamnya… dia dewi malam! Aku rela mati jika bisa dekat dengannya, tapi setidaknya biarkan aku mentraktirnya mi daging babi panggang dulu sebelum kau menebas leherku!” 

Li Shen menatapnya datar. Aura kehendak murni-nya menekan perlahan, cukup untuk membuat tubuh pria itu kaku. “Kau lihat kejadian tadi?” 

Pria itu terhuyung-huyung sebelum jatuh terduduk, matanya melebar karena takut. “I-iya… iya! Kau kuat, tuan! Aku… aku tak akan bilang siapa-siapa! Janji! Ampuni aku, ya? Aku hanya pemabuk yang selalu tidur di atas genteng!” 

Li Shen menajamkan tatapannya. Ada sedikit kekecewaan pada dirinya sendiri, bagaimana bisa ia terlambat menyadari keberadaan orang sekacau ini? Indranya jelas butuh diasah agar lebih tajam.

“Siapa kau?”

Pria itu menelan ludah dengan susah payah. “Luo Pang… tapi panggil saja Pang-Ge. Aku… aku suka judi, suka arak, suka wanita cantik. Tinggiku setara tombak, usiaku hampir tiga puluh, aku juga suka main layangan…” Ia meracau tanpa henti hingga napasnya tersengal. “M-maaf, Tuan yang bijak… sampai di mana tadi? Ah, iya! Aku punya hutang menumpuk di rumah judi Timur. Pengawas Qiu Bei yang baru saja kalian… ‘bereskan’ itu… dia yang ingin memotong jariku karena hutang! Kau baru saja menyelamatkan nyawaku! Terima kasih! Tolong, ampuni aku!”

Li Shen diam sejenak. Pria ini bukan ancaman, hanya orang gila yang nyaris mati karena kebodohannya sendiri. Tapi ia juga melihat misi rahasianya. Orang semacam ini tidak boleh lepas begitu saja.

“Kau sudah lihat semua tadi,” kata Li Shen begitu dinginnya, “Aturannya jelas, orang yang melihat kejadian seperti barusan harus dibersihkan.”

Luo Pang pucat seketika, langsung berlutut di atap bersujud kepada Li Shen sampai-sampai gentengnya retak. “Jangan! Jangan bunuh aku! Aku lakukan apa saja! Aku tahu banyak rahasia kota… pengawas korup mana saja, sekte yang suka menyuap, para penguasa di Jing’an! Termasuk Zhao Tianlong, wakil Kekaisaran Tianyuan sekaligus gubernur yang mengawasi Jing’an! A-atau murid-murid dari Paviliun Tianlu yang sering semena-mena. Aku bisa berguna, Tuan! Aku juga bisa mengajarkan Tuan jadi kaya raya lewat berjudi! Ampuni aku ya? Aku tak mau mati sebelum menikahi dewi malam!”

Nama Zhao Tianlong menarik perhatian Li Shen. Simbol penindasan Tianyuan di Distrik Jing’an. Jika pemabuk ini benar-benar memiliki informasi tentang sosok itu, nilainya jauh lebih besar daripada sekadar nyawa seorang saksi.

“Ikut aku ke Selendang Merah,” perintah Li Shen setelah keheningan yang panjang. “Madam Luo yang akan menentukan nasibmu.”

Luo Pang mengangkat kepala, mata berbinar lagi. “Madam Luo? Wanita cantik pemilik Selendang Merah? Meski tidak se-cantik wanita bertudung tadi, tapi lumayanlah!”

“Asal kau tahu,” Li Shen menatapnya datar, aura dingin menekan seketika. “Orang mesum biasanya berumur pendek.”

Luo Pang seketika membisu, wajahnya kembali pucat pasi. “E-eh, maaf! Aku diam! Aku tidak akan bicara lagi!”

Mereka turun dari atap menuju gang sempit di belakang deretan rumah. Li Shen berjalan di depan, langkahnya tenang dan terukur. Luo Pang mengikutinya dengan susah payah, beberapa kali hampir terpeleset, napasnya terengah karena arak yang belum sepenuhnya hilang dari kepalanya.

“Pelan-pelan sedikit, Tuan… atap tadi hampir membunuhku. Kalau mati terpeleset begini, arwahku bisa gentayangan,” keluh Luo Pang, tapi segera menutup mulutnya sendiri ketika Li Shen menoleh setengah wajah.

Beberapa saat kemudian, Selendang Merah mulai terlihat dari kejauhan. Lentera-lenteranya masih menyala, meski cahaya sudah lebih redup dibandingkan sebelumnya. Suara musik hampir lenyap, digantikan dengkuran samar tamu yang terlalu mabuk untuk pulang.

Li Shen tidak langsung masuk lewat pintu depan. Ia mengarahkan Luo Pang ke gudang belakang, tempat kayu bakar dan peti-peti beraneka isian disusun seadanya. “Masuklah,” perintahnya.

Luo Pang melangkah masuk dengan ragu. Gudang itu dingin dan lembap. Bau kayu tua dan debu memenuhi hidungnya. Ia menelan ludah lagi, lalu menoleh ke Li Shen dengan wajah penuh harap. “Jadi… aku aman, kan?” tanyanya. “Aku janji tak akan cerita ke siapa pun. Mulutku ini bisa dikunci, bahkan kalau perlu akan ku jahit sendiri.”

“Belum,” jawab Li Shen. “Tergantung seberapa bergunanya dirimu bagi Madam Luo dan atasannya.”

Luo Pang terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wajahnya tidak terlihat konyol. Ada kesadaran pelan-pelan merayap di matanya. “Aku tahu banyak, Tuan,” nadanya berubah serius. “Bukan karena aku hebat. Tapi karena aku sering kalah judi, sering dikejar pengawas, sering tidur di tempat yang salah. Orang-orang menganggap aku tidak lebih dari gelandangan. Mereka bicara seenaknya di depanku.”

Li Shen menatapnya tanpa ekspresi. Ia tahu tipe orang seperti ini. Bukan pejuang, bukan pula pemikir besar. Tapi kota sering membuka rahasianya kepada orang-orang yang dianggap remeh. Seperti luka yang dia rasakan sejak kecil.

“Zhao Tianlong,” lanjut Luo Pang hati-hati. “Dia jarang muncul langsung, tapi semua benang ada di tangannya. Pengawas-pengawas kecil hanya anjing penjaga. Yang menggenggam rantainya tetap dia.”

Li Shen mengingat nama itu. Simbol Tianyuan di Jing’an. Wajah kekuasaan yang rapi, bersih, dan palsu. “Sepertinya kau sudah tidak mabuk. Kau akan tinggal di sini sementara,” kata Li Shen. “Jangan keluar. Jangan menyentuh apapun. Kalau kau mencoba kabur—”

“Aku mati,” Luo Pang mendahului. “Aku paham, Tuan.”

Li Shen memutar badan untuk pergi, menutup pintu gudang dan menguncinya dari luar.

Saat melangkah pergi, pikirannya tetap waspada. Orang ini memang tampak tak berbahaya. Terlalu ceroboh, terlalu jujur. Tapi dunia jarang memberi sesuatu tanpa alasan. Jika Luo Pang benar-benar hanya pemabuk biasa, maka kehadirannya di atap tadi adalah kebetulan yang aneh.

Di dalam gudang, Luo Pang berdiri kaku beberapa saat setelah pintu tertutup rapat. Gelap dan sunyi. Hanya cahaya tipis dari celah papan yang memberi bentuk pada tumpukan peti, kayu bakar, dan gentong-gentong besar berisi arak. 

Ia menghela napas panjang. Bahunya turun perlahan, “Masih hidup,” gumamnya. Nada suaranya berubah. Tidak lagi cempreng atau berisik. 

Luo Pang mengusap-usap wajahnya kasar, lalu duduk di atas peti kayu. Ia memejamkan mata sejenak, menenangkan denyut di kepalanya. Bau arak menusuk hidungnya, membuat tenggorokannya kering.

“Seharusnya aku berhenti berjudi,” lirihnya. “Atau setidaknya berhenti meminjam uang dari pengawas.”

Ia membuka mata dan menatap sekeliling. Gudang ini terlalu penuh. Peti-peti disusun asal. Kayu bakar menumpuk hingga setinggi dada. Di sudut, beberapa botol kecil terselip di antara kain dan tali rami. Labelnya pudar, tapi aromanya tajam. Obat penguat. Murahan, tapi cukup untuk membakar darah. Lalu matanya bergeser ke gentong-gentong arak di sisi lain gudang.

Tatapannya terkunci. Luo Pang menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering kerontang dan godaan itu muncul kembali, lebih kuat daripada rasa takut akan maut.

“Demi Dewa… jangan. Jangan lakukan itu, Pang bodoh,” rintihnya pada diri sendiri, meski kakinya justru melangkah pelan mendekati gentong tersebut. “Sekali saja… sadarlah.”

1
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!