DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
YANG AKHIRNYA DIUCAPKAN
Malam itu, rumah terasa terlalu sunyi untuk menampung kebenaran.
Aira duduk di lantai kamar ayahnya, map cokelat terbuka di depannya. Tangannya masih gemetar, bukan karena takut, melainkan karena potongan-potongan itu akhirnya membentuk satu gambaran utuh.
Langkah kaki terdengar dari arah lorong.
Ayahnya berdiri di ambang pintu.
Tidak marah. Tidak terkejut.
Hanya lelah.
“Aira,” katanya pelan. “Tutup dulu map itu.”
Aira menoleh. Matanya merah, tapi kering. “Kalau aku tutup,” jawabnya, “Ayah akan tetap diam?”
Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia masuk dan duduk di kursi kerja yang sudah menua bersama punggungnya.
“Ayah berharap kamu nggak pernah nemu itu,” kata ayah jujur.
Aira berdiri perlahan. “Tapi aku nemu. Dan sekarang aku perlu tahu yah.”
Sunyi jatuh di antara mereka. Bukan sunyi canggung. Sunyi yang menunggu.
Ayahnya menarik napas panjang. “Duduklah,” katanya.
Aira menarik kursi di depan meja kerja ayah nya lalu meletakkan nya tepat di samping ayah nya, Aira Duduk menyamping menghadap ayah nya
“Ayah tidak pernah ambil uang itu,” ujar ayahnya tiba-tiba. Kalimat itu jatuh tanpa pengantar.
Aira menelan ludah. “Uang kompensasi?”
Ayahnya mengangguk. “Dalam laporan akhir, semua tercatat sudah dibagikan. Lengkap. Rapi.”
“Padahal?” suara Aira hampir tak terdengar.
“Padahal sebagian tidak pernah sampai,” jawab ayahnya lirih. “Dan Ayah baru tahu… setelah semuanya selesai.”
Aira menutup matanya. “Kenapa Ayah tanda tangan tanpa mencari tau?”
Ayahnya tersenyum pahit. “Karena Ayah ditekan waktu. Karena ayah percaya tim distribusi. Karena ayah pikir… prosedur sudah berjalan.”Ia menunduk. “Dan karena Ayah bodoh mengira sistem itu adil.”
Aira merasakan dadanya sesak. “Terus keluarga yang nggak dapat apa-apa itu…?”
“mereka pindah sendiri,” potong ayahnya cepat, lalu terdiam. Nada itu… terlalu cepat.
Aira membuka map, menarik satu dokumen. “Seperti ini?” tanyanya pelan.
Ayahnya menatap lembar itu. Dan untuk pertama kalinya, Aira melihat sesuatu yang selama ini tak pernah ia lihat.
Rasa bersalah yang di rasakan ayah nya.
“Setelah ayah menerbitkan artikel tentang proyek itu... Artikel itu kontroversi, dan... di situlah ayah tau kalau yang kompensasi tidak di berikan kepada warga yang tergusur, di artikel itu tertera kalau semua warga yang tergusur mendapatkan kompensasi, tapi ternyata tidak, Ayah berusaha memperbaiki keadaan dengan mencari keluarga-keluarga yang tergusur, ada beberapa yang bisa ayah bantu dan keluarga di dikomen itu,” kata ayahnya, suaranya serak, “datang terlambat ke pos distribusi. Nama mereka dipindahkan ke daftar pindah mandiri.”
“Siapa yang memindahkan?” tanya Aira.
Ayahnya menggeleng. “Ayah nggak tahu, yang ayah pikiran hanya dampak nya ke keluarga kita, ayah takut kebahagiaan keluarga kita hancur, ”
Aira mengangkat wajah. “Salah satunyaaa siapa, apa keluarga langit yang ayah maksud”
Nama itu menggantung di udara.
Ayahnya terdiam lama. “Ayah tidak tau tapi... mungkin saja dia adalah salah satu anak dari keluarga yang terkena dampak, Kamu kenal anak itu?” tanya ayah akhirnya.
Aira mengangguk. “Dia seumuran aku.”
Ayahnya memejamkan mata. “Berarti dia tumbuh dengan konsekuensi dari keputusan yang ayah biarkan terjadi.”Kalimat itu bukan pembelaan. Itu pengakuan.
“Makanya Ayah keras sama aku?” tanya Aira, suaranya bergetar. “Makanya Ayah selalu minta aku sempurna?”
Ayahnya menatap Aira lama. “Karena Ayah takut,” katanya pelan. “Takut kalau kamu jatuh… kamu akan jatuh di dunia yang sama kejamnya dengan yang Ayah bantu ciptakan.”
Aira berdiri. Air matanya jatuh. “Tapi Ayah ngajarin aku untuk patuh. Bukan untuk adil.”
Ayahnya menunduk. “Ayah tahu.”
Sunyi kembali turun. Kali ini lebih berat.
...####...
Malam itu, Aira tidak langsung tidur.
Ia membuka laptop. Bukan untuk proyek. Bukan untuk kampus.
Ia mengetik satu nama.
Langit Pradana.
Hasilnya tidak banyak. Tapi cukup.
Catatan sekolah pindahan.
Alamat lama.
Riwayat keluarga.
Satu alamat menarik perhatiannya.
Blok C, Bantaran Sungai Selatan, sebelum relokasi.
Aira menahan napas.
Ia membuka peta lama. Mencocokkan.
Titik itu… hanya beberapa ratus meter dari lokasi proyek.
Berikutnya, ia menemukan artikel kecil, hampir tenggelam di arsip daring.
“Seorang buruh pabrik diberhentikan karena sering terlambat setelah relokasi tempat tinggal.”
Nama tidak disebut lengkap.
Tapi alamatnya sama.
Artikel lanjutan… lebih kecil lagi.
“Anak sulung keluarga tersebut meninggal dunia akibat keterlambatan penanganan medis.”
Aira menutup laptop.
Tangannya gemetar.
Jadi bukan hanya rumah.
Bukan hanya uang.
Tapi hidup yang pelan-pelan runtuh.
Ia teringat tatapan Langit.
Bukan marah yang meledak.
Marah yang lama dipelihara.
“Aku cuma nggak mau kamu terluka.”
Kalimat itu terngiang.
Aira baru sadar…
Langit tidak pernah bilang itu demi kebaikan.
Ia bilang itu… seolah memperingatkan dirinya sendiri.
...####...
Keesokan harinya, Aira menemui Raka.
“Kamu bener,” kata Aira tanpa basa-basi.
Raka menoleh. “Soal Langit?”
Aira mengangguk. “Dia bukan cuma tahu. Dia bagian dari itu.”
Raka terdiam.
“Aku nemu data lama,” lanjut Aira “Keluarganya… salah satu yang dipindahkan tanpa kompensasi. Kakaknya meninggal.”
Raka mengusap wajahnya. “Pantas.”
“Pantas apa?”
“Pantas dia kelihatan tenang tapi kayak nyimpen amarah,” jawab Raka pelan. “Itu amarah yang tumbuh lama.”
Aira menatap tangannya sendiri. “Kalau posisinya dibalik… mungkin aku juga akan benci.”
“Tapi bukan berarti dia berhak nyakitin kamu,” tegas Raka.
Aira mengangguk. “Makanya aku harus tahu. Dia mendekatiku karena kebetulan… atau karena aku anak dari orang yang dia benci.”
Raka menatap Aira lama. “Dan kalau jawabannya yang kedua?”
Aira menarik napas. “Aku harus siap kehilangan dia.”
Kalimat itu jatuh berat di antara mereka.
...####...
Sore itu, Aira datang ke halte.
Langit sudah di sana.
“Aira,” sapanya seperti biasa.
Tapi kali ini, Aira melihatnya berbeda.
Bukan sebagai tempat pulang.
Melainkan sebagai bagian dari masa lalu yang belum selesai.
“Kamu kelihatan capek,” kata Langit.
“Kamu juga,” balas Aira.
Mereka duduk.
“Langit,” ujar Aira pelan, “keluargamu dulu tinggal di Bantaran Sungai Selatan, ya?”
Langit terdiam.
Tidak lama.
Tapi cukup.
“Kamu dari mana tahu?” tanyanya akhirnya.
“Aku nyari,” jawab Aira jujur.
Langit tersenyum kecil. Tapi senyum itu rapuh. “Terus?”
“Aku mau tahu,” kata Aira, menatapnya lurus, “kamu datang ke hidupku sebagai siapa.”
Sunyi. Hujan turun pelan.
Langit menatap ke depan. “Sebagai orang yang kehilangan rumah.”
“Itu saja?”
Langit tidak menjawab. Aira tahu Diamnya Langit bukan ketenangan. Itu kendali yang mulai retak.
...####...
Berita itu datang tanpa pengantar panjang.
Email resmi. Subjek singkat.
Penangguhan sementara proyek.
Aira membaca kalimat itu berulang kali, seolah maknanya bisa berubah jika dibaca cukup lama. Tapi tetap sama. Proyek yang selama ini mereka pertahankan, kini berhenti, bukan karena data, bukan karena metodologi, tapi karena nama yang terlalu berat untuk dibawa sendirian. Pintu ruang diskusi terbuka.
“Aira.”
Suara itu membuat Aira menoleh cepat.
Naya berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit lebih pendek dari terakhir kali mereka bertemu.
Matanya lelah, tapi sorotnya tetap sama, tegas, penuh tanya.
“iya Nay,” kata Aira pelan.
Naya mengangguk. “Aku dapat email.”
Mereka duduk berhadapan. Tidak ada pelukan. Tidak ada basa-basi.
“Jadi ini karena ayah kamu?” tanya Naya langsung.
Aira menghela napas. “Sebagian.”
“Sebagian atau seluruhnya?”
Aira terdiam sesaat. “Seluruhnya… di mata publik.”
Naya menyandarkan punggung ke kursi. “Aku kira aku siap. Tapi ternyata nggak.”
“Aku minta maaf,” kata Aira cepat.
Naya menggeleng. “Aku nggak marah sama kamu. Aku marah sama sistem yang selalu nyari kambing hitam.”
Ia menatap Aira. “Tapi aku juga harus jujur. Proyek ini bukan cuma tentang kita berdua.”
“Aku tahu,” jawab Aira lirih.
“Dan sekarang, semua orang nunggu klarifikasi. Kalau proyek ini lanjut, kita bakal diseret lebih jauh.”
Aira mengangguk. “Makanya ditangguhkan.”
Naya diam sebentar. “Aku kesini bukan buat ninggalin kamu. Tapi aku juga nggak bisa pura-pura ini nggak berat.”
Kalimat itu jujur. Tidak menyakiti. Tapi tetap menekan.
“Aku ngerti,” kata Aira. “Aku cuma… butuh waktu.”
Naya berdiri. “Ambil waktu itu. Tapi jangan sendirian.”
Saat Naya melangkah pergi, Aira sadar: dukungan tidak selalu datang dalam bentuk bertahan. Kadang datang dalam bentuk tidak memaksa.
...####...
Malamnya, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ayah Aira duduk di meja makan. Tidak membaca. Tidak menonton apa pun. Seolah menunggu.
“Kamu ketemu teman proyekmu?” tanyanya.
“Iya. Naya ”
Ayah mengangguk pelan. “Proyeknya ditangguhkan.”
“Sudah tahu?” Aira menatapnya.
“Ayah dapat kabar dari jalur lain.”
Aira duduk perlahan. “Yah… tentang keluarga Langit”
Ayahnya mengangkat tangan. “Dengarkan dulu.”
Nada itu membuat Aira terdiam.
“Ayah sudah cek ulang daftar relokasi,” lanjut ayahnya. “Langit Pradana. Keluarganya benar-benar terdampak. Dan termasuk yang paling berat.”
Aira mengepalkan tangan. “Berarti dia”
“Bukan berarti semua yang dia lakukan bisa dibenarkan,” potong ayahnya. “Tapi itu menjelaskan kenapa dia ada di sekitarmu.”
Aira menatap ayahnya. “Ayah pikir dia mendekatiku karena dendam?”
Ayahnya diam cukup lama sebelum menjawab. “Ayah pikir… dia punya alasan.”
“Ayah nyuruh aku menjauhinya?”
Ayahnya menatap Aira lurus. Tidak keras. Tidak dingin. Tapi tegas.
“Ayah memperingatkan kamu,” katanya.
“Kalau dia salah satu keluarga yang jatuh karena keputusan itu, maka kamu bukan sekadar teman baginya.”
Aira menelan ludah. “Aku mau dengar langsung dari dia.”
Ayah menggeleng pelan. “Itu berbahaya, Aira.”
“Lebih berbahaya mana,” balas Aira, “percaya setengah-setengah atau hidup tanpa tahu kebenaran?”
Ayahnya menghela napas. “Ayah sudah hidup terlalu lama dengan pilihan yang salah.”
Ia menatap Aira. “Ayah nggak mau kamu mengulangnya.”
Sunyi menggantung di antara mereka.
“Ayah nggak minta kamu benci dia,” lanjutnya lebih pelan. “Ayah cuma minta kamu jaga jarak. Sampai kamu yakin… dia datang sebagai siapa.”
Aira mengangguk pelan. “Aku akan hati-hati.”
Itu bukan janji. Itu kompromi
Ayah hanya diam tidak membalas, tapi di tau harus bertindak seperti apa, memaksa Aira sekarang bukan hal yang benar, ia takut jika ia memaksa Aira, maka musuh punya celah, ayah nya Aira sudah memperhitungkan sejak lama,
...####...
Di kamar, Aira membuka ponselnya.
Nama Langit muncul di layar. Belum dibuka.
Ia menyadari satu hal yang membuat dadanya semakin sesak
Jika Langit benar-benar datang membawa dendam,
maka semua perhatian, semua kalimat lembut, semua kebetulan,
bukanlah kebetulan sama sekali.
Dan itu jauh lebih menyakitkan
daripada kebencian yang terang-terangan.
Aira mematikan layar.
ia benar-benar takut, bukan pada Langit,
melainkan pada kemungkinan bahwa perasaannya sendiri telah dijadikan bagian dari rencana.
Bersambung