Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan Clarissa..
"Sayang,,bagaimana kabarmu?" Hamidah yang merupakan ibu kandung pria itu langsung memeluk putranya tanpa sungkan.
"Baik bu,,sudah sembuh malah."
"syukurlah sayang,,ibu sangat khawatir dengan keadaan mu," Hamidah mengedarkan pandangannya,lalu berhenti tepat pada Indira yang duduk di sofa.
"Indira,,kamu baik baik saja?" sapa Hamidah lembut.
"Baik nyonya,," Indira mengangguk.
"Terimakasih ya? berkat kamu putraku sudah pulih."
"Sama sama nyonya,," Indira berucap sungkan.
***
Dua hari kemudian..
Berita mengenai pulihnya Arjuna disambut sukacita oleh seluruh penghuni rumah sakit, terutama Toni yang sudah menyiapkan segala keperluan kepulangan tuannya. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan terakhir, dokter akhirnya memberikan lampu hijau.
"Kondisi fisik Anda sudah stabil, Tuan Arjuna. Namun ingat, jangan terlalu memforsir tenaga di minggu pertama," pesan dokter sebelum meninggalkan ruangan.
Arjuna hanya mengangguk singkat. Ia duduk di kursi roda,mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuh tegapnya. Wajahnya tidak lagi pucat; guratan ketampanannya kembali tegas dengan tatapan mata yang tajam. Ia menoleh ke arah ranjang di sudut ruangan, di mana Indira sedang merapikan barang-barangnya ke dalam tas kecil.
"Indira," panggil Arjuna.
Indira menoleh, sedikit terkejut melihat Arjuna yang sudah rapi dan tampak sangat berwibawa. "Ya, Tuan?"
"Kita pulang sekarang. Tapi ingat satu hal," Arjuna menjalankan kursi rodanya, mendekati Indira, jalan nya tenang namun mengintimidasi. Ia berhenti tepat di depan gadis itu, membuat Indira harus mendongak. "Statusmu di rumahku tidak akan berubah. Pulihnya aku dari rumah sakit bukan berarti aku tidak lagi membutuhkanmu."
Indira menelan ludah. "Saya mengerti, Tuan."
Arjuna bukannya tidak bisa berjalan,tapi kakinya masih belum kuat menopang tubuhnya berjalan lama,itu sebabnya dia masih menggunakan kursi roda untuk beberapa hari ini.
Perjalanan Pulang
Mobil mewah yang dikendarai Toni melaju membelah jalanan kota menuju mansion megah milik Arjuna.
Di kursi belakang, suasana terasa hening namun tegang. Arjuna duduk bersandar sambil menutup mata, sementara Indira hanya berani menatap ke luar jendela.
Rasa canggung dan gugup kembali menguasai gadis itu.
Aura mendominasi nya sangat kuat.
Membuat Indira semakin gugup.
Perjalanan yang memakan waktu hampir setengah jam itu terasa seperti setahun,,saking lamanya bagi Indira.
Bahkan untuk berbagi udara saja rasanya sangat sulit bagi Indira.
Sesampainya di mansion, Darsih dan beberapa pelayan lainnya sudah berbaris menyambut. Mereka tampak lega melihat sang tuan besar kembali dengan kesembuhan yang pesat.
"Selamat datang kembali, Tuan," sapa Darsih hormat.
Darsih melirik putrinya yang berjalan gontai di belakang sang majikan.
"Kamu lelah nak?" bisik Darsih pelan.
Indira menanggapi dengan menganggukkan kepalanya lemas.
"Siapkan kamar Indira di paviliun samping kamarku. Pastikan ada pintu penghubung keluar masuk dari kamarku ke kamarnya. ," perintah Arjuna dingin.
Toni dan Darsih saling pandang, namun tak berani membantah. Itu adalah perintah yang aneh, seolah Arjuna ingin memastikan 'sumber dahaganya' bisa ia akses kapan saja tanpa ada yang tahu.
Indira tidak perduli apapun yang akan pria itu titahkan pada bawahannya.
Rasa kantuknya melebihi keingin tahuan nya apa saja perintah sang tuan.
Indira tidur pulas sekali,,Darsih sangat kasihan menatap putrinya,,seperti seorang ibu yang begadang setiap malam saja beratnya mata putrinya.
***
Malam Pertama di Mansion..
Malam itu, Indira merasa asing berada di kamar yang begitu mewah namun terasa seperti sangkar emas. Ia baru saja selesai mandi ketika pintu penghubung itu terbuka tanpa ketukan.
Arjuna berdiri di sana, hanya mengenakan jubah mandi sutra hitam. Ia tidak bicara, hanya menatap Indira dengan tatapan lapar yang sudah sangat dikenali gadis itu.
"Tuan... apakah Anda merasa haus lagi?" tanya Indira pelan.
Arjuna berjalan masuk dan mengunci pintu di belakangnya. "Berada di rumah membuat gairah dan hausku terasa dua kali lipat lebih kuat, Indira. Mungkin karena udara di sini lebih bebas daripada di rumah sakit."
Ia menarik Indira ke arah ranjang besar di tengah ruangan. Kali ini, tidak ada suara infus atau aroma obat-obatan. Yang ada hanyalah aroma maskulin Arjuna dan parfum vanilla dari tubuh Indira.
Arjuna duduk dan menarik Indira ke pangkuannya. "Kau sudah minum susu dan vitaminmu tadi?"
"Sudah, Tuan. ibu yang mengantarkannya," jawab Indira dengan napas yang mulai tidak beraturan.
Tanpa membuang waktu, Arjuna menyibak rambut Indira ke samping, mencium lehernya sebentar sebelum beralih ke tujuannya yang utama. Saat kulit hangat mereka bersentuhan, Arjuna mengerang rendah.
"Milikku... hanya milikku," bisik Arjuna posesif sebelum ia mulai melahap dengan rakus.
Indira hanya bisa mencengkeram bahu kokoh Arjuna. Ia menyadari satu hal yang menakutkan: Arjuna yang sudah pulih ternyata jauh lebih menuntut dan dominan daripada Arjuna yang sedang sakit. Hubungan ini tidak lagi sekadar tentang 'penawar', melainkan tentang kepemilikan mutlak.
"Rasanya sangat enak dan nikmat,,membuat ku kecanduan,," gumam Arjuna kembali menyesap dada gadis itu lagi.
Indira mencengkram seprai,menahan gejolak yang bergemuruh di dadanya.
Arjuna meneguk asi yang disedot nya,hingga suaranya terdengar teratur keluar.
Indira hanya bisa menggigit bibirnya,menerima setiap sedotan yang diberikan tuannya.
Puas melakukannya,Arjuna pun melepaskan puting Indira.
"Terima kasih." ucapnya lalu beranjak dari sana.
Indira kembali merasa dicampakkan seorang pacar.
Setelah habis manis,sepah dibuang,begitulah pikiran gadis itu.
***
Sore itu, suasana di mansion yang biasanya tenang mendadak berubah tegang. Sebuah mobil sport merah terparkir gagah di depan lobi. Wanita itu datang tanpa pemberitahuan—Clarissa, kekasih Arjuna yang merupakan seorang model papan atas sekaligus putri dari rekan bisnis Arjuna yang paling berpengaruh.
Indira, yang baru saja kembali dari sekolah dan masih mengenakan seragam, diminta oleh Darsih untuk membantu mengantarkan minuman karena pelayan lain sedang sibuk di dapur belakang.
Dengan tangan sedikit gemetar, Indira membawa nampan berisi teh chamomile hangat menuju ruang tamu mewah tempat Clarissa menunggu.
"Ini tehnya, Nona," ucap Indira lembut sambil menunduk sopan, mencoba meletakkan cangkir itu di atas meja marmer.
Clarissa, yang sedang sibuk bercermin dan memoles lipstik merah menyalanya, melirik Indira dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menghina. Ia melihat seragam sekolah Indira yang tampak kontras dengan kemewahan ruangan itu.
"Heh, siapa kamu?!" bentak Clarissa tiba-tiba. Suaranya yang melengking membuat Indira tersentak hingga sedikit air teh tumpah ke nampan.
"Sa-saya Indira, Nona. Saya tinggal di sini untuk—"
"Tinggal di sini?!" Clarissa berdiri, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di lantai. Ia mendekat ke arah Indira dengan wajah angkuh. "Arjuna tidak pernah cerita dia mempekerjakan anak sekolah ingusan sepertimu. Lihat cara berpakaianmu! Dekil! Dan lihat ini..."
Clarissa menunjuk tumpahan teh kecil di nampan dengan jijik.
"KAU MAU MENYAJIKAN SAMPAH INI UNTUKKU?! DASAR PELAYAN TIDAK TAHU DIRI!"
PRANGGG!
Clarissa mengibaskan tangannya hingga cangkir teh itu jatuh dan pecah berkeping-keping di dekat kaki Indira. Beberapa tetes teh panas mengenai kulit punggung kaki Indira yang baru saja sembuh.
"Maaf, Nona... saya tidak sengaja," rintih Indira, matanya mulai berkaca-kaca karena terkejut dan panas.
"Sejak kapan kamu bekerja di rumah ini?" selidik wanita berlipstik merah itu penasaran.
"Saya tidak bekerja disini,,saya anak pelayan rumah ini,kebetulan meminta saya untuk mengantarkan minuman ini untuk nona."
"Pantas saja kamu dekil dan terlihat gembel,ternyata anak seorang pelayan," hina Clarissa.
Indira hanya bisa menunduk, air matanya jatuh satu per satu. Saat ia baru saja akan berlutut untuk memunguti pecahan keramik itu, sebuah suara bariton yang dingin dan berat menggelegar dari arah tangga.
"Apa yang sedang terjadi di sini?"
Itu Arjuna. Ia berdiri di sana dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, matanya menatap tajam ke arah kekacauan di lantai, lalu beralih ke arah Indira yang gemetar.
"Arjuna, sayang!" Clarissa langsung mengubah raut wajahnya menjadi manja dan menghampiri Arjuna. "Lihat pelayan mu ini, dia sangat tidak sopan dan hampir merusak sepatuku dengan teh panasnya. Kamu harus memecatnya sekarang juga!"
Arjuna tidak membalas pelukan Clarissa. Matanya justru terpaku pada punggung kaki Indira yang memerah dan tubuh gadis itu yang terguncang karena isak tangis yang ditahan.
Ada kilatan kemarahan yang tidak biasa di mata Arjuna—bukan kepada Indira, melainkan kepada wanita yang berdiri di sampingnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" ohh pertanyaan itu bukan untuk Indira,tapi untuk kekasihnya.
"Apa maksud mu? aku ini kekasihmu Juna!" Clarissa tidak terima dengan pertanyaan pria itu.
"Kekasih? kamu kekasihku?"
"Juna! apa yang terjadi padamu?"
"Saat aku kecelakaan,,dan selama aku dirawat di rumah sakit,kamu tidak sekalipun datang menjenguk ku,,dan mulai saat itu aku merasa tidak punya kekasih lagi." desis Arjuna.
"sayang,,aku kan sudah bilang kalau aku lagi syuting diluar kota,,aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku begitu saja," rengek Clarissa.
"Sudahlah,,jangan mencari pembelaan,,lebih baik kamu pulang sekarang,sebelum aku mengungkit semua keberadaan mu saat aku terkapar dirumah sakit." tatap Arjuna tidak main main.
"Baiklah sayang,,aku pulang,mungkin kamu butuh waktu sendiri,,besok aku akan datang lagi,," cup!" Clarissa mencium bibir Arjuna cepat sebelum pria itu menyadarinya,"Jaga dirimu sayang,,"
Ucapnya lalu beranjak dari sana.
Indira masih sibuk memunguti pecahan cangkir yang tercecer dilantai
"ikut aku!"
bersambung...