NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 KHSC

​Malam itu, tempat tidur king size Arjuna Bhaskara menjadi medan perang yang sunyi. Di tengah-tengahnya, membentang sebuah bantal panjang berwarna abu-abu tua—benteng terakhir sang CEO, pemisah antara kontrak dan komitmen.

​Nares berbaring di sisi tempat tidur yang ia klaim, dihiasi dengan seprai katun putih yang dingin. Juna berbaring membelakanginya di sisi lain, jarak di antara mereka sekitar satu meter. Juna memosisikan dirinya kaku, tangan dilipat di dada, seolah-olah ia sedang bersiaga.

​Nares menyadari ketegangan itu. Ia tahu Juna sedang berjuang melawan kehadiran fisik Nares.

​“Juna,” panggil Nares pelan.

​“Apa,” jawab Juna tanpa menoleh, suaranya tajam.

​“Aku tidak akan melanggar batas yang kau buat. Aku berjanji,” kata Nares, suaranya tulus. “Tidurlah. Kau terlihat sangat lelah.”

​Juna menghela napas panjang. Ia ingin memarahi Nares, ingin mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan izin untuk tidur. Tetapi pengakuan Nares tentang janji menjaga batas justru melucuti senjatanya. Ia tidak bisa marah pada ketulusan.

​Juna mencoba untuk tidur. Namun, sama seperti malam-malam sebelumnya, ia tidak bisa. Perbedaannya kali ini adalah ia merasakan panas tubuh Nares yang terpancar melintasi batas bantal. Ia merasakan aroma sabun dan baby powder Nares yang lembut. Keintiman fisik ini, tanpa ada sentuhan, justru terasa lebih mencekik daripada saat Nares tidur di sofa. Di sofa, Nares adalah tamu. Di tempat tidur ini, Nares adalah istri.

​Juna memaksakan dirinya untuk memejamkan mata.

​Sekitar pukul dua pagi, Juna terbangun karena mimpinya sendiri. Ia bermimpi tentang Laras, mimpi buruk tentang pengkhianatan dan kehancuran. Ia berkeringat, napasnya tersengal.

​Ia membalikkan badan, tanpa sengaja menyentuh bantal pembatas. Ia melihat Nares.

​Nares sedang tertidur pulas, tetapi tangannya—tangan yang sama yang merawatnya saat demam—terulur sedikit melintasi bantal. Jarak tangan Nares dengan tangan Juna hanya beberapa sentimeter.

​Juna menatap tangan Nares. Tangan itu adalah satu-satunya bagian yang melanggar batas, namun pelanggaran itu terasa tidak bersalah, seperti bunga liar yang tumbuh di benteng batu. Juna merasakan dorongan kuat untuk meraih tangan itu, untuk mencari ketenangan yang ia cari malam itu.

​Namun, Juna menarik dirinya kembali. Ia mengambil bantal itu, memindahkannya sedikit lebih jauh, menegaskan kembali jarak fisik. Ia kembali membelakangi Nares, memejamkan mata, dan akhirnya, entah bagaimana, ia tertidur, ditemani rasa bersalah karena memindahkan batas itu.

​***

​Pagi itu, Juna bangun lebih dulu, tetapi ia merasa terburu-buru untuk keluar dari kamar. Ia tidak ingin Nares melihatnya dalam keadaan tidak sempurna. Ia telah mengenakan pakaian lengkap dan duduk di meja makan saat Nares keluar.

​Nares, dengan pakaian kuliahnya yang rapi, membawa dua cangkir teh hangat. Teh untuknya, dan kopi untuk Juna.

​“Kopi-mu, Juna. Ini masih panas,” kata Nares, meletakkan cangkir kopi di depan Juna.

​“Terima kasih,” jawab Juna kaku, tidak menatap Nares.

​“Aku sudah siapkan sarapan. Roti panggang dan telur. Kau harus makan sedikit,” kata Nares, mulai menyantap sarapannya sendiri.

​Juna melihat sarapan itu. Sederhana, tetapi dibuat dengan tangan, bukan dipesan dari katering hotel. Juna menyadari, sejak Nares ada, sarapannya tidak lagi dingin dan terburu-buru.

​“Kau tidak perlu melakukan semua ini,” kata Juna.

​“Aku tahu. Tapi aku suka melakukannya. Aku tumbuh besar dengan kebiasaan menyiapkan makanan untuk orang-orang yang aku sayangi,” balas Nares, sambil tersenyum tipis.

​Kata “sayangi” menghantam Juna dengan keras.

​“Aku bukan orang yang kau sayangi, Nareswari. Aku adalah suami kontrakmu,” Juna memotong tajam.

​Nares meletakkan garpunya. Ia menatap Juna dengan mata teduhnya yang penuh ketulusan.

​“Aku tidak bisa membagi hatiku seperti kau membagi perusahaanmu, Juna. Kau adalah suamiku. Dan dalam Islam, setelah ijab kabul, suami adalah seseorang yang harus aku sayangi, hormati, dan layani. Aku tidak bisa mencintaimu, karena cinta adalah urusan hati, dan itu tidak ada dalam kontrak kita. Tetapi aku bisa menyayangimu, karena itu adalah kewajibanku,” Nares menjelaskan dengan tenang dan logis.

​Juna terdiam. Ia tidak bisa membantah. Nares telah menciptakan struktur logika baru yang sempurna: ia memisahkan cinta (emosi tak terduga yang ia benci) dari sayang (kewajiban yang berdasarkan keimanan). Nares memenuhi tugasnya tanpa mengharapkan balasan romantis, dan itu membuat Juna tidak berdaya.

​“Makanlah, Juna. Kau butuh energi untuk mengontrol Bhaskara Corp,” kata Nares, mengembalikan suasana ke mode normal.

​Juna meraih rotinya. Roti itu terasa hangat dan sedikit manis. Ia menyadari, ia mulai menantikan ritual pagi yang canggung ini. Ritual yang memberinya ketenangan dan rasa dimiliki—perasaan yang ia benci, tetapi ia nikmati.

​***

​Juna menghabiskan hari itu dengan memimpin rapat dewan. Biasanya, Juna adalah mesin keputusan. Namun, hari itu berbeda.

​Saat rapat berjalan, ia tidak bisa berhenti memikirkan Nares. Ia teringat sentuhan tangan Nares yang hampir melintasi bantal. Ia teringat do’a pagi Nares. Konsentrasinya terpecah.

​“Pak Juna, apakah Anda setuju dengan proposal akuisisi saham 51% di Helios Tech?” tanya Rio, yang memimpin presentasi.

​Juna terdiam sejenak. Biasanya, ia akan segera menyetujui, karena angka-angka sudah sesuai.

​“Tidak,” kata Juna. “Aku ingin meninjau ulang struktur insentif jangka panjang untuk karyawan Helios Tech. Mereka punya teknologi yang bagus, tapi loyalitas mereka lebih penting daripada saham. Kita harus memberikan jaminan kesejahteraan yang lebih baik, bukan hanya uang.”

​Rio dan seluruh anggota dewan terkejut. Kebijakan ini terdengar manusiawi, bukan bisnis murni.

​“Pak, itu akan memakan anggaran operasional lebih besar di awal,” kata salah satu direktur keuangan.

​“Dan itu akan menghasilkan loyalitas tak ternilai di masa depan. Kita tidak hanya membeli perusahaan, kita membeli manusia di dalamnya,” balas Juna, suaranya tajam.

​Setelah rapat, Rio menemui Juna.

​“Pak Juna, Anda membuat keputusan yang sangat berani hari ini. Itu adalah keputusan yang sangat emosional, bukan berbasis data,” kata Rio, berhati-hati.

​Juna menatap Rio. “Aku tahu apa yang aku lakukan, Rio. Aku hanya menyadari, kau tidak bisa membeli ketenangan dengan uang. Kau harus mendapatkannya dengan cara yang lebih berharga.”

​Rio tersenyum kecil. “Sepertinya pernikahan ini membawa dampak yang sangat baik bagi kepemimpinan Anda, Pak.”

​Juna hanya mendengus, tetapi tidak membantah. Istri kontrakku mulai mengancam benteng pribadiku dan benteng bisnisku, pikir Juna, tetapi ia tidak ingin menghentikannya.

​***

​Sore harinya, saat Nares baru pulang kuliah, Bu Melati, Ibu Juna, datang berkunjung. Bu Melati adalah wanita yang ramah, tetapi sangat menuntut kesempurnaan.

​“Nares, Ibu bangga sekali padamu di pesta kemarin. Kau sempurna. Kau berhasil membuat Larasati cemburu dan membuat Juna mengucapkan janji keturunan di depan publik,” kata Bu Melati, memeluk Nares dengan hangat.

​“Terima kasih, Bu. Itu hanya akting,” Nares berbisik.

​“Akting yang sempurna. Tapi Ibu ingin membicarakan hal yang lebih serius, sayang. Kalian sudah berbagi kamar, kan?”

​Nares mengangguk.

​“Juna adalah pria yang sangat tertutup. Sejak Laras mengkhianatinya, dia membangun tembok yang tebal. Kau adalah satu-satunya yang bisa merobohkan tembok itu, Nares. Kau harus memberinya seorang anak. Bukan karena warisan, tetapi karena anak adalah satu-satunya hal yang akan membuatnya merasakan kebahagiaan lagi, dan melupakan masa lalunya,” pinta Bu Melati, tatapannya memohon.

​Nares merasa tertekan. Permintaan ini menuntut Nares untuk melanggar kontrak emosional dan fisik mereka.

​“Tapi, Bu… Juna… dia tidak ingin melanggar kontrak,” Nares menjelaskan.

​“Kontrak hanya selembar kertas, Nares. Pernikahan adalah ikatan jiwa. Jika kau benar-benar menyayangi Juna, kau harus memberinya kehidupan baru. Kau harus memberinya alasan untuk percaya pada masa depan. Juna sangat kesepian, Nares,” kata Bu Melati, air mata berkaca-kaca.

​Nares hanya bisa mengangguk, merasa terbebani.

​***

​Malam itu, Nares sudah berbaring di tempat tidurnya saat Juna masuk. Juna melihat Nares tampak murung.

​“Ada apa?” tanya Juna, nadanya sedikit lebih lembut dari biasanya.

​“Ibu Melati datang. Dia memintaku untuk… memberimu keturunan,” Nares berkata dengan jujur.

​Juna membeku. Ia tahu ibunya akan melakukan itu.

​“Jangan dengarkan dia. Kontrak kita adalah yang utama,” kata Juna, tetapi suaranya tidak setegas biasanya.

​Juna naik ke tempat tidur, meletakkan bantal batas di tengah. Ia kembali membelakangi Nares.

​Nares berbaring, tetapi ia tidak bisa tidur. Ia memikirkan permintaan Bu Melati, dan ia memikirkan betapa kesepiannya Juna.

​Sekitar pukul sebelas malam, Nares berbalik menghadap Juna. Juna tertidur, tetapi tidur Juna selalu gelisah.

​Nares melihat bantal batas itu. Lalu, ia dengan hati-hati mengambil bantal itu dan meletakkannya di lantai.

​Ia beringsut mendekat ke punggung Juna. Ia tidak menyentuh. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa sentimeter, dipisahkan oleh udara.

​Nares hanya ingin Juna tahu bahwa ia ada.

​Juna, yang tidurnya sangat ringan, segera terbangun. Ia merasakan kehangatan yang tak terduga di punggungnya. Ia menyadari bantal batas itu hilang.

​Ia tidak bergerak. Ia tahu Nares berada di belakangnya. Ia bisa merasakan napas Nares.

​Juna merasakan benteng esnya mulai retak. Ia ingin marah, tetapi ia terlalu lelah dan terlalu nyaman. Kehangatan Nares bukanlah ancaman, tetapi tempat berlindung.

​Juna berbalik tiba-tiba, menghadap Nares. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Mata Juna yang gelap menatap Nares dengan intens.

​“Kau melanggar batas,” bisik Juna, suaranya serak.

​“Tidak ada bantal,” Nares membalas pelan. “Tapi aku tidak menyentuhmu. Aku hanya… ingin kau tahu kau tidak sendiri, Juna.”

​Juna menatapnya lama, mencari kebohongan di mata Nares. Ia hanya menemukan ketulusan yang polos.

​Juna mengulurkan tangan, dan dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyentuh pipi Nares. Sentuhan itu adalah sentuhan pertama yang benar-benar tanpa amarah, tanpa paksaan, tanpa strategi. Itu murni kebutuhan.

​“Kau berbahaya, Nareswari. Kau merobohkan apa yang kubangun,” bisik Juna.

​“Aku hanya mengisi kekosongan yang seharusnya ada, Juna,” kata Nares.

​Juna tidak berkata apa-apa lagi. Ia menarik Nares sedikit mendekat—hanya sedikit, sehingga dahi mereka bersentuhan. Ia tidak mencium Nares, ia hanya membiarkan kehangatan Nares memeluknya.

​“Aku hanya ingin tidur, Nares. Hanya tidur,” Juna bergumam.

​Nares mengangguk. Dan untuk pertama kalinya sejak pengkhianatan Laras, Arjuna Bhaskara tidur nyenyak, ditemani kehangatan istrinya yang ia dapatkan bukan melalui kontrak, melainkan melalui ketulusan dan kehadiran.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!