NovelToon NovelToon
Aku Dan Dia Yang Suka Ngehalu

Aku Dan Dia Yang Suka Ngehalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Di Persingkat Saja DPS

Mengisahkan tentang kisah kehidupan dari seorang pemuda biasa yang hidupnya lurus-lurus saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan cantik yang sekonyong-konyong mengigit lehernya kemudian mengaku sebagai vampir.
Sejak pertemuan pertama itu si pemuda menjadi terlibat dalam kehidupan si perempuan yang mana si perempuan ini memiliki penyakit yang membuat nya suka ngehalu.
Dapatkah si pemuda bertahan dari omong kosong di Perempuan yang tidak masuk akal itu?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya dari jurit malam

Kala itu aku yang sedang menindih dan memukuli salah satu hantu pun langsung terdiam dan menoleh ke arah samping.

Dari sana muncul seorang senior perempuan yang cantik.

"Hentikan! Mereka semua ini senior kamu!" Aku yang masih dalam posisi siap memulai langsung melirik.

Setelah di buka ternyata mereka adalah seniorku yang sekarang sudah bonyok.

"Ah, maaf. Aku kira setan beneran!" Boong sih. Sebenarnya aku tahu kalau mereka ini para senior dan aku melakukan ini hanya untuk memberi pelajaran.

Setelah itu aku minta maaf pada mereka semua dengan 'tulus dan penuh rasa bersalah'.

"Jelas sekali kamu bohong. Kamu sengaja mukulin kami tadi bukan!?" Ucap salah satu senior dengan raut wajah merah karena marah.

Selanjutnya aku membuat beberapa drama kecil di mana pada saat itu aku terlihat sangat meyakinkan kalau aku sangat menyesal.

Akhirnya mereka semua memaafkan aku dengan tulus.

Karena kami sudah menyelesaikan perjalanan kami jadi kami di izinkan kembali ke tenda dan berkumpul dengan yang sudah sampai duluan.

Tentu di sana di pisahkan antara yang lolos dan yang kabur di tengah jalan.

Ternyata yang terjadi pada kami terjadi juga pada orang lain dimana anggota kelompok mereka pada kabur dan yang kabur tentu saja di anggap gagal.

Dari satu kelompok hanya ada dua sampai tiga orang saja yang lolos dan itupun tidak semua kelompok.

Hanya segelintir kelompok saja yang bisa berhasil.

Oh ya.

Ngomong-ngomong perjalanan kami tadi memerlukan waktu hampir dua jam kurang sedikit jadi sekarang harusnya pukul dua dini hari.

Barulah setelah itu kami yang sudah lolos mendapatkan istirahat sedangkan yang kabur langsung kena hukuman dimana mereka semua di beri pertanyaan.

Mungkin pertanyaan tidak sesulit itu tapi karena mereka semua mengantuk jadi mereka tidak bisa mikir.

Parahnya yang tidak bisa menjawab tidak akan bisa tidur sampai pagi.

Jam lima pagi kemudian aku bangun karena di bangunkan oleh para senior yang mengajak sholat bersama.

Yah, setidaknya dari sekian banyak senior ada beberapa yang aku hormati karena mereka tidak membuat kami meninggalkan kewajiban.

Kalau bukan karena mereka ini waktu Maghrib pun kami tidak akan bisa sholat karena langsung di beri banyak sekali nasehat yang menurutku gak penting.

Aku bangun meskipun mata berat sekali rasanya karena selain begadang aku juga jalan sangat jauh hingga bahkan sampai jatuh segala.

Sakit sekali rasanya ini badan ketika aku bangun.

Beberapa waktu kemudian ketika pagi menjelang siang.

Tenda sudah kami bereskan dan di masukan ke dalam tempatnya karena kami bersiap untuk pulang.

Sambil menunggu pulang ada sedikit "nasehat yang sangat penting" dari para senior kami dan juga ada pengumuman pemenang dari jurit malam ini.

Entahlah hal semacam ini memang ada atau hanya akal-akalan para senior saja agar kami tidak kapok ikut acar yang begituan.

"Wah, ada hadiah juga. Gua penasaran apa yang akan kita dapat di sini!" Ucap anggotaku semalam yang kabur paling cepat.

"Kalau tahu begini gua bakal semangat buat ikut jurit malam lagi. Hehehe!" Timpal anggotaku yang lain yang ada di sekitarku.

'... Sepertinya rencana para senior ini berhasil. Aku yakin meksipun menjengkelkan tapi orang-orang ini akan ikut jurit malam lagi kalau di adakan.'

'Kalau aku sih ogak buat ikut lagi.'

Setelah beberapa saat kini giliran aku dan Ketua Kelas yang maju dan aku di beri gelar Si Mental Baja dan Si Pemberani.

Kalian tahu apa hadiah yang aku dapat setelah melakukan hal-hal yang melelahkan semalam?...

Itu adalah sebuah lencana...

Ya, cuma lencana yang di tempel di baju.

'... Serius. Aku gak akan ikut-ikutan lagi acara beginian kalau ada lagi.' Aku sama sekali tidak senang.

Tapi para senior ini malah terlihat senang dan bersorak untuk kami yang mana semua orang pun ikut-ikutan bersorak meksipun aku ragu mereka ikut senang juga.

Akhirnya setelah Dzuhur kami pulang ke rumah.

Setibanya aku di rumah aku langsung berbaring karena aku sangat kelelahan.

Bangun-bangun sudah sore dan aku nyaris saja kelewat waktu sholat ashar.

Segera aku bangun dan menunaikan kewajibanku mumpung masih ada sedikit waktu.

Setelah itu aku ingin keluar untuk cari beberapa bahan makanan yang mulai berkurang karena mumpung aku lagi senggang.

Tapi ketika pintu terbuka aku terkejut karena melihat sesuatu yang tidak aku sangka-sangka akan aku lihat ketika membuka pintu. "Hah!!?"

Tepat di hadapanku ada si Ketua Kelas yang berdiri tegak dengan jubah hitamnya dan tatapannya langsung tertuju padaku.

"Ah! Akhirnya kamu keluar!" Ia pun tersenyum padaku seakan merasa lega karena aku membuka pintu.

"Sejak kapan kamu ada di sini!?" Aku bertanya dengan matanya terbuka lebar karena sedikit tidak percaya melihat si Ketua Kelas.

Kemudian si Ketua Kelas mencubit dagunya sendiri dan berpikir untuk beberapa saat... "Mungkin dua puluh menit setelah kita pulang aku datang ke sini!"

Aku makin terbelalak mendengar perkataannya.

"Artinya kamu sudah menunggu di sini selama berjam-jam?!" Ia menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Kenapa kamu tidak memanggilku dan apa kamu berdiri di sini sejak kamu datang!?" Ia mengangguk lagi yang mana itu berarti ia sedari tadi berdiri.

"Yah, aku tidak di izinkan duduk jadi aku tidak duduk karena Ibuku bilang itu tidak sopan kalau bertamu tiba-tiba duduk!"

"Dan lagi sejak tadi aku memanggil kamu loh seperti ini...!" Ia meletakkan kedua tangannya di sekitar mulut seperti sedang mengeraskan suaranya.

"Dimas! Apa kamu di dalam!" Aku tersetak seketika karena mendengar Ketua Kelas yang memanggilku.

"Siapa yang akan dengar kalau kamu memanggil seseorang seperti itu? Aku kira kamu meletakkan tangan mengelilingi mulut untuk mengeraskan suara tapi ternyata malah di redam!"

"Oh, jadi kamu tidak dengar ya!?" Satu alis mataku seketika berkedut karenanya.

"Ya jelas gak dengerlah. Apalagi aku tadi tidur mana mungkin aku bisa dengar?!"

Ia kemudian meletakkan tangan di dada dan menghela nafas lega. "Aku kira kamu lagi marah dan tidak mau bicara padaku. Aku tadi takut sekali!"

Aku hanya bisa mengelus-elus wajah sambil mengelap nafas.

Ingin sekali aku mengumpat di sini tapi ketika aku menatap matanya yang polos itu aku jadi tidak jadi bicara apapun.

"Sudahlah. Jadi apa tujuan kamu datang ke sini!?"

Telunjuknya ia letakan di bawah bibir dengan kepala sedikit terangkat dan tatapan yang melihat ke atas seolah sedang mencoba mengingat suatu.

"Kayaknya... Gak ada yang penting deh, aku cuma mau berkunjung saja!" Jengkel sekali sebenarnya aku pada saat ini namun kenapa ya senyuman polosnya itu begitu tulus hingga perlahan-lahan aku malah tidak bisa marah.

Rasanya kayak bicara sama bocil yang gak ngerti apa-apa gitu.

"Apa kamu sama sekali tidak capek setelah semua yang terjadi semalam? Aku saja sampai kelelahan loh hingga tidur begitu pulas!"

"Enggak sih, aku gak terlalu cape karena kan semalam kita ada waktu tidur sedikit!"

'Perasaan orang ini beberapa hari yang lalu kayak orang lesu dan lemah sekali deh hingga jalan di pagi hari saja pucatnya kayak orang yang udah lari ratusan kilometer.'

'Tapi sekarang dia malah terlihat penuh semangat dan energi.'

"Kalau begitu kamu tunggu saja di sini karena aku mau belanja!" Aku pun mulai melangkah melewatinya yang ada di hadapanku.

"Aku ikut!... Eh!?" Ketika si Ketua Kelas melangkah ia malah langsung tersungkur dan beruntungnya aku bisa menangkap.

"... Kok kakiku mati rasa ya!?" Ia malah bertanya dengan wajah datar padaku.

Segera aku membantunya untuk duduk.

"Ya jelas lah. Semalam kita sudah jalan di jalan yang tidak bagus sangat lama dan ketika mau pulang kita juga berdiri lama sekali untuk pengumuman peserta terbaik dan sekarang kamu malah berdiri di sini selama berjam-jam!"

"Jelas kami kamu akan mati rasa lah kalau tidak di istirahatkan!"

"Ugh... Padahal aku ini vampir tapi kok bisa sakit kaki cuma karena berdiri? Aku lemah sekali!" Wajahnya langsung berubah menyedihkan.

'Kira-kira kapan ya orang ini akan sadar kalau semua itu hanya halusinasinya dan kapan dia akan sadar kalau dirinya itu manusia normal!?'

"Kamu tunggu saja aku di sini karena aku mau membeli bahan makanan dulu!" Aku pergi dengan cepat dan belanja sesuai dengan kebutuhan.

Tidak buang waktu lama setelah aku dapat apa yang aku perlukan dan bayar sesuai harga aku langsung pulang karena si Ketua Kelas masih menunggu di rumah.

Namun ketika aku tiba di rumah di sana malah ada orang-orang misterius yang berdiri di rumah dan bicara dengan si Ketua Kelas.

Si Ketua Kelas memasang wajah muram dan ia berbicara sambil membentak orang-orang yang tidak aku kenal itu.

"Kalau aku hilang dia lagi gak ada ya gak ada! Kalian ini tidak punya kuping ya!?" Bahkan aku yang masih ada jauh samar-samar bisa denger Ketua Kelas berteriak.

Segera setelah itu aku menghampiri mereka.

"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut di depan rumah saya!" Aku berkata dan pada saat itu juga mereka semua langsung menoleh ke arahku dengan tatapan yang mengintimidasi.

Wajah mereka semua sangar semua tapi aku tidak takut.

"Jadi elu Dimas?!" Aku langsung mengangguk. "Ya, saya Dimas. Jadi ada apa anda semua mencari saya?!" Dengan santai aku menjawab mereka.

"Denger ya. Bapak lu minjem duit pada bos kami tapi dia tidak mau mengembalikannya!" Alis mataku langsung terangkat dua-duanya.

"Lah, terus kenapa datang ke sini? Kalau mau managih utang atau semacamnya ya cari saja orangnya, ngapain malah datang ke sini!?" Aku melawati mereka dan meletakan barang-barangku di meja.

"Karena elu anaknya. Bapak lu itu pasti kabur karena gak mau membayar kembali uangnya jadi elu selaku anaknya harus membayar kembali uang itu. Kalau enggak!" Aku langsung membalas dengan tatapan balik mengintimidasi.

"Kalau enggak apa!?" Mereka semua seketika tersentak di tempat karena melihatku berani menjawab mereka.

"Kalau enggak gua hajar lu sampai babak belur!" Aku langsung menyeringai karena mendengar hal tersebut.

"Lu pikir gua takut?!" Bukanya sok berani atau sok jago tapi dalam masalah ini kalau aku jadi penakut mereka malah akan semakin mengintimidasi.

Satu-satunya pilihan agar mereka tidak mengangguku lagi di masa depan cuma satu yaitu membuat mereka berpikir kalau berurusan denganku itu tidak akan mudah.

"Kenapa malah diem? Ayo kita berantem kalau memang kalian berani. Keroyokan pun boleh karena itu sama saja!" Lengan baju aku naikkan dan aku melangkah melewati mereka untuk berdiri di halaman.

Di sana aku dengan berani menantang mereka.

"Kurang ajar!" Satu orang langsung maju dan berdiri di hadapanku dengan wajah yang merah padam.

Tatapannya begitu di penuhi dengan niat membunuh yang kuat seakan dia tidak akan segan-segan menghabisi aku.

"Ayo ini! Biar gua beri lu pelajaran!" Entah kenapa tapi teman-temannya terlihat tidak akan ikut campur dalam pertarungan ini.

Tapi yah, itu malah jadi hal yang menguntungkan untukku.

Tanpa banyak basa-basi lagi kami berdua pun mulai saling jual beli pukulan di mana baik aku dan kawanku sama-sama bisa menyerang dan terkena serangan.

Sakit itu pasti.

Tapi aku berusaha untuk tidak menghiraukannya agar mereka merasa terintimidasi dan berpikir kalau aku ini tanggung.

Setelah beberapa saat aku akhirnya bisa mengalahkan lawanku meskipun itu cukup menyakitkan.

Brugg!!

Orang itu langsung duduk dengan wajah yang menahan sakit.

Aku langsung berlutut di hadapannya kemudian menatapnya dengan tatapan dingin. "Denger. Orang itu suka judi dan mabuk-mabukan jadi jangan harap aku akan membayarkan hutang yang uangnya dia pakai untuk maksiat itu!"

"Jangan kira aku ini anak dungu yang akan takut dengan ancaman receh kalian ini. Kalau kalian menghajarku sampai mati setidaknya aku akan mengigit telinga kalian sampai putus!" Aku berkata kayaknya orang jahat agar mereka semua takut.

Dan sepertinya aktingku ini berhasil dimana wajah orang yang ada di hadapanku ini langsung pucat.

"... Ayo pergi!" Pimpinan mereka langsung jalan duluan karena merasa kalau menagih uang padaku itu tidak akan menguntungkan mereka.

Orang yang ada di hadapanku juga langsung pergi dengan panik hingga ia hampir saja tersungkur.

Setelah mereka semua pergi aku pun bergumam sambil tersenyum karena masalahnya sudah pergi. "Heh! Akhirnya orang-orang ini pergi juga!"

Karena tidak ada mereka lagi di sini jadi aku bisa mengeluh sekarang. "Ughh!...  Sakit sekali badanku ini!".

Aku langsung berjalan dengan tertatih-tatih ke kursi yang ada di dekat pintu sambil di bantu oleh Ketua Kelas.

"Kamu kok bisa kesakitan seperti ini sih hanya karena melawan orang-orang seperti mereka. Kamu ini kan orang kuat kenapa tadi hampir saja kalah!"

"Aku bukan orang kuat, aku ini orang biasa yang punya batasan!" Aku membalas dengan malas dan letih.

Itu karena pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akalnya tidak ada ada habisnya.

1
Naruto Uzumaki
Terima kasih telah menulis cerita yang menghibur, author.
Di Persingkat Saja DPS
Sabar ya, masih di periksa ulang
PetrolBomb – Họ sẽ tiễn bạn dưới ngọn lửa.
Loh kok belom update? Lanjutin dong thor, gak sabar nungguin kelanjutannya 😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!