Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Dia tidak memenuhi kriteria saya, Pa."
Suara Arkan memotong denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring porselen. Kalimat itu meluncur begitu mulus, tanpa beban, seolah dia baru saja menolak proposal bisnis dari vendor kelas dua, bukan menolak seorang perempuan yang duduk tepat di hadapannya.
Aku meletakkan sendok dengan tekanan ekstra hingga menimbulkan bunyi *klang* yang cukup nyaring. Sumpah demi apa pun, kalau tidak ada Ibu di sebelahku, pisau daging di tangan kananku ini sudah melesat membelah dasi sutra abu-abunya.
"Arkan, jaga bicaramu," tegur Om Surya. Nada suaranya memberat, membuat suasana meja makan yang semula hangat mendadak turun beberapa derajat.
"Saya hanya realistis, Pa," Arkan memperbaiki posisi duduknya. Ia menyandarkan punggung, melipat tangan di depan dada, lalu melemparkan tatapan mata yang menyipit lurus ke arahku. "Pernikahan bukan transaksi amatir. Kami tidak punya kecocokan dalam hal apa pun. Visi, misi, bahkan... standar profesionalisme."
*Standar profesionalisme?* Brengsek. Dia sedang menyindir kejadian di ruang rapat seminggu lalu. Pria ini sengaja mengungkit luka lama untuk memancing amarahku di depan orang tua kami.
"Saya setuju dengan Pak Arkan—maksud saya, Mas Arkan," ujarku cepat sebelum Ibu sempat menyela. Aku memaksakan sebuah senyuman manis, jenis senyuman yang biasa kugunakan saat menghadapi klien paling cerewet di agensi. "Pernikahan itu sakral. Saya rasa, karakter Mas Arkan yang terlalu... dinamis dan perfeksionis, tidak akan cocok dengan saya yang sederhana ini. Kita seperti minyak dan air. Tidak akan pernah menyatu."
"Minyak dan air kalau dikocok keras-keras di dalam satu wadah juga bisa menyatu jadi emulsi, Naura," sahut Tante Amelia dengan tawa kecil yang terdengar dipaksakan untuk mencairkan ketegangan.
"Tapi hasilnya tidak akan pernah murni, Tante. Rasanya pasti aneh," balasku, tetap mempertahankan senyum palsu yang mulai membuat otot pipiku kram.
Arkan mendengus pelan. Suara dengusan yang sangat tipis, tetapi cukup untuk membuat telingaku panas. "Lagipula, Pa, Naura ini sangat sibuk dengan kariernya sebagai Senior Copywriter di Mahardika Group. Perempuan mandiri seperti dia pasti tidak punya waktu untuk mengurus rumah tangga."
Darahku mendadak berdesir dingin. Jantungku bergedup dua kali lebih cepat.
Arkan sengaja melempar umpan beracun. Dia tahu persis aku belum menceritakan perihal pengunduran diriku pada Ibu. Sudut bibir pria itu terangkat seulas, membentuk kurva kemenangan yang sangat tipis saat menyadari perubahan ekspresi di wajahku. Dia sedang memegang tuas kendali, dan dia tahu itu.
"Oh, kalau masalah kerjaan, Naura pasti bisa bagi waktu, kan Sayang?" Ibu menoleh ke arahku, menepuk-nepuk punggung tanganku. "Atau kalau sudah menikah nanti, Naura bisa kurangi jam lembur. Iya, kan?"
Napas berembus berat di dadaku. Kulit telapak tanganku mendadak basah oleh keringat dingin. Aku menatap Ibu, mendapati gurat lelah yang teramat sangat di bawah matanya, tetapi binar harapan itu masih menyala di sana. Ibu begitu menginginkan pernikahan ini.
"Sebenarnya..." Arkan menggantung kalimatnya, mengetukkan jari telunjuknya di atas meja marmer. Matanya tidak lepas dari wajahku yang mulai memucat. "Ada satu hal yang perlu Papa dan Tante Danastri ketahui tentang pekerjaan Naura—"
Di bawah meja yang tertutup taplak beludru panjang, aku mengayunkan kaki kananku ke depan dengan sekuat tenaga.
*Bakk!*
Ujung stiletto tujuh sentimeter milikku mendarat telak di tulang kering Arkan.
Pria itu langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Rahangnya mengeras seketika. Buku-buku jarinya yang mencengkeram pinggiran meja memutih, menahan rasa sakit yang luar biasa akibat hantaman mendadak itu. Namun, luar biasanya, tidak ada satu pun jeritan yang keluar dari mulutnya. Dia tetap mempertahankan posisi duduk tegapnya, walau matanya kini menatapku dengan kilat amarah yang siap membakar apa saja.
"Ada apa, Arkan?" tanya Om Surya yang menyadari perubahan mendadak pada ekspresi putranya.
"Tidak apa-apa, Pa," suara Arkan terdengar sedikit lebih rendah dan serak dari biasanya. "Hanya... sedikit kram kaki."
"Makanya, Mas, kalau duduk itu posisinya yang benar. Jangan terlalu kaku seperti robot," ujarku dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, lengkap dengan kedipan mata yang sengaja dibuat-buat untuk menyulut emosinya lebih dalam.
Ibu tiba-tiba terbatuk kecil. Awalnya hanya batuk ringan, namun sedetik kemudian berubah menjadi batuk kering yang panjang. Tangan kirinya mencengkeram dada bagian kiri dengan kuat. Wajahnya yang semula merona karena riasan tipis, mendadak berubah pucat pasi serupa kertas koran bekas.
"Ibu!" Aku langsung menggeser kursiku mendekat, merangkul bahunya yang terasa makin kurus. "Ibu tidak apa-apa? Obatnya di mana?"
"Di... di tas," bisik Ibu dengan suara terputus-putus. Napasnya memburu, pendek-pendek dan berat.
Aku dengan panik menggeledah tas tangan Ibu, mengeluarkan botol kecil berisi obat pelebar pembuluh darah, dan bergegas menuangkan segelas air putih. Setelah Ibu meminum obatnya, kepalanya bersandar lemas di bahuku. Tubuhnya gemetar kecil.
"Surya... Amelia..." Suara Ibu terdengar sangat lirih, hampir tenggelam oleh deru pendingin ruangan. "Maafkan saya. Jantung tua ini memang sudah tidak bisa diajak kompromi. Saya... saya hanya punya satu keinginan sebelum masuk ruang operasi bulan depan. Saya ingin melihat Naura ada yang menjaga. Saya tidak mau meninggalkan dia sendirian di dunia ini tanpa sandaran."
Air mata Ibu menetes, membasahi kain kebayanya. Hati ini seperti diiris sembilu melihat kerapuhan wanita yang selama ini membesarkanku seorang diri.
Om Surya menghela napas panjang, wajahnya penuh rasa bersalah. Ia menatap Arkan dengan pandangan yang tidak lagi menuntut, melainkan memohon. "Arkan... Papa tidak pernah meminta apa pun darimu selama ini. Semua fasilitas, posisi CEO yang akan kamu terima bulan depan, semua itu tidak ada artinya kalau Papa harus melanggar janji pada almarhum Wijaya."
Arkan terdiam. Matanya yang semula tajam dan penuh permusuhan, mendadak meredup saat menatap Ibuku yang terkulai lemas. Ada kebimbangan yang berkelebat cepat di kornea matanya sebelum kembali tertutup oleh topeng dinginnya.
"Permisi," Arkan berdiri dari kursinya, merapikan kancing jasnya yang sempat terbuka. "Saya perlu ke toilet sebentar."
Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah lebar meninggalkan ruangan VIP.
Aku menatap Ibu yang mulai tenang setelah obatnya bekerja. Setelah memastikan Ibu beristirahat di bawah pengawasan Tante Amelia, aku meletakkan serbet di atas meja. "Saya susul Mas Arkan sebentar ya, Bu, Om. Mau bicara berdua."
Koridor hotel bintang lima itu sepi dan lengang, hanya menyisakan beberapa pelayan yang melintas dengan nampan perak. Aku menemukan Arkan sedang berdiri di area balkon terbuka di ujung koridor, bersandar pada pagar pembatas besi tempa sambil menatap gemerlap lampu jalanan Jakarta di bawah sana. Angin malam memainkan ujung rambutnya yang rapi.
Aku melangkah mendekat, sengaja menghentakkan tumit sepatuku agar dia tahu keberadaanku.
"Kamu sengaja memanfaatkan kondisi ibumu untuk menjebak saya, Naura?"
Pertanyaan itu terlontar bahkan sebelum aku sempat berdiri di sampingnya. Arkan tidak menoleh. Suaranya dingin, berbaur dengan deru angin malam yang menusuk kulit.
"Jaga mulutmu, Arkan Mahendra!" Aku berdiri di sebelahnya, mencengkeram pagar pembatas dengan emosi yang kembali menyala. "Kamu pikir aku sudi menikah dengan pria monster sepertimu? Kalau bukan karena kondisi jantung Ibu yang memburuk, aku lebih memilih menikah dengan tiang listrik daripada denganmu!"
Arkan memutar tubuhnya menghadapku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma parfum *ambergris*-nya yang pekat. "Lalu kenapa kamu tidak menolak dengan tegas di dalam tadi? Kenapa malah menendang kaki saya?"
"Karena kamu hampir membocorkan rahasia kalau aku sudah resign!" desisku dengan suara tertahan, tidak ingin memancing perhatian pelayan hotel. "Ibu tidak boleh stres sebelum operasinya bulan depan. Kalau dia tahu aku menganggur dan luntang-lantung mencari kerja karena dipecat secara tidak langsung oleh anaknya Om Surya, penyakitnya bisa makin parah!"
Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Oh, jadi sekarang kamu mengakui kalau kamu takut?"
"Aku tidak takut padamu. Aku peduli pada Ibuku. Sesuatu yang jelas tidak akan pernah kamu mengerti karena kamu tidak punya hati!"
Arkan terdiam sejenak. Matanya menatapku lurus, menyelidiki setiap inci ekspresi di wajahku untuk mencari kebohongan. Namun, yang ditemukannya hanya kilat kemarahan yang jujur dan kabut kecemasan yang mendalam tentang kondisi Ibuku.
"Kita sama-sama terjebak," ujar Arkan tiba-tiba. Suaranya melunak satu oktav, walau nadanya tetap sekaku papan tripleks.
Aku mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Papa mengancam akan membatalkan pelantikan saya sebagai CEO Mahardika Group bulan depan jika saya menolak pernikahan ini," Arkan mendengus sinis, membuang muka ke arah jalanan. "Dia akan mengalihkan seluruh saham utama kepada sepupu saya yang tidak kompeten itu. Saya sudah membangun fondasi perusahaan ini selama lima tahun terakhir dengan darah dan keringat. Saya tidak akan membiarkan kerja keras saya hancur hanya karena masalah perjodohan kuno ini."
Aku tertegun. Jadi, si Bos Iblis ini juga sedang berada di ujung tanduk. Dia terobsesi dengan kontrol dan kesuksesan karena ketakutan terbesarnya adalah kegagalan di mata ayahnya sendiri.
"Jadi..." Aku mencoba mencerna situasi. "Kamu butuh status pernikahan ini untuk mengamankan posisimu?"
"Dan kamu butuh pernikahan ini untuk ketenangan pikiran ibumu sebelum operasi," sambung Arkan cepat. Dia kembali menatapku, matanya kini memancarkan binar kalkulatif seorang pebisnis ulung. "Satu tahun, Naura. Kita lakukan pernikahan kontrak selama dua belas bulan. Setelah ibumu sembuh dan posisi saya di perusahaan aman, kita berpisah secara baik-baik dengan alasan ketidakcocokan."
Ide itu terdengar gila. Menikah dengan pria yang paling kubenci di seluruh dunia selama tiga ratus enam puluh lima hari? Rumahku akan berubah menjadi medan perang harian.
Namun, bayangan wajah pucat Ibu dan tangisnya di dalam ruangan tadi kembali berputar di otakku. Ini adalah satu-satunya jalan keluar medis dan psikologis terbaik untuk Ibu saat ini.
"Ada syaratnya," ujarku, melipat tangan di depan dada, menantang tatapan matanya. "Kita buat aturan main yang jelas."
"Sebutkan," tantang Arkan.
> * **Pertama:** Tidak boleh ikut campur urusan pribadi masing-masing. Kamu dengan duniamu, aku dengan duniaku.
> * **Kedua:** Dilarang keras melibatkan perasaan. Tidak boleh ada yang jatuh cinta.
> * **Ketiga:** Di depan keluarga besar, kita harus berakting menjadi pasangan yang saling mencintai tanpa cela sedikit pun.
> * **Keempat:** Dan ini yang paling penting... Jangan pernah bawa urusan kantor ke dalam rumah. Di rumah, kamu bukan bos saya lagi.
>
Arkan mendengarkan dengan saksama, lalu menyunggingkan senyum miring yang menyebalkan. "Setuju. Dan saya tambahkan satu aturan lagi: spreadsheet pembagian tugas rumah tangga dan pengeluaran akan saya buat besok pagi. Saya tidak toleran terhadap rumah yang berantakan."
Aku memutar bola mataku jengah. "Terserah kamu, Tuan Perfeksionis. Yang penting kita sepakat."
"Deal," Arkan mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke arahku.
Aku menatap telapak tangannya sejenak, ragu sebelum akhirnya menyambut uluran tangan itu. Jabat tangan kami terasa kencang, formal, dan sarat akan ketegangan aneh yang mendadak menggelitik telapak tanganku. Ini bukan kesepakatan cinta, ini adalah pakta pertahanan bersama antara dua musuh bebuyutan.
"Mari kembali ke dalam dan selesaikan sandiwara ini," ujar Arkan, langsung melepaskan jabat tangannya dan berbalik menuju ruangan VIP.
Saat kami melangkah kembali ke dalam ruangan, suasana hangat langsung menyambut kami. Ibu tampak sudah jauh lebih segar, sedang meminum teh hangatnya sambil mengobrol dengan Tante Amelia.
"Bagaimana?" Om Surya menatap kami berdua dengan pandangan penuh selidik saat kami duduk kembali di kursi masing-masing.
Arkan berdeham kecil, memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih santai, lalu tiba-tiba meraih tangan kiriku di atas meja. Jari-jarinya yang hangat menyusup di antara jemariku, menggenggamnya dengan erat. Sentuhan mendadak itu membuatku hampir melompat dari kursi karena terkejut, namun aku berhasil menahannya dan membalas genggamannya dengan remasan yang cukup kuat untuk menyalurkan rasa kesalku.
"Setelah berbicara berdua di luar tadi..." Arkan menoleh ke arahku, melemparkan pandangan mata yang dibuat selembut mungkin—walau aku tahu itu murni akting kelas Oscar. "Kami menyadari kalau kami berdua sebenarnya salah paham. Kami sepakat untuk menerima perjodohan ini, Pa, Tante."
"Benarkah?!" Wajah Ibu langsung berbinar cerah. Warna kemerahan alami kembali ke pipinya. "Ya Allah, Naura... kamu serius?"
"Iya, Bu," ujarku dengan senyum termanis yang bisa kukeluarkan. "Naura mau menikah dengan Mas Arkan."
Tante Amelia hampir menjerit gembira, langsung memeluk Ibuku erat. Om Surya tertawa lebar, mengangkat gelas kristalnya ke udara. "Luar biasa! Ini kabar terbaik bulan ini. Kita tidak perlu menunda-nunda lagi. Pernikahan akan dilaksanakan minggu depan!"
"Minggu depan?!" Pekikan itu lolos dari mulutku dan Arkan secara bersamaan. Kami berdua saling pandang dengan mata membelalak sempurna.
"Iya, lebih cepat lebih baik," ujar Om Surya mantap. "Sebelum jadwal operasi Danastri, semua dokumen dan pesta pernikahan privat harus sudah selesai. Papa sudah menyuruh sekretaris Papa untuk mengurus semuanya."
Arkan mencoba mengendalikan keterkejutannya, rahangnya mengetat. "Tapi Pa, persiapan pernikahan tidak bisa seminggu—"
"Semua sudah Papa siapkan, Arkan. Kamu tinggal datang dan membawa mas kawin," potong Om Surya mutlak, tidak menerima bantahan apa pun. Pria paruh baya itu kemudian menatapku dengan senyum penuh arti. "Dan karena Naura sekarang sudah... bebas dari tugas-tugas beratnya, ada satu hal lagi yang sudah kami putuskan."
Firasat burukku kembali berdering nyaring. "Hal apa, Om... eh, Papa?"
Om Surya melirik Arkan, lalu kembali menatapku. "Arkan sudah menceritakan semuanya pada Papa kemarin lusa, Naura. Tentang surat pengunduran dirimu yang kamu banting di meja rapat malam itu."
*Deg.*
Aku menoleh patah-patah ke arah Arkan. Pria brengsek itu ternyata sudah mengadukan kejadian malam itu pada ayahnya bahkan sebelum perjodohan ini dimulai! Dia sengaja membuatku terlihat buruk di depan mertuaku sendiri.
"Papa justru senang kamu keluar dari sana," lanjut Om Surya, membuatku ternganga. "Arkan itu kalau bekerja memang seperti kesurupan iblis. Kamu pasti tertekan selama tiga tahun ini. Jadi, untuk mempermudah persiapan pernikahan yang mendadak ini..."
Om Surya menjeda kalimatnya, menyesap kopinya perlahan sebelum menjatuhkan bom atom yang sukses menghancurkan sisa-sisa harapan ketenanganku.
"Mulai besok pagi, Naura harus sudah pindah ke apartemen pribadi Arkan di Senopati. Kalian harus tinggal bersama mulai besok untuk mengurus berkas pernikahan dan... belajar saling mengenal lebih dalam sebelum akad nikah dilaksanakan minggu depan."
Kamarku di Tebet yang damai. Kasur empukku yang nyaman. Semuanya menguap dalam hitungan detik.
Aku menatap Arkan, dan di saat yang sama, pria itu juga sedang menatapku dengan pandangan mata yang bergolak penuh badai. Hidup serumah dengan musuh bebuyutan dalam kondisi belum menikah resmi, mulai besok pagi?
Pintu neraka jilid dua baru saja terbuka lebar, dan aku terpaksa melangkah masuk ke dalamnya dengan sukarela.