Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Orang yang Sama
Mood Laras turun setelah mendengar nama Aditya. Tidak di rumah, tidak di tempat kerja semua membicarakan Aditya. Sungguh Laras awalnya tidak membenci pemilik nama itu, namun hidupnya terusik saat adiknya mulai merengek atas nama Aditya. Dan sekarang? Sahabatnya juga berurusan dengan si artis-artisan itu?
Laras hanya bisa memutar bola matanya, memandang ketiga gadis di depannya dengan jenuh. Kenapa sih orang-orang harus bersikap berlebihan jika sudah membahas Aditya? yang biasa saja gitu lohh. Toh mereka sama-sama manusia, sama-sama makan nasi. Laras tidak habis pikir dibuatnya.
"Nanti sore kamu temani aku mengantar pesanan babang Aditya." Rani kembali membungkus mawar dengan plastik khusus.
Laras memutar bola matanya, jijik dengan sebutan babang yang dilontarkan Rani.
"Kenapa? cemburu?" Seakan mengerti dengan mood temannya yang sedang buruk, Rani melirik Laras dengan senyum menyebalkan. Kembali menuang bensin pada api. Senang sekali membuat Laras sebal.
"Kenapa harus cemburu, kenal saja tidak." Laras membuang muka, gadis itu kemudian mengambil beberapa tangkai mawar dan peralatan untuk membuat buket.
"Ya ya ya, terserah kamu saja. Yang penting sekarang bantuin aku siapin bunga mawarnya," ucap Rani sembari mengambil ponsel untuk memutar playlist musik kesukaannya.
Sedangkan dua karyawannya meminta ijin untuk melanjutkan tugas di bawah sekaligus menjaga toko.
Hari itu mereka terlihat menikmati momen menjadi tukang bunga. Pesanan super banyak dan konsumen yang datang silih berganti membuat toko menjadi tidak sepi. Tidak seperti biasanya yang mirip seperti kuburan. Lagi-lagi Rani berceloteh jika rejeki nomplok yang diterimanya hari ini adalah efek dari Aditya. Tanpa memikirkan rugi untung, gadis itu menyiapkan bonus beberapa tangkai, juga satu buket khusus yang dibuat dengan penuh cinta.
"Love you Aditya, tidak sabar untuk bertemu denganmu." Rani memeluk buket khusus buatannya dengan hati-hati.
Di depannya, Laras langsung melempar buket terakhir buatannya ke wajah Rani. ."Makan tuh Aditya, mending juga tidur," sela Laras. Dirinya beranjak menuju sofa untuk membaringkan tubuh yang lelah setelah 2 jam berkutat dengan bunga mawar.
"Tiada hal yang lebih indah selain tidur," lanjutnya sembari menutup mata.
"Ini masih jam kerja, tolong jangan makan gaji buta yaa?" Rani menegur, namun dirinya juga ikut rebahan.
Beberapa detik berlalu, belum sempat berselancar di dunia mimpi. Dering ponsel mengagetkan keduanya. Sebuah panggilan tertuju pada ponsel Laras, dari adiknya tercinta. Rani kembali melanjutkan tidurnya, sedangkan Laras mengangkat panggilan dengan mata terpejam.
"Aku sudah dapat tiketnya hahaha." tawa penuh kepuasan itu membuat Laras mendadak sebal. Mendengar nada dengan penuh ceria serta semangat yang membara, membuat Laras tidak percaya dengan keadaan adiknya yang sedang sakit.
"Ini pasti kerjaan ayah," batinnya.
"Jangan lupa nanti habis magrib bersiap-siap. Tidak perlu make-up cantik. Cukup mandi agar wangi saja. Aku tidak ingin Aditya tahu jika aku memiliki kakak yang super duper jorok dan bau." Dari sebrang telepon, Rara kembali meneruskan kalimatnya. Tidak peduli dengan respon Laras, gadis cilik itu langsung menutup panggilan telepon.
"Kenapa Ayah begitu memanjakan Rara? bahkan melebihi diriku. Sial, anak itu sangat beruntung." Laras memaki, jengkel sekaligus iri.
Setelah memasang alarm, gadis itu meneruskan tidurnya.
Di lain tempat, sosok Aditya yang merupakan penyanyi pendatang baru itu sedang duduk di pojok ballroom sebuah hotel bintang empat. Wajahnya berseri seperti tidak ada tanggungan hutang. Setelah 2 tahun merintis karir di dunia hiburan, mimpinya untuk mengadakan fans meet akhirnya tersampaikan.
"Ganteng, kaya, terkenal. Siapa yang tidak kagum dengan Aditya?" cowok itu membanggakan dirinya sendiri.
Tidak peduli dengan salah satu akun di dunia virtual yang saat ini sedang menggiring opini buruk tentangnya. Berita fans meet di hotel lumayan mewah yang katanya wujud dari kesombongan. Acara tertutup dengan tarif yang lumayan mahal di gosipkan hanya kedok untuk memperkaya diri serta menyalurkan hasrat pada gadis-gadis muda si penggemar beratnya.
Yeah, semua sudah tau jika Aditya playboy cap kakap. Selain itu warga net juga sepakat jika dirinya narsistik! Tapi anehnya, masih saja banyak yang menyukainya.
Aditya tahu, tapi dirinya memilih untuk tidak peduli. Yang penting dirinya senang. Itu sudah lebih dari cukup.
"Heran, cewek-cewek jaman sekarang seleranya begitu rendah." Tommy, asisten Aditya membaca salah satu komentar di akun gosip. Cowok yang lebih tua 3 tahun dari Aditya itu rupanya juga jengah dengan si penyanyi. Namun dirinya tidak bisa pergi karena hanya dari Aditya dirinya mendapatkan pekerjaan yang mudah.
Aditya hanya tertawa mendengar kalimat itu. "Biarkan saja, semakin tinggi pohon anginnya juga semakin kencang." ucapnya sebagai bentuk pembelaan diri.
Tommy hanya geleng-geleng kepala. "Lagi pula kenapa enggak sewa gedung serbaguna aja sih, Dit? baru merintis karir tapi gaya Lo sok iye banget."
"Suka-suka gue lah, duit-duit gue." Aditya melirik asistennya sejenak, kemudian berlanjut main ponsel.
"Duit Lo apa duit orang tua?" sekarang giliran Tommy yang melirik, cowok itu nampaknya sukses membuat Aditya jatuh. Namun bukan Aditya namanya jika tidak pandai bersilat lidah.
"Sama aja, duit orang tua bakal jadi duit gue nantinya."
"Brengsek emang." Tommy beranjak dari duduknya memilih pergi untuk menjaga kewarasan. Sedangkan Aditya terkekeh.
"Mending Lo urusin tuh kesiapan fans meet gue. Awas aja kalo nanti ada masalah. Lo yang harus tanggung jawab," seru Aditya.
Dari kejauhan, Tommy hanya mengangkat tangannya sebagai respon jika dirinya mendengar. Tanpa diberi tahu, cowok itu juga mengerti mana yang menjadi tugas-tugasnya. Tidak mungkin dirinya berkerja tapi malah menjadi beban.
Sepeninggal Tommy, Aditya menyimpan ponselnya. Cowok itu menuju ke kamar tempatnya menginap untuk bersiap-siap karena acara tidak kurang dari 3 jam lagi akan dimulai. Walaupun cowok, begitu banyak ritual yang harus dilakukan untuk acara perdananya ini. Aditya tidak ingin tampil mengecewakan para fans. Dirinya harus perfect dan membuat kaum hawa semakin tergila-gila padanya.
Memang dasarnya Aditya itu haus validasi, tidak heran semua akan dilakukan untuk mendapatnya.
Ponsel Aditya berdering saat hendak mandi. Saat mengetahui jika dirinya mendapat panggilan dari ibunya, cowok itu berdecak sebal.
"Apalagiiii?" tanyanya to the point.
"Ibu pusing ngeliat berita buruk tentangmu Dit. Kamu itu di suruh belajar yang bener biar bisa nerusin bisnis Ayah malah milih jadi artis." dari seberang telepon, suara Ibu Aditya terdengar kesal. Wanita paruh baya itu sudah muak dengan kelakuan anaknya yang susah diatur.
"Udah Adit bilangin Ibu enggak usah main sosial media, mending ibu urusin tuh bisnis biar enggak gulung tikar," ucapan Aditya sama sekali tidak ada sopan santunnya.
"Kamu di kasih pengertian sama orang tua malah ngeyel."
"Terimakasih karena udah perhatian Bu. Love you, Adit mau mandi dulu." Tanpa menunggu respon dari Ibunya, Aditya langsung memutuskan sambungan.