Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 21
Alam Atas – Perbatasan Sektor Utara (Tembok Ratapan).
Lautan bintang di Tembok Ratapan biasanya memancarkan cahaya perak yang damai, tempat di mana energi murni Chaos dan Qi spiritual saling berpadu. Namun hari ini, keheningan abadi itu hancur lebur.
Suara robekan kanvas raksasa bergema ke seluruh penjuru angkasa luar. Batas dimensi yang memisahkan Alam Atas dan Semesta Sembilan Nether koyak sepanjang jutaan Zhang. Dari balik celah raksasa yang memancarkan warna ungu busuk itu, hawa kematian yang membekukan Inti Dao berhembus keluar, memadamkan ribuan bintang kecil di sekitarnya.
Matahari di Alam Atas sempat meredup sejenak, tertutup oleh bayangan armada invasi terbesar yang pernah disaksikan oleh sejarah kultivasi.
Kapal Kematian Nether.
Bukan hanya satu atau dua, melainkan sepuluh ribu kapal perang raksasa melayang keluar dari celah dimensi. Kapal-kapal itu tidak terbuat dari kayu spiritual atau besi bintang, melainkan dipahat dari tulang belulang para Dewa Kuno yang telah gugur. Layar mereka ditenun dari kulit iblis, berkibar tertiup angin karma yang mematikan.
Di geladak kapal terbesar yang berada di pusat armada, berdiri Tujuh Penguasa Iblis. Aura mereka setara dengan puncak tahap Dewa Sejati (True God), bahkan beberapa menyentuh ambang Raja Dewa (God King).
Di atas tiang utama kapal tersebut, bertengger Feng Jiu sang Gadis Phoenix Hitam, sayap apinya membakar kehampaan. Di haluan kapal, naga hitam raksasa berekor sembilan, Mo Yuan, melingkarkan tubuhnya yang diselimuti sisik beracun.
"Akhirnya..." Mo Yuan mengaum, suaranya menciptakan gelombang kejut spasial. "Setelah sekian lama terkurung di Sembilan Nether, kita akan mengubah Alam Atas ini menjadi padang rumput perburuan kita!"
Namun, armada iblis itu tidak bisa melaju lebih jauh.
Tepat di hadapan pusaran dimensi, berdiri sebuah barisan pertahanan yang tidak kalah agung. Jutaan prajurit elit Alam Atas bersiaga di atas awan emas, tombak dan pedang pusaka mereka memantulkan cahaya tekad yang tak tergoyahkan.
Dan di garis paling depan, melayang tiga entitas yang menjadi pilar langit Alam Atas.
Lei Shan, sang Dewa Petir, mengenakan zirah perang bermotif badai. Trisula petir di tangannya memercikkan kilat Kesengsaraan Surgawi.
Wuming, Si Pedang Gila, duduk bersila di atas pedang hitamnya yang melayang, sebotol arak fana di tangan kirinya dan senyum psikopat di bibirnya.
Ao Zun, Raja Naga Emas, berdiri tegak dengan jubah kaisar bersulam sembilan naga, memancarkan dominasi mutlak ras Naga Sejati.
Tiga Jenderal Tertinggi Kekaisaran Asura.
Mereka bertiga merasakan sisa-sisa kehangatan angin musim semi di dalam Dantian mereka berkah dari Shi Hao yang menyembuhkan luka mereka pada bentrokan sebelumnya. Niat bertarung mereka kini berada di puncak kesempurnaan.
"Tikus-tikus kotor ini akhirnya keluar dari selokan mereka," Lei Shan tertawa keras, suaranya menggelegar mengalahkan gemuruh armada musuh. "Bos menyuruh kita melakukan pemanasan. Siapa yang mau mengambil naga cacing berwarna hitam di depan sana?"
Ao Zun melangkah maju. Sepasang mata naga emasnya menatap tajam ke arah Mo Yuan. Tekanan hierarki ras naga meledak, menekan garis keturunan naga iblis di hadapannya.
"Naga Hitam yang membuang harga dirinya demi menjadi budak Shen Yu," suara Ao Zun sedingin es glasial abadi. "Sebagai Raja Naga Sejati, aku akan mencabut sisikmu satu per satu dan membersihkan namamu dari silsilah ras kita."
Mo Yuan mendesis marah, bisa ungu menetes dari taringnya dan melelehkan ruang hampa. "Naga Emas Sombong! Darah sucimu akan menjadi anggur perayaan bagi Tuan Shen Yu! Tiga serangga berani menghalangi Armada Kematian? Matilah!"
BLAAAAAAR!
Tujuh Penguasa Iblis melesat dari kapal tulang, memimpin jutaan prajurit Nether merangsek maju.
Wuming menenggak habis araknya, lalu menghancurkan botol tanah liat itu ke keningnya sendiri. Matanya seketika berubah menjadi merah darah penuh kegilaan murni.
"HAHAHAHA! MENARILAH BERSAMAKU!"
Wuming mencabut Pedang Hitam Patah Penjagal Dewa. Tubuhnya terpecah menjadi puluhan ribu bayangan pedang ilusi di tahap Penyatuan Kehampaan (Void Amalgamation) puncak. Dalam satu tarikan napas, ratusan ribu prajurit garis depan Nether terpotong menjadi kabut darah tanpa sempat berteriak.
"Tahan si Gila itu!" teriak Feng Jiu. Sang Phoenix Hitam menukik turun, melepaskan badai Api Teratai Nether yang menyapu medan pertempuran, mencoba membakar lautan bayangan pedang Wuming.
Di sisi lain, Lei Shan mengangkat trisulanya ke arah langit kosmik.
"Teknik Surga: Penjara Petir Sembilan Kesengsaraan!"
Jutaan pilar petir emas menyambar dari ketiadaan, menghantam armada kapal tulang. Ledakan demi ledakan mengguncang alam semesta. Formasi pertahanan Nether hancur, dan dua Penguasa Iblis langsung dikepung oleh badai petir sang jenderal.
Ao Zun tidak menggunakan Teknik jarak jauh. Tubuh manusianya hancur berkeping-keping, digantikan oleh wujud aslinya seekor Naga Emas berlengan lima yang panjangnya menutupi jutaan mil bintang.
Ao Zun menerjang lurus, dan bertabrakan secara brutal dengan Mo Yuan. Dua naga raksasa, satu emas memancarkan cahaya kuat, satu hitam memancarkan racun kematian, saling gigit dan cakar di tengah ruang hampa, merobek hukum kaidah setiap kali cakar mereka bertemu.
Meskipun Tiga Jenderal bertarung dengan kegagahan yang tiada tara, jumlah musuh terlalu banyak. Jutaan prajurit iblis tidak ada habisnya, mengalir seperti wabah belalang. Perlahan tapi pasti, garis pertahanan Alam Atas mulai terdorong mundur.
Terlebih lagi, di pusat pusaran dimensi, mata raksasa Dewa Iblis Shen Yu masih mengamati dalam diam, menunggu saat yang tepat untuk turun.
Dunia Fana – Teras Gubuk Bambu, Desa Angin Lembut.
Di tengah kiamat yang sedang mengguncang langit tertinggi, suasana di desa fana itu berbanding terbalik sepenuhnya. Matahari sore bersinar hangat, mewarnai awan dengan corak jingga dan ungu muda.
Di teras gubuknya, Shi Hao sedang duduk santai di atas kursi kayu goyang. Tongkat bambunya disandarkan ke dinding. Di tangannya, dia memegang sepotong giok putih seukuran telapak tangan dan pisau ukir kecil.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh perasaan, Shi Hao sedang memahat sebuah jepit rambut bermotif teratai untuk istrinya. Setiap pahatan kecilnya mengandung Mortal Dao (Jalan Kemanusiaan) yang begitu murni, sehingga giok fana itu diam-diam bertransformasi menjadi Artefak Surgawi tiada tara.
Gu Qing Yi duduk di bangku kecil di sampingnya, sedang memilih kacang kedelai untuk dibuat susu esok pagi. Namun, tatapan Nyonya Raja Dewa itu tidak fokus pada kacangnya. Indra spiritualnya menembus miliaran lapisan langit, menyaksikan Tembok Ratapan yang mulai retak dan ketiga jenderal suaminya yang sedang dikepung darah.
"Suamiku," panggil Qing Yi lembut, menghentikan gerakan tangannya memilah kedelai. "Armada Sembilan Nether telah menembus garis pertahanan luar. Lei Shan dan Wuming menahan tiga Penguasa Iblis sekaligus, sedangkan Ao Zun mulai terdesak oleh racun Mo Yuan."
Shi Hao tidak menghentikan pisau ukirnya. Dia meniup sisa debu giok dari pahatannya dengan santai.
"Angin dari utara memang sedang kencang, Istriku," jawab Shi Hao tersenyum tipis. "Babi-babi hutan liar itu merusak pagar pekarangan kita."
"Apakah kau tidak akan pergi sekarang?" tanya Qing Yi. Meski ia tahu suaminya memiliki kekuatan untuk mengakhiri perang itu dalam sekejap, ia sedikit khawatir melihat para bawahan setia suaminya terluka.
Shi Hao mengangkat jepit rambut giok setengah jadi itu, menyejajarkannya dengan cahaya matahari sore. Kain putih di mata kirinya berkibar pelan.
"Para penjaga halaman butuh melatih cakar mereka, Qing Yi. Jika aku selalu memukul babi hutan itu setiap kali mereka datang, para jenderalku akan menjadi tumpul dan malas, persis seperti pedang yang berkarat di dalam sarungnya."
Shi Hao meletakkan kembali jepit rambut itu ke pangkuannya, lalu tangannya yang kasar meraba udara kosong di sisinya.
WUSSS...
Ruang fana di sekitar tangannya bergetar tanpa suara. Di dalam Dantian-nya, Tombak Asura Kemanusiaan berdenyut, merespons panggilan sang Kaisar yang perlahan mulai bangkit dari tidur siangnya.
"Biarkan anjing-anjing penjaga itu menggigit lebih lama," kata Shi Hao kalem, namun kali ini ada getaran Dao Pembunuh yang tersembunyi sangat dalam di balik suaranya. "Aku harus menyelesaikan pahatan jepit rambut ini untukmu dulu. Setelah itu..."
Shi Hao menoleh ke arah utara. Meskipun matanya buta sebelah, tatapannya seolah menembus dada Dewa Iblis Shen Yu di ujung semesta.
"...Setelah itu, aku akan pergi ke sana, mematahkan tulang-tulang kapal mereka, dan menjadikannya kayu bakar untuk dapurmu besok pagi."