NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Sandiwara Sang Penguasa

Hujan badai masih mengamuk di langit Jakarta. Di depan kedai ramen yang temaram, waktu seakan berhenti berputar bagi Alana. Napas gadis itu tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak ngeri menatap pria paruh baya berjas hitam yang baru saja turun dari mobil SUV mewah dan menunduk hormat kepada pria yang baru disewanya seharga lima juta rupiah.

​"Tuan Besar Rex..." Panggilan itu menggema di telinga Alana, mengalahkan suara rintik hujan. Tubuh Alana gemetar hebat. Pikirannya berkecamuk. Siapa pria bernama Xander ini? Apakah dia bos mafia? Atau lebih buruk lagi... apakah dia adalah bos dari Juragan Bahar yang diutus untuk menjemputnya?

​Namun, sebelum kepanikan Alana mengambil alih kesadarannya, sepasang mata kelam sehitam obsidian milik Xander menatap tajam ke arah pria berjas hitam itu. Itu bukan tatapan seorang bos yang menyapa bawahannya, melainkan tatapan mematikan seorang predator yang siap menguliti mangsanya hidup-hidup.

​Pria berjas hitam itu—Dante, tangan kanan Xander—mendadak membeku. Ia menangkap kilat kemarahan di mata bosnya. Dalam hitungan detik, Dante menyadari kesalahan fatalnya. Ia telah membongkar identitas sang penguasa dunia bawah di depan seorang gadis biasa!

​Tanpa membuang waktu sedetik pun, Xander segera mengubah raut wajahnya. Aura membunuhnya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi panik yang dibuat-buat dengan sangat sempurna.

​Sang triliuner itu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Alana dengan erat. "Gawat! Itu mereka! Lari, Alana!" teriak Xander dengan nada mendesak.

​"Hah? A-apa?!" Alana tergagap, pikirannya masih belum bisa mencerna situasi.

​"Lari!"

​Xander menarik tubuh mungil Alana dan membawanya berlari menerobos derasnya hujan malam, meninggalkan Dante dan anak buahnya yang kebingungan di depan kedai. Di bawah guyuran hujan, Xander diam-diam mengangkat sebelah tangannya ke belakang punggung, memberikan isyarat rahasia berupa kepalan tangan. Isyarat mutlak dunia bawah yang berarti: Jangan ikuti aku, atau kalian mati.

​Melihat isyarat itu, Dante dan puluhan anak buahnya yang bersenjata lengkap hanya bisa berdiri mematung di tengah hujan, membiarkan bos besar mereka berlari menjauh bersama seorang gadis asing berkemeja lusuh.

​Sementara itu, Alana terus berlari sekuat tenaga mengikuti tarikan tangan Xander. Mereka berbelok ke sebuah gang sempit yang gelap dan becek demi menghindari kejaran. Dada Alana naik turun dengan cepat, napasnya tersengal-sengal.

​Setelah merasa cukup jauh, Xander menghentikan langkah mereka di balik dinding sebuah pabrik tua yang terbengkalai. Keduanya bersandar di dinding bata yang lembap, sama-sama basah kuyup.

​"Si-siapa mereka sebenarnya, Xander?!" tanya Alana dengan napas memburu. Matanya menatap Xander dengan penuh selidik dan ketakutan. "Kenapa pria berseragam itu memanggilmu Tuan Besar?! Jangan berbohong padaku!"

​Xander membalas tatapan gadis itu. Otak jeniusnya yang terbiasa memanipulasi pasar saham global kini bekerja kilat untuk merangkai sebuah kebohongan kecil demi menyelamatkan penyamarannya.

​"Mereka... mereka adalah lintah darat dari sindikat kasino bawah tanah," jawab Xander dengan nada getir yang terdengar sangat meyakinkan. "Aku berhutang banyak pada bos mereka karena bisnisku hancur ditipu rekan kerjaku. Panggilan 'Tuan Besar' itu... itu adalah panggilan ejekan beringas mereka sebelum mereka mematahkan kaki orang yang berhutang."

​Mendengar kata 'lintah darat' dan 'kasino', raut ketakutan di wajah Alana perlahan berubah menjadi keterkejutan yang diwarnai empati. Trauma yang ia alami akibat hutang judi ibu tirinya membuatnya sangat paham betapa kejamnya para rentenir.

​Jadi, pria ini juga korban? batin Alana. Pantas saja pria setampan dan segagah ini memakai kemeja kusut dan bersembunyi di kedai pinggiran. Dia pasti sedang diburu mati-matian, sama sepertinya. Kesalahpahaman itu tertanam sempurna di benak Alana.

​"Maafkan aku... aku tidak tahu kalau masalahmu seberat itu," bisik Alana, suaranya melembut. Ia menunduk menatap sepatu kanvasnya yang basah. "Sepertinya kita berdua sama-sama orang buangan yang sedang sial malam ini."

​Xander menatap puncak kepala gadis di depannya. Tiba-tiba saja, ada perasaan geli sekaligus aneh yang merayap di dadanya. Seumur hidupnya, semua orang menatapnya dengan rasa hormat, takut, atau berniat membunuhnya. Belum pernah ada yang menatapnya dengan tatapan... kasihan.

​"Ayo," Alana tiba-tiba meraih tangan Xander, kali ini dialah yang memimpin langkah. Genggaman tangan gadis itu terasa dingin, namun entah mengapa menghangatkan sesuatu di dalam diri sang bos mafia. "Apartemenku hanya berjarak dua blok dari sini. Mereka tidak akan bisa menemukanmu di sana. Kau aman bersamaku."

​Aman bersamamu? Xander nyaris tertawa. Jika musuh-musuhnya mendengar ini, mereka pasti akan tertawa darah. Pemimpin kartel pembunuh paling ditakuti di Asia kini berlindung di balik punggung seorang gadis desainer perhiasan yang bahkan gemetar saat mendengar suara petir.

​Setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah gedung apartemen tua yang catnya sudah mengelupas di banyak tempat. Alana membuka pintu kayu kamarnya yang berderit nyaring.

​"Masuklah," ucap Alana sambil menyalakan saklar lampu yang berkedip beberapa kali sebelum menyala redup.

​Xander melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam ruangan itu. Sepasang matanya yang tajam mengedarkan pandangan. Ruangan ini tidak lebih besar dari kamar mandi tamu di penthouse mewahnya. Ada sebuah ranjang tunggal berukuran kecil, sebuah lemari plastik, dapur mini yang menyatu dengan ruang tengah, dan sebuah sofa tua berwarna cokelat yang busanya sudah sedikit keluar. Aroma pengharum ruangan beraroma lavender murahan tercium di udara.

​Meski sempit dan kumuh, tempat ini tertata dengan sangat rapi dan bersih.

​Alana berjalan ke arah lemari, mengambil sebuah handuk kecil yang sudah sedikit memudar warnanya, lalu melemparkannya ke arah Xander. Pria itu menangkapnya dengan mudah hanya menggunakan satu tangan.

​"Keringkan rambutmu sebelum kau masuk angin," perintah Alana seraya mengambil handuk lain untuk dirinya sendiri. "Mulai malam ini, sesuai kesepakatan, kau tidur di sofa itu. Jangan pernah berpikir untuk naik ke kasurku, atau kupotong lehermu. Mengerti?"

​Ancaman lucu dari bibir pucat itu membuat sudut bibir Xander berkedut, menahan senyum tipis. "Sesuai perintahmu, Istriku."

​Alana tersipu malu mendengar panggilan itu, namun ia buru-buru memalingkan wajahnya. "Aku akan membuatkan teh hangat untuk—"

​DOR! DOR! DOR!

​Kalimat Alana terputus secara brutal oleh suara gedoran keras yang menghantam pintu apartemennya. Pintu kayu tipis itu bergetar hebat, seolah akan jebol kapan saja.

​"BUKA PINTUNYA, ALANA! IBU TAHU KAU ADA DI DALAM!"

​Suara lengkingan tajam seorang wanita terdengar dari luar, disusul oleh suara tawa parau beberapa pria dewasa.

​"Dobrak saja, Nyonya Melinda! Juragan Bahar sudah tidak sabar menunggu calon istri kecilnya di hotel malam ini!" teriak seorang pria bersuara serak dari balik pintu.

​Jantung Alana seakan jatuh ke dasar perutnya. Wajahnya seketika seputih kertas. Ibu tirinya dan preman suruhan Juragan Bahar telah menemukannya!

​Alana mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak meja dapur. Tubuhnya bergetar hebat. Tamat sudah riwayatnya.

​Di tengah kepanikan yang mencekik itu, Alana lupa bahwa ia tidak lagi sendirian. Di sudut ruangan, Xander Leonidas berdiri membelakangi pintu. Tangan pria itu perlahan meletakkan handuk di atas meja. Mata kelam yang tadinya terlihat santai itu kini kembali berubah menjadi segelap dasar jurang neraka.

​Sang iblis telah terbangun di dalam ruang tamu sempit ini.

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!