Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Malam mulai turun perlahan di salah satu hotel mewah milik Emran Richard. Hotel eksklusif itu berdiri megah di pusat kota dengan cahaya keemasan yang memantul indah dari seluruh dinding kacanya. Tidak semua orang bisa masuk ke tempat tersebut.
Hanya tamu khusus, pebisnis kelas atas, dan orang-orang penting yang mendapat akses ke sana. Malam ini, seluruh ballroom utama hotel dipersiapkan khusus untuk pesta ulang tahun Darto Erlangga.
Bunga mawar putih dan merah menghiasi hampir setiap sudut ruangan. Lampu kristal raksasa menggantung indah di langit-langit ballroom. Musik live orchestra terdengar lembut dan mewah.
Sementara, para tamu penting mulai berdatangan dengan pakaian elegan mereka.
Di lantai paling atas hotel, sebuah presidential suite khusus dipenuhi para penata rias ternama yang sejak tadi sibuk bekerja. Kotak make up mahal terbuka di mana-mana.
Gaun-gaun mewah tergantung rapi di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota malam. Seluruh orang di ruangan itu perlahan terdiam. Tatapan mereka tertuju pada satu sosok wanita yang duduk di depan cermin besar, Annisa.
Gaun malam berwarna putih keemasan yang dikenakannya terlihat begitu berkilau lembut. Detail bordiran halus khas edisi terbatas luar negeri membuatnya tampak sangat elegan.
Rambut panjangnya ditata anggun. Sementara make up tipis di wajahnya justru membuat kecantikan alami Annisa semakin terlihat sempurna. Salah satu penata rias sampai menatap pantulan Annisa di cermin cukup lama.
“Cantik sekali...” gumamnya pelan.
Yang lain langsung mengangguk setuju. Baru kali ini Emran Richard memanggil mereka secara pribadi hanya untuk merias seorang wanita. Bahkan, salah satu stylist sampai berbisik kecil,
“Sekarang aku paham kenapa Tuan Emran memilih sendiri gaun ini.”
“Dia cocok sekali mendampinginya.”
Wajah Annisa langsung memanas mendengar ucapan itu. Tangannya perlahan menggenggam ujung gaun di pangkuannya. Tidak ada yang memandangnya dengan kagum seperti ini. Tidak ada yang membuatnya merasa berharga. Tepat saat suasana masih dipenuhi kekaguman pintu suite diketuk pelan.
Salah satu pelayan buru-buru membukanya. Suasana ruangan langsung berubah hening saat sosok Emran Richard masuk ke dalam suite dengan jas hitam elegan yang membuat auranya terlihat semakin berkelas dan dingin.
Emran benar-benar kehilangan kata-kata sesaat. Ruangan presidential suite itu mendadak terasa sunyi. Semua penata rias perlahan mundur memberi ruang ketika Emran Richard masuk ke dalam. Namun, pria itu tidak langsung berbicara. Langkahnya justru terhenti begitu melihat Annisa berdiri perlahan dari depan cermin. Tatapan Emran benar-benar terpaku. Gaun putih keemasan itu membalut tubuh Annisa dengan begitu sempurna.
Kilauan lembut kainnya membuat wanita itu terlihat seperti cahaya hangat di tengah ruangan.
Mata yang selama beberapa hari terakhir selalu dipenuhi kesedihan itu kini terlihat jauh lebih hidup. Napas Emran bahkan sempat tertahan kecil. Sementara Annisa mulai gugup karena pria itu hanya diam menatapnya.
“A-apa aneh?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu membuat Emran akhirnya tersadar. Pria itu berdeham kecil lalu membenarkan jasnya seolah sedang menutupi sesuatu.
“Tidak,” jawabannya singkat. Namun, tatapannya masih belum benar-benar lepas dari Annisa. Salah satu penata rias sampai diam-diam saling melirik dengan rekannya karena jelas sekali Tuan Emran sangat terpaku pada wanita itu.
Beberapa detik kemudian, Emran akhirnya berjalan mendekat.
“Ada sedikit perubahan jadwal.”
Annisa menatapnya bingung.
“Saya harus menghadiri meeting Zoom dengan beberapa klien luar negeri.” Nada suaranya kembali profesional.
“Mungkin sekitar tiga puluh menit.”
“Oh...” Annisa langsung mengangguk kecil.
“Kalau begitu aku tunggu di sini.”
Emran justru menggeleng pelan.
“Acara akan segera dimulai.” Tatapannya melembut sedikit.
“Saya tidak ingin Ayahmu menunggu terlalu lama.”
Annisa tersenyum tipis mendengar itu. Lalu wanita itu berkata pelan,
“Saya bisa turun sendiri.”
“Hm?”
“Ini acara Ayah...” Annisa tersenyum kecil malu. “Aku tidak perlu takut.”
Tatapan Emran sedikit berubah hangat. Wanita di depannya mulai kembali menjadi Annisa yang seharusnya. Bukan perempuan penuh luka seperti beberapa hari lalu. Beberapa detik kemudian, Emran mengangguk pelan.
“Baik, Tuan Darto juga sebentar lagi tiba bersama asistennya.”
Annisa mengangguk mengerti.
Sementara Emran masih berdiri beberapa detik di depannya. Rasanya sulit meninggalkan wanita itu malam ini.
Di sisi lain kota. Sebuah mobil melaju tenang membelah jalanan malam yang dipenuhi cahaya lampu kota.
Di dalam mobil itu, suasananya jauh berbeda.
Lasmi terlihat paling bersemangat sejak tadi.
Wanita itu duduk di kursi belakang sambil sesekali membenarkan bajunya dan melihat pantulan wajahnya di kaca mobil.
Senyumnya bahkan tak berhenti sejak mereka berangkat.
“Siapa sangka ya...” katanya bangga sambil menatap putranya, Haikal, “anak ibu sekarang diundang ke ulang tahun bos besar perusahaan.” Nada suaranya penuh kesombongan yang sulit disembunyikan.
“Mana bisa semua orang datang ke acara orang seperti begitu.”
Haikal yang menyetir hanya tersenyum kecil penuh percaya diri. Mendengar pujian ibunya membuat rasa kesalnya sejak pagi sedikit menghilang. Karena dalam pikirannya, kalau Darto Erlangga benar-benar tidak menghargainya, maka undangan itu pasti sudah dibatalkan. Dan fakta kalau dirinya tetap diundang, membuat Haikal yakin posisinya masih aman.
Sementara di sampingnya, Dokter Emeli duduk diam sambil tersenyum tipis. Gaun mahal yang dikenakannya malam itu memang membuatnya terlihat cantik. Namun, senyum wanita itu tampak jauh lebih kaku dibanding biasanya. Beberapa jam lalu hidupnya baru saja hancur.
“Dokter Emeli memang paling cocok sama kamu,” lanjut Lasmi sambil tertawa kecil bangga.
“Cantik, dokter lagi ... kalau nanti kalian nikah, hidup kita makin naik.”
Senyum Emeli langsung sedikit membeku.
Tangannya perlahan menggenggam ujung tasnya erat.
Wanita itu buru-buru memaksakan senyum kecil.
“Ibu bisa saja...”
Lasmi tertawa puas. “Ya jelaslah! Annisa mana bisa dibandingin sama kamu.”
Kalimat itu membuat Emeli makin tidak nyaman. Tatapannya perlahan menunduk, ucapan penghinaan terhadap Annisa justru terdengar menampar dirinya sendiri.
Sementara Haikal sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Emeli. Pria itu masih sibuk membayangkan bagaimana dirinya akan dikenalkan malam ini sebagai orang penting di acara besar itu.
bahwa kehadirannya sungguh berharga