seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
surat penerimaan
Pagi itu terasa berbeda bagi Alya.
Biasanya ia bangun dengan rasa lelah dan pikiran tentang tagihan rumah, pekerjaan, atau tugas belajar yang belum selesai. Namun kali ini, begitu membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah hologram biru dari Akademi Zenith yang masih melayang redup di sudut kamarnya.
Surat penerimaan itu nyata.
Ia benar-benar diterima.
Alya duduk perlahan di tempat tidurnya yang sederhana. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela kecil kamar dan menerpa wajahnya. Untuk beberapa detik, ia hanya diam sambil menatap langit-langit.
“Ini bukan mimpi…” bisiknya.
Dari luar kamar terdengar suara Dito.
“Kak Alya! Cepat bangun! Nanti telat jadi anak jenius!”
Alya tertawa kecil.
Ia segera keluar kamar dan melihat Dito sudah duduk di meja makan sambil memainkan sendok seperti mikrofon.
“Selamat pagi untuk calon orang sukses Neo Jakarta!” seru Dito dramatis.
Ibunya menggeleng pelan sambil tersenyum.
“Kamu jangan menggodanya terus.”
“Aku bangga sama Kak Alya,” jawab Dito cepat.
Ucapan sederhana itu membuat hati Alya menghangat.
Sarapan pagi terasa jauh lebih hidup dibanding biasanya. Bahkan ibunya memasak sup sayuran sintetis tambahan sebagai bentuk perayaan kecil.
“Kita harus bersyukur,” kata ibunya pelan.
Alya mengangguk.
Namun di balik kebahagiaan itu, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Akademi Zenith berada di pusat Neo Jakarta, tempat yang sangat jauh dari kehidupan mereka sekarang. Biaya hidup di sana pasti mahal, meskipun ia mendapat beasiswa penuh.
“Apa beasiswanya benar-benar mencakup semuanya?” tanya ibunya hati-hati.
Alya membuka hologram informasi penerimaan.
“Biaya sekolah, asrama, dan makan ditanggung akademi.”
Ibunya terlihat lega.
“Tapi…” Alya menggantung kalimatnya.
“Tapi apa?”
“Aku harus tinggal di sana.”
Ruangan kecil itu mendadak hening.
Dito menunduk pelan.
Ibunya tersenyum tipis meski matanya tampak sedih.
“Itu artinya kamu semakin dekat dengan masa depanmu.”
“Aku belum pernah pergi sejauh itu sendirian, Bu.”
“Kamu lebih kuat dari yang kamu kira.”
Alya diam.
Ia selalu bermimpi meninggalkan sektor timur dan hidup lebih baik. Namun sekarang ketika kesempatan itu benar-benar datang, rasa takut mulai muncul.
Takut gagal.
Takut tidak diterima.
Takut mengecewakan keluarganya.
Setelah sarapan, Alya pergi ke toko Pak Harun seperti biasa.
Namun kali ini suasana toko berbeda. Begitu ia masuk, beberapa tetangga langsung menatapnya dengan kagum.
“Itu Alya!”
“Katanya dia masuk Akademi Zenith!”
“Hebat sekali…”
Alya menjadi canggung menerima perhatian sebanyak itu.
Pak Harun tertawa melihat ekspresinya.
“Biasakan saja. Orang sukses memang begitu.”
“Aku belum sukses,” jawab Alya malu.
“Belum. Tapi kamu sedang menuju ke sana.”
Hari itu pelanggan datang silih berganti hanya untuk mengucapkan selamat. Bahkan seorang ibu tua memberinya sekotak kecil roti asli yang sangat mahal di zaman itu.
“Untuk merayakan,” katanya sambil tersenyum.
Alya hampir menangis menerimanya.
Ia baru sadar bahwa keberhasilannya bukan hanya miliknya sendiri. Banyak orang di sektor timur diam-diam berharap suatu hari ada seseorang yang bisa membuktikan bahwa mereka juga mampu berhasil.
Menjelang sore, gelang digital Alya kembali berbunyi.
Ting!
Pesan baru dari Akademi Zenith.
Penerima beasiswa diwajibkan hadir tiga hari lagi.
Transportasi akan disediakan melalui jalur kereta magnetik pusat.
Alya membaca pesan itu pelan.
“Tiga hari lagi…” gumamnya.
Waktu terasa berjalan terlalu cepat.
Malam harinya, hujan turun deras membasahi Neo Jakarta. Lampu neon memantul di genangan air jalanan seperti lautan cahaya warna-warni.
Alya kembali naik ke atap rumah.
Ia membawa surat penerimaan hologram dan duduk sambil memandang pusat kota yang berkilau di kejauhan.
Dari sini, pusat Neo Jakarta tampak indah seperti mimpi.
Namun Alya tahu dunia di sana berbeda.
Orang-orang kaya.
Teknologi canggih.
Anak-anak jenius.
Sementara dirinya hanyalah gadis biasa dari sektor pinggiran.
“Ayah…”
Alya menatap langit gelap.
Ia jarang membicarakan ayahnya sejak pria itu meninggal beberapa tahun lalu. Yang ia tahu, ayahnya dulu bekerja di pusat kota sebelum tiba-tiba menghilang dari pekerjaannya.
Ibunya selalu menghindari pembicaraan tentang masa lalu itu.
“Ayah pasti akan bangga kalau melihatku sekarang,” bisiknya pelan.
Angin malam berhembus dingin.
Tiba-tiba gelang digitalnya berbunyi lagi.
Namun kali ini bukan pesan resmi.
Nomor tidak dikenal.
Alya mengernyit lalu membukanya.
Selamat atas penerimaanmu di Akademi Zenith.
Hati-hati pada apa yang akan kamu temukan di sana.
Pesan itu tidak memiliki nama pengirim.
Alya langsung merinding.
“Apa ini…?”
Ia mencoba membalas, tetapi akun pengirim sudah menghilang.
Hanya tersisa layar kosong.
Jantung Alya berdegup lebih cepat.
Untuk pertama kalinya sejak diterima di Akademi Zenith, ia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Jauh di pusat kota, di sebuah ruangan penuh layar hologram biru, Reno duduk sendirian sambil memperhatikan data seseorang.
Foto Alya muncul di depan matanya.
Seorang pria dewasa berdiri di belakang Reno.
“Dia benar-benar putri pria itu?” tanyanya.
Reno tidak menjawab langsung.
Tatapannya tetap dingin.
“Kalau dia mulai mencari tahu kebenaran,” lanjut pria itu, “semuanya bisa berbahaya.”
Reno perlahan mematikan layar hologram.
“Aku tahu.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
Reno terdiam sesaat sebelum menjawab pelan.
“Aku akan mengawasinya.”
Di luar gedung tinggi itu, hujan terus mengguyur Neo Jakarta.
Dan tanpa Alya sadari, langkah pertamanya menuju Akademi Zenith telah membuat dirinya masuk ke dalam sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sekolah impian.