NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

"Gue benci tempat yang bau debu dan kertas lapuk kayak gini. Bikin sesak."

Suara itu berat, serak, dan membelah kesunyian perpustakaan yang tadinya hanya diisi oleh isak tangisku yang tertahan. Aku tersentak, merapatkan tubuhku ke sudut rak kayu yang dingin hingga punggungku terasa nyeri. Jantungku berdentum begitu keras sampai-sampai aku takut suaranya akan memicu sesuatu yang lebih mengerikan dalam kegelapan ini.

Beberapa detik yang lalu, telingaku menangkap suara hantaman keras yang memekakkan. Bunyi kayu yang mengerang pasrah sebelum akhirnya menyerah pada sebuah hantaman paksa. Pintu perpustakaan lama yang tebal itu tidak dibuka dengan kunci, melainkan didobrak hingga engselnya nyaris lepas.

Sinar lampu dari lorong luar menyeruak masuk, membelah kegelapan dalam bentuk garis panjang yang tajam. Di ambang pintu itu, berdiri sebuah siluet tinggi yang tampak begitu mengintimidasi. Asap tipis menguar dari arahnya, membawa aroma tembakau yang kuat dan maskulin, bercampur dengan bau hujan yang baru saja turun di luar sana.

Langkah kakinya terdengar mantap. Derap, derap, derap. Setiap langkahnya membuat debu di lantai beterbangan, terpantul oleh cahaya remang-remang. Aku memejamkan mata rapat-rapat, jemariku yang gemetar mencengkeram erat ujung rok seragamku yang sudah kusam. Aku berpikir ini adalah suruhan Airin atau Alvaro yang datang untuk menambah siksaanku.

"Berhenti nangis. Suara lo jelek."

Aku terkesiap, perlahan membuka mata. Sosok itu kini berdiri tepat di depanku. Dia berjongkok, membuat bayangannya menelan seluruh tubuhku yang sedang meringkuk lemah di pojokan.

Bara.

Cowok yang paling dihindari di seantero SMA Garuda. Seragamnya berantakan, kancing bagian atasnya lepas dua buah, memperlihatkan garis leher yang tegas. Rambut hitamnya sedikit basah, berantakan seolah habis diterjang angin kencang. Wajahnya yang sering kali dipenuhi luka memar itu kini tampak begitu bersih di bawah remang cahaya, dengan rahang yang kokoh dan tatapan mata elang yang liar namun... entah kenapa, terasa teduh.

Dia tidak bertanya kenapa aku di sini. Dia tidak bertanya siapa yang mengunciku. Dia hanya menatapku datar, seolah keberadaanku di lantai yang kotor ini adalah hal yang paling mengganggunya malam ini.

Bara bergerak. Aku secara refleks memejamkan mata, mengira akan ada hantaman atau hinaan yang meluncur. Namun, yang kurasakan justru sebuah kehangatan yang mendadak membungkus bahuku yang kaku karena kedinginan.

Bara melepaskan jaket kulit hitamnya yang berat. Jaket itu masih menyimpan panas tubuhnya. Aroma maskulin yang pekat—campuran antara kulit, aroma kayu cendana, dan sisa rokok—langsung mengepung indra penciumanku, memberikan rasa aman yang tidak masuk akal.

"Dingin, kan?" suaranya rendah, nyaris seperti geraman halus.

Aku mendongak dengan ragu. Kacamata tebal yang kupakai sudah melorot dan berembun karena tangis. Aku melihatnya lebih dekat sekarang. Kulitnya yang kecokelatan, tatapan matanya yang sangat tajam seolah bisa melihat langsung ke dalam lubuk hatiku yang paling hancur. Dia tampak begitu tampan dengan cara yang berbahaya, jenis ketampanan yang tidak butuh validasi atau perhatian, namun sanggup membungkam siapa pun.

"Kenapa... kamu di sini?" bisikku parau. Kerongkonganku terasa seperti dipenuhi pasir kering.

Bara tidak langsung menjawab. Dia menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke rak buku di sampingku, ikut duduk di lantai yang berdebu tanpa peduli seragamnya akan kotor. Dia mengeluarkan sebatang rokok, tapi tidak menyalakannya. Dia hanya memutar-mutar benda itu di antara jari-jarinya yang panjang dan penuh bekas luka perkelahian.

"Gue nggak suka punya hutang," ucapnya tiba-tiba. Dia menoleh padaku, menatapku dengan intensitas yang membuatku lupa bagaimana caranya bernapas. "Terutama hutang nyawa."

Aku mengerutkan kening, bingung. "Hutang nyawa?"

Bara sedikit memiringkan kepalanya, sebuah senyum miring yang tipis—nyaris tak terlihat—terukir di bibirnya yang sedikit pecah di sudut kiri. "Loe benar-benar nggak ingat, atau pura-pura bego?"

Aku terdiam, mencoba menggali ingatan di tengah kepala yang nyut-nyutan karena kelaparan.

"Tahun lalu. Depan Rumah Sakit Medika. Tengah malam yang hujan," Bara memulai, suaranya terdengar seperti narasi kelam dari masa lalu. "Ada cowok berantakan yang baru saja diusir satpam karena nggak punya biaya buat administrasi emaknya yang kritis. Cowok itu sudah mau gila, hampir mutusin buat ngerampok apotek di seberang jalan cuma supaya emaknya nggak mati konyol."

Jantungku berdegup kencang. Bayangan itu muncul. Seorang pemuda yang bersimpuh di trotoar, memukul aspal dengan tangan berdarah karena putus asa.

"Terus," lanjut Bara, matanya kini menatap lurus ke mataku, "ada cewek berkacamata, badannya kecil, seragamnya kotor kena cipratan lumpur. Dia lari-lari nyamperin cowok itu. Dia nggak nanya nama, nggak nanya kenapa. Dia cuma naruh amplop cokelat di depan cowok itu. Isinya tabungan dia selama dua tahun yang mau dipakai buat beli mesin jahit."

Aku terkesiap, tanganku refleks menutup mulut. "Itu... kamu?"

"Cewek itu cuma bilang: 'Jangan merampok, nanti ibu kamu sedih kalau anaknya dipenjara. Pakai ini dulu.' Habis itu dia lari hilang ditelan hujan," Bara tertawa hambar, namun ada binar yang berbeda di matanya. "Gue nyari lo berbulan-bulan, Aira. Gue nggak nyangka cewek penolong itu ternyata sekolah di sini, dan gue lebih nggak nyangka lagi kalau lo ternyata sehina ini diperlakukan di rumah dan di sekolah."

Aku menunduk, air mataku kembali jatuh tanpa bisa dicegah. Rasanya sangat kontras. Di satu sisi ada Alvaro yang mengenalku sejak kecil tapi memilih buta, dan di sisi lain ada Bara—si preman sekolah yang hanya kutolong sekali—yang justru datang mendobrak pintu untukku.

Bara mengulurkan tangannya yang kasar, menghapus air mata di pipiku dengan ibu jarinya yang besar. Sentuhannya tidak lembut, namun penuh dengan rasa hormat yang belum pernah kuterima dari siapa pun di keluarga Maheswari.

"Loe masih ingat gue, kan? Cowok yang hampir mati di depan RS tahun lalu karena nggak punya biaya buat emaknya?" tanyanya lagi, memastikan.

Aku mengangguk pelan, menatap mata liarnya yang kini tampak begitu berkilat di tengah kegelapan perpustakaan.

"Gue bukan Alvaro yang butuh bukti di atas kertas," desis Bara, suaranya kini terdengar sangat protektif. "Gue tahu siapa lo. Gue tahu tangan siapa yang dulu ngasih amplop itu ke gue. Dan gue nggak akan biarin satu orang pun di tempat ini, termasuk kembaran lo yang ular itu, nyentuh lo lagi."

Aku mendongak, mataku yang sembab menatap mata liar milik Bara. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rasa takut yang menghimpit dadaku perlahan-lahan menguap. Di balik jaket kulit yang beraroma maskulin ini, aku merasa seolah-olah ada sebuah benteng besar yang baru saja didirikan di depanku.

Bara berdiri, lalu mengulurkan tangannya padaku.

"Ayo keluar. Gue laper, dan gue yakin lo juga belum makan dari pagi gara-gara pangeran kodok itu."

Aku menatap tangannya yang lebar. Ragu sejenak, namun akhirnya aku menyambut tangan itu. Saat jemariku yang kecil tenggelam dalam genggamannya yang kuat, aku tahu... mulai malam ini, ceritaku tidak akan lagi ditulis dengan tinta air mata sendirian. Sang Serigala telah datang, dan dia tidak berniat membiarkan mangsanya terluka lagi.

1
Ma Em
Aira seharusnya keluar saja dari rumah itu untuk apa Aira bertahan dirumah seperti neraka itu karena Aira tdk diharapkan dan selalu direndahkan tanpa Aira Airin hanya tong kosong hanya sampah Aira msh mau saja dibodohi .
Aletheia
gak semudah itu kak,kan nunggu Aira dewasa atau lulus SMA dulu
Allea
sampai bab ini masih mempertahankan kebodohannya ckck aira aira dah pergi aja sih,selama ada kemauan jalan selalu ada pergilah menjauh dari keluargamu buktikan kamu hebat
Ma Em
Semangat Aira buktikan kalau Aira bkn anak yg bawa aib bkn anak yg bawa sial tapi sebaliknya Aira anak yg berprestasi dan sangat bersinar buat ayah , ibu dan Airin menyesal dan bongkar semua kebohongan dan keburukan Airin didepan Alvaro dan bilang pada Alvaro bahwa teman masa kecilnya bkn Airin tapi Aira , Airin cuma ngaku2 saja jadi Aira , jgn mau memaafkan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu Aira .
Ma Em
Aira jgn takut dgn Alvaro , lawan dia kalau Aira takut Alvaro makin berani menghina Aira , semoga saja kebenaran tentang Airin yg ngaku2 teman Alvaro waktu kecil segera terungkap .
Ma Em
Aira bangkitlah lawan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu , bongkar semua keburukan dan kelicikan Airin agar kedua orang tuamu tau bahwa yg bodoh itu Airin bkn Aira , Aira jgn mau dipermainkan dan dimanfaatkan lagi sama Airin balas lah perbuatan mereka padamu Aira jgn takut ada Barra yg akan menjadi pelindungmu Air 💪💪💪.
Ma Em
Makanya Aira kamu hrs bangkit jgn mau diperalat sama Airin , buat Airin membayar semua perbuatan nya padamu Aira buat kedua orang tuamu menyesal juga Alvaro tunjukan pada mereka keahlianmu yg sebenarnya bkn Airin yg pintar tapi otak Aira yg digunakan Airin untuk mengelabui orang mereka .
Aletheia: sabar ya kak,kita buat supaya Aira bisa teguh jika nanti harus meninggalkan keluarganya☺️
total 1 replies
Ma Em
Bagus Aira bangkitlah dan balas semua perbuatan mereka yg sdh menyakiti dan memfitnah mu Aira terutama Airin jgn diberi maaf juga Alvaro buat dia menyesal .
Ma Em
Heran ya ada orang tua berat sebelah sama anak sendiri dijelek jelekan didepan orang lain hanya untuk dapat perhatian dari Alvaro , tunggu saja saat waktu sdh tiba dan kebenaran akan terungkap siapa Airin dan siapa Aira .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!