Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diabaikan
Mobil jemputan dari TK internasional datang tepat pukul tujuh.
Nanda mencium tangan Yuni lebih dulu.
Setelah itu, dengan wajah yang masih cemberut, ia mencium tangan Nadia.
Mata anak itu masih tampak sembap.
“Sebentar, Sayang.”
Nadia berjongkok di hadapan Nanda.
Dengan lembut, ia mengusap sisa air mata di pipi anak itu, lalu membetulkan pita rambut yang sedikit miring.
“Jangan lupa makan siangnya, ya.”
Nanda mengangguk kecil.
“Bun, boleh makan seblak nggak?”
Nadia tersenyum.
“Nggak boleh, Sayang. Nanti kalau liburan, Bunda buatkan yang enak. Pokoknya lebih enak daripada yang dijual di luar.”
Nadia selalu ragu dengan makanan di luar rumah.
Ia tak pernah benar-benar yakin pada kualitas bahan yang digunakan. Terlalu banyak makanan yang mengandung pengawet, gula rafinasi, dan penyedap berlebihan.
Semua itu mungkin terlihat sepele bagi orang lain.
Namun bagi Nadia, kesehatan Nanda terlalu berharga untuk dipertaruhkan.
Nanda kembali manyun.
“Bunda nggak asyik.”
Anak itu lalu berlari menuju mobil jemputan.
Nadia tetap tersenyum, meski dadanya terasa sedikit nyeri.
Ia tahu, tidak semua bentuk kasih sayang tampak menyenangkan di mata anak-anak.
Kadang, cinta justru hadir dalam bentuk larangan.
Mobil jemputan perlahan menjauh.
Nadia berdiri sampai kendaraan itu hilang di tikungan.
Saat kembali ke rumah, Nadia melihat Yuni duduk di teras.
Mbak Tari sedang memijat kaki perempuan itu.
Nadia tersenyum kecil.
Walaupun ibu mertuanya sering bersikap ketus, setidaknya pagi ini Yuni mau berjemur seperti yang disarankan dokter.
“Kamu jangan terlalu keras sama Nanda,” ujar Yuni tanpa menoleh. “Walaupun dia bukan anak kandungmu, kamu harus memperlakukannya dengan baik.”
Nadia menahan napas.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi selalu berhasil menusuk hatinya.
“Saya sangat menyayangi Nanda, Bu. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya.”
“Yang terbaik menurutmu belum tentu dia suka, Mira. Biarkan dia tumbuh sesuai kehendaknya.”
Nadia duduk di kursi terdekat.
“Saya paham, Bu. Tapi kalau kita tidak memberi pondasi yang benar, dia bisa salah melangkah.”
Ia tersenyum tipis.
“Kalau ditanya maunya apa, Nanda pasti memilih bermain tablet seharian.”
Yuni memalingkan wajah.
Dalam hati, ia tahu Nadia benar.
Namun entah mengapa, semakin hari ia justru semakin sulit menyukai menantunya itu.
“Sudah, pergi sana.”
Nadia berdiri.
“Baik, Bu.”
Ia menoleh pada Mbak Tari.
“Mbak, tolong bantu Ibu, ya. Jam sembilan nanti kita harus kontrol ke rumah sakit.”
Mbak Tari mengangguk.
Yuni hanya mendengus.
Nadia masuk ke kamar.
Tangannya segera meraih ponsel.
Ada satu pesan dari Raka.
Bukan sapaan.
Bukan kabar.
Hanya foto bukti transfer.
Rp5.000.000.
Nadia menatap layar cukup lama.
Lalu ia mencoba menelepon suaminya.
Ponsel Raka masih tidak aktif.
Ia hanya ingin memberi tahu bahwa pagi ini ia akan mengantar Yuni kontrol ke rumah sakit.
Akhirnya, Nadia mengetik pesan.
Mas, aku mau antar Ibu kontrol ke rumah sakit.
Pesan terkirim.
Namun Nadia tahu, kemungkinan besar pesan itu akan bernasib sama seperti pesan-pesan sebelumnya.
Dibaca pun tidak.
Ia membuka kembali foto transfer tersebut.
“Semakin berkurang saja,” gumamnya.
Padahal, setahun terakhir Raka hampir selalu pulang larut malam.
Harusnya, pikir Nadia, suaminya mendapat bonus lebih besar.
Dulu, di awal pernikahan, Raka memberinya uang bulanan sepuluh juta rupiah.
Lalu turun menjadi delapan juta.
Kemudian enam juta.
Dan kini hanya lima juta.
Padahal biaya sekolah Nanda saja mencapai tiga juta rupiah per bulan.
Belum lagi obat Yuni yang tidak ditanggung asuransi, sekitar lima ratus ribu setiap minggu.
Biaya kontrol rumah sakit.
Gaji Mbak Tari.
Tagihan listrik, air, internet, dan kebutuhan dapur.
Lima juta jelas tidak cukup.
Terlebih Nadia ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya.
Beruntung, ia memiliki penghasilan sendiri.
Setelah kedua orang tuanya meninggal, Nadia mewarisi rumah sederhana di pinggiran kota.
Namun yang paling mengejutkan adalah deposito syariah senilai sepuluh miliar rupiah yang ditinggalkan ayahnya.
Dengan sistem bagi hasil, Nadia menerima sekitar dua puluh juta rupiah setiap bulan.
Selama ini, tak seorang pun mengetahui hal itu.
Termasuk Raka.
Nadia hidup sederhana.
Ia diam-diam menutupi kekurangan keuangan rumah tangga.
Setiap bulan, ia mengeluarkan hampir sepuluh juta rupiah dari uang pribadinya.
Dan tahun ini, masa deposito itu akan berakhir.
Nadia sempat berencana menceritakan semuanya kepada Raka.
Ia ingin suaminya memiliki usaha sendiri.
Ia ingin Raka tak perlu pulang larut setiap malam.
Ia ingin suaminya lebih banyak berada di rumah.
Lebih sering makan malam bersama.
Lebih sering tersenyum.
Nadia memandang layar ponselnya sekali lagi.
Tak ada pesan baru.
Tak ada penjelasan.
Tak ada kabar..
Setelah membayar tagihan listrik, air, internet, dan gaji Mbak Tari, Nadia kembali ke kamar.
Ia berdandan sederhana.
Gamis berwarna krem, jilbab polos, dan sedikit bedak untuk menyamarkan wajah lelahnya.
Tak ada perhiasan mencolok.
Tak ada tas mahal.
Nadia memang tak pernah merasa perlu menunjukkan apa yang ia miliki.
Ia mengambil tas kecil, memasukkan ponsel dan dompet, lalu keluar kamar.
Yuni sudah duduk di ruang tamu.
Wajah perempuan itu ditekuk, seperti biasa.
“Lama sekali.”
“Maaf, Bu. Tadi saya menyelesaikan beberapa pembayaran.”
Yuni mendengus.
“Jangan boros jadi istri. Kasihan Raka, sendirian mencari nafkah.”
Nadia terdiam.
Andai Yuni tahu, uang lima juta yang diberikan Raka setiap bulan bahkan tak cukup untuk menutup setengah kebutuhan rumah tangga.
Namun seperti biasa, Nadia memilih menelan semuanya.
“Ya, Bu. Saya akan menggunakan uang sebaik mungkin.”
Ia lalu memesan taksi online.
Sementara menunggu, Yuni sibuk bermain ponsel.
Nadia duduk di sampingnya.
Tiba-tiba ponsel Yuni berdering.
Wajah perempuan itu yang semula masam mendadak berubah lebih lembut.
“Besok jadi, kan?”
Nadia menoleh sekilas.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Itu suara Yuni saat berbicara dengan Raka.
Ada rasa nyeri yang pelan-pelan menjalar di dada.
Jadi, Raka masih sempat menelepon ibunya.
Sementara pesan dan panggilannya sendiri tak pernah dibalas.
Tak lama kemudian, taksi datang.
Nadia membantu Yuni masuk ke mobil.
Begitu duduk, Yuni kembali melontarkan kalimat yang menusuk.
“Coba kamu punya mobil seperti Ratna.”
Nadia menoleh dan tersenyum tipis.
“Insyaallah, nanti Nadia beli, Bu.”
Yuni mendecakkan lidah.
“Paling juga pakai uang Raka.”
Nadia tak menjawab.
Ia hanya memandang keluar jendela, menyembunyikan perih yang semakin sering datang tanpa diundang.
Rumah sakit sudah ramai.
Nadia memapah Yuni menuju ruang pendaftaran.
Yuni duduk menunggu dengan nyaman.
Sementara Nadia mondar-mandir mengurus administrasi, mengambil nomor antrean, dan menebus obat.
Karena terlalu sering datang, beberapa perawat sudah mengenalnya.
“Kontrol lagi, Bu Nadia?” sapa salah satu perawat.
Nadia tersenyum.
“Iya, Mbak.”
Setelah rontgen selesai, mereka menuju poli paru.
Yuni mengeluh sepanjang jalan.
“Astaga, kapan sembuhnya penyakitku ini?”
Nadia menggenggam tangan ibu mertuanya.
“Insyaallah segera sembuh, Bu.”
Di ruang tunggu, Yuni sibuk dengan ponselnya.
Sementara Nadia membuka buku kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Membaca adalah caranya menenangkan hati.
Tak lama, nama Yuni dipanggil.
Mereka masuk ke ruang praktik dokter spesialis paru.
Di balik meja duduk Dokter Handoko, dokter yang sudah menangani Yuni selama beberapa bulan terakhir.
Setelah memeriksa hasil rontgen dan beberapa catatan, dokter tersenyum.
“Perkembangannya bagus, Bu Yuni.”
Wajah Nadia langsung berbinar.
“Mulai minggu ini, obatnya cukup diminum dua hari sekali.”
Nadia mengembuskan napas lega.
Alhamdulillah.
Usahanya mengingatkan obat setiap hari tidak sia-sia.
“Yang penting Ibu jangan banyak pikiran,” lanjut dokter. “Dibawa santai saja.”
Yuni mendesah.
“Bagaimana saya tidak banyak pikiran, Dok? Menantu saya belum juga memberi cucu.”
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭