NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Takhta Pedang Patah

​Gema derit Gerbang Perunggu yang terbuka perlahan menelan suara angin Lembah Musim Gugur. Lin Tian melangkah melewati ambang pintu kuno tersebut, meninggalkan mayat Chu Yun yang masih menempel hancur di ukiran luar gerbang.

​Begitu kakinya menginjak lantai batu di dalam istana, sebuah keheningan absolut menyergapnya. Berbeda dengan rawa darah yang dipenuhi Niat Pedang buas dan liar, udara di dalam Istana Perunggu ini luar biasa tenang. Namun, ketenangan ini bukanlah kedamaian, melainkan ketenangan sebuah pedang yang telah disarungkan setelah memenggal jutaan kepala. Tekanan mentalnya begitu berat hingga kultivator Pembangunan Pondasi biasa akan langsung berlutut dan hancur jiwanya jika berani melangkah masuk.

​Lin Tian tetap berdiri tegak. Inti Teratai Pedang di dalam perutnya berputar pelan, memancarkan aura perak yang menetralisir tekanan tersebut.

​Satu per satu, obor-obor di dinding istana menyala dengan api berwarna biru pucat, menerangi aula raksasa itu. Pemandangan di dalamnya membuat mata Lin Tian sedikit melebar.

​Aula itu tidak dipenuhi tumpukan emas, permata, atau gulungan sihir bercahaya. Sebaliknya, tempat ini adalah sebuah kuburan raksasa. Puluhan ribu pedang—semuanya patah, retak, atau berkarat—tertancap di lantai, di pilar, dan di langit-langit. Tidak ada satupun senjata utuh. Ini adalah monumen kehancuran.

​Di ujung aula, terdapat sebuah takhta yang seluruhnya dibentuk dari lelehan pedang besi hitam. Di atas takhta itu, duduk sesosok mayat kering berjubah abu-abu kuno yang telah menjadi mumi. Mayat itu tidak memancarkan aura keilahian atau energi surgawi. Ia hanyalah sisa-sisa seorang manusia fana.

​Namun, di pangkuan mayat itu, tergeletak sebuah gagang pedang berwarna hitam pekat tanpa bilah.

​Saat Lin Tian melangkah mendekati takhta tersebut, debu di sekitar mayat itu tiba-tiba berputar. Dua titik cahaya merah menyala di dalam rongga mata tengkorak yang kosong itu.

​Sebuah suara serak yang membelah pikiran terdengar bergema di dalam kepala Lin Tian.

​"Ribuan tahun... akhirnya, seorang manusia cacat yang cukup gila untuk menelan Biji Teratai Darah datang kemari."

​Sisa-sisa wasiat (remnant will) dari penguasa istana ini telah bangkit!

​Lin Tian menghentikan langkahnya, menatap lurus ke arah takhta. "Apakah kau pencipta Seni Pedang Sembilan Kematian?"

​"Pencipta?" Tengkorak itu tertawa, tawanya berderak seperti logam bergesekan. "Aku hanyalah seorang manusia fana, sama sepertimu. Langit menolak memberiku Akar Spiritual. Para dewa dan kultivator ortodoks menyebutku semut. Maka, aku menghancurkan meridianku, menguliti diriku sendiri, dan menjadikan tulangku sebagai pedang untuk membelah langit mereka. Mereka memanggilku Kaisar Pedang Kematian Pertama."

​Tiba-tiba, tekanan mematikan meledak dari takhta tersebut. Sisa wasiat sang Kaisar Pedang membentuk sebilah bayangan pedang raksasa di udara dan menebaskannya langsung ke arah kepala Lin Tian!

​"Mari kita lihat apakah tubuhmu pantas mewarisi jalan berdarah ini, atau kau hanya akan menjadi tumpukan tulang di aulaku!"

​Tebasan bayangan itu tidak mengandung Qi, melainkan murni Niat Pedang Pemutus Fana yang setara dengan serangan ahli tahap Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul)!

​Lin Tian tidak mundur. Matanya menyala dengan warna perak murni. Ia menyentakkan lengan kanannya yang telah mencapai tahap Tulang Pedang Sejati. Alih-alih menangkis, Lin Tian melayangkan tinjunya lurus menyongsong mata pedang bayangan tersebut.

​"Aku tidak butuh ujian dari orang mati!" raung Lin Tian.

​BOOOOOOM!

​Benturan antara kehendak masa lalu dan penerus masa kini menciptakan gelombang hampa udara yang menyapu seluruh penjuru istana. Ribuan pedang patah yang tertancap di lantai tercabut dan beterbangan bagai badai badai rongsokan.

​Lengan kanan Lin Tian bergetar hebat, kulit perunggunya retak dan memercikkan darah, namun ia tidak mundur satu sentimeter pun. Inti Teratai Pedang di perutnya berputar dengan gila, melahap sisa-sisa Niat Pedang dari serangan sang Kaisar, mengubah rasa sakit menjadi kekuatan murni.

​Melihat Lin Tian menahan tebasan itu hanya dengan tinju kosong dan Inti Teratai, cahaya merah di mata tengkorak itu perlahan meredup. Alih-alih marah, suara tawa yang sarat akan kebanggaan bergema.

​"Hahaha! Bagus! Dantian adalah kelemahan, Qi adalah belenggu! Kau telah menempa Inti Ketiadaan yang bahkan belum sempat kusempurnakan sebelum aku mati melawan Kesengsaraan Surgawi."

​Tengkorak itu perlahan mengkristal dan mulai hancur menjadi debu yang tertiup angin gaib.

​"Bocah, ingatlah. Seni Pedang Sembilan Kematian tidak percaya pada takdir, karma, atau dewa-dewa purba. Jalan kita adalah jalan pemberontakan mutlak. Kuwariskan 'Gagang Pemutus Langit' dan sisa metode kultivasi ini padamu. Jangan buat pedangku menangis di akhirat!"

​Mayat itu sepenuhnya hancur menjadi abu, meninggalkan gagang pedang hitam tanpa bilah dan sebuah lempengan batu giok kuno di atas takhta.

​Lin Tian melangkah maju. Saat jari-jari perunggunya menyentuh Gagang Pemutus Langit, sebuah ikatan spiritual langsung terbentuk. Gagang itu bukanlah artefak sihir biasa; ia adalah katalisator.

​Lin Tian mengalirkan Niat Pedang dari Inti Teratai ke dalam gagang tersebut. Seketika, dari ujung gagang, memancar sebuah bilah pedang sepanjang satu meter yang terbuat dari energi ketiadaan berwarna perak gelap. Bilah ini tidak memancarkan cahaya, melainkan menyerap cahaya di sekitarnya.

​Ia memegang pedang itu, dan menempelkan lempengan giok kuno ke dahinya. Ribuan baris aksara kuno berisi metode kultivasi tahap ketiga hingga kesembilan membanjiri ingatannya.

​"Terima kasih, Senior," bisik Lin Tian, membungkuk sedikit ke arah debu sang Kaisar. Ia menonaktifkan bilah energinya dan menyisipkan gagang hitam itu ke sabuk jubahnya. Kekuatannya kini telah berlipat ganda, dan tujuannya di alam rahasia ini telah tercapai sempurna.

​Namun, sebelum Lin Tian sempat membalikkan badan untuk keluar, seluruh Istana Perunggu berguncang hebat.

​Bukan karena kekuatan Lin Tian, melainkan karena getaran luar biasa yang berasal dari luar Alam Rahasia Lembah Musim Gugur!

​Di langit-langit istana yang memudar, Lin Tian bisa merasakan distorsi ruang. Segel alam rahasia sedang diserang secara paksa dari dimensi luar.

​Matanya menyipit dingin. Hanya kultivator tingkat Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) atau formasi raksasa yang bisa mengguncang segel ruang kuno seperti ini.

​Sementara itu, di luar Alam Rahasia Lembah Musim Gugur.

​Langit yang cerah mendadak ditutupi oleh awan hitam pekat. Sebuah kapal terbang raksasa berbentuk pedang, berukuran sebesar gunung kecil, melayang tepat di atas dua tebing batu pintu masuk lembah. Panji emas bersulaman pedang berkibar arogan—itu adalah armada perang dari Tanah Suci Sekte Pedang Surgawi Benua Tengah!

​Di haluan kapal, seorang tetua berjubah emas dengan rambut putih panjang berdiri dengan wajah yang berkerut menahan murka ekstrem. Di tangannya, ia memegang sebuah Cermin Jiwa giok yang telah pecah berkeping-keping. Itu adalah nyawa spiritual milik Chu Yun.

​Aura tahap Puncak Inti Emas (Golden Core Peak)—satu langkah menuju Jiwa Baru Lahir—meledak dari tubuh Tetua tersebut, menekan seluruh faksi lokal di bawah kapal hingga puluhan kultivator memuntahkan darah dan jatuh berlutut karena tekanan gravitasi absolut.

​"Chu Yun... Tuan Muda sekte kita, mati terbunuh di dalam alam rahasia kotor ini!" suara Tetua itu menggelegar bak guntur dewa kemarahan. "Tutup semua jalan keluar! Aktifkan Formasi Segel Langit Sembilan Arah! Tidak ada satu pun lalat yang boleh keluar hidup-hidup dari lembah ini sebelum pembunuhnya diseret ke hadapanku!"

​Ribuan murid elit dari Benua Tengah melompat turun dari kapal, menghunus pedang mereka, dan membentuk pagar betis tanpa celah mengelilingi seluruh cekungan lembah.

​Di sebuah tebing tersembunyi yang ditumbuhi pinus, jauh dari kerumunan utama, Lin Chen mendekap wajah Lin Xue ke dadanya. Tubuh Lin Chen gemetar hebat menahan tekanan aura Tetua Inti Emas tersebut. Darah merembes dari sudut bibirnya, meridian Tingkat 3-nya nyaris hancur hanya karena riak aura dari jauh.

​"Kak Tian... kau membunuh orang dari Tanah Suci..." gumam Lin Chen pucat pasi.

​Ia menatap ribuan elit Benua Tengah yang mengepung pintu keluar. Ini adalah kekuatan sejati dari hegemoni dunia kultivasi, kekuatan yang bisa menghapus puluhan sekte sekelas Awan Hijau hanya dalam satu malam.

​"Chen... kita harus lari..." bisik Lin Xue lemah.

​"Tidak," Lin Chen menggelengkan kepalanya dengan tekad bulat, menggenggam pedang spiritual tingkat rendah di tangannya erat-erat. Ia ingat janjinya. "Jika kita bergerak sekarang, aura kita akan terdeteksi. Kita tunggu Kak Tian. Jika mereka menemukannya... maka kita akan bertarung bersamanya."

​Di dalam Alam Rahasia, Lin Tian melangkah keluar dari Gerbang Perunggu. Udara jingga suram menyambutnya. Melalui kepekaan Inti Teratai Pedangnya, ia bisa merasakan energi permusuhan yang sangat masif memblokir pintu keluar dimensi ini.

​Lin Tian menurunkan pinggiran caping bambunya. Tangan kirinya beristirahat di atas Gagang Pemutus Langit yang baru ia dapatkan, sementara lengan kanan perungnya berdengung haus akan darah.

​"Benua Tengah mengirimkan anjing yang lebih besar," gumam sang Teratai Pedang, sebuah seringai mematikan terbentuk di sudut bibirnya. "Bagus. Aku butuh banyak darah Inti Emas untuk menyirami benih pedang baruku."

​Tanpa ragu, Lin Tian melesat ke depan, menyongsong pintu keluar Alam Rahasia.

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!