NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Badai yang sesungguhnya menghantam kehidupan Tryas Adiguna tanpa peringatan.

Hanya dalam waktu dua belas jam, dunianya yang gemerlap runtuh berkeping-keping.

Pagi itu, ponselnya tak henti bergetar, bukan untuk tawaran pemotretan, melainkan pemberitahuan pembatalan kontrak secara sepihak dari semua agensi papan atas.

"Maaf, Tryas, namamu masuk dalam daftar hitam industri. Kami tidak bisa bekerja sama lagi," ucap seorang desainer kondang sebelum memutus telepon.

Tak berhenti di situ, pihak apartemen mewah tempatnya tinggal datang dengan surat pengosongan paksa karena tunggakan yang tiba-tiba dibekukan oleh bank.

Tryas berdiri di trotoar dengan koper-koper mahalnya, menatap nanar bangunan yang kini tak lagi bisa ia masuki.

"Ini pasti perbuatan Gayuh!" teriak Tryas histeris di pinggir jalan. Napasnya memburu, matanya merah karena dendam.

"Dia pasti menggunakan uang miliaran dari hasil menjual cerita sampahnya untuk menyuap semua orang agar menghancurkanku! Dan Gayuh datang ke agensi dan memfitnahku!"

Tryas mengepalkan tangan hingga kukunya memutih.

"Aku akan membunuhmu, Gayuh! Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri karena telah merenggut hidupku!!" teriak Tryas dengan wajahnya yang sudah putus asa.

Sementara itu, ribuan kilometer dari sana, di sebuah gedung pencakar langit yang menghadap ke arah Marina Bay, Jati duduk di kursi kepemimpinan yang megah.

Pena mahalnya baru saja menorehkan tanda tangan di atas kontrak investasi bernilai fantastis.

Meski dikelilingi oleh para taipan bisnis dunia, fokus Jati teralih saat ponsel pribadinya bergetar.

Ia segera mengangkat telepon itu dengan senyum yang jauh lebih hangat daripada suasana di ruang rapat tersebut.

"Halo, Tryas. Bagaimana keadaanmu di rumah sakit?" tanya Jati lembut.

Di seberang sana, suara Gayuh terdengar jauh lebih segar.

"Aku sudah lebih baik, Jati. Bagaimana dengan nenekmu? Apakah nenek baik-baik saja?" tanya Gayuh.

Jati melirik ke arah Pak Gunawan yang berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap ke arah jendela besar.

"Syukurlah, berkat bantuanmu dan uang yang kamu berikan semalam. Keadaan nenek sudah agak lebih baik. Beliau sangat berterima kasih kepadamu."

"Syukurlah kalau begitu, aku ikut lega mendengarnya," jawab Gayuh tulus.

"Istirahatlah yang cukup, Tryas. Sebentar lagi, Aku sedang dalam perjalanan pulang. Aku akan segera sampai di rumah sakit," ucap Jati.

Jati menutup teleponnya. Senyum tipisnya berubah menjadi tatapan penuh arti.

Segera ia bangkit dari duduknya dan menuju ke Bandara.

Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita pujaannya.

Pesawat jet pribadinya sudah menunggu untuk membawanya kembali ke tanah air lebih cepat dari jadwal semula.

"Aku akan memberikan kejutan yang tidak akan pernah kamu lupakan nanti malam, Gayuh. Bukan hanya sebagai pria ojek yang kamu tolong, tapi sebagai pria yang akan menjagamu dengan seluruh kekuatan yang kumiliki." ucap Jati.

Jati tidak tahu bahwa di saat ia sedang bersiap memberikan kejutan manis, Tryas Adiguna yang sudah kehilangan akal sehat sedang bergerak menuju rumah sakit dengan dendam yang membara di dadanya.

Tryas Adiguna berjalan mengendap-endap di selasar rumah sakit dengan wajah tertutup masker hitam dan topi yang ditarik rendah.

Matanya yang merah karena dendam menyapu area VVIP.

Ia tersentak saat melihat dua pria berbadan tegap berdiri kaku di depan kamar Gayuh.

"Sial, pengamanannya ketat sekali! Ini pasti bukan rumah sakit biasa," desis Tryas dalam hati.

Ia mengurungkan niatnya untuk menyerang langsung dan memilih menyelinap ke dalam gudang peralatan medis yang pengap di ujung lorong, menunggu dengan napas memburu hingga situasi aman.

Tiga jam berlalu dalam keheningan yang mencekam.

Tiba-tiba, telinga Tryas menangkap suara langkah kaki yang menjauh.

Ia mengintip dari celah pintu gudang dan melihat Pak Gunawan dan yang lainnya berjalan terburu-buru menuju lift untuk menyambut Jati yang baru saja tiba di parkiran bawah.

"Inilah kesempatannya." gumam Tryas.

Tryas berlari secepat kilat menuju kamar nomor satu.

Ia membuka pintu dengan perlahan, jantungnya berdegup kencang.

Ruangan itu tampak sepi, namun suara gemericik air terdengar dari balik pintu kamar mandi.

Dengan mata gelap, Tryas mencabut pisau dapur yang ia sembunyikan di balik jaketnya.

Gayuh baru saja selesai membasuh wajahnya saat ia membuka pintu kamar mandi.

Ia mematung melihat sosok berantakan di depannya.

"Tryas? Apa yang kamu lakukan di—"

Jleb!

Jleb!

Tanpa sepatah kata pun, Tryas menghujamkan pisau itu ke punggung Gayuh yang mencoba berbalik menghindar.

Gayuh memekik tertahan, rasa panas yang luar biasa menjalar ke seluruh sarafnya.

Darah segar mulai membasahi gaun rumah sakitnya yang putih.

Tryas mencabut pisaunya dengan kasar, lalu lari tunggang langgang keluar melalui tangga darurat, meninggalkan korbannya yang bersimbah darah.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Jati melangkah masuk dengan senyum lebar, tangannya mendekap sebuket bunga lili putih kesukaan Gayuh.

"Tryas? Aku datang. Aku punya kejutan untukmu," panggil Jati dengan suara penuh kerinduan.

Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Gayuh muncul dari sana, wajahnya pucat pasi seputih kertas.

Ia mencoba tersenyum tipis ke arah Jati, namun senyum itu tampak sangat menyakitkan.

Jati mengernyitkan kening. Ia melihat cara jalan Gayuh yang aneh dan gemetar, tangannya memegangi dinding seolah dunianya sedang runtuh.

"Tryas? Ada apa? Kenapa wajahmu pucat sekali?"

Jati meletakkan bunganya di meja dan menghampiri wanita itu dengan cemas.

Gayuh tidak menjawab. Dengan sisa tenaganya, ia menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Jati, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.

Aroma jaket ojek Jati yang ia rindukan menjadi hal terakhir yang ingin ia rasakan.

"Maaf... jati... aku merepotkanmu lagi..." bisik Gayuh nyaris tak terdengar.

Saat Jati merangkul pinggang Gayuh untuk menopang tubuhnya, tangannya merasakan sesuatu yang basah dan kental.

Jati menarik tangannya dan membelalak ngeri melihat telapak tangannya penuh dengan darah merah pekat.

Matanya beralih ke punggung Gayuh. Di sana, sebilah pisau masih menancap, merobek kain dan kulit wanita yang sangat ia cintai itu.

"TIDAK! GAYUH!!" teriak Jati dengan suara yang membelah keheningan rumah sakit.

Amarah dan kesedihan meledak dalam dadanya seketika.

Ia mendekap tubuh Gayuh yang mulai mendingin dengan sangat erat.

"DOKTER!! SIAPA PUN TOLONG!! DOKTER!!!"

Raungan Jati mengguncang seluruh lantai VVIP. Ia berlutut di lantai sambil terus mendekap Gayuh, matanya berkilat penuh dendam yang amat dalam.

Sementara itu, di kejauhan, Pak Gunawan dan tim medis berlarian menuju kamar, menyadari bahwa badai besar baru saja menghantam jantung sang CEO.

Lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala dengan tajam, menandakan pertarungan hidup dan mati sedang berlangsung di dalam sana.

Di lorong yang sunyi dan dingin itu, Jati duduk termenung di kursi tunggu.

Ia tidak bergerak sedikit pun, matanya menatap kosong ke arah lantai.

Kedua telapak tangannya masih berlumuran darah merah pekat yang sudah mulai mengering—darah Gayuh.

Ia menolak untuk membasuhnya, seolah rasa amis darah itu adalah satu-satunya ikatan yang tersisa antara dirinya dan wanita yang sedang berjuang di dalam sana.

Jantung Jati masih berdetak kencang, menghantam dadanya dengan ritme yang menyakitkan.

Amarah, ketakutan, dan penyesalan bercampur menjadi satu, menciptakan badai yang siap meledak kapan saja.

"Siapa..." suara Jati terdengar rendah, parau, dan sangat mengerikan.

"Siapa yang melakukannya, Pak Gun?"

Pak Gunawan berdiri tak jauh di sampingnya, kepalanya tertunduk dalam.

Wajah asisten setia itu tampak pucat karena merasa gagal menjaga keamanan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Pak Gunawan mengeluarkan sebuah tablet dan memutar rekaman CCTV lorong VVIP beberapa menit yang lalu.

"Tuan..." Pak Gunawan menunjuk ke arah layar.

Di sana, terlihat seorang wanita dengan perawakan yang sangat dikenal, mengenakan masker hitam dan topi, berlari keluar dari kamar Gayuh dengan tangan yang juga bersimbah darah.

Meskipun wajahnya tertutup sebagian, postur tubuh dan gerak-geriknya tidak bisa membohongi mata tajam mereka.

"Tryas Adiguna," desis Jati.

Nama itu keluar dari mulutnya seperti kutukan. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol.

Aura membunuh terpancar begitu kuat dari tubuh sang CEO, membuat udara di sekitar lorong itu terasa sangat berat untuk dihirup.

Jati perlahan mengepalkan tangannya yang berdarah, membuat sisa darah kering itu rontok ke lantai.

"Dia benar-benar ingin mati di tanganku."

Ia berdiri, menoleh ke arah Pak Gunawan dengan tatapan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.

"Cari dia. Tutup semua akses keluar kota. Kerahkan seluruh tim keamanan J-Corp," perintah Jati dengan suara yang sangat tenang namun penuh otoritas yang mematikan.

"Jangan serahkan dia ke polisi. Aku sendiri yang akan menanganinya setelah aku memastikan Gayuh selamat."

Pak Gunawan membungkuk hormat. "Baik, Tuan Besar. Saya pastikan dia tidak akan bisa melihat matahari terbit besok pagi."

Jati kembali menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.

Ia menyentuh kaca pintu itu dengan ujung jarinya, membisikkan janji yang gelap di dalam hati.

"Bertahanlah, Gayuh. Aku tidak akan membiarkanmu pergi, dan aku akan memastikan wanita itu merasakan penderitaan yang seribu kali lebih hebat dari apa yang kamu rasakan sekarang."

Di sisi lain dimana Tryas berlari masuk ke kediaman Adiguna dengan napas tersengal.

Ia segera menuju kamar mandi untuk membasuh noda merah yang masih melekat di ujung jarinya. Namun, saat ia keluar dari kamar, langkahnya terhenti.

Di ruang tengah, Papa Yudha sudah berdiri mematung dengan wajah yang sangat pucat, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Tryas, jujur sama Papa," suara Papa Yudha bergetar hebat.

"Apakah kamu sudah bertemu dengan Jati yang asli? Jati yang Papa kenalkan waktu itu?"

Tryas mencoba memasang wajah angkuh, meski hatinya berdegup kencang.

_Sudah, Papa! Dia membosankan! Dia cuma tukang ojol bau matahari yang tidak punya masa depan. Kenapa Papa malah menjodohkan aku dengan sampah seperti itu?"

"BOHONG!" teriakan Papa Yudha menggelegar, membuat Tryas tersentak.

"Papa baru saja mendapatkan kabar dari kolega bisnis. Jati itu... dia bukan tukang ojek! Dia CEO J-Corp! Dan kamu meminta Gayuh untuk menggantikanmu kan?! Kamu menipu pria paling berkuasa di negeri ini!"

PLAKK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tryas. Papa Yudha jatuh terduduk di sofa, memegang dadanya yang sesak.

_Kamu sudah menghancurkan kita, Tryas. Kamu menyebutnya ojol? Dia penguasa ekonomi kita!"

Tiba-tiba, pintu depan terbuka kasar. Pak Gunawan masuk dengan sepuluh orang pria berbadan tegap berpakaian hitam.

Aura di ruangan itu seketika berubah mencekam. Tanpa sepatah kata pun, dua orang pengawal langsung meringkus tangan Tryas.

"Lepaskan! Apa-apaan ini! Papa, tolong!" jerit Tryas histeris.

Papa Yudha merangkak mendekati Pak Gunawan, ia berlutut dengan air mata yang mengalir deras.

"Pak Gunawan, saya mohon... saya tahu putri saya salah. Saya mohon ampuni dia. Saya akan lakukan apa saja, jangan bawa dia!"

Pak Gunawan menatap Papa Yudha dengan tatapan dingin tanpa simpati sedikit pun.

Ia menarik napas pendek, lalu berkata dengan suara rendah yang mematikan.

"Anda memohon pada orang yang salah, Tuan Yudha. Putri Anda baru saja mencoba membunuh nyawa orang yang paling berharga bagi majikan saya."

Pak Gunawan memberi isyarat agar anak buahnya menyeret Tryas keluar.

"Jika Anda ingin memohon ampunan, Anda bisa menemui Tuan Jati sendiri, itu pun jika beliau masih sudi melihat wajah keluarga Anda."

Tryas diseret keluar menuju mobil hitam yang sudah menunggu.

Papa Yudha hanya bisa terpaku di lantai, menyadari bahwa kerajaan bisnis yang ia bangun puluhan tahun kini runtuh hanya karena keangkuhan putrinya yang menyebut seorang naga sebagai "tukang ojol".

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!