NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:933
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sosis Jijik

Empat puluh lima menit setelah keheningan jatuh di kamar itu, pintu presidential suite kembali terbuka dengan kunci kartu cadangan.

"Maaf, Sayang! Macet di Moscow benar-benar gila malam ini—"

Seorang wanita dengan riasan tebal dan gaun merah ketat melangkah masuk dengan genit. Ia melempar tasnya ke sofa, namun langkahnya terhenti saat sepatunya menginjak sesuatu yang basah. Ia menunduk. Cairan merah pekat sudah merembes hingga ke karpet mahal di depan pintu.

Matanya perlahan mengikuti jejak darah itu ke arah ranjang.

"Tuan?" panggilnya dengan suara bergetar.

Di atas ranjang, sosok pria yang seharusnya menjadi "pelanggannya" malam ini tergeletak dalam posisi merentang yang mengerikan. Kulitnya sudah sepucat kertas, matanya melotot kosong menatap langit-langit. Dan di antara kedua pahanya... hanya ada lubang menganga yang hancur, dikerumuni genangan darah yang sudah mulai mengental.

Aroma amis dan besi menusuk hidung wanita itu begitu tajam.

"AAAAAAAKKKKKKKHHHH!!!!"

Jeritan histeris pecah, membelah kesunyian hotel. Wanita itu jatuh terduduk, tangannya tanpa sengaja menyentuh genangan darah yang masih hangat. Ia merangkak mundur dengan panik, seluruh tubuhnya gemetar hebat saat menyadari bahwa seseorang telah "bermain" di sini sebelum dia—dan permainan itu berakhir dengan pemandangan paling mengerikan yang pernah ia lihat seumur hidup.

......................

Mansion Keluarga Zharvok

Langkah kaki Seravina bergema di lorong marmer yang dingin saat ia masuk ke dalam kediaman utama. Luka berjalan beberapa langkah di belakangnya, membawa tas kecil milik Seravina dengan sikap kaku.

"Ah, lihat siapa yang pulang," sebuah suara sarkastik memecah kesunyian.

Di sofa ruang tengah, Ivan Aleksandrovich Zharvok duduk santai dengan laptop di pangkuannya. Ia mengenakan kaus santai, rambutnya sedikit berantakan, dan senyum miring menghiasi wajahnya. Ivan, si genius intelijen yang selalu tahu segalanya, tapi kali ini ia tidak tahu detail "permainan" Seravina di Ritz-Carlton.

"Kau terlihat segar, Adik Kecil. Apa kau baru saja memberkati seseorang dengan kehadiranmu?" Ivan menutup laptopnya, matanya menyipit penuh selidik. Ia selalu suka memancing emosi Seravina, berharap bisa melihat retakan di wajah porselen adiknya itu.

Seravina berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah Ivan, memberikan senyuman yang sangat manis—terlalu manis hingga terlihat tidak alami.

"Kau selalu begitu perhatian, Ivan," ucap Seravina dengan nada yang lembut sekali. Ia mengambil wadah kaca yang sudah dibungkus kain hitam dari tangan Luka, lalu berjalan mendekati abangnya. "Karena kau sudah menungguku pulang, aku membawakanmu hadiah. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kau tidak meretas privasiku malam ini."

Seravina meletakkan bungkusan itu di atas meja tepat di depan Ivan.

"Apa ini? Caviar?" Ivan mengangkat alis, tangannya sudah terulur untuk mengambil bungkusan itu.

"Sesuatu yang... spesial. Nikmati ya," sahut Seravina tenang. Tanpa menunggu sedetik pun, ia berbalik dan melangkah pergi menuju kamarnya, membiarkan rambut hitamnya terayun anggun di belakang punggung.

Ivan terkekeh. "Tumben sekali kau punya hati."

Dengan santai, Ivan membuka ikatan kain hitam itu. Ia mengira itu mungkin jam tangan mahal atau cerutu langka. Namun, saat kain itu terbuka sepenuhnya dan memperlihatkan sebuah wadah kaca berisi cairan kimia dengan potongan daging manusia yang masih segar di dalamnya...

Wajah Ivan yang tadinya santai langsung pucat pasi. Matanya membelalak, mulutnya menganga tanpa suara.

"Sialan... BAJINGAN!" Ivan tersedak, hampir melempar wadah itu saat menyadari ada "aset" yang mengambang di sana. "SERAVINA! KAU GILA! APA-APAAN INI?!"

Dari kejauhan, di ujung tangga, Seravina tidak berhenti. Ia hanya terus berjalan tanpa menoleh, meninggalkan Ivan yang kini berteriak-teriak jijik sambil mencari tisu untuk membersihkan tangannya yang seolah-olah ikut terkotori.

"Wueeeekk!" Ivan menutup mulutnya dengan punggung tangan, matanya melotot menatap potongan daging yang mengambang pucat di dalam cairan pengawet itu. "Sialan! Seravina! Ini... ini punya siapa, hah?!"

Seravina hanya terus menaiki tangga tanpa menoleh, jemarinya mengusap pagar kayu ek dengan sangat tenang.

"Sera! Aku serius! Wueekk... SIAL!" Ivan benar-benar mual. Perutnya bergejolak hebat melihat detail pembuluh darah yang masih terlihat di potongan 'aset' tersebut. "Kenapa kau harus membungkusnya seperti hadiah ulang tahun?! Aku hampir saja mengira ini hadiah mahal, bajingan!"

Ivan melompat berdiri, menjauh dari meja itu dengan wajah yang sekarang berubah hijau. Ia terbatuk-batuk, berusaha menghilangkan bayangan menjijikkan yang baru saja ia lihat.

"Kau sakit jiwa! Benar-benar psikopat! Wueekk... Luka! Ambil benda ini! Buang! Atau bakar! Jangan biarkan benda ini ada di ruang tengah!" teriak Ivan histeris sambil menunjuk-nunjuk meja dengan jari gemetar.

Luka, yang masih berdiri tak jauh dari sana, hanya membungkuk kecil tanpa ekspresi, lalu dengan sangat santai mengambil wadah itu seolah-olah itu hanya sampah biasa.

Dari lantai atas, suara lembut Seravina terdengar samar, dingin, dan tanpa penyesalan. "Simpan saja, Ivan. Siapa tahu kau butuh cadangan suatu hari nanti."

"BRENGSEK KAU, SERAVINA!" Ivan berteriak frustrasi, langsung berlari menuju kamar mandi terdekat sambil terus menutup mulutnya yang sudah tidak tahan ingin memuntahkan isi perutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!