NovelToon NovelToon
Figuran Yang Polos

Figuran Yang Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
​Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkurung dalam Kegelapan

​"Kau..."

​Suara itu keluar dari bibir Ezkiel dengan sangat pelan, namun setiap suku katanya membawa penekanan yang mencekam. Atmosfer di koridor itu mendadak turun hingga ke titik beku. Raisa bisa merasakan bulu kuduknya meremang, jantungnya seolah diremas oleh tangan takkasat mata.

​Raisa tersentak. Ia masih terduduk di lantai, menatap ujung sepatu kulit Ezkiel yang mengkilap. Ia ingin berdiri, namun kakinya terasa lemas seperti jeli.

​"Sudah berulang kali aku katakan..." Ezkiel membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara mereka. Tatapannya begitu dingin, sedingin es di kutub utara. "Jangan pernah menyentuh milikku."

​Kalimat itu menghujam jantung Raisa. Dalam novel, 'milikku' yang dimaksud Ezkiel adalah Zella. Karena Anna pemilik tubuh ini sebelumnya baru saja membuat Zella menangis, Ezkiel tampak siap untuk menghancurkan siapa pun yang ada di depannya.

​Raisa hanya diam mematung. Bibirnya kelu, tak tahu harus menjawab apa. Bagaimana ia bisa membela diri? Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Anna Eliam sebelum ia terbangun di tubuh ini.

​Rasa takut yang luar biasa menyergapnya. Bayangan tentang bagaimana Ezkiel membunuh pemeran utama pria di akhir novel melintas di pikirannya. Pria di depannya ini bukan sekadar karakter fiksi lagi; dia adalah ancaman nyata yang sedang menatapnya dengan penuh kebencian.

​"Ma--maaf..." cicit Raisa sangat pelan, suaranya hampir hilang ditelan kebisingan koridor.

​Ezkiel hanya mendengus sinis, sebuah senyuman miring yang terlihat mengerikan terukir di wajah tampannya. Ia tidak butuh permintaan maaf; ia butuh kepatuhan mutlak, sesuatu yang tampaknya akan menjadi awal dari mimpi buruk Raisa di dunia ini.

"Aku rasa kau harus menerima hukuman karena berani menyentuh gadisku," desis Ezkiel dengan nada tajam yang menyayat udara.

​Raisa belum sempat mencerna kalimat itu saat tangan kekar Ezkiel mencengkeram pergelangan tangannya. Tanpa ampun, pria itu menariknya paksa, menyeretnya menyusuri koridor. Raisa berusaha melepaskan diri, namun tenaganya tidak sebanding dengan cengkeraman Ezkiel yang seperti borgol besi.

​Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu yang sudah usang dan berdebu—gudang tua di ujung gedung sekolah yang jarang dilewati orang.

​BRAKK!

​Ezkiel mendorong tubuh Raisa ke dalam ruangan gelap itu hingga ia terjatuh ke lantai yang kotor. Bau apek dan debu langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya.

​"Aku rasa kau harus menerima hukuman ringan agar otakmu itu ingat posisimu, Anna," ucap Ezkiel tanpa sedikit pun rasa iba.

​Mata Raisa membelalak saat melihat Ezkiel mulai menarik pintu gudang itu dari luar. Kegelapan perlahan mulai menelan cahaya yang masuk.

​"Jangan! Aku mohon, jangan!" teriak Raisa panik. Ia merangkak dengan cepat menuju pintu, namun terlambat.

​KLIK!

​Suara kunci yang diputar dari luar terdengar begitu nyata.

​"Tolong! Ezkiel, buka pintunya! Aku mohon!" Raisa menggedor-gedor pintu kayu itu dengan sisa tenaganya. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya.

​Ia teringat trauma masa kecilnya yang sangat takut akan kegelapan dan ruang tertutup sejak kejadian penculikan itu. Di dalam kegelapan gudang yang pekat, napas Raisa mulai terasa pendek dan sesak. Ia sendirian, terperangkap dalam tubuh seorang figuran, dan dihukum oleh pria yang seharusnya ia hindari.

​"Siapa pun... tolong aku..." rintihnya lirih sembari memeluk lututnya di pojok gudang yang dingin.

Raisa meringkuk di sudut gudang yang lembap, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Setiap tarikan napas terasa berat karena debu yang menyesakkan paru-paru. Di tengah kegelapan dan ketakutan yang mencekam, otaknya mencoba memproses kenyataan gila ini.

​"Jadi... aku benar-benar Anna?" bisiknya pelan di sela sesenggukan. "Anna Eliam yang tergila-gila pada Ezkiel sampai kehilangan harga diri?"

​Air mata semakin deras mengalir membasahi pipinya. Ia merindukan pelukan hangat Mamanya dan perlindungan Papanya yang selama ini ia anggap berlebihan. Ternyata, dunia luar yang selama ini ia impikan lewat buku-buku novel jauh lebih kejam daripada kurungan homeschooling-nya.

​"Aku senang bisa masuk ke dunia novel... tapi kenapa harus novel ini?" rintihnya pedih. "Mama... Papa... Raisa takut."

​Ia teringat wajah gadis yang menangis tadi—Zella. Sang pemeran utama yang begitu dicintai oleh Arland dan Ezkiel. "Tadi itu beneran Zella? Cantik banget... tapi kenapa aku harus jadi figuran yang dibenci semua orang?"

​Di sela tangisnya, Raisa meraba saku seragamnya dan menemukan sebuah cermin kecil. Ia mencoba menyalakan senter dari ponsel yang ternyata ada di sakunya untuk melihat wajahnya. Saat cahaya lampu menyinari cermin, Raisa nyaris memekik horor.

​"Hwaaa! Ini muka atau hantu?!"

​Wajah di cermin itu tertutup riasan yang sangat tebal dan tidak beraturan. Eyeshadow hitam yang luntur karena air mata membuat matanya terlihat seperti panda, ditambah bedak putih yang terlalu tebal—benar-benar seperti "dempul" yang pecah-pecah.

​Pantas saja Arland dan Ezkiel menatapnya dengan penuh kejijikan. Anna Eliam ternyata bukan hanya jahat, tapi juga tidak punya selera dalam merias diri.

​"Pantas saja Ezkiel nggak mau lihat aku," gumam Raisa sambil mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan ujung seragam, mencoba menghapus riasan hantu itu meskipun perih. "Kalau begini caranya, aku harus bertahan hidup. Aku nggak mau mati tragis di tangan Ezkiel!"

Raisa memeluk lututnya semakin erat, mencoba menghapus sisa-sisa bedak tebal di wajahnya dengan tangan yang gemetar. Pikirannya melayang jauh, mencoba mengingat setiap detail bab dari novel yang ia baca semalam.

​"Gimana caranya ya? Ini cerita sebenarnya sudah sampai bab berapa?" gumamnya pada diri sendiri, menatap hampa ke arah pintu yang tertutup rapat. "Ah, aku nggak tahu lagi! Fokusku cuma baca sampai tengah malam, tapi aku nggak hafal detail urutan kejadiannya."

​Yang ia tahu pasti, posisi Anna Eliam di awal cerita memang sangat mengenaskan. Selalu mengejar Ezkiel dan selalu berakhir dipermalukan.

​"Tapi gimana caranya aku bisa keluar dari sini?" isaknya pelan. Suasana gudang semakin mencekam seiring pudarnya cahaya matahari dari celah ventilasi kecil di atas. "Aku takut... gimana kalau ada kecoa? Atau tikus?"

​Ia membayangkan serangga-serangga itu merayap di atas seragamnya dalam kegelapan. Namun, teriakannya hanya memantul di dinding gudang yang sunyi. Nihil. Tidak ada yang datang menolong. Ezkiel benar-benar berniat memberinya pelajaran tanpa ampun.

​Waktu terasa berjalan sangat lambat. Raisa yang terbiasa hidup dalam perlindungan ketat kini harus berjuang melawan rasa trauma dan sesak napas sendirian. Dari kejauhan, ia mendengar bel pulang sekolah berbunyi, diikuti suara riuh rendah siswa yang berangsur-angsur menghilang, meninggalkan keheningan yang menyiksa.

​Hingga akhirnya, hari benar-benar gelap.

​Srak... srak...

​Suara kunci diputar dan langkah sepatu bot yang berat terdengar mendekat. Cahaya lampu senter yang terang tiba-tiba menusuk mata Raisa saat pintu gudang terbuka lebar.

​"Loh? Nak, kamu kenapa masih di sini?!" seru seorang pria paruh baya dengan seragam petugas kebersihan sekolah, wajahnya tampak terkejut sekaligus khawatir.

​Raisa mendongak dengan mata sembab dan wajah yang kini terlihat lebih bersih meskipun pucat pasi. Tanpa kata, ia langsung berdiri dan berlari keluar melewati petugas itu. Ia tidak peduli lagi pada sopan santun; yang ia inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin dari sekolah yang terasa seperti penjara ini.

​Di bawah sinar lampu jalan yang temaram, Raisa berjanji dalam hati: ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi Anna Eliam yang lemah lagi. Jika ia harus terjebak di dunia ini, maka ia yang akan mengubah alurnya.

1
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
wahyu andria
suka karyanya. . .up yang bnyak thor
Teguh Aliyanto
up yg bnayak thorr jagan 1 satu aja
Teguh Aliyanto
semagat💪💪
Teguh Aliyanto
ug yg banyak thor😍😍
Teguh Aliyanto
lanjuth thorr😍
Teguh Aliyanto
lanjuttt🤭🤭
Teguh Aliyanto
lanjur thor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!