“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”
Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.
“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”
Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.
“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”
“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”
“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”
Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 6 - Lin Shuyue
Tiga pria berjubah abu-abu membawa makhluk aneh tersebut masuk lebih dalam ke hutan bambu sebelum akhirnya lenyap di tengah kabut malam. Bai Fengxuan sempat berdiri cukup lama di tempat itu sambil memandangi arah kepergian mereka, namun pada akhirnya ia memilih diam dan kembali ke kandang ayam sebelum fajar tiba.
Ia tidak bodoh. Orang-orang tadi jelas bukan murid luar biasa, dan aura mereka juga terlalu aneh untuk sekadar penjaga sekte biasa. Terlebih lagi, makhluk yang mereka bawa tampaknya berkaitan dengan sesuatu yang sengaja disembunyikan.
Masalah seperti itu bukan sesuatu yang ingin disentuh murid luar berusia sepuluh tahun. Namun sayangnya, dunia kultivasi tidak pernah kekurangan penyebar rumor.
Keesokan paginya seluruh Puncak Awan Pengembara langsung gempar oleh cerita mengenai Bai Fengxuan yang mengejar “hantu ayam” sampai masuk ke hutan bambu tengah malam.
Asap dapur umum baru saja mulai naik ke udara ketika kerumunan murid luar sudah memenuhi area kandang ayam spiritual. Bahkan beberapa kakak senior yang biasanya malas turun gunung ikut datang hanya demi mendengar cerita tersebut secara langsung.
“Aku dengar hantunya punya kepala ayam dan tubuh manusia!”
“Omong kosong, yang kulihat tadi malam katanya matanya merah menyala seperti iblis!”
“Xu Liang bilang Adik Bai hampir dimakan hidup-hidup!”
Di tengah kerumunan itu, Xu Liang berdiri dengan wajah serius sambil mengangkat tangan ke udara seolah dirinya benar-benar menyaksikan pertarungan besar semalam.
“Kalau Adik Bai terlambat satu langkah saja, sekarang mungkin tinggal tulangnya!”
“Diamlah…”
Bai Fengxuan memijat pelipisnya dengan wajah gelap sambil membawa keranjang pakan ayam. Namun justru reaksinya itu membuat para murid luar semakin penasaran.
“Jadi benar ada hantunya?”
“Bagaimana bentuknya?”
“Apakah itu iblis?”
Pertanyaan datang bertubi-tubi tanpa memberinya kesempatan bernapas. Pada akhirnya Bai Fengxuan hanya bisa menghela napas pendek lalu menjawab seadanya.
“Hantunya memang ada.” Ia berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan. “Tapi waktu aku mengejarnya dia langsung lari jauh ke dalam hutan.”
Kerumunan langsung menjadi semakin ribut. Bahkan beberapa murid perempuan mulai terlihat ketakutan dan memutuskan untuk tidak keluar malam sendirian selama beberapa hari ke depan.
Untungnya, rumor seperti itu biasanya tidak bertahan lama di sekte besar. Hari demi hari kembali berlalu dan kehidupan di Puncak Awan Pengembara perlahan kembali normal. Tidak ada lagi ayam spiritual yang menghilang pada malam hari dan para murid luar mulai melupakan kejadian tersebut sedikit demi sedikit seolah semuanya hanyalah cerita aneh yang terbawa kabut malam pegunungan.
Bai Fengxuan sendiri kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa.
Setiap pagi ia membersihkan kandang ayam spiritual lalu mengambil pakan dari gudang penyimpanan di lereng timur gunung. Siang harinya ia menghadiri kelas umum kultivasi bersama murid luar lain di aula pembelajaran, sedangkan malam harinya ia membantu mengangkut kotoran ayam spiritual menuju ladang herbal di kaki gunung untuk dijadikan pupuk spiritual. Hari-harinya terasa melelahkan namun damai.
Dan selama waktu itu pula ia akhirnya mengetahui nama gadis berpakaian hijau tersebut.
Namanya Lin Shuyue.
Ia ternyata adalah murid luar dari Puncak Formasi Langit, salah satu dari empat puncak utama Sekte Forgotten Blade yang berfokus mempelajari rune, array, dan formasi spiritual.
Berbeda dengan Puncak Awan Pengembara yang dipenuhi bau masakan dan kandang ayam, murid-murid dari Puncak Formasi Langit biasanya terlihat lebih tenang dan misterius. Mereka sering membawa gulungan rune maupun kompas spiritual ke mana-mana dan jarang bergaul dengan murid luar biasa.
Namun Lin Shuyue cukup berbeda. Ia terlalu sering muncul di sekitar Puncak Awan Pengembara hingga banyak murid mulai mengenalnya.
Menurut Xu Liang, Lin Shuyue sering datang membantu mengantar rune penyimpanan makanan dan formasi pendingin untuk dapur umum sekte. Karena itulah ia cukup sering bertemu Bai Fengxuan tanpa sengaja.
Atau mungkin tidak sepenuhnya tidak sengaja.
Pagi itu kabut tipis masih menggantung di lereng gunung ketika suara kokok ayam mulai terdengar dari berbagai penjuru Puncak Awan Pengembara. Cahaya matahari perlahan muncul di balik pegunungan dan menerangi lautan awan putih yang mengelilingi sekte Forgotten Blade seperti negeri para immortals.
Udara pagi terasa dingin dan segar. Bai Fengxuan keluar dari gubuk kayunya sambil membawa dua ember kayu besar di pundaknya. Hari ini jadwalnya mengambil air dari sungai pegunungan di kaki gunung untuk mengisi persediaan kandang.
Jalan setapak menuju sungai dipenuhi embun dan aroma rumput basah. Dari kejauhan terdengar suara murid luar lain yang mulai sibuk bekerja sementara asap dapur umum perlahan membumbung ke langit. Tak lama kemudian Bai Fengxuan tiba di tepian sungai pegunungan yang jernih.
Air sungai itu mengalir deras dari hulu gunung dan dipenuhi energi spiritual alami yang membuat banyak murid luar sering mengambil air dari sana untuk memasak maupun berkultivasi.
Bai Fengxuan meletakkan ember kayunya lalu berjongkok di tepian sungai. Namun tepat ketika ia hendak mengambil air sesuatu menarik perhatiannya.
Di tengah aliran sungai tampak sebuah benda hitam besar hanyut perlahan mengikuti arus. Benda itu beberapa kali terbentur batu sungai sebelum akhirnya tersangkut di dekat tepian.
Bai Fengxuan mengernyit penasaran. Awalnya ia mengira benda itu hanyalah potongan besi tua yang dibuang dari dapur umum di hulu gunung, setelah melihat lebih jelas bentuknya menyerupai wajan. Sebuah wajan hitam besar yang tampak sangat tua.
Permukaannya dipenuhi goresan dan noda gosong yang sulit dibersihkan. Warnanya hitam legam seperti arang terbakar dan bentuknya terlihat usang seolah telah digunakan selama puluhan tahun.
Bai Fengxuan ragu beberapa saat sebelum akhirnya mengambil ranting panjang untuk menarik benda itu ke tepian.
Sesaat setelah tangannya menyentuh wajan tersebut ekspresinya langsung berubah.
“Berat sekali…”
Lengannya langsung turun beberapa inci akibat berat benda itu. Bahkan dengan kekuatan tubuh seorang murid luar yang terbiasa bekerja kasar, Bai Fengxuan masih merasa seperti sedang mencoba mengangkat batu gunung. Ia menggertakkan giginya lalu mencoba mengangkatnya dengan kedua tangan.
Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya ia berhasil memindahkan wajan hitam itu ke daratan.
“Kupikir cuma wajan biasa…”
Bai Fengxuan mengatur napas sambil menatap benda hitam di depannya dengan curiga. Setelah berpikir cukup lama, ia tetap memutuskan membawanya pulang.
Bagaimanapun, wajan sebesar ini mungkin masih bisa dipakai memasak di kandang murid luar. Kalau dijual ke dapur umum pun mungkin ia masih bisa mendapatkan beberapa batu spiritual.
Masalahnya wajan itu terlalu berat.
Pada akhirnya Bai Fengxuan hanya bisa mengikatnya ke punggung menggunakan tali rami sambil tetap membawa ember air di kedua tangannya.
Pemandangannya sekarang terlihat sangat menyedihkan.
Tubuh kecilnya hampir tenggelam di balik wajan raksasa hitam yang tergantung di punggungnya. Langkahnya juga menjadi lambat dan berat seperti kura-kura tua yang membawa cangkang batu di atas tubuhnya.
“Kenapa benda ini seberat gunung…”
Bai Fengxuan berjalan sempoyongan menaiki lereng sambil terus mengeluh pelan. Namun nasib buruknya belum berakhir.
Di tengah perjalanan menuju puncak, ia kembali bertemu Lin Shuyue yang sedang membawa beberapa gulungan rune dan keranjang herbal.
Langkah gadis itu langsung terhenti sesaat setelah melihat penampilan Bai Fengxuan sekarang.
Kabut pagi bergerak perlahan di sekitar jalan pegunungan sementara Bai Fengxuan berdiri membeku dengan wajah mati rasa sambil membawa wajan hitam raksasa di punggungnya.
Beberapa detik kemudian Lin Shuyue menutup mulutnya dan tertawa kecil.
Suara tawanya terdengar lembut seperti lonceng angin yang tertiup angin pagi.
Wajah Bai Fengxuan langsung menghitam saat itu juga.
“Apa yang sebenarnya kau bawa…” Lin Shuyue masih berusaha menahan tawanya sambil memandangi wajan besar di punggung Bai Fengxuan. “Kau terlihat seperti kura-kura gunung yang sedang pindahan rumah.”
Bai Fengxuan merasa seluruh harga dirinya runtuh di tempat.
“Aku menemukannya di sungai.”
“Dan kau memutuskan membawanya pulang?”
“Daripada dibuang percuma.”
Lin Shuyue tersenyum kecil lalu berjalan mendekat. Namun tepat ketika tatapannya jatuh pada permukaan wajan hitam tersebut, ekspresinya tiba-tiba sedikit berubah. Tatapannya menyipit samar.
“Hm…”
Bai Fengxuan mengernyit. “Ada apa?”
Lin Shuyue menatap wajan itu beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng pelan.
“Tidak… mungkin hanya perasaanku.”
Namun jauh di dalam hatinya, ia merasa sempat melihat rune-rune sangat samar muncul lalu menghilang di permukaan wajan hitam itu. Seolah benda usang tersebut bukan sekadar alat masak biasa.
….
ok Lanjut bagi hasiL Panen....dan unduj afik Bai sukses dgn teknik pedang tak terlihat yg akan menjadi senjata andaLan untuk jarak yg sangat dekat dgn Lawan....