Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Bercerai
Suasana aula utama kediaman keluarga Li begitu meriah. Para tamu mulai berdatangan, suara tawa dan percakapan memenuhi ruangan. Di tengah kemegahan itu, Nyonya Li Anna berdiri dengan wajah sedikit gelisah, matanya menyapu ke sekeliling.
“Di mana Natalia?” tanyanya, nadanya terdengar tak sabar. “Apa yang dia lakukan?”
Li Andrian yang berdiri di samping Gu Lilith menjawab santai, seolah tak ada yang perlu dipermasalahkan.
“Biarkan saja dia, Ibu.”
Nyonya Li Anna langsung mengerutkan kening, jelas tidak puas.
“Bagaimana bisa dibiarkan?” suaranya meninggi. “Seharusnya dia berdiri di sini menyambut para tamu! Apa kata orang nanti? Istri dari Adipati Li tidak muncul saat penyambutan? Terlebih lagi di hari kau membawa Lilith pulang?”
Ia mendengus pelan. “Sungguh memalukan.”
Gu Lilith yang berdiri anggun di samping Andrian segera menunduk sedikit, suaranya lembut dan penuh kepura-puraan.
“Ibu, sudahlah,” katanya halus. “Biarkan Kak Natalia sendiri dulu. Mungkin dia masih terkejut dan sedih melihat kedatanganku bersama Andrian.”
Ia menatap ke arah pintu seolah penuh empati. “Aku akan pergi mencarinya dan membujuknya kembali.”
Lilith baru saja hendak melangkah ketika sebuah tangan menahan pergelangannya.
“Tak perlu.”
Suara Andrian tegas. Ia menatap Lilith dengan lembut, jauh berbeda dari tatapannya pada Natalia sebelumnya.
“Kau sedang hamil. Jangan memikirkan hal seperti itu,” ujarnya pelan. “Biarkan saja dia. Tidak perlu dijelaskan apa pun. Dia pasti akan mengerti sendiri.”
Li Anna mengangguk setuju. “Benar. Untuk apa kau merendahkan dirimu? Dia hanya perlu tahu posisinya.”
Andrian menarik Lilith sedikit lebih dekat, seolah melindunginya. Dalam pikirannya, semuanya terasa sederhana. Natalia mencintainya, ia tahu itu. Bahkan terlalu yakin.
Selama ini, wanita itu selalu diam, selalu menurut, selalu menerima apa pun yang ia berikan atau bahkan yang ia abaikan. Jadi kali ini pun, Andrian percaya Natalia akan melakukan hal yang sama, menerima, mengalah dan diam.
Di sisi lain kediaman, Paviliun Mawar milik Xu Natalia tampak sunyi. Aroma bunga mawar yang biasanya menenangkan kini terasa hambar.
Natalia duduk diam di kursi kayu, menatap kosong ke taman di depannya. Air matanya sudah berhenti, namun bekasnya masih jelas terlihat di pipinya.
Lima tahun lalu, keluarga Li hanyalah rakyat biasa. Ingatan itu kembali berputar di benaknya.
Saat itu, ia bertemu Li Andrian di hutan, pria itu terluka parah setelah diserang harimau. Tubuhnya penuh luka, nyaris tak bernyawa. Dan Natalia yang kebetulan melintas, menyelamatkannya tanpa ragu.
Andrian saat itu hanyalah pria miskin yang mencari kayu bakar untuk bertahan hidup. Namun dari pertemuan itu tumbuh perasaan. Cinta pada pandangan pertama.
Natalia membantu Andrian bangkit. Ia memberikan harta miliknya agar pria itu bisa mengikuti ujian istana. Ia mendukungnya hingga menjadi sarjana, bahkan mengorbankan banyak hal tanpa pernah meminta balasan.
Bahkan kediaman keluarga Li juga berasal dari mahar yang ia berikan saat pernikahan mereka. Ia menemani Andrian dari nol, dari tidak memiliki apa-apa. Hingga berdiri di puncak. Namun kini semua itu seolah tak berarti. Ia diduakan, dikhianati dan dilupakan.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Suara dingin itu memecah keheningan.
Natalia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.
“Andrian,” gumamnya pelan, lalu berdiri perlahan.
Pria itu masuk ke dalam paviliun dengan wajah tidak senang.
“Semua tamu bertanya-tanya,” lanjut Andrian tajam. “Apa kau tidak tahu? Mereka mencibir Lilith karena kau tidak muncul di aula.”
Natalia menoleh. Wajahnya kini dingin, tanpa emosi. Jadi bukannya untuk meminta maaf dan menjelaskan apa yang Andrian lakukan. Ia justru membela wanita lain.
“Apa hubungannya denganku?” tanya Natalia datar. “Jika selir kesayanganmu itu dicibir?”
Tatapannya tajam. “Bukankah itu memang pantas ia dapatkan? Sebagai orang ketiga dalam pernikahan kita.”
“Natalia!” bentak Andrian.
Ia mengerutkan kening, jelas tidak suka dengan sikap itu.
“Seorang bangsawan wajar memiliki lebih dari satu wanita,” lanjutnya dingin. “Kau seharusnya mengerti.”
Natalia tersenyum tipis, senyum yang penuh ejekan.
“Kau lupa janjimu, Andrian?” suaranya pelan, dan menusuk. “Sebelum kita menikah, kau berjanji tidak akan pernah mengambil selir ataupun wanita lain.”
Ia menatap langsung ke mata pria itu. “Dan sekarang kau sendiri yang mengingkarinya.”
Andrian terdiam. Ia memalingkan wajah, tak ingin menatap Natalia. Ada banyak alasan di balik keputusannya.
Gu Lilith adalah putri bangsawan, seorang jenderal tingkat tiga, sesuatu yang langka di Kekaisaran Pedang Langit. Dengan Lilith, posisinya akan semakin kuat. Jalan menuju kekuasaan lebih terbuka. Sebentar lagi ia akan diangkat menjadi Adipati.
Sementara Natalia, hanya yatim piatu, tanpa latar belakang yang jelas. Tanpa kekuatan, meski Natalia jauh lebih cantik, tapi percuma jika tidak bisa membawa dirinya menuju puncak kejayaan.
“Berhenti bersikap kekanak-kanakan,” kata Andrian akhirnya. “Pergi ke aula. Katakan pada semua orang bahwa kau menerima Lilith. Jika tidak .…”
Natalia mengangkat dagu sedikit. “Jika tidak apa?”
Sejenak, Andrian ragu, namun egonya lebih besar. “Kita bercerai saja.”
Suasana berubah hening. Namun tak seperti yang ia bayangkan Natalia tidak menangis apalagi memohon.
Ia hanya menatapnya dengan dingin. “Baik,” jawabnya singkat. “Kita bercerai.”
Deg!
Mata Andrian langsung melebar, ia terkejut dan tidak percaya. Ini bukan reaksi yang ia harapkan.
Ia pikir Natalia akan panik, memohon, atau setidaknya mencoba mempertahankan pernikahan mereka, seperti biasanya.
Namun wanita di hadapannya kini berbeda.
“Natalia, kau—” Andrian terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Sepertinya kau perlu berpikir dengan tenang.”
Ia mengerutkan kening. “Besok, aku tidak ingin kau bersikap seperti ini lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, Andrian berbalik dan pergi.
Tangan Xu Natalia mengepal kuat di sisi tubuhnya. Selama ini ia sudah terlalu sabar menghadapi sikap dingin Li Andrian, menahan segala luka tanpa pernah mengeluh. Padahal dulu, sebelum menikah, pria itu begitu hangat dan penuh cinta padanya.
Namun semua berubah setelah pernikahan itu terjadi. Di malam pertama mereka, Natalia bahkan ditinggalkan sendirian tanpa penjelasan. Sejak saat itu, sikap Andrian perlahan menjadi dingin dan jauh.
Napas Natalia bergetar pelan, namun matanya perlahan mengeras. Ia menatap ke arah pintu tempat Andrian pergi tadi, seolah menegaskan sesuatu dalam hatinya.
“Kalau kau mengancamku dengan perceraian maka aku akan mengabulkannya, Andrian,” gumamnya lirih.
Pintu paviliun terbuka perlahan, dan Wulan masuk dengan wajah cemas. Ia segera menghampiri Natalia yang masih berdiri kaku.
“Nyonya, Anda tidak apa-apa?” tanyanya pelan.
Natalia menoleh, tatapannya kini jauh lebih tenang, meski menyisakan dingin yang asing. Ia menggeleng kecil, mencoba menenangkan pelayannya.
“Aku tidak apa-apa, Wulan.”
Wulan masih menatapnya khawatir, jelas tidak sepenuhnya percaya. Ia tahu betapa dalam perasaan Natalia terhadap Andrian selama ini.
“Nyonya .…” panggilnya ragu.
Natalia menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara tegas. “Persiapkan dirimu, Wulan. Mungkin beberapa hari ke depan, kita akan pergi dari sini.”
Wulan tertegun, matanya membesar karena terkejut. Ia tak pernah menyangka akan mendengar kata-kata itu dari Natalia.
“Pergi? Maksud Nyonya meninggalkan kediaman Li?” tanyanya tak percaya.
Natalia mengangguk pelan, tanpa ragu sedikit pun. Wajahnya tetap tenang, namun keputusan itu sudah bulat.
“Ya. Kita pergi.”
Wulan terdiam, hatinya campur aduk antara terkejut dan lega. Ia tahu, selama ini nyonyanya terlalu banyak menahan luka.
“Baik, Nyonya, ke mana pun Anda pergi, saya akan ikut,” ucapnya akhirnya dengan mantap.
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah