Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — Lorong yang Ditutup
Jam pelajaran terakhir baru saja selesai ketika Naresha keluar dari kelas sambil membawa map tugas di tangannya. Hari pertamanya di SMA Arkana terasa melelahkan.
Bukan karena pelajarannya.
Tapi karena suasana sekolah itu sendiri.
Terlalu sunyi.
Terlalu aneh.
Dan semua orang seperti menyembunyikan sesuatu.
Naresha berjalan santai menyusuri koridor lantai dua sambil melihat jadwal kelas yang dikirim wali kelas tadi pagi.
“Lab biologi di lantai tiga…” gumamnya pelan.
Ia menghela napas malas.
“Kenapa sih sekolah tua selalu tangganya banyak.”
Koridor mulai sepi karena sebagian besar siswa sudah pulang. Hanya terdengar suara langkah kaki dan hembusan angin sore yang masuk lewat jendela panjang.
Saat sampai di lantai tiga, Naresha langsung merasa suasananya berbeda.
Lebih dingin.
Lampunya lebih redup.
Dan lorongnya jauh lebih sepi dibanding lantai lain.
Langkah Naresha melambat.
Matanya memperhatikan sekitar dengan waspada.
“Aneh banget.”
Ia terus berjalan sambil mencari lab biologi, tetapi malah sampai di ujung koridor yang gelap.
Di sana…
Ada lorong panjang yang ditutup rantai besi besar.
Naresha berhenti.
Alisnya berkerut.
Lorong itu terlihat tua dan tidak terurus. Cat dindingnya mengelupas, sementara lampu di atasnya berkedip pelan.
Krek… krek…
Suara rantai bergerak tertiup angin membuat suasana semakin menyeramkan.
Di depan lorong tergantung papan kayu kusam bertuliskan:
DILARANG MASUK
Tulisan merah di bawahnya terlihat sudah mulai pudar.
Naresha mendekat pelan.
“Drama banget.”
Ia menatap ke dalam lorong, tetapi bagian ujungnya terlalu gelap untuk dilihat jelas.
Namun saat ia berdiri lebih dekat…
Terdengar suara aneh.
Suara perempuan menangis.
Pelan.
Tersendat.
Seolah seseorang sedang kesakitan.
Naresha langsung menoleh kanan kiri.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Tangisan itu terdengar lagi.
Kini lebih jelas.
Dan jelas berasal dari dalam lorong.
Bulu kuduk Naresha perlahan meremang.
Ia sebenarnya bukan penakut.
Tetapi suara itu terdengar terlalu nyata.
“Nangis siapa sih…”
Karena penasaran, Naresha memegang rantai besi itu dan mencoba mengintip lebih jauh.
Gelap.
Sunyi.
Namun samar-samar ia melihat sesuatu berdiri di ujung lorong.
Sosok perempuan.
Rambutnya panjang menutupi wajah.
Seragamnya putih kusam.
Diam.
Tidak bergerak.
Napas Naresha tertahan.
“Woi!”
Sosok itu perlahan mengangkat kepala.
Dan tiba-tiba—
Brak!
Seseorang menarik tangan Naresha dengan kasar.
“Jangan lihat!”
Naresha refleks menoleh.
Arven.
Cowok itu berdiri sangat dekat dengannya sambil menggenggam pergelangan tangannya erat.
Tatapannya tajam.
Dan untuk pertama kalinya, wajah dingin Arven terlihat panik.
“Lo ngapain di sini?” tanya Naresha kesal sambil melepaskan tangannya.
“Harusnya gue yang nanya begitu.”
Arven berdiri di depan lorong seolah sengaja menghalangi pandangan Naresha.
“Pergi dari sini.”
Naresha mendengus kecil.
“Emang kenapa? Ada harta karun?”
“Ini bukan bercandaan.”
Nada suara Arven berubah lebih rendah.
Serius.
Naresha menatap cowok itu beberapa detik.
“Ada orang nangis di dalam.”
Arven langsung diam.
Ekspresinya berubah kaku.
“Lo denger?”
“Ya iyalah.”
Sunyi beberapa saat.
Angin dingin kembali berembus melewati koridor.
Lampu di atas mereka berkedip pelan.
Ctek… ctek…
Naresha melipat tangan di dada.
“Sebenernya ada apa sih di lorong ini?”
Arven tidak langsung menjawab.
Cowok itu justru terlihat gelisah.
Tatapannya beberapa kali mengarah ke lorong gelap di belakangnya.
Seolah takut sesuatu muncul dari sana.
“Pokoknya jangan pernah ke sini lagi,” ucap Arven akhirnya.
“Kalau gue ga mau nurut?”
Arven menatap langsung mata Naresha.
Dan kali ini ekspresinya benar-benar serius.
“Kalau masih mau selamat… dengerin gue.”
Deg.
Entah kenapa ucapan itu membuat dada Naresha terasa aneh.
Namun sebelum ia sempat membalas, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Keinan muncul sambil membawa tas.
“Naresha! Astaga, gue nyariin lo dari tadi—”
Ucapan Keinan langsung terhenti saat melihat lorong itu.
Wajahnya mendadak pucat.
“Ngapain kalian di sini?”
“Katanya ada orang nangis,” jawab Naresha santai.
“HAH?!”
Keinan langsung menarik lengan Naresha menjauh.
“Udah ayo pergi!”
“Lo juga aneh,” protes Naresha.
Namun Keinan terus menariknya dengan wajah tegang.
Saat Naresha menoleh ke belakang…
Arven masih berdiri di depan lorong.
Diam.
Tatapannya tidak melihat ke arah mereka.
Melainkan ke dalam lorong gelap itu.
Dan perlahan…
Ekspresi cowok itu berubah semakin pucat.
Seolah ia baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.
Tiba-tiba—
Brakkk!
Suara keras terdengar dari dalam lorong.
Keinan langsung menjerit kecil.
“Naresha ayo cepat!”
Namun Naresha masih menatap lurus ke arah lorong itu.
Karena sepersekian detik tadi…
Ia merasa melihat sosok perempuan berambut panjang berdiri tepat di belakang Arven.
Tersenyum.