(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Ketegangan di pagi hari
Pagi hari kali ini sangat berbeda untuk Raka, tidak ada bentakan, tidak ada tekanan. Bahkan kebiasaannya melakukan pekerjaan rumah terbawa sampai ke rumahnya itu, bahkan sebelum para pelayan terbangun ia sudah berada di dapur untuk memasak sarapan.
Kepala pelayan yang baru saja terbangun tentu terkejut melihat, itu dan segera mencegah Raka untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya di kerjakan oleh dirinya.
“T-tuan muda, biar saya saja yang melanjutkan, sebaiknya tuan kembali ke kamar saja, ini masih terlalu pagi,” ucap bi Narti dengan hati-hati.
Sosok Raka yang dulu jarang sekali tersenyum kepada mereka justru tertawa kecil.
“Sudahlah bi, aku terbiasa melakukan ini. Lagi pula, ini hampir selesai,” jawabnya sambil tersenyum.
Melihat reaksi Raka yang jarang sekali dilihatnya, bi Narti terdiam beberapa saat, ternyata kehidupannya di luar keluarga Pradipta membentuknya menjadi sosok yang lebih lembut dan ramah, berbeda dengan sosok Raka yang dulu di kenalnya sebagai tuan muda yang dingin serta angkuh.
Bi Narti hanya bisa berdiri beberapa saat sambil memperhatikan Raka yang sibuk di depan kompor, aroma masakan yang menggugah mulai memenuhi dapur besar mansion itu.
Biasanya para koki dan pelayan akan bekerja dalam diam untuk menyiapkan sarapan keluarga Pradipta sesuai jadwal yang ketat, tetapi pagi itu suasananya terasa berbeda.
Raka bergerak dengan santai sambil sesekali mengecek masakan di atas meja, yang dulu tak terbiasa dengan itu semua kini terlihat begitu cekatan memotong bahan makanan, mengaduk sup, hingga menyusun beberapa lauk sederhana namun terlihat hangat dan menggugah selera.
“Kalau Papa masih sama seperti dulu, dia pasti tetap tidak mau sarapan kalau menunya seperti ini,” gumam Raka pelan sambil menuangkan kuah ke dalam mangkuk. “Mama juga biasanya suka yang hangat dan beraroma kuat.”
Bi Narti sedikit terkejut mendengar itu, ia tidak menyangka tuan mudanya masih mengingat kebiasaan kecil keluarga ini setelah bertahun-tahun pergi.
“Tuan muda masih ingat semuanya?” tanyanya hati-hati.
Raka tersenyum tipis tanpa menghentikan pekerjaannya. “Rumah ini mungkin sudah lama aku tinggalkan, Bi. Tapi tetap kebiasaan kedua orang tuaku, jelas masih aku ingat sampai kapanpun.”
Jawaban itu membuat Bi Narti mendadak merasa terharu.
Sudah bertahun-tahun mansion besar itu terasa dingin, Tuan Rendra semakin sibuk dan pendiam, sementara Nyonya Shanum lebih sering murung karena memikirkan anaknya yang pergi tanpa kabar. Para pelayan bekerja seperti biasa, tetapi suasana hangat keluarga itu perlahan menghilang.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu dapur, seorang pria paruh baya dengan wajah tegas berdiri di sana sambil memperhatikan keadaan tanpa bicara.
Tuan Rendra.
Tatapannya berhenti pada sosok Raka yang sedang memakai celemek dapur dengan lengan baju digulung sederhana.
Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening.
Bi Narti refleks menundukkan kepala. “T-tuan besar...”
Namun pria itu tidak langsung menjawab, sorot matanya justru tertuju pada meja makan kecil yang dipenuhi hidangan buatan putranya.
Alisnya sedikit mengernyit. “Apa yang kamu lakukan Raka?” tanyanya datar.
Raka menoleh sebentar lalu kembali mematikan kompor. “Memasak,” jawabnya santai.
“Aku tahu,” balas Tuan Rendra dingin. “Pertanyaanku, kenapa?”
Raka mengangkat bahu kecil sambil menyeka tangan dengan lap dapur. “Karena terbiasa,” jawabnya jujur.
Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa lebih hening, Bi Narti sampai menundukkan kepala, sedangkan Tuan Rendra tampak terdiam beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Entah kenapa, jawaban sederhana itu terasa seperti tamparan. Putranya yang lahir dengan semua kemewahan ternyata terbiasa bangun pagi untuk memasak sendiri demi bertahan hidup di rumah orang lain.
Tatapan Tuan Rendra berubah samar, meski wajahnya tetap sulit ditebak. “Kamu jadi tukang masak sekarang?” tanyanya akhirnya.
Raka terkekeh kecil. “Aku hanya membiasakan diri.”
Untuk pertama kalinya, rahang Tuan Rendra terlihat sedikit mengeras, ia tidak berkata apa-apa lagi. Namun tanpa sadar, jemarinya mengepal pelan di balik punggungnya.
Di saat yang sama, langkah kaki lain terdengar tergesa dari luar.
“Tante bilang bau makanannya enak banget sampai dia bangun.”
Suara Selina terdengar sebelum sosok wanita itu muncul di ambang pintu, rambutnya masih sedikit berantakan, tetapi wajahnya langsung berubah aneh ketika melihat Raka mengenakan celemek.
Beberapa detik ia terdiam, lalu tanpa sadar menunjuk. “Kamu...” katanya pelan. “Serius ini kamu Raka?” lanjutnya sambil terkekeh pelan.
Raka melirik datar. “Kenapa? Apa tidak cocok?”
Selina menatapnya dari atas ke bawah sebelum mendecak pelan. “Jujur aja, aku lebih kaget lihat kamu memasak dibandingkan saat mendengar kamu menikah diam-diam, dulu.”
Bi Narti sampai menahan senyum kecil, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dapur mansion Pradipta terasa hidup kembali.
Tak lama para pelayan menuju ke arah dapur dengan wajah yang terlihat panik, terlebih para koki di rumah itu.
“M-maaf Tuan besar, kami telat untuk bangun dan membiarkan tuan muda memasak sendiri...” ucap salah satu koki sambil menunduk dengan tangan yang terlihat gemetar.
Raka memperhatikan mereka sambil tersenyum.
“Sudahlah, kalian masak saja menu yang lainnya, lagi pula ini semua sebentar lagi selesai,” potong Raka sebelum Tuan Rendra menjawab koki tersebut.
Para koki dan pelayan saling berpandangan dengan gugup, mereka jelas mengenal bagaimana aturan ketat di mansion Pradipta selama ini. Keterlambatan sekecil apa pun biasanya cukup membuat suasana rumah berubah tegang, terlebih jika sampai membuat Tuan besar kecewa.
Namun pagi itu justru berbeda, Raka melangkah mendekat sambil melepas celemeknya perlahan, lalu tersenyum kecil kepada para pekerja dapur yang masih menundukkan kepala dengan wajah pucat.
“Tenang saja,” ucapnya santai. “Tidak ada yang salah, aku hanya bangun terlalu pagi saja.”
Salah satu koki senior sampai tampak kebingungan, ia menoleh sekilas pada Bi Narti, seolah meminta kepastian apakah pria di hadapannya benar-benar Tuan muda mereka.
Selina yang berdiri di dekat pintu hanya mendecak pelan sambil melipat tangan di dada. “Kalian jangan bengong begitu,” katanya datar. “Kalau terus diam seperti itu nanti sarapannya keburu dingin.”
Ucapan itu membuat suasana sedikit mencair, para pelayan mulai bergerak membantu menyusun hidangan di meja makan besar, sementara aroma masakan hangat semakin memenuhi ruangan.
Di sisi lain, Tuan Rendra masih berdiri diam memperhatikan semuanya tanpa banyak bicara, sesekali matanya jatuh pada tangan Raka yang terlihat lebih kasar dibanding dulu, ada bekas luka kecil di jemari dan kulit yang tampak menggelap karena terlalu sering bekerja di bawah panas matahari.
Rahang pria paruh baya itu kembali mengeras, ia tidak mengatakan apa pun, tetapi jelas ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Tak lama kemudian, langkah kaki pelan terdengar dari arah tangga, Nyonya Shanum muncul dengan cardigan tipis di tubuhnya, wajahnya masih terlihat pucat, tetapi pagi itu senyuman kecil menghiasi bibirnya.
“Wangi sekali...” gumamnya lembut.
Raka yang sedang membantu mengatur meja langsung menoleh cepat. “Mama kenapa turun? Harusnya istirahat dulu,” katanya sambil buru-buru berjalan menghampiri.
Nyonya Shanum tersenyum hangat lalu mengusap pipi putranya perlahan.
“Mama takut ini mimpi,” jawabnya lirih. “Kalau bangun kesiangan nanti kamu hilang lagi.”
Kalimat itu membuat suasana seketika menjadi sunyi beberapa detik, Raka menunduk pelan sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Raka tidak akan ke mana-mana lagi, Ma,” jawabnya lembut. “Sekarang makan dulu.”
Tuan Rendra memalingkan wajah sebentar sambil berdeham kecil, sedangkan Selina pura-pura sibuk melihat ponselnya, meski jelas terlihat menahan ekspresi.
Beberapa menit kemudian, seluruh hidangan mulai tersusun rapi di meja makan utama, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, meja keluarga Pradipta kembali dipenuhi aroma makanan rumahan.
Namun tepat ketika suasana perlahan terasa hangat, suara deru mobil tiba-tiba terdengar dari halaman depan.
Tidak hanya satu, dua mobil hitam mewah berhenti bersamaan, Bi Narti yang kebetulan melirik ke arah jendela mendadak membeku.
“Tuan besar...” ucapnya hati-hati.
Tuan Rendra mengangkat pandangan. “Ada apa?”
Bi Narti tampak ragu beberapa detik sebelum menjawab pelan, “Tuan Herman datang.”
Kalimat itu langsung membuat udara di ruangan berubah, ekspresi Selina yang semula santai langsung mengeras, bahkan beberapa pelayan refleks menundukkan kepala.
Raka mengernyit pelan, Tuan Herman. Nama yang tadi malam sempat disebut Jack.
Adik kandung Tuan Rendra sekaligus salah satu orang yang dikabarkan mulai terang-terangan ingin mengambil alih pengaruh di Pradipta Grup.
Tuan Rendra perlahan berdiri tegak, wajahnya kembali berubah dingin. “Pagi-pagi begini mau apa dia datang?” gumamnya rendah.
Belum sempat siapa pun menjawab, suara langkah kaki cepat terdengar dari lorong depan, diikuti tawa berat seorang pria. “Kakak! Wah, rumah ini sangat ramai sekali!”
Seorang pria paruh baya dengan setelan mahal melangkah masuk tanpa menunggu izin, senyum lebar terpasang di wajahnya, tetapi sorot matanya terasa tajam.
Di belakangnya berdiri seorang pria muda berpenampilan rapi yang tampak percaya diri. Namun langkah Tuan Herman mendadak berhenti ketika pandangannya jatuh pada seseorang di dekat meja makan.
Senyumnya perlahan memudar, matanya sedikit membesar. “Raka?” ucapnya pelan, jelas tidak menyangka.
Ruangan mendadak terasa jauh lebih tegang, begitu melihat kehadiran seseorang yang selama ini mereka takutkan.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km