Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap memaksa Sindi
***
"Huff....Akhirnya selesai juga." Tania mengusap keringat yang mengucur di pelipis nya dengan perasaan lega karena sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah.
Tania melihat kearah jam yang ternyata sudah hampir jam 10 siang.
"Pantesan perut aku sudah keroncongan sedari tadi, ternyata sudah siang." Keluh Tania segera bergegas ke dapur.
Tania menarik tudung saji berwarna coklat itu dengan penuh semangat. Namun, tiba-tiba binar mata nya seketika redup. Tubuh Nyan yang lemas terduduk lesu diatas kursi.
Bagaimana tidak, diatas meja sudah tidak ada sisa makanan sama sekali. Padahal Tania ingat betul kalau tadi dia masak begitu banyak, bahkan cukup sampai siang nanti.
"Apa mungkin ibu sudah menyimpan semua lauk nya di lemari ya?" Tania masih berharap ada sedikit sisa makanan yang di tinggalkan untuk dia, karena dia benar-benar sudah merasa sangat lapar.
Tenaga nya sudah terkuras habis setelah mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa bisa beristirahat sedetik Pun.
Dari memasak, mengepel, setrika baju yang sudah menumpuk dari semua orang yang berada dirumah itu. Tania tadi juga sempat mencuci, belum lagi dia harus menyapu semua halangan rumah sendirian.
Tania segera berdiri dengan sedikit harapan, dan membuka lemari yang biasa mereka pakai buat menyimpan lauk pauk.
"Kok ke kunci?" Gumam Tania sempat diam membeku sejenak.
"Sudah selesai rupanya." Terdengar suara Dinda dari arah belakang, Tania buru-buru berbalik.
"I-iya bu, Tania mau makan, tapi kenapa lemari nya ke kunci bu?" Tanya Tania polos.
Dinda mengambil gelas lalu meneguk sedikit air dan menatap sinis kearah Tania.
"Kenapa? Mau makan?" Tanya nya mengejek
Tania mengangguk polos tanpa berani menatap ibu mertua nya.
"Tuh, di lemari paling atas makanan kamu saya taruh. Ambil sana, setelah itu cepat-cepat ke kamar saya, badan saya pegal semua, saya mau dipijit." Titah Dinda sembari berlalu begitu saja.
Tania hanya bisa mengangguk patuh, lalu membuka lemari yang dimaksud mertuanya.
Deg
nyeri sekali rasa nya dada Tania melihat isi makanan yang dimaksud ibu mertuanya.
Hanya ada sepotong roti tawar tidak lebih, tidak ada nasi, apalagi lauk pauk yang lezat yang Tania masak tadi pagi.
"Ya Allah...." Gumam Tania sedih, Tania meraih sepotong roti itu dengan perasaan campur aduk, mau tak mau dia tetap memakan nya dari pada dia harus menahan lapar. Setidak nya sudah ada pengganjal perut nya sedikit walau hanya sepotong roti.
Tania mengunyah roti itu dengan susah payah di sertai air mata yang mengalir di pipi nya.
"Kamu ngapain nangis di situ Mbak."
Deg
Tania tersentak kaget mendengar suara Sindi yang tiba-tiba saja muncul dibelakang nya.
Gadis itu memicingkan mata nya menatap Tania yang masih memegang piring ditangan nya.
"Mbak nangis ya?" Tanya Sindi penasaran
Tania buru-buru menghapus air mata nya yang sedikit jatuh mengenai pipinya.
"Ah, udah lah Mbak, nggak usah lebay juga. Ngapain juga nangis sendirian sendirian didapur gini. Oh ya, aku kesini nyariin Mbak Tania." Sindi terlihat acuh, tidak ada rasa kasihan sedikit pun Dimata gadis muda itu pada kakak ipar nya sendiri.
"Ada perlu apa kamu nyariin Mbak Sindi?"
"Aku mau pinjam gelang Mbak yang di kasih Mas Raka kemarin dong. Mana? Tadi aku ke kamar mau ambil, eh tau nya kamar Mbak ke kunci. Tumben, kenapa? Mbak nggak suka kalau aku keluar masuk kamar kamu Mbak?" Tanpa basa basi Tania langsung meminta gelang pada Tania dan menuduh nya yang bukan-bukan.
Tania tadi sengaja mengunci pintu kamar nya, karena dia tau pasti Sindi dan yang lain akan masuk seenak nya kalau pintu kamar tidak dikunci.
Bukan sekali dua kali, barang milik Tania sering hilang di lemari hingga berpindah tangan ke Sindi ataupun Farah serta mertuanya sendiri.
Selama hampir lima bulan Tania menikah dengan Raka, tidak pernah sedikitpun keluarga dari suaminya itu yang menganggap nya layak keluarga.
Bahkan sering sekali barang yang kelihatan bagus yang dibawa Tania dari sebelum menikah dengan Raka, semua di rampas sama Sindi ataupun Farah.
"Kenapa diem mbak? Mana kunci nya? Buruan dong Mbak, aku buru-buru nih." Paksa Sindi menadah tangan nya meminta kunci, seolah-olah itu kamar nya sendiri.
"Maaf Sindi, tapi itu gelang pemberian Mas Raka. Itupun Mbak belum pakek sama sekali, Mbak nggak bisa pinjam kan," Tolak Tania halus berharap Sindi tidak tersinggung.
"Apa? Gak bisa pinjamkan, heh Mbak. Itu gelang di beli pakai uang nya Mas Raka ya, bukan pakai uang kamu. Jadi, itu bukan cuma kamu doang yang bisa nikmatin nya. Mbak Tania itu cuma orang lain dirumah ini, jadi nggak usah sok menguasai barang Mas Raka deh." Geram Sindi begitu kesal karena Tania berani menolak permintaan nya.
"Tapi Sindi, mbak harus izin sama Mas Raka dulu, karena itu pemberian dia." Ucap Tania membuat Sindi semakin kesal.
"Alah, kelamaan Mbak Tania ini. Sini kunci nya." Tania merebut kunci yang tadi sempat dikeluarkan Tania dari saku baju nya.
"Sindi, kamu nggak boleh ambil gelang itu, Sindi......," Tania sedikit berteriak sembari mengejar Sindi yang sudah terlebih dulu menuju ke kamar nya.
sebanyak dan sebesar apapun yang Tania lakukan untuk keluarga suami nya itu tetap Tania tidak akan pernah dianggap. Karena Tania berasal dari keluarga miskin, dulu saat Raka melamar Tania, Dinda sama sekali tidak mau datang. Mereka memang sangat menentang keputusan Raka untuk menikah dengan Tania.
Namun, Tania masih berpikir positif, mungkin suatu hari nanti Mama mertua nya akan luluh juga kalau mereka sudah menikah nanti.
Tapi harapan itu seakan semakin tipis Dimata Tania, bahkan semakin hari dirinya semakin tidak dihargai.
Meski begitu Tania tetap bertahan demi cinta nya sama Raka.
Tania berharap agar bisa segera memiliki momongan, mungkin dengan hadir nya buah hati diantara Mereka berdua, bisa jadi keluarga suami nya akan berubah baik pada nya dan hati mereka akan luluh.
begitu lah pikiran Tania, masih berharap dan terus berharap pada harapan yang belum tentu akan berpihak pada dirinya.
"Sabar Tania....Sabar...." Gumam nya mengusap dada nya sendiri melihat tingkah laku adik ipar nya. belum lagi Mama mertuanya bahkan Farah.
Tania bergegas menyusul Sindi ke kamar nya yang berada diujung ruangan.
Kalau dilihat memang sangat kontras sekali perlakuan keluarga nya antara Davin dan Raka.
Raka yang berusaha mati-matian bekerja keras untuk mereka semua selalu dinomor duakan, sedangkan Davin, walau sesalah apapun Davin, Mama mertuanya tetap akan membela nya habis-habisan.
🌿🌿🌿