NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Keesokan paginya, matahari baru saja merayap naik membelah ufuk timur, namun Ani sudah bangun dan bersiap-siap. Hatinya berdebar kencang, bukan lagi karena rasa ragu, melainkan karena rasa haru dan keteguhan hati yang sudah ia tanamkan semalam. Keputusan sudah bulat: ia akan menerima tawaran Damar dan kembali ke kota besar. Namun sebelum itu, ada satu hal penting yang harus diselesaikan dengan baik berpamitan dari Bu Ratna, wanita yang telah menjadi penyelamat dan tempat berteduhnya di saat paling terpuruk.

Dengan langkah mantap namun hati yang berat, Ani berjalan menuju toko roti yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahnya, membawa serta aroma khas tanah basah dan dedaunan, aroma yang akan sangat ia rindukan nanti. Jalan setapak yang biasa ia lalui setiap hari, jalan yang dulunya terasa berat karena tatapan sinis tetangga, kini terasa akrab dan penuh kenangan manis. Di jalan inilah ia belajar berjalan tegak kembali, di jalan inilah ia menemukan harga dirinya lagi.

Sesampainya di depan toko, Bu Ratna sudah ada di sana, sedang membuka jendela dan pintu toko lebar-lebar. Aroma mentega dan gula yang manis dan hangat seketika menyelimuti Ani, aroma yang menjadi saksi perjuangannya selama ini. Begitu melihat Ani datang lebih pagi dari biasanya sambil membawa bungkusan kecil, Bu Ratna langsung tersenyum ramah, senyum tulus yang selalu membuat hati Ani tenang.

"Wah, rajin sekali anak Ibu ini. Masih pagi sekali sudah datang, padahal kan hari ini kamu libur, Nak," sapa Bu Ratna riang, lalu melangkah mendekat. Namun senyum itu perlahan memudar saat ia melihat raut wajah Ani yang serius dan mata yang mulai berkaca-kaca. Ada firasat tidak enak yang langsung menyelinap di hati wanita paruh baya itu.

Ani mendekat, mencium tangan Bu Ratna dengan penuh hormat dan rasa terima kasih yang mendalam. Ia menahan isak tangisnya sekuat tenaga, berusaha bicara dengan suara yang jelas dan tegas.

"Bu... Ani datang ke sini mau bicara sesuatu. Ada hal penting yang harus Ani sampaikan sama Ibu," ucap Ani pelan namun mantap.

Bu Ratna mengajak Ani duduk di bangku kayu di sudut belakang toko, menjauh sedikit dari pintu masuk agar tidak ada orang lain yang mendengar. Ia menatap wajah Ani lekat-lekat, lalu mengelus punggung tangan anak muda itu lembut.

"Ada apa, Nak? Bicara saja sama Ibu. Jangan sungkan, apa pun itu," bujuk Bu Ratna lembut.

Air mata Ani akhirnya menetes juga. Ia mengusapnya cepat, lalu mulai menceritakan semuanya. Mulai dari kedatangan surat panggilan sidang kemarin siang, telepon dari Damar, siapa sosok Damar sebenarnya, hingga tawaran pekerjaan yang diberikan dan keputusan besar yang telah ia ambil bersama kedua orang tuanya semalam.

"Jadi... Bu..." lanjut Ani dengan suara bergetar, "Ani datang ke sini mau minta maaf sebesar-besarnya. Ani harus pamit, Bu. Ani harus berhenti bekerja di sini. Ani tahu ini sangat mendadak, sangat tidak sopan, dan Ani merasa sangat bersalah karena harus meninggalkan Ibu begitu saja padahal usaha kita baru saja berkembang pesat."

Ani menunduk dalam, merasa sangat berdosa harus meninggalkan wanita yang telah memberinya harapan dan kehidupan baru ini.

"Tapi Bu... kesempatan ini mungkin jalan yang ditunjukkan Tuhan buat Ani. Dulu Ani korbankan segalanya demi orang yang salah, dan Ani rugi besar. Sekarang ada kesempatan lagi di depan mata, kesempatan buat Ani mengembangkan kemampuan Ani, buat Ani membuktikan kalau Ani itu berharga. Ani tidak mau melewatkannya lagi. Maafkan Ani ya, Bu... Maafkan Ani yang belum sempat bantu Ibu lama-lama..."

Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Ani berani mengangkat wajahnya, takut melihat reaksi Bu Ratna. Ia kira wanita itu akan marah, kecewa, atau menganggapnya tidak tahu diri. Namun, apa yang ia lihat justru membuat hatinya semakin perih namun juga semakin hangat.

Bu Ratna tidak marah. Wajahnya memang tampak sedih dan berat hati, namun di matanya terpancar rasa bangga dan pengertian yang luar biasa. Wanita itu justru tersenyum, senyum yang sama seperti seorang ibu yang melepaskan anaknya terbang tinggi.

"Ya Allah... Jadi begitulah ceritanya," gumam Bu Ratna pelan, lalu mengusap air mata yang mulai menetes di pipi gembilnya sendiri. Ia memeluk Ani erat sekali, seolah enggan melepaskan namun tahu ia harus melakukannya.

"Kenapa kamu minta maaf, Nak? Kenapa kamu merasa bersalah? Tidak ada yang harus dimaafkan di sini. Justru Ibu yang harusnya berterima kasih sama kamu. Selama kamu di sini, bukan cuma toko Ibu yang jadi ramai dan rapi, tapi hati Ibu pun jadi senang punya teman ngobrol dan anak asuh sebaik kamu," ucap Bu Ratna lembut namun tegas.

Bu Ratna melepaskan pelukannya, lalu menatap Ani dengan pandangan tajam namun penuh kasih sayang.

"Ibu sudah menduga, anak secerdas dan seberbakat kamu tidak akan selamanya tinggal di sini. Toko kue sederhana ini terlalu kecil buat kamu, Nak. Kamu punya sayap yang lebar, kamu pantas terbang tinggi ke langit yang lebih luas. Ibu senang sekali, bangga sekali mendengarnya. Syukurlah kalau ada orang yang mengenali kemampuanmu, ada orang yang mau membantumu bangkit. Damar itu sahabat yang sangat baik, dan tawaran itu rezeki besar yang jangan sampai kamu tolak."

"Tapi Bu..." potong Ani, "Ani merasa tidak enak hati sekali. Ibu sudah sangat baik sama Ani, sudah menolong Ani saat orang lain menjauh, sudah memberi Ani pekerjaan saat Ani butuh sekali..."

Bu Ratna menggeleng kuat, memotong ucapan Ani.

"Menolong? Tidak, Nak. Justru saat kamu datang ke sini, saat kamu mau bekerja keras di sini meski mulut orang banyak bicara, saat kamu tetap tersenyum dan melayani semua orang dengan ramah... saat itulah kamu yang menolong Ibu. Kamu memberi contoh keberanian buat Ibu, kamu mengajarkan Ibu bahwa wanita itu kuat, bahwa harga diri itu mahal harganya. Kamu sudah jadi anak yang hebat buat Ibu."

Bu Ratna lalu bangkit berdiri, berjalan ke balik meja dan mengambil sebuah bungkusan kain yang sudah disiapkannya, seolah ia sudah tahu hari ini akan tiba. Ia menyodorkan bungkusan itu ke tangan Ani.

"Ini gajimu untuk sisa bulan ini, plus bonus tambahan. Ambil saja, jangan ditolak. Itu hakmu, hasil keringatmu sendiri. Dan ini..." Bu Ratna mengeluarkan sebungkus besar berisi kue-kue kering dan roti kesukaan Ani, "...bekal kamu di perjalanan nanti. Ingat ya, Nak, ke mana pun kamu pergi, seberapa sukses pun kamu nanti, jangan lupa sama dirimu sendiri. Tetaplah jadi Ani yang rendah hati, tulus, dan kuat seperti yang Ibu kenal selama ini."

Air mata Ani mengalir deras tak terbendung lagi. Ia menerima semua itu dengan tangan gemetar, lalu kembali memeluk Bu Ratna seeratnya, menumpahkan semua rasa syukur dan kasih sayang yang terpendam. Bagi Ani, Bu Ratna bukan sekadar majikan atau tetangga, melainkan ibu kedua yang Tuhan kirimkan untuk menolongnya di saat paling sulit.

"Akan Ani ingat selalu semua pesan Ibu. Ani tidak akan lupa sama Ibu, tidak akan lupa sama kebaikan Ibu. Kalau nanti Ani sudah mapan, Ani pasti datang lagi ke sini, Bu. Pasti..." janji Ani dengan suara parau.

"Pasti, Nak. Pintu rumah dan toko Ibu selalu terbuka buat kamu, kapan pun. Anggap saja ini rumahmu kedua," jawab Bu Ratna sambil mengusap punggung Ani berulang kali.

Perpisahan itu berat, sangat berat. Namun mereka berdua sama-sama tahu, ini adalah perpisahan yang indah, perpisahan demi masa depan yang lebih baik.

Saat Ani melangkah keluar dari toko roti itu, ia berhenti sejenak di depan pintu, menatap bangunan sederhana itu untuk terakhir kalinya. Di sini, di antara tepung dan gula, ia belajar bahwa hidup harus terus berjalan. Di sini, ia belajar bahwa nilai seorang wanita tidak ditentukan oleh cincin di jarinya atau status pernikahannya, melainkan oleh kerja keras, kejujuran, dan keberaniannya.

Ani melambaikan tangan terakhir pada Bu Ratna yang masih berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca namun tersenyum bangga. Ia berbalik badan, mengangkat kepala tinggi-tinggi, dan melangkah pergi menjauh.

Langkahnya kali ini jauh lebih ringan, jauh lebih berisi, dan jauh lebih bermakna dibandingkan saat ia pertama kali masuk ke desa ini berbulan-bulan lalu. Dulu ia datang sebagai wanita yang hancur, terluka, dan dikasihani. Sekarang ia pergi sebagai wanita yang utuh, tegar, dan penuh harapan.

Sesampainya di rumah, Ani segera menghubungi Damar. Suara sahabat lamanya terdengar sangat antusias dan lega saat mendengar keputusan Ani. Damar berjanji akan mengurus segalanya, bahkan ia sendiri yang akan datang menjemput Ani keesokan harinya agar perjalanan pulang Ani aman dan nyaman.

Malam itu, Ani berkemas kembali. Kali ini, ia tidak meninggalkan apa pun yang berharga, tidak meninggalkan harga dirinya, dan tidak meninggalkan rasa cintanya pada diri sendiri. Ia memasukkan baju-bajunya, barang-barang pemberian kedua orang tuanya, serta oleh-oleh dari Bu Ratna. Dan di sudut koper, tersimpan rapi berkas-berkas dari Pengadilan Agama—bukan lagi sebagai beban rasa sakit, melainkan sebagai tanda bukti bahwa bab lama sudah selesai, dan ia siap memulai bab yang jauh lebih gemilang.

Di beranda rumah, Ayah dan Ibu duduk menungguinya berkemas. Tidak ada lagi raut sedih atau cemas di wajah mereka, yang ada hanyalah rasa bangga yang meluap-luap.

"Besok kamu berangkat pagi-pagi sekali ya, Nak," kata Ibu lembut sambil menyodorkan selembar tas kain berisi bekal makanan. "Ingat pesan Ibu, di kota nanti, jaga dirimu baik-baik. Bekerjalah dengan jujur dan rajin. Jangan takut apa pun. Kalau ada apa-apa, kabari kami secepatnya."

Ayah menepuk bahu Ani, tatapannya dalam dan penuh makna.

"Kamu hebat, Nak. Ayah bangga sekali. Ingat, ke mana pun kamu melangkah, jangan pernah lupa asal-usulmu. Tapi jangan juga pernah ragu untuk melangkah sejauh mungkin. Terbanglah setinggi langit, Nak. Tunjukkan pada dunia siapa Ani sebenarnya."

Malam itu berlalu dengan cepat. Fajar menyingsing dengan cahaya yang lebih cerah dari biasanya, seolah langit pun ikut merayakan kebangkitan seorang wanita hebat.

Pagi itu, saat mobil Damar berhenti di depan pagar rumah, seluruh warga desa yang tadinya suka menggunjing, kini berdiri berjejer melihat dengan rasa hormat dan kagum. Mereka melihat Ani keluar dari rumahnya dengan penampilan rapi, sopan, namun memancarkan aura kepercayaan diri yang luar biasa. Ani melambaikan tangan pada mereka semua, tersenyum tulus, memaafkan segala omongan masa lalu, dan berterima kasih atas segala pelajaran yang didapat.

"Siap, Damar," ucap Ani tegas sambil tersenyum lebar. "Ayo kita pulang... ke masa depan."

Damar tersenyum lebar dari balik kemudi, mengangguk mantap. Ia tahu, sahabatnya ini tidak akan pernah sama lagi. Ani yang dulu lembut dan sederhana, kini telah bertambah satu sifat hebat: ketangguhan yang ditempa oleh rasa sakit dan kebangkitan.

Dan di dalam hati Ani, satu janji suci terucap: Mas Dimas, di mana pun kamu berada, dengan siapa pun kamu sekarang... bersiaplah. Karena wanita yang kamu buang ini, akan bangkit dan bersinar jauh lebih terang dari apa pun yang pernah kamu miliki.

Bersambung,,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!