NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: RAHASIA UANG LECEK YANG TERBONGKAR

Bab 22: Rahasia Uang Lecek yang Terbongkar

Hujan gerimis tipis sisa sore tadi menyisakan udara dingin yang merayap masuk melalui celah ventilasi kamar belakang rumah Miko. Jam digital di atas meja belajar menunjukkan pukul sembilan malam. Revan duduk bersila di atas lantai ubin, jemarinya belepotan oli hitam encer karena sedang mencoba membersihkan gir rantai motor matic miliknya yang diletakkan di atas koran bekas.

Kretak.

Sebuah bunyi patahan logam yang getir terdengar saat Revan mencoba mengencangkan baut penyangga. Revan mendengus kasar, melemparkan kunci pas di tangannya hingga berdentang nyaring di atas lantai.

"Bangsat," umpat Revan lirih, memegangi dahinya yang mendadak pening. "Rantai sama girnya udah aus total. Kalau gak diganti besok, bisa putus di jalan pas gue berangkat sekolah."

Miko yang sedang berbaring telentang di atas kasur busa sembari menatap langit-langit kamar langsung menoleh. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap sahabatnya yang tampak frustrasi. "Emang butuh berapa buat ganti satu set, Van?"

"Paling murah dua ratus lima puluh ribu kalau merek biasa di bengkel Cak To. Kalau mau yang awet bisa sampai tiga ratus ribuan," sahut Revan, suaranya terdengar jengkel. Ia merogoh saku celana jinsnya, mengeluarkan dompetnya yang kini hanya berisi dua lembar uang sepuluh ribuan lecek. Sisa gajinya kemarin sudah habis total untuk membayar uang kas sekolah, bensin, dan membeli beberapa keperluan makan harian.

Ego Revan yang setinggi langit malam ini dipaksa berbenturan dengan realita bahwa hidup mandiri di jalanan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada rasa sesak yang merayap di dadanya, namun ia buru-buru menepis bayangan rumahnya jauh-jauh. Gue gak bakal minta sama orang rumah. Gak akan pernah, sumpahnya dalam hati.

Melihat Revan yang tertunduk lesu menatap dompet kosongnya, jantung Miko mendadak berdegup kencang. Ini dia jalannya. Ini adalah momen yang sejak kemarin membuat tidur Miko tidak nyenyak. Di dalam laci mejanya, uang lecek sebesar tiga ratus ribu rupiah titipan Ayah Revan dua malam yang lalu seolah-olah terus memanggil-manggilnya untuk segera dikeluarkan.

Miko menelan ludah dengan susah payah. Rasa bersalah yang teramat sangat besar menggerogoti hatinya melihat Revan kesusahan, sementara ada hak Revan yang sengaja dititipkan untuk momen-momen seperti ini.

Miko perlahan berdiri dari kasur. Langkah kakinya terasa seberat timah saat berjalan mendekati meja belajar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka laci kayu yang berderit pelan, lalu mengambil gumpalan uang kertas yang diikat karet gelang kumal tersebut.

"Nih, pake uang ini aja dulu," ucap Miko, menyodorkan uang lecek itu ke hadapan wajah Revan.

Revan mendongak, dahinya berkerut dalam menatap ikatan uang kertas yang tampak lusuh dan berbau keringat khas uang saku orang tua. "Duit apaan nih, Mik? Banyak amat. Lo habis ngepet?"

Miko memaksakan sebuah tawa hambar, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kian menggila karena takut kebohongannya terbongkar. "Sialan lo. Kagak lah! Itu... itu duit pinjaman dari nyokap gue. Tadi sore pas lo masih di bengkel, gue cerita ke nyokap kalau motor lo rusak dan lo lagi seret duit. Nyokap kasihan, jadi beliau nyuruh gue ngasih duit ini ke lo. Katanya pake aja dulu, balikinnya gampang kalau lo udah ada duit lebih dari Cak To."

Miko terpaksa berbohong. Ia harus berbohong demi menjaga amanah terakhir dari Ayah Revan yang memohon dengan air mata agar namanya tidak dibawa-bawa. Miko tahu, jika Revan tahu uang ini dari tangan pria yang dibencinya di rumah, Revan pasti akan melemparkan uang ini ke dalam kobaran api atau tong sampah tanpa berpikir dua kali.

Revan menatap lembaran uang seratus ribuan lecek itu dengan pandangan tidak percaya. Matanya mendadak berkaca-kaca menahan rasa haru. Ia tidak menyangka, di saat orang tua kandungnya menuduhnya sebagai pencuri dan membuangnya, justru ibu dari sahabatnya yang mau mengulurkan tangan tanpa banyak tanya.

"Nyokap lo... beneran ngasih pinjem ini, Mik?" suara Revan bergetar, egonya perlahan melunak digantikan rasa syukur yang membuncah.

"Iya, beneran. Udah ambil aja, gak usah banyak bacot kayak orang susah," jawab Miko sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak sanggup menatap mata polos Revan yang sedang berterima kasih pada orang yang salah.

Revan menerima uang itu dengan tangan gemetar. Ia perlahan membuka karet gelangnya, merapikan lembaran uang ratusan ribu yang tampak kusut tersebut dengan penuh kehati-hatian. Saat jemarinya menyentuh permukaan kertas uang yang agak kasar, ada kehangatan aneh yang menjalar ke hatinya. Revan tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman bangga yang murni.

"Nyokap lo baik banget, Mik. Bilangin makasih banyak ya," tutur Revan tulus, memasukkan uang itu ke dalam dompetnya seolah itu adalah harta paling berharga di dunia. "Gue janji bakal kerja lebih keras lagi di bengkel Cak To. Bulan depan, uang ini pasti gue balikin utuh!"

Miko hanya bisa mengangguk pelan dengan senyuman yang terasa amat sangat pahit di sudut bibirnya. Dadanya bergemuruh hebat, menahan beban rahasia yang kian hari kian terasa mencekik lehernya.

Maafin gue, Van... teriak Miko di dalam hatinya yang hancur. Gue terpaksa bohong sama lo. Lo ngerasa dapet kebaikan dari nyokap gue, padahal duit kusut yang lo pegang itu adalah duit hasil perasan keringat bokap lo sendiri. Bokap lo kerja lembur bagai kuda sampai subuh demi dapet duit segini buat lo, tapi lo malah makin benci sama dia karena kebohongan gue... Maafin gue, Van...

Miko mengepalkan tinjunya di dalam saku celana, merasakan tamparan realita yang begitu kejam. Dia terjebak di dalam labirin salah paham ini sebagai satu-satunya saksi kunci, menyaksikan bagaimana Revan semakin membanggakan kemandirian palsunya di atas tetesan darah dan air mata rahasia dari orang tuanya sendiri.

Sementara itu, Revan kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan rantai motor dengan siulan kecil yang terdengar riang. Rasa percaya dirinya kembali membubung tinggi ke langit-langit kamar.

"Lihat kan, Mik? Dunia luar gak sekejam yang dibilang bokap gue," ujar Revan penuh kelancangan sembari mengelap tangannya yang kotor. "Tanpa belas kasihan dari rumah sialan itu pun, semesta selalu punya cara buat bantu gue. Gue bakal buktiin ke mereka semua, kalau Revanza Dirgantara bisa sukses besar lewat jalanan ini!"

Revan tertawa renyah, merasa telah memenangkan satu langkah lagi dalam pertarungannya melawan takdir keluarga Dirgantara. Cowok itu menyimpan dompetnya di bawah bantal, tertidur malam itu dengan mimpi-mimpi indahnya tentang masa depan baru di bengkel motor, tanpa pernah ada yang memberi tahu bahwa uang lecek di bawah kepalanya adalah simbol dari sisa-sisa daya fisik Ayahnya yang kini sedang digerogoti kelelahan kronis di luar sana.

Bersambung.....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!